
Mereka bertiga tengah menyantap dessert sebagai makanan penutup mereka. Raut wajah Agatha tampak menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman itu muncul di balik wajah cantiknya. Entah senyum itu akan terus terukir di wajahnya atau hanya sekedar mampir dan kemudian berlalu begitu saja.
Ia tak begitu menyangka pada orang tuanya yang bisa bersikap manis sejak kepulangannya tadi siang. Terus tersenyum seraya menyuapkan dessert ke dalam mulutnya, hingga tak memperhatikan pada kedua orang yang ada di depannya. Mereka berdua kebingungan mengapa nona kecilnya itu tersenyum sendiri. Saling mengangkat bahu masing-masing ketika mereka saling menatap, menatap untuk bertanya.
“Non? Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Bi Momon tiba-tiba, menghentikan aktivitas Agatha.
Agatha yang tengah tersenyum pun dibuatnya terkejut. “Astaga. Bibi bikin kaget aku aja.” Agatha mengelus pelan dadanya yang terasa roboh. “Aku cuma lagi pengen senyum aja, Bi. Apakah gak boleh?” ucapnya.
“Ya boleh dong, Non," jawab Bi Momon, “oh, Bibi kira karena ada lampu hijau dari tuan dan nyonya, Non.” Bi Momon tertawa geli.
“Apaan lampu hijau, Bi? Ini bukan lalu lintas loh,” sangkal Agatha. Padahal sebenarnya ia tau apa yang dimaksud Bi Momon. Ini sudah pasti tentang hubungannya dengan Welson.
“Tuh, mukanya merah, Non,” goda Bi Momon, “kalau dilihat-lihat sepertinya gantengan dan dewasa kawan Non yang satu itu loh.”
Agatha mengerutkan keningnya berusaha mencerna yang dimaksud Bi Momon. “Yang mana lagi, Bi?” tanyanya.
“Ada, Non. Yang menolak tawaran Bibi tadi siang loh. Kalau enggak salah namanya Bejo apa Logo, ya?” Bi Momon menaikkan tangan ke dagunya seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Hahaha. Nama yang lucu,” ucap Mang Judas. Nama yang Bi Momon sebutkan seolah menggelitik perut Mang Judas.
“Iya, Bintang Toedjoe adalah logonya Bejo Jahe Merah,” jawab Agatha. “Gak usah dengarin Bi Momon, Mang. Bi Momon memang begitu orangnya, suka mengubah nama orang tanpa beban dan pertimbangan.” Agatha menutup mulutnya menahan tawa.
“Wes ewes-ewes, bablas angine,” sambung Mang Judas.
“Hahaha. Cocok sekali, Mang, sama Bi Momon.” Agatha tertawa.
“Oh iya, Non. Beling Bibi mengatakan kalau si Bejo itu kayaknya pernah ketemu di RS Sta.Elisabeth yang pas ngantar Non deh,” ucap Bi Momon.
Agatha menghentikan aktivitasnya dan menggeleng. “Feeling, Bibi. Dirgo bukan Bejo. Jangan suka ganti-ganti nama orang, Bi!” protes Agatha.
“Hahaha. Bibi lagi kumat, Non. Makanya oleng,” timpal Mang Judas sambil tertawa.
“Diam!” Bi Momon melotot ke arah Mang Judas.
__ADS_1
“Siap. Karena saya tampan, jadi saya harus diam.” Mang Judas membuat wajahnya se-cool mungkin.
“Hahaha. Mang Judas ternyata narsis juga.” Agatha tertawa. Hatinya yang terasa sepi kini terasa hidup dan bergairah kembali. Ibarat rumput yang layu di siang bolong, lalu segar kembali di saat tertimpa guyuran hujan. Mungkin seperti itulah suasana hatinya saat ini.
“Non? Kenapa Non ngajak makan bersama dengan Non? Kami kan bisa makan di ruang belakang,” tanya Mang Judas.
“Emang gak boleh?” Agatha balik bertanya.
“Bukan begitu, Non. Tapi Mang Judas merasa gak enak,” jawab Mang Judas apa adanya.
