Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Amarah Welson.


__ADS_3

Agatha masih saja terpaku di dalam mobil. Tatapannya nanar semenjak melihat beberapa murid diantar oleh orang tua mereka. Selama termenung, mang Judas antara iya dan tidak mau membuka suara. Namun jika dibiarkan, bisa jadi Agatha mematung di dalam mobil selama jam sekolah, pikirnya.


“Aduh, bagaimana ini? Jika dibiarkan bisa-bisa tidak masuk ke kelas?” gumaman Mang Judas.


Mang Judas menoleh ke kanan dan ke kiri bagaimana caranya bisa menyadarkan Agatha dari keterpakuannya. Tapi hal itu justru tak mendapatkan secercah ide apapun.


“Non, saya tinggal dulu ya. Nanti pulang sekolah, saya jemput lagi.” Ucap Mang Judas berusaha membuyarkan lamunan Agatha.


“Apa? Eh, iya Mang.” Saut Agatha setengah kaget.


Segera Agatha membuka pintu mobil dan keluar. Tanpa menghiraukan Mang Judas, Agatha berjalan sedikit berlari lalu menerobos masuk lorong sekolah. Agatha berjalan dengan penuh percaya diri menelusuri lorong itu. Tapi mengapa, dia merasakan semua murid seolah melihat dan terpaku ke arahnya, apalagi adik tingkatnya. Kebanyakan dari mata itu adalah mata para buaya darat.


“Kenapa mereka melihatku seperti itu ya? Apakah aku aneh?” gumamnya seraya melangkah maju.


“Hmm, gak bisa apa mereka liat seorang Agatha William lewat?” ucapnya dalam hati.


“Hallo, Kak. Selamat pagi.” Sapa beberapa murid cewek yang kebetulan adalah adik kelasnya.


Agatha menyadari ada yang menyapanya, sekilas dia menoleh ke sumber suara.


“Iya, selamat pagi juga.” Balas Agatha dengan memberikan senyum versi dirinya.


Ketika Agatha telah melesat menjauhi beberapa adik kelas yang menyapanya, tiba-tiba salah satu dari mereka meloloskan suaranya.


“Wah! Kak Agatha ternyata ramah dan tidak sombong ya, gue pikir dia sombong loh?” ucap salah seorang dari murid itu.


“Iya ya. Secarakan dia orang kaya.” Timpal yang lainnya.


“Gak semua orang kaya sombong loh. Tuh buktinya kak Agatha tadi.” Sambung yang satunya lagi.


Sebelum menuju kelasnya, Agatha mencari toilet terlebih dulu karena ingin melihat penampilannya. Dia penasaran kenapa adik-adik kelas memandangnya begitu terkagum. Terkagum karena penampilannya yang aneh apa karena dia cantik, maka dari itu dia memutuskan untuk menuju toilet terlebih dulu.


“Gak ada yang aneh.” Ucap Agatha ketika memandangi cermin yang memantulkan bayangan dirinya.


“Cantik kok.” Pujinya pada diri sendiri.


🕊️🕊️🕊️


Bel istirahat berbunyi. Agatha pergi ke kantin bersama Memey, Nadine, Stevanie, dan Maria. Welson dan yang lainnya memilih istirahat ke roof top. Agatha dan teman-teman ceweknya duduk di kantin menikmati makan siangnya.


Suasana roof top yang semula dipenuhi canda tawa, kini mendadak berubah mengheningkan cipta. Suara-suara yang kini terdengar ramai, tenggelam dalam waktu beberapa detik begitu melihat kemunculan tiga orang siswa dari kelas XII IPS ke roof top. Salah seorang dari mereka duduk tanpa permisi di depan Welson.


“Loh, kok berhenti canda rianya? Lanjut dong!” tukasnya dengan suara seperti memerintah alih-alih bersahabat namun justru menunjukkan sikap sombong dan senioritas, padahal mereka sama-sama kelas XII. Dia mengeluarkan sebungkus rokok yang dia sembunyikan di dalam bajunya, dan dia menyodorkan sebatang rokok ke Welson.


“Rokok, Wels?” tawar Rico.


Welson mengangkat alis kirinya lalu menggeleng.


“Sorry, gak usah! Gue kan emang kagak ngerokok!” seru Welson.


“Kenapa? Apa jangan-jangan diancam cewek lo ya?” tanya orang itu lagi, tetapi dengan nada yang bisa dibilang sedikit mengejek.


Welson masih diam, berusaha masa bodoh dengan perkataan Rico dan berpura-pura tidak mendengarkan apapun.


