
Seluruh siswa SMA kelas XII yang beberapa pekan terakhir telah melaksanakan ujian kelulusan, tengah menikmati kebahagiaannya sesaat. Sesaat? Iya, sesaat. Alasannya adalah karena mereka harus masih menunggu pengumuman hasil SNMPTN dan sebagainya. Mereka semua bersorak ria begitu mendengar bahwa di angkatan mereka tidak ada yang mengulang pelajaran lagi, terlebih Agatha and the genk. Raut wajah mereka semua berseri bak matahari dan mata mereka berbinar ibarat bintang kejora. Tak terbayangkan rasanya atas pencapaian mereka selama tiga tahun menaklukkan bangku SMA. Sebelumnya mereka memang sempat menginginkan ujian kelulusan dihapus saja, karena mereka semua takut jika saja tidak lulus. Tetapi inilah jawaban atas dari kecemasan yang sempat membuat mereka pesimis.
Pekan depan, mereka harus menyiapkan diri memandangi laptop atau pun ponselnya untuk melihat hasil SNMPTNnya. Mata, pikiran, dan hati harus benar-benar mereka persiapkan dengan matang-matang jika tidak menginginkan barisan marching band menggema di dalam tubuh mereka. Ya, momen ini memang merupakan momen yang mendabarkan jantung. Apalagi mereka menginginkan universitas dan jurusan impian yang sudah mereka dambakan semenjak masih SMA. Jika gagal, sudah pasti mereka akan bersedih.
Selasa, pukul setengah sembilan pagi. Agatha baru saja terbangun dari tidurnya. Semenjak sudah tidak melakukan aktivitas sebagai pelajar SMA lagi, membuatnya malas jika bangun terlalu pagi seperti biasanya. Gadis itu lalu menyambar ponselnya yang berada di atas nakas lampu tidur. Ia teringat bahwa hari ini merupakan hari di mana ia bisa melihat hasil SNMPTN. Setelahnya, ia kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
🕊️🕊️🕊️
Hasil SNMPTN baru saja diumumkan melalui website. Hasilnya begitu memuaskan bagi Dirgo, Welson,Yadi, Memey, Stevanie, Maria, dan Nadine. Hasilnya, Memey berhasil masuk di Universitas A yang merupakan Universitas idamannya dengan mengambil jurusan Psikologi. Maria, Stevanie, dan Yadi sama-sama berhasil diterima di Universitas B mengambil jurusan Dokter Gigi. Sedangkan Nadine, gagal masuk di Universitas C yang menyediakan jurusan Teknik Industri. Sisanya, Dirgo dan Welson sama-sama diterima di Universitas D dengan berbeda jurusan. Welson mengambil jurusan Hubungan Internasional, sedangkan Dirgo di jurusan Dokter Anak.
Agatha masih setia menatap layar laptopnya. Layar persegi panjang itu menampilkan namanya beserta pemberitahuan bahwa dirinya tidak lulus jalur undangan di kedokteran Universitas D. Gadis itu termenung cukup lama dan terlihat putus asa.
“Mommy, see? My final test… Aku udah bilang juga kan sama Mommy kalo nilaiku kurang dengan passing grade kedokteran Universitas D!” Agatha menggelengkan kepala, lalu menutup layar laptopnya dengan keras karena kecewa dengan pemberitahuan yang menyatakan dirinya tidak lulus.
Agatha sebenarnya memang tidak ingin masuk di Kedokteran Universitas D, tetapi karena paksaan dan desakan dari orang tuanya, dengan terpaksa gadis itu menuruti permintaan orang tuanya, walau baginya itu memang hal yang mustahil. Agatha ingin sekali berteriak, tetapi ia tak tau harus ke mana melampiaskan kekesalannya.
“Iya, sayang. Masih bisa coba SBMPTN, kan?” Mommy nya mengusap kepala Agatha.
“Tapi itu bukan universitas yang aku inginkan, Mom! Dari dulu aku pengen di Universitas A, tapi karena daddy sama mommy memaksaku untuk masuk di Universitas D, aku nurut. Ya walaupun kampus dan jurusan impianku tereliminir karena keinginan kalian.”
“Sssttt, jangan putus asa gitu. Mommy sama daddy tau yang terbaik untuk kamu.”
