
Dentingan jam kembali terdengar. Jarumnya menunjukkan pukul 23:30, tinggal tiga puluh menit lagi untuk mencapai tengah malam. Agatha sudah tidak ingat apa-apa karena ia sudah tertidur begitu pulas. Orang tuanya belum juga kembali hingga menjelang tengah malam.
Bi Momon yang juga sudah tertidur di kamarnya, terbangun karena tenggorokannya terasa kering. Akhirnya Bi Momon pun segera bergegas ke dapur untuk mengambil minum. Langkahnya terhenti ketika melihat ke arah ruang keluarga, lampu utamanya masih dalam keadaan menyala, belum dimatikan. “Itu lampu kok masih menyala, ya? Apa aku lupa mematikannya?” tanya Bi Momon pada dirinya sendiri.
Bi Momon pun segera melancarkan aksinya untuk mengambil minum dan menghiraukan lampu di ruang keluarga. Belum berapa langkah untuk mencapai dispenser, langkahnya kembali terhenti ketika mendengar suara seperti orang yang lagi batuk. “Duh, siapa lagi itu? Kok jadi merinding kayak gini? Hiiii.” Bi Momon bergidik dan mengusap tengkuknya yang terasa digelitik karena ngeri.
Drap, drap!!
Bi Momon kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, kemudian berhenti setelah mencapai dispenser. Sejenak Bi Momon terdiam dan nampak sedang berpikir. “Waduh, kok jadi penasaran kayak gini? Ah, lebih bagus langsung dicek saja daripada mati penasaran.” Bi Momon putar balik menuju ruang keluarga. Ia mengurungkan niatnya untuk minum.
Setibanya di ruang keluarga, Bi Momon membuka mulutnya lebar-lebar karena mendapati Agatha yang masih saja tidur di sofa. Bi Momon sudah bisa mengambil kesimpulan dengan apa yang sedang ia lihat saat ini. Sudah pasti tuan dan nyonya-nya belum kembali pulang ke rumah. “Ya Tuhan. Menunggu tuan dan nyonya sampai segitunya kamu nona kecil,” ucap Bi Momon, kepalanya menggeleng lalu mendekati Agatha untuk membangunkannya.
“Non, bangun! Pindah ke kamar saja, ya.” Bi Momon mengguncang-guncang kaki Agatha berharap agar terbangun. Tiba-tiba tatapan Bi Momon sendu ketika menatap wajah Agatha. Bahkan, saat tertidur seperti itu pun sangat kelihatan betapa ia merindukan orang tuanya, merindukan dekapan dan kasih sayang dari orang yang telah melahirkannya.
Manik mata Bi Momon kembali berkaca-kaca. “Non, kamu harus sabar, kamu harus kuat dan tegar. Yakinkan pada diri kamu sendiri bahwa tuan dan nyonya tidak akan selamanya seperti itu.” Bi Momon mengusap matanya yang terasa basah.
Tidak tega untuk membangunkan nona kecilnya itu, Bi Momon mengambil inisiatif untuk menuju kamar Mang Judas. Jarak ruang keluarga untuk mencapai kamar Mang Judas tidaklah begitu jauh, hingga pada langkah ke-15 Bi Momon sudah sampai di depan kamar Mang Judas. Tidak sulit untuk membangunkan Mang Judas, karena jika tengah malam, Mang Judas kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah mengecek keadaan rumah sudah benar-benar aman.
Tok, tok, tok!!
Dalam sekejap pintu kamar Mang Judas pun terbuka dan langsung menampakkan Mang Judas di sana. Nampaknya Mang Judas baru saja selesai berdoa, terlihat dari Rosario yang tengah ia pegang.
“Ada apa, Bi?” tanya Mang Judas terheran-heran. Tidak biasanya Bi Momon mengetuk pintu kamarnya pada saat malam yang sudah larut seperti ini.
“Bantuin saya. Bisakan?” tanya Bi Momon memelas.
Mang Judas mengerutkan keningnya. “Apa yang mesti dibantuin? Apa minyak goreng sudah habis? Kalau begitu, besok saja saya antar Bibi ke supermarket. Goreng menggorengnya tinggalkan saja.”
“Kupret. Apa kamu lupa jam sudah menunjukkan pukul tengah malam?” Bi Momon mengomeli Mang Judas.
“Iya. Saya tau, Bi. Tapi apa yang harus saya bantu? Bibi aja belum memberikan soal yang harus saya bantu, mana mungkin ada jawabannya. Jika saya jawab iya, nantinya Bibi malah menyuruh saya lompat dari genteng, itu tidak akan saya lakukan!” jawab Mang Judas sekenanya.