“Cowok kok gak punya prinsip? Mau aja diatur-atur oleh cewek sendiri. Lagian dia baru jadi pacar lo, gimana kalau udah jadi istri? Dasar cupu lo, Wels!” ucap Rico lalu memasukkan rokok itu ke dalam kotaknya kembali.


Kedua kuping Welson seolah mengeluarkan asap karena panas dengan ucapan itu dan tangannya refleks mengepal mendengar semua penuturan Rico. Welson sudah berusaha menahan letupan emosinya agar tidak lepas kendali. Salah satu dari sahabat Welson menyadari ada raut tak suka dari mimik wajah Welson, kelihatan sekali bahwa Welson sedang menahan emosinya.


“Hm, Wels, mau ke kelas gak?” Dirgo bangkit dari duduknya, paham bahwa situasi menjadi sangat menegangkan dan barangkali jika tidak cepat ditangani maka akan terjadi arena tinju bebas di antara mereka.


“Ayok!” ajak Dirgo lagi pada Welson.


“Mau aja lo diperbudak sama kemauan cewek lo. Cewek yang hanya kayak gitu aja dibanggain, banyak kali yang lebih bagus dibanding Agatha, yang bisa nerima lo apa adanya.” Ucap Rico dengan senyum mengejek.


Welson yang sudah tidak bisa mentoleransi ucapan Rico yang menurutnya sudah di ambang batas kewajaran, Welson spontan berdiri dan menarik kerah seragam Rico.


“Jaga ucapan lo ya! Lo bisa ngejekin gue sepuasnya, oke gue terima. Tapi jangan pernah sekali-sekali lo berani bawa nama cewek gue apalagi ngejelekin dia di depan gue. Ngerti gak lo?” tegasnya penuh amarah.


“Dan asal lo tau, gue emang kagak pernah ngerokok, bukan karena diatur-atur oleh cewek gue. Gue nanya sama lo, apa pernah lo ngeliat atau mendengar gue ngerokok, hah?” sambungnya lagi, amarahnya semakin memuncak.

__ADS_1


“Kenapa? Marah? Mau pukul gue? Pukul aja, gak apa-apa.” Ujar Rico terkekeh.


“Gue kan cuma ngasih tau lo sebagai teman lo yang baik. Jika lo mau, gue cariin deh buat lo. Banyak kok yang mau sama lo...” sambung Rico tergantung, karena Welson langsung kalap.


Tanpa repot menunggu Rico menyelesaikan perkataannya, dia memukul rahang Rico sampai terjerembap ke lantai. Masing-masing teman dari Welson dan Rico berusaha melerai, namun usaha mereka hanyalah sia-sia. Welson semakin membabi buta dengan amarahnya yang sudah berhasil keluar dari persembunyiannya, Welson menduduki pinggang Rico hingga lawannya itu tak berkutik dan terkunci.


Awalnya, Rico sempat memberikan sebuah perlawanan dengan meninju sudut bibir Welson, namun Welson langsung menghantam tulang rahang dan tulang hidung Rico hingga terdengar bunyi berkeretak dan tanpa memberi jeda sedikitpun pada lawannya. Aliran cairan berwarna merah yang sudah pasti itu adalah darah, mengalir keluar dari lubang hidung Rico. Melihat situasi dan kondisi yang semakin membahayakan dan mengerikan itu, Yadi (teman Welson) berlari ke bawah. Dia mencari sumber pertolongan, baik ke guru, ke teman, ke satpam maupun siapa saja yang bisa meleraikan perkelahian itu.


Rico terkapar penuh dengan lumuran darah. Dirgo berusaha keras mengumpulkan tenaganya untuk mencengkeram lengan Welson, bahkan sampai menggigit tangan Welson bak menggigit paha ayam, sampai temannya itu berteriak kesakitan dan akhirnya Welson berhasil ditarik menjauh dari Rico yang sudah tak sadarkan diri.


“Udah, Wels! Mati nanti anak orang!” teriak Dirgo, menyadarkan Welson yang seperti orang kesurupan kuda lumping.


Dada Welson kembang kempis, napasnya tersengal-sengal seperti seseorang yang baru saja selesai berolahraga mengelilingi lapangan dengan dua puluh kali putaran. Sementara di bawah, Yadi sudah seperti cacing kepanasan mencari pertolongan. Tanpa pikir panjang, Yadi menerobos masuk ke ruang guru, dan kebetulan di sana hanya ada wali kelas mereka. Pak Matias terkejut dengan kedatangan Yadi yang seperti sedang dikejar Satpol PP. Alhasil gelas kopi yang sedang dipegang Pak Matias bergoyang dan isi di dalamnya menumpahi meja kerjanya.


“Busyet! Astaga Tuhan.” Ucap Pak Matias sembari meletakkan gelas kopinya kembali.


