
Segera mereka duduk dan merapikan dirinya masing-masing ketika hal itu diketahui oleh Memey. Keduanya jadi salah tingkah dan cengar-cengir karena Memey masih saja memandangi mereka dengan wajah yang penuh tanda tanya.
“Apa yang kalian lakukan?” sebuah pertanyaan lolos begitu saja dari bibir Memey, dengan posisi yang tidak bergerak dan mata yang membulat tak percaya pada kejadian yang baru saja ia lihat. Memey segera mendekat ke arah sofa, matanya masih saja menatap penuh selidik pada kedua orang itu.
“I..ini tidak seperti yang lo liat, Mey!” Nadine berucap dengan terbata-bata.
“Gimana mungkin mata gue salah liat? Lo pikir gue sudah rabun? Lo pikir kalian sudah menjadi bayangan yang tak kasat mata?” tanya Memey panjang lebar dan masih saja pada pendiriannya karena rasa penasarannya. Matanya sama sekali tak berkedip saat menatap Welson dan Nadine secara bergantian. Welson bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, sedangkan Nadine sudah setengah mati menahan gugupnya karena ketahuan Memey, temannya sendiri.
“Mey, tolong jangan salah paham dulu! Apa yang lo liat tidak seperti yang lo bayangin!” tukas Welson menimpali.
Iya, bagaimana mungkin Memey salah lihat atas apa yang Welson dan Nadine lakukan. Mereka tengah asyik berciuman di saat Memey memergoki mereka.
FLASHBACK ON.
“Lo berdua tungguin Memey di sini, ya!” perintah Yadi pada Welson dan Nadine, “gue ke kamar duluan, ngantuk berat,” ucap Yadi dan beranjak bangkit dari sofa lalu menuju kamarnya.
“Sip, gue sama Nadine tungguin dia kok,” jawab Welson mengeraskan suaranya ketika Yadi sudah sedikit menjauh dari mereka berdua.
Ketika Yadi sudah masuk ke dalam kamar, Welson menatap Nadine dengan sangat intens. Bibirnya mengulas senyuman penuh maksud dan tujuan. Nadine seketika salah tingkah saat Welson menatapnya dengan sebuah senyuman.
“Wels, kenapa liatin aku kayak gitu? Kamu sedang memikirkan apa?” tanya Nadine dengan malu-malu.
“Kamu cantik!” jawab Welson tanpa melepaskan tatapannya pada Nadine. Lambat laun, Welson memajukan badannya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Nadine. Nadine tergugup mendapati perlakuan Welson.
“Ka...kamu mau apa?” tanya Nadine terbata serta berusaha mendorong tubuh Welson agar menjauh darinya. Sungguh ia tak habis pikir ketika melihat Welson seperti menginginkan sesuatu.
Welson tak menjawab pertanyaan Nadine. Semakin Nadine menghindar, semakin gencar pula Welson mendekatkan wajahnya pada wajah Nadine.
“Wels, please! Kamu mau ngapain?” tanya Nadine lagi seraya melipat kedua tangannya di dada.
“Kenapa kamu masih tak mengerti?” Welson balik bertanya.
“Jangan bilang kamu mau macam-macam sama aku.” Nadine melempar bantalan sofa pada Welson agar membatalkan niatnya. Namun, bukan Welson namanya jika tak berhasil melancarkan aksinya. Welson kembali mendekatkan diri pada Nadine. Kini hembusan napas Nadine sangat terasa di wajah Welson. Hembusan napas yang bercampur antara takut dan malu.
“Wels, ku mohon jangan!” Nadine memelaskan wajahnya.
“Jangan seperti itu! Aku semakin tergila-gila melihatmu dengan wajah seperti itu.” Welson seketika merangkul leher Nadine dan menguncinya agar Nadine tak memberontak.
CUP! Ciuman mendarat di bibir indah Nadine dan Welson menindihnya pada sandaran sofa. Nadine terperangah tak percaya ketika Welson mencium bibirnya. Nadine memberontak dan Welson semakin menciumnya dengan rakus tanpa memberikan sedikit ruang untuk Nadine bernapas. Tangan Welson yang dengan refleks merambat ke dalam kaos Nadine, membuat Nadine merinding. Baru pertama kali Welson begitu berani menciumnya tanpa izin dan seenaknya menarik kaosnya ke atas.
Tiba-tiba muncullah Memey dari toilet dan langsung berteriak.
FLASHBACK OFF.
__ADS_1
🕊️🕊️🕊️
“Bagaimana mungkin gue gak salah paham? Apa maksud ini semua?” Memey menggelengkan kepalanya tak mengerti.
“Lo salah liat, Mey. Gue tadi bantuin Nadine mengusir kecoa yang masuk ke dalam bajunya. Terus matanya kemasukan binatang. Ya gue bantuin lah, gak mungkin gue biarin dia ketakutan,” jawab Welson berbohong supaya Memey tidak semakin curiga pada kejadian yang dilihatnya.
“I..iya, Mey. Itu benar kok.” Nadine juga berusaha meyakinkan Memey.