“Yasudah, saya malas berdebat. Bantuin bawa nona kecil ke kamar. Dia sampai ketiduran di sofa untuk menunggu tuan dan nyonya kembali. Tapi nyatanya nona kecil masih saja di situ dan berarti tuan dan nyonya belum kembali ke rumah,” ujar Bi Momon menjelaskan.
“Apa betul yang Bibi katakan?” tanya Mang Judas tak percaya.
__ADS_1
“Kamu ini bagaimana? Bukannya kamu habis dari ruang jaga di depan?” Bi Momon balik bertanya.
“Bukan itu yang saya tanyakan. Maksud saya tadi, apa iya nona Agatha tidur di sofa untuk menunggu tuan dan nyonya?”
“Iya, kupret. Tuh, liat sendiri kan kalau lampunya saja masih menyala?” tunjuk Bi Momon ke arah ruang keluarga.
“Oh, saya pikir Bibi sedang menonton TV, makanya saya tidak mematikan lampu itu,” jawab Mang Judas singkat. Mang Judas akhirnya pun menutup pintu kamarnya. “Ayo ke sana!” ajak Mang Judas.
Mereka berdua berlalu menuju sofa ruang keluarga. Memang benar yang diucapkan Bi Momon, pikir Mang Judas setelah tiba di sofa. Tanpa bertanya lagi, Mang Judas pun akhirnya mengangkat tubuh Agatha dan membopongnya untuk kembali ke kamarnya. Agatha tidak juga terbangun, mungkin karena saking lelahnya setelah melakukan perjalanan. “Nanti Bibi bukain pintunya. Tangan saya tidak bisa memegang gagang pintu.”
“Iya. Ayo cepat!” Bi Momon segera menyusul Mang Judas dan Agatha setelah ia mematikan lampu.
Mang Judas berusaha menambah gerak langkahnya agar segera sampai di kamar Agatha agar orang yang sedang ia bopong tidak terbangun. Satu anak tangga lagi untuk mencapai lantai atas. Mang Judas kaget ketika Agatha mengerjapkan matanya, langkah Mang Judas pun terhenti, syukurnya Agatha tidak terbangun.
“Kenapa berhenti? Kita sedikit lagi sampai,” ucap Bi Momon.
“Nona mengerjapkan matanya, untung saja tidak terbangun. Tubuhnya juga berat, tangan saya hampir pegal,” tukas Mang Judas.
“Kamu ini. Bagaimana mungkin nona Agatha jadi begal? Buktinya saja dia sedang pulas dibopong kamu,” ujar Bi Momon.
“Lama-lama Bibi saya jadikan sandal jepit.” Mang Judas menggelengkan kepalanya karena Bi Momon sudah mulai kumat.
Tak ingin menggubris Bi Momon, Mang Judas pun akhirnya melanjutkan langkahnya hingga tiba di depan kamar Agatha. “Buka pintunya!” perintah Mang Judas.
“Palu untuk apalagi? Saya bukan tukang bangunan,” ucap Bi Momon, namun tangannya tetap membuka pintu kamar Agatha.
“Untuk membongkar kepala Bibi yang selalu saja bikin mumet,” jawab Mang Judas asal.
Pintu kamar terbuka. Mang Judas segera bergegas menuju ranjang Agatha. Ia letakkan Agatha di atas ranjang dengan hati-hati. “Misi selesai. Saya kembali ke kamar, Bi.”
Mang Judas berlalu, menyisakan Bi Momon yang tengah menaikan selimut untuk menutupi tubuh Agatha. Mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Tangan Bi Momon mengusap lembut kepala Agatha. “Selamat tidur, nona kecil. Nona yang terlupakan.” Bi Momon segera meninggalkan kamar Agatha.
Baru saja menapaki lantai dasar, muncullah tuan dan nyonya, majikannya. “Dari mana, Bi?” tanya Nyonya Daria.
Bi Momon terdiam. “Aduh, apa yang harus dijawab?” batin Bi Momon.
__ADS_1
“Hei, Bibi. Kenapa melamun? Bibi dari mana?” tanya Nyonya Daria lagi.
“Mmm, anu, Nyonya. Habis dari kamar nona Agatha,” jawab Bi Momon.
“Dia kenapa?” timpal Tuan Thomas.
Bi Momon pun pada akhirnya tidak mempunyai pilihan lain selain menceritakan yang sebenarnya. “Tadi, nona Agatha berniat untuk menunggu Tuan dan Nyonya pulang, sampai-sampai ia tertidur di sofa. Untungnya saya keluar untuk mengambil minum. Kalau tidak, bisa sampai pagi nona Agatha tidur di sofa. Akhirnya saya minta tolong sama Judas supaya membawa nona Agatha kembali ke kamar. Kasian jika tidur di sofa, nanti habis digondol nyamuk.”
“Oh, begitu.” Nyonya Daria manggut-manggut. “Lagian saya kan tidak meminta Agatha untuk menunggu, kenapa harus ditunggu segala?” lanjut Nyonya Daria.