“Ada apa kamu tergesa-gesa seperti itu?” tanya Pak Matias sedikit menaikkan alisnya.


“Huh hah huh hah!” napas Yadi terengah-engah, berusaha mengumpulkan napasnya yang masih tertinggal di luar.


“Ada apa, Yadi?” tanya Pak Matias sekali lagi.


“Ma...maaf, Pak.” Ucap Yadi terbata-bata.


“Itu di roof top.” Tambahnya sembari melayangkan tangannya ke udara, menunjuk ke atas.


“Ada apa di roof top? Ada acara sunatan?” tanya Pak Matias yang masih tak mengerti dengan maksud Yadi.


“Bapak ini gimana? Saya sedang serius, Pak!” ujar Yadi masih dengan raut wajah khawatir.


“Ngomong yang jelas dong. Mana saya tau apa yang terjadi di roof top sana.” Saut Pak Matias membela diri, dan memang benar bahwa Yadi belum menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.


“Itu kopi Bapak tumpah loh gara-gara kamu.” Tambah Pak Matias lagi.


“Kopinya ceraikan dulu, Pak. Nanti saya yang ganti. Ayo ikut saya ke roof top, Pak!” ucap Yadi yang langsung menarik tangan wali kelasnya itu.


“Aduh! Kenapa Bapak malah menjitak saya?” Yadi memegang kepalanya yang dijitak Pak Matias.


“Kamu ada-ada saja. Mana mungkin Bapak menikahi kopi. Kayak gak punya wanita di dunia ini. Dasar murid edan!” dengus Pak Matias.


“Makanya urusan kopi nanti dulu, Pak. Ini sangat genting dari kopi Bapak.” Saut Yadi dan kembali menarik Pak Matias untuk mengikutinya.


“Tunggu sebentar!” Pak Matias putar balik menuju mejanya ingin menyeruput kopi.


“Astaga! Sempat-sempatnya masih menyeruput kopi.” Yadi bergumam.


“Sudah. Ayo!” ajak Pak Matias pada Yadi, dia mendahului Yadi berjalan menuju kantin sekolah.


“Wait! Bapak mau kemana? Roof top bukan di kantin.” tanya Yadi kebingungan karena arah tujuan Pak Matias bukan ke roof top.


“Lah, katanya tadi mau gantiin kopi Bapak?” ucap Pak Matias yang juga menampakkan wajah bingung.


“Lagi-lagi kopi. Ujung-ujungnya pabrik kopi saya kutuk jadi ternak sapi, Pak. Biar Bapak tidak minum kopi lagi.” Ketus Yadi kesal pada wali kelasnya.


“Ayo ikut saya, Pak!” ajak Yadi dan kembali menarik tangan Pak Matias.


🕊️🕊️🕊️


Pak Matias datang bersama Yadi, napas keduanya memburu. Pak Matias membelalakkan matanya terkejut melihat kondisi Rico yang terkapar tak berdaya di atas lantai dengan wajah yang berlumur darah.


“Ya Tuhan, kenapa lagi ini?” suara Pak Matias terdengar panik.


“Cepat bawa Rico ke bawah! Kalian kenapa diam saja seperti tugu di taman kota? Ayo angkat teman kalian dan bawa ke UKS!” Ucap Pak Matias yang masih terdengar nada panik, takut sesuatu akan terjadi pada salah satu murid di tempat ia mengajar. Teman-teman Rico yang semula mematung, kini mau tak mau akhirnya menuruti perintah Pak Matias, bergerak mengangkat Rico dan turun ke bawah.


“Kamu!” bola mata Mak Matias terarah pada Welson.


“Ayo ikut Bapak ke ruang kepala sekolah! ajak Pak Matias pada Welson.


Namun, Welson masih saja terduduk di kursi roof top dengan kondisi lunglai. Dia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memejamkan matanya. Sepertinya dia baru saja tersadar dari kerasukan sesaat itu.

__ADS_1


“Boleh gue minta minum?” suaranya lirih pada Dirgo yang masih berada di sebelahnya, dan kebetulan Dirgo memegang botol air mineral.


“Nih, minumlah!” titah Dirgo pada Welson.


“Lo berani lindungin cewek lo kayak gitu, tapi lo gak nyadar telah diam-diam mengkhianati hati yang telah bersama lo.” Dirgo membatin.


Di kantin sekolah.


Stevanie datang dari toilet dengan wajah terlihat panik. Dia mengibaskan tangan ke wajahnya yang terasa panas. Melihat Agatha dan temannya yang lain bersikap seolah tidak tau apa-apa, Stevanie menyimpulkan kalau Agatha belum mengetahui apa yang terjadi pada Welson.


