Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Bi Markonah.


__ADS_3

“Jangan pernah lelah dan malu berbuat baik. Kebaikan yang kamu tebar, walaupun sedikit tetapi sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan”


“Jangan pernah takut mencoba hal baru, karena dengan mencoba kamu bisa mencapai yang kamu inginkan. Jika takut dan terus bertopang dagu, kapan kamu


mencapainya?”


🕊️🕊️🕊️


Sesampainya di kamar, Agatha membanting tasnya ke segala arah. Merebahkan badannya lalu memasukan kepalanya ke bawah bantal. Dia menangis sejadi-jadinya. Baru saja dia merasakan kebahagian yang begitu dia dambakan, kini semuanya bagaikan menelan ribuan pil pahit. Ternyata perlakuan orang tuanya pagi tadi hanyalah palsu belaka baginya.


Jika saja dia mempunyai pintu Doraemon, sudah pasti dia akan menjelajahi dunia yang lebih berbeda daripada terus-terusan main bermain cuek bebek dengan orang serumah, apalagi itu adalah orang tuanya. Betapa menyakitkan, bukan?


Diabaikan dan dicuekin oleh keluarga adalah hal yang sangat menyakitkan, terlebih jika yang selama ini belum pernah mendapatkan sebuah layangan tangan. Dan, malam ini adalah pertama kalinya dia mendapatkan itu.


Tangisnya yang meraung kini mereda. Alas ranjangnya bagaikan terkena guyuran hujan akibat air matanya. Dia bangun dan duduk di ranjang dengan memeluk kedua lututnya. Lengan kiri dan kanan dia jadikan tissue untuk mengelap dan menghapus air matanya, persis anak SD yang merajuk karena kelerengnya diambil teman-temannya.


“Bodo ah. Gak ada gunanya nangis,” gumamnya sendiri.


Karena merasa lelah menangis sendirian, dia mengambil cemilan yang tersedia di nakas dan membawanya ke atas ranjang.


Sebenarnya dia lapar, tapi karena tak ingin melihat kedua orang tuanya, jadi dia mengurungkan niatnya. Dia meraba-raba ranjangnya karena tak menemukan handphone nya. Lalu dia teringat bahwa yang dia cari masih terpajang di dalam tas yang dia lempar ketika masuk kamar. Bergegas menuju tas yang tergeletak di sembarang arah, kemudian membukanya, benda yang dia cari akhirnya ketemu.


Setelah kembali ke atas ranjang, dia membuka aplikasi YouTube dan mencari parodi “Mamak Rantau”. Sesekali dia tertawa melihat kekocakan para mamak di dalam sana.


Saking asyiknya nonton dan terus mengunyah, hingga tak sadar tiga bungkus snack sudah tersapu bersih. Dia kehausan. Kebetulan, stok air di nakasnya sudah habis.


Dia berniat turun ke bawah, mengendap-endap membuka pintu sembari mengintip apakah orang tuanya masih di tempat semula atau tidak. Ternyata mereka berdua masih di ruang keluarga.


“Ih, gimana caranya aku ke dapur kalau mereka masih di situ?” ucap Agatha sambil menutup pintu kembali.


Di dalam kamar yang bisa diminum hanyalah Kiranti.


“Masa iya aku minum Kiranti? Tamu kehormatan aja udah lewat.” Dia ngedumel lagi.


“Mau nelpon Bi Momon mana lupa nyimpan nomornya. Hadeuhhhhhh. Sial amat ya,” tambahnya lagi.


Mau tak mau akhirnya dia meminum Kiranti itu dengan menutup hidungnya. Sebenarnya dia tak suka sama rasa kunyit.


“Puihhhhhh! Rasa kunyitnya aneh banget. Apa gak ada Kiranti rasa es krim?” Lagi-lagi dia mengomel.


Di sela-sela sedang asyik mengomel, handphone nya berdering tanpa panggilan masuk. Dia segera menyambar benda itu yang tergeletak di kasur dan melihat nama siapa yang memanggil. Namun panggilan yang masuk tidak tercantum namanya di sana. Agatha menimang-nimang apakah panggilan itu dia tolak atau diterima.


“Nomor siapa lagi sih malam-malam nelpon? Gak tau apa orang lagi kesel!” gerutunya menatap layar ponsel.


“Aku terima aja deh. Toh dia menelpon, bukan ngelamar. Kalau ngelamar bisa gawat darurat. Hihi.” Agatha cekikikan.