“Ya, saya kurang tau juga, Nyonya. Kalau begitu, saya pamit istirahat, Nyonya, Tuan,” pamitnya pada sang majikan.
🕊️🕊️🕊️
Agatha mendengar suara-suara memanggil namanya. Rasanya ia sangat kenal dengan suara itu. Rasanya begitu tidak asing di telinga, begitu familiar. Tapi ia tidak tau pasti siapa pemilik suara-suara yang menggema memanggil namanya. “Aku di mana?” tanyanya dalam hati, dengan tetap mengamati keadaan sekitar.
Ia tau, saat ini ia hanya ingin mendengar suara dan berada dalam dekapan orang tuanya. Tapi, di mana mereka? Ia menelusuri tempat itu, melangkah dengan gontai. “Di mana mommy? Mengapa aku tak bisa mendengar suaranya yang kurindukan selama ini? Mengapa aku tidak bisa melihat wajah khawatirnya? Mengapa aku tak lagi bisa mendengar tangisannya yang khawatir padaku? Lalu, daddy juga kemana? Mengapa mereka meninggalkanku sendirian?” gumamnya.
Tatapan nanar dan kosong menjelajah ke segala arah yang ia bisa untuk dicapai mata. “Daddy, Agatha sayang sama daddy. Apakah daddy bisa menjemputku dari tempat yang penuh dengan kegelapan ini? Aku takut, Daddy. Apakah memang ini saatnya Agatha pergi dan menghilang dari kalian? Daddy, apabila Agatha banyak menyusahkan daddy, maafin Agatha, Dad.” Air mata Agatha mulai mengalir membasahi wajahnya.
“Mommy, Agatha juga sayang sama mommy. Mommy di mana? Sudah ke sana kemari nyari mommy, tapi mommy tidak ada. Kenapa mommy enggak nemenin Agatha? Agatha hanya ingin dekat dan memeluk mommy. Maafkan Agatha yang banyak nuntut dari mommy.”
Agatha berpikir, kalaupun sekarang ia harus pergi selamanya dari hadapan orang yang ia sayangi, ia hanya berharap agar mereka bahagia dengan kepergiannya. Tidak menangisi kepergiannya dengan berlarut-larut.
Kegelapan yang menyelimutinya tiba saja sirna, entah dari mana datangnya cahaya itu. Perlahan semuanya terbentuk begitu nyata di sekelilingnya. Ia berada di sebuah taman berbukit yang sangat indah dan rapi. Bunga-bunga beraneka warna dari segala jenis bunga bermekaran dengan begitu mempesona. Wanginya menyeruak memenuhi taman itu. Burung-burung berkicau, kupu-kupu berkeliaran ke sana kemari menghisap nektar bunga yang sedang mekar. Ia seolah iri dan cemburu pada bunga-bunga itu. “Mengapa aku tak seberuntung bunga itu?” ucapnya sendu.
Dalam waktu yang bersamaan, ia merasakan sentuhan nan lembut di kedua tangannya. Ia menoleh. Ia melihat kedua orang tuanya dengan tatapan bahagia. Namun, pandangannya kembali menghilang entah melayang kemana. Kedua orang yang sedang ia tatap tiba-tiba saja lenyap begitu saja. Pandangan buyar seketika. Ia mencoba untuk membuka matanya. Di sekelilingnya adalah ruangan yang tidak asing baginya. Iya, itu adalah kamar Agatha. Ia segera bangkit dari baringnya. “Astaga,” ucapnya terengah-engah. “Ternyata aku cuma mimpi.” Agatha mengelus dadanya yang terasa sesak.
Tampak di dekat jendela, Bi Momon tengah membuka gorden jendela kamarnya. “Kenapa mimpiku aneh sekali?” gumamnya. “Jika memang itu yang Kau inginkan, aku pasrah, Tuhan. Aku tidak bisa menolak jika itu keputusan-Mu.” Matanya berkedip sekejap lalu mengeluarkan bulir-bulir bening di matanya.
Mimpi bisa saja sebagai penghias tidur atau bunga tidur. Tetapi, jika mimpi itu menjadi kenyataan? Apakah yang dapat dilakukan? Begitu juga dengan Agatha, ia takut menghadapi semuanya.
“Aku tau, semua akan kembali kepada-Mu. Tapi aku mohon, biarkan aku bahagia dengan kedua orang tuaku,” ucap Agatha memohon. Bi Momon sejenak menghentikan aktivitasnya dan melihat Agatha yang tengah tersedu-sedu.
“Pasti non Agatha bermimpi yang buruk tentang dirinya,” gumam Bi Momon seolah tau apa yang terjadi.
__ADS_1
🕊️🕊️🕊️
To be continued....