
Suatu senja, hari kedua pasca kejadian itu, Agatha terlihat sangat sayu, seperti sudah tak ada lagi semangat yang berkobar di dalam dirinya. Ia memandang sekeliling gazebo di samping rumahnya dengan tatapan sendu. Melihat gazebo, rasanya ia teringat akan sesuatu, tentang dirinya dan Welson di sana. Ingin menenangkan suasana hati dan pikirannya yang sedang gundah gulana, akhirnya ia melangkah menuju gazebo. Diraihnya ponsel yang berada di dalam saku celananya, lalu memencet nomor Memey. Ia meminta Memey menemaninya untuk berbagi keluh kesah yang ada dan juga meminta sang sahabat untuk menginap lagi di rumahnya.
“Hallo! Kenapa, Tha?”
“Lo di mana sekarang?”
“Di rumah nih, sama bokap nyokap. Ada apa?”
“Ke rumah gue, ya! Izin sama om tante dulu, jangan main nyelonong aja.”
“Lo nyuruh ke rumah aja atau sekalian nyuruh gue nginap?”
“Iya, sekalian nginap. Bisa, kan?”
“Oke, bisa-bisa. Yaudah, tungguin gue dateng. Izin sama bokap nyokap dulu gue.”
“Naik taxi aja, jangan motoran. Bahaya, udah gelap nih.”
NET-NOT!! Setelah selesai berbicara dengan Memey via suara, Agatha langsung mengakhiri sambungan telepon supaya Memey tidak berbicara panjang lebar lagi. Ia kembali masuk ke rumah karena hari juga sudah semakin menggelapkan dirinya.
Selang dua puluh menit kemudian, bel masuk pagar dan rumah sudah berbunyi, menandakan orang yang dimintanya untuk datang, sudah tiba di rumah. Agatha segera menuju pintu utama, menunggu Memey menampakkan batang hidungnya. Sontak saja Agatha memeluk Memey yang sudah berada di hadapannya. Agatha memeluk Memey dengan erat, seolah menyiratkan bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi padanya.
Memey yang mendapat pelukan Agatha secara tiba-tiba, tentu saja terkejut, terlebih lagi wajah sahabatnya itu tampak sendu. Memey sendiri sudah tau menebak yang sedang terjadi, jika idak menyangkut orang tua Agatha, bisa jadi antara ia dan Welson. Itu yang ada di dalam pikiran Memey saat membaca situasi ini.
“Heyy, lo kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Memey seraya mengurai pelukannya.
“Gue harus gimana, Mey? Gue bingung. Hiks…hiksss!” Agatha menangis dengan pilu mengingat kejadian itu.
“Gue juga lebih bingung kalo lo kayak gini. Coba tenangkan diri dulu!” Memey meraih pundak Agatha, lalu membawanya untuk duduk ke sofa di ruang keluarga.
Setelah keduanya mendudukkan diri di sofa, Memey memeluk Agatha untuk memberi ketenangan karena Agatha masih saja menangis. Diusapnya pundak dan kepala Agatha secara bergantian. Jujur saja, Memey juga ingin sekali rasanya menangis. Tapi hal itu ia tahan, agar sang sahabatnya tidak bersedih lagi. Air mata yang berhasil keluar, ia seka dengan cepat.
“Apa yang terjadi? ” tanya Memey lagi, memastikan yang bersangkutan untuk menceritakan yang sedang terjadi padanya.
Agatha masih bergeming dengan wajah sendunya, namun air mata sudah tidak mengalir lagi. Ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk bercerita dan berbagi rasa pada Memey. Walaupun mungkin resikonya dia akan dijauhi atau sebaliknya. Sungguh, sebenarnya Agatha takut menceritakannya pada Memey hal seperti itu. Ia juga takut bahwa Memey tidak bisa memahaminya, lalu ia dikucilkan.
“Gu-gue.. Ada yang mau gue omongin.”
“Iya, mau ngomong apa? Gue siap dengerin!”
“Lo janji kan nggak bakal benci ataupun ngejauhin gue?” tanya Agatha pelan-pelan.
__ADS_1
“Maksudnya gimana?” ujar Memey dengan wajah serius.
“Gue hina, Mey. Gue kotor. Gue berdosa. Gue ngerasa udah nggak ada yang sayang lagi sama gue. Gue benci sama diri gue, Mey.” Agatha menangis dengan histeris sambil menjambak dirinya dan memukul-mukul tubuhnya. Ia sudah tak sanggup lagi menahan semuanya yang ia rasakan.