“Ehemm.” Stevanie berdehem.


“Kenapa, Van? Tenggorokan lo gatal ya? Nih strepsils!” ucap Memey yang langsung menyodorkan strepsils pada Stevanie.


“Lo! Mau gue jitak ya?” Stevanie membulatkan matanya pada Memey, Memey langsung menciut takut.


“Mata lo mau gue congkel pake cangkul?” ujar Memey yang masih menundukkan kepalanya.


“Apa lo bilang?” tukas Stevanie.


“Eh, gue gak bilang apa-apa. Lo salah dengar kali.” Elak Memey.


“Udah, stop!” hardik Agatha.


“Itu.....” Ucap Stevanie ragu-ragu.


“Lo kenapa, Van?” Agatha kebingungan melihat Stevanie yang tampak bimbang, dan seperti ragu-ragu untuk berbicara.


“Lo mau ngomong apa?” tambah Agatha lagi.


“Welson.”


Mendengar nama Welson disebut Stevanie dan dengan nada yang lirih, membuat Agatha menyipitkan matanya. Seketika Agatha meraih ponselnya dari saku seragam sekolahnya, ingin mengecek barangkali ada pesan ataupun panggilan dari Welson padanya yang tidak dia balas ataupun dijawab.


“Welson nyari gue ya? Atau gue telepon aja.” Ucap Agatha.


“Eh, gak usah!” Stevanie mengangkat tangan kanannya dan menurunkan tangan Agatha yang sudah mulai menekan ponselnya untuk menghubungi Welson.


“Dia ada di ruang kepala sekolah sekarang, Tha.” Ucap Stevanie yang sontak membuat Agatha, Memey, Nadine, dan Maria kaget.


Agatha terlonjak, dia berdiri dari posisi duduknya di atas kursi kantin.


“Kenapa? Tumben sekali? Gak terjadi apa-apa, kan?” tanya Agatha.


“Dia baru saja berantem sama Rico anak IPS.” Jawab Stevanie.


“What? Lalu?” suara Agatha seketika meninggi hingga membuat beberapa murid yang berada di kantin melirik ke arahnya.


“Jangan kencang-kencang, Tha. Tuh yang lain pada liatin lo.” Celetuk Memey, namun tak digubris oleh Agatha.


“Welson gak apa-apa?” terukir nada khawatir dalam suaranya.


“Dia gak apa-apa, kan, Van?” ulangnya lagi ingin memastikan yang sebenarnya.


“Iya, dia gak apa-apa. Tapi Rico yang pingsan.” Ujar Stevanie.


🕊️🕊️🕊️


Agatha berlari keluar dari kantin meninggalkan empat orang temannya. Dia melewati lorong yang akan membawanya menuju ruang kepala sekolah. Di depan ruangan kepala sekolah pada jam istirahat terakhir ini mendadak ramai, seperti ada yang sedang bagi-bagi masker pada masyarakat untuk menghindari virus Corona. Mengetahui siapa yang datang dan seolah dikomando, mereka menoleh begitu melihat kemunculan Agatha, mereka menyingkir dan memberi ruang untuk Agatha agar dapat maju dan melihat situasi.


Gadis berambut dengan warna kecokelatan itu berdiri di depan kaca lebar yang transparan, yang bisa membantunya untuk leluasa melihat di dalam ruangan kepala sekolah. Entah kapan papanya Welson dan mamanya Rico sudah begitu saja tiba di ruangan kepala sekolah, namun Agatha tak memikirkan itu. Dalam ruangan itu, Agatha melihat Welson duduk di sofa, di hadapannya ada kepala sekolah dan Pak Matias. Di sebelah Welson ada Dirgo dan juga Yadi serta papanya.


Tanpa sadar, Welson menoleh ke kaca yang menampakkan wujud Agatha di sana. Manik matanya langsung menatap lekat manik Agatha meski dengan tatapan yang di batasi jarak, seolah Agatha yang paling mencolok dan menarik perhatian. Dari sorot mataya, Agatha dapat melihat Welson menatapnya dengan tatapan bersalah, Welson menunduk, dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tiba-tiba Pak Matias keluar dan terkejut melihat para murid berkerumun di depan ruangan itu.


“Hey, kenapa kalian pada di sini semua? Sana, masuk kelas masing-masing!” ucap Pak Matias sekaligus memerintahkan murid-murid yang berkerumun untuk masuk kelas.


Dengan berat hati dan langkah gontai, Agatha berbalik menuju kelasnya dan menjauhi ruangan kepala sekolah. Kebetulan ini adalah jam terakhir proses belajar mengajar.


🕊️🕊️🕊️

__ADS_1


__ADS_2