“Tau yang terbaik untuk aku? Heh…” Agatha mendengus dengan perkataan konyol mommy nya. “Jika daddy sama mommy tau yang terbaik untukku, lalu kenapa di saat aku ulang tahun, mommy malah mengabaikanku dan mementingkan kerjaan mommy?”
“Stop, sayang! Kamu kan tau jika mommy sibuk. Lagian mommy juga udah minta maaf sama kamu.”
Jawaban dari mommy nya memang benar-benar jawaban klasik. Setiap kali Agatha meminta waktunya, selalu alasannya adalah sibuk karena pekerjaan. Agatha menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia sungguh tidak tau apa yang diinginkan orang tuanya untuk dirinya. Agatha segera bangkit dari duduknya meninggalkan sang mommy. Ia ke kamar dan berganti pakaian, kemudian mengambil tasnya. Ia berencana hendak ke rumah Welson.
🕊️🕊️🕊️
Agatha menutup mulutnya dengan kedua tangan karena masih tidak menyangka bahwa pacarnya itu lulus di universitas yang pernah diceritakan padanya dulu. Gadis itu sekali lagi memandangi layar persegi panjang itu, kemudian mengucek matanya berkali-kali, barang kali saja ia hanya halusinasi atau bermimpi. Rasanya memang tak mungkin jika seorang Welson yang suka nyosor sembarangan bisa diterima di universitas ternama tersebut.
“Sayang, coba cubit pipiku!” Ia melirik pada Welson yang duduk di samping ranjangnya sambil memainkan ponselnya. “Sayanggg…!” Agatha kembali memanggil nama sang pacar dengan sedikit berteriak, karena melihat Welson masih tidak meresponsnya.
Pemuda berwajah tampan yang menjadi kekasihnya itu mengernyit. Dia mencubit pipi Agatha keras-keras sehingga membuat Agatha meringis kesakitan, lalu menepiskan tangan Welson dari pipinya.
“Awww, pelan-pelan ih!”
“Katanya nyuruh aku nyubit. Gimana sih sayang?”
“Ya jangan keras-keras juga, dong. Ini pipi, bukan ban mobil bekas!” Agatha mengelus pipinya.
“Cowok memang selalu salah. Hanya cewek doang yang bener,” ucap Welson. “Gimana? Pacarmu ini hebatkan?”
__ADS_1
Napas Agatha seperti tertahan, rasanya begitu bahagia bahwa sang pacar dan semua sahabatnya berhasil masuk di universitas impian, namun tidak dengan dirinya. Harapannya pupus ketika hasil test SNMPTN di universitas pilihan orang tuanya gagal sehingga mengorbankan universitas impiannya.
“Iya, kamu hebat...” jawab Agatha dengan tak bersemangat. Ia sedih dan bingung apa yang akan dilakukannya.
“Kenapa sedih gitu?”
“Aku gagal masuk.”
“Iya, gak apa-apa, sayang. Masih bisa lewat jalur lain juga, kan? Apalagi om sama tante berduit, jadi gak perlu repot buat mereka ngelakuin apa aja buat kamu.” Welson naik ke ranjangnya, meraih Agatha ke dalam pelukannya, berusaha memberinya ketenangan.
Agatha sekarang tak ingin memikirkan kegagalannya yang baru saja diumumkan hari ini. Ia hanya ingin orang tuanya sekali saja meluangkan waktu dan menuruti keinginannya. Dirinya yang masih berada di pelukan Welson, segera melingkarkan lengannya di tubuh pemuda itu. Ia menatap Welson, “thank you, sayang.”
Tatapan mata Agatha, seolah kembali membangkitkan apa yang pernah Agatha ucapkan bahwa mereka akan melakukannya saat mereka masuk kuliah. Tangannya mengusap kepala Agatha sambil tersenyum penuh maksud.
“Sayang…” Tanpa aba-aba lagi Welson langsung mencium Agatha. Agatha yang mendapat serangan dadakan, sontak memukul tubuh Welson.
“Suka bener nyosor-nyosor.”
“Kamu pacarku, jadi aku berhak dong.”
“Dasar omes!”
“Apa itu?”
“Hahaha..”