“Hey, hey! Sadar Agatha!” Memey berusaha menepis tangan Agatha yang terus menyakiti tubuhnya sendiri. “Lo berharga di mata Tuhan sekalipun lo jatuh ke dalam dosa. Hanya karena diri lo ngerasa terhina, kotor, berdosa jangan sampai lo nyakitin diri sendiri kayak gini. Gue sayang sama lo. Gue masih sahabat lo kan? Kalo masih, please, jangan kayak gini lagi!”
Mendengar tutur yang diucapkan Memey, Agatha semakin terisak. Ia kembali memeluk Memey. “Makasih lo udah ngertiin gue. Tapi apa lo masih bisa kayak gini setelah gue cerita yang sebenarnya?”
Dengan anggukan kepala dan senyuman, Memey memberi isyarat bahwa dirinya tak akan berubah dan siap mendengarkan apapun yang terjadi. Akhirnya, Agatha menceritakan semua yang terjadi dengannya dan Welson sore itu. Memey terkejut bukan main setelah mendengar semuanya.
Ada tatapan tak suka yang terpancar dari sorot matanya. Bahkan, Memey sempat mengingat kejadian sejak di villa di saat ia melihat pakaian Nadine robek dan terpotong, ditambah lagi Nadine sudah membuka sprey kasur. Ia berasumsi bahwa Welson dan Nadine sudah melakukan hal yang sama, tetapi sayang dirinya tak punya bukti, jadi, Memey memilih untuk membungkam mulutnya.
“Sssttt! Apapun keadaan lo dan apapun yang udah terjadi sama lo, lo tetap sahabat gue. Gue tetap sayang sama lo. Gue nggak menganggap lo kotor ataupun terhina. Gue yakin, mereka juga sama kayak gue, kecuali si brengsek-brengsek itu. Bi Momon, Mang Judas juga sayang sama lo. Udah, jangan nangis lagi!” Memey menepuk pundak Agatha dengan lembut.
Kedua gadis itu kemudian beranjak ke atas menuju kamar Agatha setelah momen-momen bersedih dan makan malam sudah selesai.
🕊️🕊️🕊️
Sore hari di hari berikutnya, Agatha memutuskan dirinya untuk mencari tempat makan di luar. Rasanya juga jenuh jika harus makan malam tanpa kedua orang tuanya. Terlintas dalam pikirannya, Agatha ingin mengajak Nadine untuk makan bersamanya. Sudah lama juga rasanya mereka tidak keluar atau makan bersama. Agatha lalu merogoh tasnya dan mengambil benda pipih persegi bermerek miliknya.
“Ya, hallo,” sapa suara di seberang sana ketika sambungan panggilan via suara tersambung. Suara tersebut ialah suara Nadine.
“Hey, sekarang lagi free nggak?” tanya Agatha.
“Jalan bareng, yuk! Bosan gue di rumah.”
“Lagi ada masalah, ya?”
“Nggak, nggak kok. Gue hanya pengen ngajak lo jalan bareng, sekalian cari makan. Gimana? Lo tenang aja, gue yang traktir!”
“Wahh, sorry banget nih, Tha. Gue nggak bisa,” jawab Nadine dengan bimbang.
“Yaudah deh kalo nggak bisa. Gue lagi suntuk banget soalnya nih.” Agatha merasa bahwa ada sesuatu yang tidak biasa dengan jawaban Nadine.
“Sekali lagi, sorry, ya. Gue lagi ada acara di rumah tante. Lo bisa ajak tuh Memey, Maria sama Stevanie,” jawab Nadine dengan suara yang terdengar sedikit parau.
“Mereka lagi keluar kota, jadi ya nggak bisa ajak mereka. Hehe.”
“Ya ampun, gue sampai lupa. Mmm, sorry, ya!”
“Iya, nggak apa-apa kok, Nad. Lo baik-baik aja, kan? Kalo dari suara lo, lo kayak lagi ada masalah, ya? Masalah apa?” tanya Agatha.
__ADS_1
“Nggak, gue baik-baik aja, kok,” jawab Nadine berusaha bersikap senormal mungkin.
“Lo sedang sakit?”
“Nggg, nggak kok. Beneran! Mungkin gue hanya kecapean ikut menyiapkan acaranya.”
Agatha merasa sedikit lega dengan jawaban Nadine, dirinya terkekeh sebentar, “hahaha. Eh semoga acaranya berjalan lancar, ya.”