Orang yang menelponnya adalah asisten dari sepupunya yang tinggal di luar kota.


“Ha...hallo, Non,” ucap Bi Markonah di seberang sana ketika panggilannya tersambung.


“Iya hallo juga. Maaf, ini dengan siapa ya?” tanya Agatha penasaran.


“I...ini saya Bi Markonah, Non Getah, eh Non Agatha,” jawab Bi Makonah sedikit gugup.

__ADS_1


Agatha menggelengkan kepalanya. Pasalnya, namanya sangat jauh sekali melenceng dari Agatha menjadi getah.


“Nih orang udah mirip Bi Momon aja. Jangan-jangan mereka satu perguruan sama buto ijo? Kompak banget,” batin Agatha.


Namun, jawaban dari Bi Markonah membuat Agatha bertanya-tanya.


“Non, Bi Markonah bukan mirip asisten Non, dan Bi Markonah juga gak masuk perguruan sama buto ijo, Non,” jawab Bi Markonah di seberang sana.


“Lah, kok bisa tau kalau aku ngomong gitu? Ini orang apa cenayang sih?” Agatha membatin lagi.


Lagi-lagi Bi Markonah menjawabnya.


“Non, ini Bi Markonah loh, bukan cenayang. Masa lupa sama ART tuan muda Alzio Steward anaknya uncle Barry Steward, Non?” ucap Bi Markonah panjang kali lebar.


Agatha membuang nafas karena lagi-lagi Bi Markonah mengetahui pikirannya.


“Ohhh iya Bi Makroni, aku hampir lupa. Hehe.” Agatha terkekeh.


“Aduh kok nama Bibi jadi Makroni, Non? Kerupuk dong jadinya,” celetuk Bi Markonah karena namanya jadi kerupuk makroni.


“Wkwk. Syukurin.” Agatha mentertawakan Bi Markonah di saambungan telepon.


“Oh iya, Bi. Ada apa Bibi nelpon malam-malam kayak gini?” tambahnya lagi ingin mengetahui maksud serta tujuan Bi Markonah menghubunginya malam-malam.


“Itu, Non. Tuan muda Alzio katanya kangen sama Non. Tapi dia malu menghubungi Non. Makanya dia nyuruh Bibi,” jawab Bi Markonah jujur.


“Ohh. Rupanya tau si rese itu kangen ya, Bi? Haha,” ujar Agatha tertawa garing.


“Iya, Non. Katanya jika ujian selesai dia mau berkunjung ke rumah Non. Mau nginap juga katanya,” pungkas Bi Markonah lagi.


“Hehehe, itu urusan kalian ya Non. Bibi gak ikut main,” kekeh Bi Markonah. “Udah ya, Non. Bibi mau menyelesaikan misi dulu,” tambah Bi Markonah lagi.


“OK, Bi. Bilang sama dia jangan datang ke sini!” tukas Agatha, namun sambungan telepon sudah duluan dimatikan Bi Markonah.


“Huhhhhh, rese. Pasti mau nyeramahin aku kalau dia ke sini,” dengusnya karena sudah tau sifat sepupunya.


Iya. Alzio Steward adalah anak dari sepupu daddy nya, Barry Steward. Alzio adalah kakak kelas Agatha, jadi dia sekarang sedang menakluki dunia Universitas ternama di kotanya. Alzio lebih tua satu tahun dari Agatha. Meskipun masih remaja belasan tahun, namun Alzio sangat dewasa.


 🕊️🕊️🕊️


Karena perutnya yang sedari tadi tidak merasa kenyang, akhirnya dia memberanikan diri turun ke bawah untuk makan malam. Untungnya, orang tuanya sudah beranjak dari ruang keluarga.


Di dapur nampak gelap karena lampunya sudah dimatikan Bi Momon. Agatha jalan mengendap sembari meraba dinding mencari tombol lampu. Kebetulan saat itu juga Bi Momon bangun dengan sedikit menguap tiba-tiba melihat bayangan Agatha. Dia berpikir itu adalah penyusup yang ingin maling centong nasi.


“Awas saja kamu. Berani-beraninya masuk tanpa seizinku. Dasar maling!” gumam Bi Momon dengan tangannya yang sedang meraih sekop untuk memukul maling yang dia maksud.


Namun, ketika hendak menghampiri Agatha yang dia kira maling, Bi Momon kaget ketika Agatha telah lebih dulu menyentuh lengannya.