Agatha menarik napasnya dalam-dalam lalu ia hembuskan. “Pasti Mang Judas berpikir bahwa majikan gak boleh makan bersama asisten, gitu?”
“Iya, Non,” jawab Bi Momon datar.
“Memangnya Bibi itu Mang Judas? Kenapa menjawab yang memang bukan pertanyaan untuk Bibi?” tanya Agatha. Wajah Bi Momon cemberut. Namun, rasanya ia ingin tertawa lebar ketika melihat reaksi dari Bi Momon ketika mendengar ucapannya tadi.
“Hahaha. Dasar tukang tikung. Main serobot aja, Bi.” Mang Judas tertawa terbahak-bahak.
“Oh iya. Kenapa Bibi dan Mang Judas aku ajak makan bersama? Karena aku tau, kalianlah yang selama ini mendampingi aku. Kalian sudah aku anggap bagian dari keluargaku. Aku tidak mau membandingkan antara majikan dan asisten, antara kaya dan miskin, antara hitam dan putih, antara terpandang dan terhina. Karena apa? Kita di mata Tuhan itu sama, gak ada bedanya. Namun, manusia sendirilah yang membeda-bedakannya, menjadikan dirinya membawa sifat yang suka membanding-bandingkan terhadap hidup orang lain. Ujung-ujungnya muncullah konflik, muncullah selisih paham di antara sesama,” tutur Agatha dengan mata yang berkaca-kaca.
“Justru aku yang berterima kasih sama Bibi dan Mang Judas. Karena kalian aku bisa tegar dengan semua sikap daddy dan mommy. Kalian yang telah menguatkan aku, berdiri di sampingku di masa-masa sulitku. Kalian memang suka bikin aku kesal, tetapi sebenarnya aku merasa terhibur. Walaupun di kamar aku sering menangis tanpa ada yang mengetahuinya.” Agatha juga menangis, bangkit dari kursinya dan merangkul Bi Momon. Karena mendapat perlakuan itu dari nona kecilnya, tangis Bi Momon semakin pecah. Mereka berdua menangis bersama seolah memberikan penguatan hati.
Mang Judas yang menyaksikannya juga tanpa sadar meneteskan air matanya. Ia juga ikut merasakan apa yang Agatha dan Bi Momon rasakan. Mang Judas menghapus air matanya dengan lengan bajunya dan berkata, “menangislah jika itu bisa membuatmu tenang dan meringankan bebanmu. Menangis bukan berarti cengeng dan lemah. Ada fasenya kita menangis karena haru, ada fasenya juga menangis karena sakit hati dan kecewa, dan ada fasenya juga kita menangis karena berduka.”
Mendengar ucapan Mang Judas, refleks Agatha melepaskan rangkulannya dari Bi Momon dan menghampiri Mang Judas. Ia juga merangkul Mang Judas sama seperti merangkul Bi Momon. “Terima kasih, Mang. Maafkan sifatku yang pernah tidak sopan sama Mang Judas selama ini. Kalau aku boleh meminta, Mang Judas kalau nanti punya istri harus tinggal di rumah ini.” Agatha menangis sambil merangkul Mang Judas. Mang Judas pun tak segan mengusap kepala Agatha karena saking terharu. Agatha yang biasa ia panggil nona tak seperti Agatha yang biasanya, tak seperti Agatha yang ketus dan dingin, yang suka marah-marah.
Terkadang, seseorang yang kelihatan ceria, yang kelihatan dingin dan cuek, namun sebenarnya mereka memiliki kesedihan di dalamnya. Tetapi mereka berusaha menutupinya sebisa mungkin agar tak ada yang mengetahuinya, agar tak ada orang lain yang merasakan kesedihannya. Namun, apakah salah jika ia menumpahkan isi hatinya pada kedua orang yang telah ia anggap keluarganya sendiri? Itulah yang Agatha pikirkan.
Mereka bertiga terbawa suasana malam ini. Ruang makan yang semulanya penuh canda tawa, kini mendadak haru dan belenggu. Mang Judas melepaskan rangkulan Agatha agar ia bisa menenangkan hatinya. “Sudah, Non. Jangan menangis lagi. Menangis dengan berlarut-larut juga tidak baik.”