“Hehe, iya, Tha. Makasih, ya!”
“Salam juga sama tante lo, ya!”
“Mmm, iya. Eh, Tha… Udahan dulu, ya.”
“Oh, iya, sorry. Gue jadi ngeganggu. Mandi dulu gih, dandan yang cakep biar para tamu acaranya ada yang kecantol sama lo, Nad. Haha!”
PIP!! Agatha seketika memutuskan sambungan telepon. Akhirnya ia hanya pergi dengan seorang diri. Ingin rasanya mengajak Dirgo, tetapi ia cukup malu untuk menghubungi Dirgo terlebih dahulu.
🕊️🕊️🕊️
Agatha memilih tempat makan yang cukup ramai dikunjungi. Kebetulan, tempat makan yang dikunjunginya tidak begitu jauh dari taman danau yang pernah ia datangi dahulu. Agatha segera memesan makanannya karena ia berniat akan pergi ke taman danau setelah makan, apalagi tempat tersebut sedang banyak yang berkunjung di sana.
Setelah makanan yang dipesan sudah tiba di mejanya, Agatha langsung menyantapnya tanpa memandang sekitarannya. Dirinya cukup iri melihat yang lainnya makan bersama pacar dan juga makan bersama orang tua tersayang. Tetapi, posisinya saat ini hanyalah seorang diri. Jadi, ia hanya berfokus pada makanannya saja.
Makanan berhasil melesat masuk ke dalam perutnya. Ia segera berdiri dan melangkahkan kaki indahnya menuju loket kasir untuk membayar tagihan makanannya. Setelah semuanya beres, Agatha ingin mengunjungi taman danau yang tak jauh dari hadapannya. Mobilnya ia tinggal di parkiran tempat ia makan, dan dirinya berjalan kaki untuk mencapai taman itu.
Tiba di taman danau, Agatha memilih kursi taman yang masih kosong. Sekelilingnya terdapat anak-anak muda sepantaran dengan dirinya. Ada yang bersenda gurau, ada yang bermesraan, dan lain sebagainya. Author hanya bisa merasakan yang bermesraan saja (Hahaha).
Agatha menatap iri pada pasangan muda di sekeliling. Andai saja dirinya membawa serta Welson sang pacar, tetapi dirinya merasa sangat malu setelah kejadian itu. Jangankan untuk bertemu, hanya sekedar berkirim pesan singkat saja pun Agatha malu. Agatha semakin merasa tak bersatu dengan Welson semenjak kejadian sore itu. Sungguh dan benar-benar sungguh! Ia tak merasa bersatu.
Sekilas, Agatha melihat wajah Nadine seliweran di kursi yang tak jauh darinya. Ah, yang benar sajakah penglihatannya ini? Atau memang dirinya hanya menghalu? Toh Nadine juga telah memberi tahu jika dirinya berada di rumah sang tante menghadiri suatu acara. “Ahh, apa mungkin acara keluarga tantenya diadakan di tempat ini? Tetapi rasanya tidak begitu dan ini sama sekali bukan nuansa acara keluarga,” batin Agatha.
Tanpa perlu berpikir panjang dan bertanya dengan orang di dekatnya, Agatha menyadari bahwa dirinya sedang tidak berada di acara keluarga Nadine, tetapi memang ia merasa ada suatu hal yang tidak beres. Agatha berusaha menjernihkan penglihatannya supaya tidak salah orang. Agatha memperhatikan orang yang menjadi fokusnya saat ini, ternyata orang itu tidak sendirian, melainkan juga ditemani oleh seorang pemuda. Pemuda tersebut duduk dengan posisi berhadapan dengan Nadine dan membelakangi Agatha.
Seraya berjalan menghampiri keduanya, Agatha membatin, “ahh curang. Lo nggak pernah cerita ya ke gue kalo udah punya pacar. Awas lo!”
Agatha memantapkan dirinya melangkahkan kakinya menghampiri Nadine sambil menyunggingkan senyuman. Nadine yang menyadari Agatha sedang berjalan menghampirinya, tiba-tiba saja raut mukanya berubah. Ia kaget bagaimana bisa mereka dan Agatha berada di suatu tempat yang sama.
“Agatha…..” ucap Nadine panik. Pemuda yang duduk bersama Nadine pun ikut menoleh mengikuti arah pandangan Nadine. Keduanya memasang wajah panik sepanik mungkin.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
To be continued….