Bi Momon berteriak. “Maliiiiiiiiiiinggggggg!” teriak Bi Momon dengan kencang.


Untung saja tuan William dan nyonya William tidak mendengar teriakannya. Agatha yang terkejut ketika Bi Momon berteriak, seketika memanggil Bi Momon.


“Bi. Bibi. Aku bukan maling, tapi aku kelaparan loh,” ucapnya pada Bi Momon.

__ADS_1


Akhirnya Bi Momon menghentikan teriakannya dan langsung menyalakan lampu.


“Astaga, Non. Bibi kira maling dari perumahan sebelah.” Bi Momon mengelus dadanya.


“Bi, aku lapar. Ada makanan gak?” ucapnya sambil memegangi perutnya yang sedang konser.


Bukannya menjawab ada makanan atau tidak, Bi Momon malah menanyakan kenapa mata nona kecilnya sembab.


“Non, kok matanya kayak lagi kemasukan pasir sekilo?” tanya Bi Momon serius.


“Oh Ratu Pantai Selatan, tolong kasih Bi Momon bimbel. Tiap kali ngomong selalu ngawur,” batin Agatha dan menatap garang pada Bi Momon.


Bi Momon bingung ketika Agatha melotot. Dia jadi salah tingkah jadinya.


“Hehehe. Ada apa Non kok melotot?” tanyanya tanpa rasa berdosa.


“Bi Momon ku yang cantik membahana bagaikan langit senja, aku bilang lapar. Aku mau makan. Ada makanan apa enggak?” ucap Agatha penuh penekanan dengan merapatkan giginya.


“Oohhh, Non mau makan. Kenapa gak bilang dari tadi sih,” jawab Bi Momon yang membuat Agatha menghela nafas.


“Tuman!” sewot Agatha sambil mengacungkan tangannya mengisyaratkan tinju. “Apa gak ada makanan, Bi?” tambahnya lagi.


“Non mau makan apa ? Tadi Bibi masak telor ceplas ceplos, ada ikan panggang, ada udang asam manis, sama pecel jengkol, Non,” ujar Bi Momon panjang lebar.


“Yuadah, Bi. Mau yang simpel aja. Udang asam manis sama telor mata ping pong,” jawab Agatha yang sudah mengambil nasi.


“Eh, kok telor mata ping pong, Non? Kagak masuk daftar tau,” celetuk Bi Momon sambil memanaskan udang asam manis.


“Mau masuk daftar kek, mau masuk kolam kek, mau manjat tiang kek. Pokoknya aku mau telor mata ping pong seperti yang Bibi bilang tadi. Titik enggak pakai koma!” tukasnnya panjang lebar.


“Ooh telor ceplas ceplos, Non. Siap mah kalau itu Non. Hehehe.” Bi Momon terkekeh.


“Hilihhhh, udah tau masih aja nanya. Buruan, Bi. Mereka minta saweran nih,” ucapnya memegangi perut.


Setelah acara debat pemilihan makanan, akhirnya Agatha makan dengan ditemani Bi Momon. Setelah selesai makan, Agatha masih mengobrol di meja makan bersama Bi Momon.


“Bi? Bibi tau enggak kenapa Kiranti enggak ada rasa moccacino?” Agatha bertanya sambil senyam senyum.


“Hmmmmm, apa ya?” Bi Momon manggut-manggut seperti sedang berpikir.


“Ohooooo, Bibi tau. Ya karena memang gak ada, Non. Ehehe, tapi Bibi emang gak tau loh,” jawab Bi Momon santai.


“Helehhhh, gitu aja gak tau. Kalau rasa moccacino ya bukan Kiranti namanya Bi, tapi kopi. Ahahhaha.” Agatha terkekeh dan bangkit dari kursi meja makan.


“Dasar tuman!” tambahnya lagi.


Kini tinggallah Bi Momon sendirian di meja makan tampak memikirkan apa yang dikatakan nona kecilnya itu. Sementara Agatha sudah melesat ke kamarnya kembali.


“Oiya ya. Kenapa gak kepikir ke situ ya? Dasar mulut beo.” Bi Momon memukul mulutnya sendiri.


🕊️🕊️🕊️


Hallo Readers, maaf yah baru up. Soalnya stok ide di kepala lagi nyasar gak tau jalan pulang, hahaha. Dukung terus yah karya Author yang amatiran ini. Hehe.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, rate, dan tips nya. Author cape loh ngetik sama mikir😅


__ADS_2