“Iya, Mang. Maaf, baju Mang Judas jadi basah karena air mataku.” Agatha menyunggingkan senyumnya, Mang Judas mengangguk. Agatha lalu beranjak kembali ke kursinya semula, di sebelah Bi Momon.
“Yang terpenting kita harus tetap berpegang teguh pada Tuhan. Karena hanya Dia-lah yang bisa menyelami hati dan perasaan seseorang. Berdoa, berdoa, dan terus berdoa lalu berusaha. Niscaya doa-doa kita akan dikabulkan oleh-Nya, sesuai yang kita harapkan. Terkadang, Tuhan membiarkan kita sakit dahulu, lalu menuai bahagia di kemudian hari,” tutur Bi Momon. Agatha mengangguk karena apa yang diucapkan Bi Momon memang benar adanya. Mereka segera beralih ke ruang keluarga sambil menunggu daddy dan mommy nya.
__ADS_1
🕊️🕊️🕊️
Jam dinding yang tergantung di dinding ruang keluarga kediaman Agatha menunjukkan pukul 20.45. Tak terasa mereka menghabiskan banyak waktu di dapur dengan segala macam obrolan. Ada obrolan yang membuat hati terenyuh dan ada obrolan yang mengocok perut.
“Sudah jam sembilan kurang, Non. Ada baiknya Non segera beristirahat. Besok sudah harus kembali sekolah, Non.” Bi Momon memerintah Agatha agar kembali ke kamarnya.
“Nanti aja, Bi. Aku mau nungguin daddy sama mommy pulang. Aku bisa selonjoran di sofa ini sambil menonton TV,” jawab Agatha.
“Non, kalau begitu, Mang Judas kembali ke markas, ya. Selamat malam dan selamat beristirahat,” pamitnya pada Agatha
“Iya, Mang. Selamat malam kembali.”
“Non, Bibi juga pamit ke belakang mau nyuci piring, ya.” Bi Momon juga berpamitan.
“Oke, Bi.”
“Karaokenya lain kali aja, Non. Bibi harus nyuci dulu,” jawab Bi Momon santai.
“Tuh, kumat lagi!” Agatha menggeleng.
“Ini bukan malam jumat, Non.”
“Eh, kenapa masih di sini, Bi? Katanya mau nyuci piring? Sana-sana!” Agatha menjentikkan jarinya tanda mengusir.
“Oh iya. Lupa. Maaf, ya, Non.” Bi Momon segera mengarahkan jalannya menuju dapur.
Di ruang keluarga tinggallah Agatha seorang diri. Ia mulai menyalakan TV yang ada di depannya. Sudah beberapa channel ia putar, namun tak ada tontonan yang pas untuk dirinya. Waktu berjalan dengan cepat. Hingga pukul sepuluh malam pun orang tuanya belum juga menampakkan batang hidungnya. Namun, ia tak ingin menyerah dan harus menunggu orang tuanya di ruang keluarga yang ia tempati sekarang. Ia hanya ditemani oleh dentingan jam dinding yang memecah keheningan malam. Ia kembali ditemani sepi. “Apakah akan terus seperti ini?” ucapnya seraya melihat pintu utama dan jam dinding. Sasaran tatapannya masih sama, tetap saja pintu yang sedari tadi tidak menampakkan tanda-tanda apapun. Ia semakin bosan dan gelisah. Duduk salah, berbaring juga salah.
“Apakah sesulit ini mendapatkan kasih sayang mereka kembali?” Wajahnya tampak sendu dan tatapannya kosong. Semakin lama ia semakin bosan dan juga mengantuk. Ia membaringkan tubuhnya di sofa dan tertidur begitu saja.
Menunggu orang yang kita sayangi bahkan dengan rela-relanya kita tertidur di sembarang tempat. Tetapi, apakah orang yang sedang kita tunggu memikirkan kita yang rela menunggunya hingga berlarut dan tertidur? Lagi-lagi Agatha mengalami nasib yang sama. Baru saja ia tersenyum karena ulah manis kedua orang tuanya, namun sirna seketika. Ibarat api yang menyala lalu padam ketika disiram air.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
To be continued...