Agatha kembali memukul tubuh Welson ketika pemuda itu terkekeh dengan ucapannya. Ia mengurai pelukan dan duduk berhadapan dengan Welson. Ia kembali menatap Welson dengan tatapan terkesima. Entah apa yang sedang terjadi dengannya, rasanya Welson semakin tampan saja di matanya. Kharismanya begitu tercetak nyata di mata Agatha. Senyumnya mengembang, membuat Welson bertanya-tanya.
“Kenapa senyum-senyum?”
“Gak ada yang senyum,” kilah Agatha. Ia menundukkan kepalanya menyembunyikan semburat wajahnya yang merona karena Welson mengetahuinya senyam-senyum.
“Oh. Berarti yang tadi kucing oyen yang senyum.”
“Ishh…! Masa aku disamain dengan kucing oyen.”
Welson terbahak melihat reaksi wajah Agatha yang sedang kesal dengannya. Daripada Welson terus saja menjahilinya, ia memilih mengambil bantal guling kemudian berbaring sambil memeluknya. Ia berbaring membelakangi Welson.
“Aku cemburu!” celetuk Welson dengan nada manja.
“Sama siapa?” tanya Agatha tanpa menoleh ke arah Welson.
“Sama gulingku sendiri. Hahaha.”
__ADS_1
Tawa Welson terhenti ketika Agatha melemparnya dengan bantal guling. Welson yang mendapatkan itu, melemparkan kembali guling itu pada Agatha. Terjadi aksi lempar-melempar guling di kamarnya. Mereka berdua terbahak dengan aksinya tersebut. Tak hanya lempar-lemparan bantal guling, mereka juga melompat di atas ranjang sehingga membuat tubuh mereka terpental-pental ke atas. Terakhir, mereka berbaring karena cape dengan tingkah gilanya.
“Sayang! Aku haus,” ucap Agatha seraya meraba kerongkongannya.
“Haus? Sini!” Welson merangkul tubuh Agatha supaya menghadap padanya.
“Aku butuh air. Bukan butuh wajah omesmu!”
“Hahaha… Yaudah, tunggu sini dulu. Aku ambilin minumnya ke bawah.” Seraya mengangkat tubuhnya, Welson mencuri kesempatan untuk mencium Agatha.
“Buruan ih! Malah nyosor kayak bebek.”
Welson melenggang keluar. Tak butuh waktu lama, ia sudah kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas jus buah naga dan satu piring nasi goreng seafood dan meletakkannya di atas nakas. Agatha bingung, kenapa Welson datang dengan membawa nasi goreng seafood, padahal ia tidak memintanya.
“Makan gih!” pinta Welson dengan isyarat matanya.
“Aku gak laper!”
KRAKKK!!! KRUUUK!!
Tiba-tiba saja perut Agatha berbunyi. Gadis itu seolah ingin mengumpat pada penghuni perutnya karena sudah berhasil membuatnya ketahuan belum makan.
“Tuh, cacingnya saja sudah berontak. Masih bilang gak laper? Hahaha.”
“Gak ada. Itu tadi gemuruh kecil.”
“Iya, gemuruh di perutmu.”
Welson langsung mengambil sendok yang sudah berisi nasi goreng, kemudian menyuapi Agatha. Sudah beberapa suapan berhasil masuk ke mulut Agatha, lalu ia meletakkan kembali sendok tersebut ke dalam piring.
“Makan sendiri! Jangan manja!”
“Huhh. Siapa juga yang nyuruh kamu nyuapin aku?” Kepalang nafsu dengan nasgor itu, Agatha kembali makan dengan lahap. Welson tersenyum melihatnya.
“Kalo gak disuapin gak akan makan. Kasian cacingnya kalo kelaparan.”
“Nyebelin…”
Welson kembali merapikan bekas makan Agatha, lalu membawa nampan itu ke bawah. Sementara, Agatha yang sudah kenyang, perlahan menguap. Gadis itu mengantuk, mungkin efek dari perutnya yang sudah terisi dan ditambah lagi dengan aroma kamar Welson yang menurutnya wangi. Wangi itu seolah menghipnotisnya untuk segera tidur. Ia berbaring sambil memeluk guling kembali.
🕊️🕊️🕊️
To be continued….
__ADS_1