“Emang ada ya bantuin kayak lagi ciuman sama narik-narik baju ke atas?” lagi-lagi Memey bertanya, “lalu kenapa lo gugup kayak gitu ngejawabnya, Nad?” Memey menatap Nadine dengan serius.
“Gue kan udah bilang, gue nolongin dia. Apa lo enggak dengar yang gue ucapkan, hah?” Welson membentak Memey karena sudah tak tahan dengan pertanyaan Memey yang semakin lama semakin menggali perbuatannya. Memey tersentak kaget karena dibentak Welson.
“Kenapa lo malah bentakin gue? Berarti gue benar, kan? Apa yang gue liat itu enggak salah, kan?” ucap Memey yang tak kalah tinggi nada suaranya dari Welson.
“Bisa diam enggak lo?” bentak Welson kembali.
“Cihhh! Santai aja kali!” Memey menaikkan tangannya pada pinggangnya.
Mendengar sumber suara keributan yang samar-samar dari luar, Dirgo membuka matanya. Menatap sekelilingnya namun tak mendapati siapa pun di sana karena memang ia tak satu kamar dengan Yadi dan Welson. penasaran akan suara itu, akhirnya ia turun dari tempat tidurnya dan melangkah menuju pintu kamar. Ia membuka pintu dan mendapati Memey yang berkacak pinggang pada kedua orang yang berada di hadapannya. Dirgo melangkah menuju mereka bertiga dengan sesekali menguap karena rasa kantuknya.
“Ada apa ribut-ribut?” tanya Dirgo ketika sudah berada di antara ketiga temannya.
“Itu si Memey tadi sakit perut, dia malah teriak-teriak dan bentakin gue,” ucap Welson memberikan jawaban.
“Mey, jangan teriak-teriak. Ntar penjaga pantai di sini gentayangan, mau?” tegur Dirgo agar Memey memelankan suaranya.
“What? Dih, ternyata di sini menyeramkan!” ucap Memey bergidik ngeri seraya membayangkan hal yang bukan-bukan dipikirannya. Padahal Dirgo hanya menakutinya saja, namun ia malah mengira itu suatu keseriusan.
“Ya kalau enggak teriak-teriak sih enggak apa-apa. Di sini aman kok,” tutur Dirgo menenangkan Memey agar tak berimajinasi sendiri.
“Seriusan?” tanya Memey memastikan.
“Iya, tokek betina!” timpal Welson.
“Gue enggak ngomong sama lo!” dengus Memey karena masih kesal dibentak Welson.
“Gue punya kuping untuk mendengar.”
“Dan gue punya mulut untuk ngejawab lo!” Memey tak mau kalah.
“Bro, cewek enggak usah dilawan. Lo enggak bakalan menang kalau berdebat!” pungkas Dirgo.
“Iya. Cewek kan emang harus selalu menang. Betul enggak, Nad?” tanya Memey pada Nadine meminta persetujuan.
__ADS_1
“Ah, apa? Gue gak tau!” jawab Nadine, yang mana membuat Memey cemberut lantaran Nadine tidak kompromi padanya.
Dirgo melihat ada kecanggungan pada Nadine ketika sedang menatap Welson. Dirgo yakin ada sesuatu yang terjadi di antara pasangan pengkhianat itu sehingga membuat Memey berteriak dan berkacak pinggang pada Welson dan Nadine.
“Hm, sepertinya ada yang tidak beres pada mereka berdua.” Dirgo membatin serta menatap Welson dan Nadine secara bergantian.
“Duh, kenapa Dirgo ngeliatin gue kayak gitu? Jangan-jangan...” Nadine bertanya dalam hatinya sendiri.
“Ekhem! Lo kenapa, Nad?” tanya Memey ketika tanpa sengaja melihat Nadine termenung.
“Enggak apa-apa. Oh iya, Mey, ke atas yuk! Gue ngantuk nih,” ujar Nadine pada Memey.
“Yaudah, ayok. Dan sepertinya gue udah enggak kekenyangan lagi deh.” Memey menyetujui ajakan Nadine.
“Loh, ternyata lo sakit perut karena kekenyangan? Kampungan amat sih lo, Mey. Hahaha.” Welson tertawa mengejek.
“Kalau iya, kenapa? Lo mau bentakin gue, mau jahilin gue, ngejekin gue lagi, gitu?” Memey menatap jengah pada Welson.
“Eh, tapi emang udah ngejek, sih,” sambung Memey.
“Bukan gitu loh, Mey. Lo udah bikin gue sama Nadine dan juga Yadi panik, tau enggak lo?” ucap Welson.
“Dasar manusia purba!” cetus Memey.
“Ayo, Nad. Kita ke atas, gue juga ngantuk nih. Mau bobo cantik aja.” Memey menarik tangan Nadine, seketika Nadine berdiri dan mengikuti Memey.
“Lo enggak tidur, Bro?” tanya Dirgo pada Welson.
“Gue belom ngantuk, Bro. Nanti aja gue ke kamar. Lo duluan aja jika ngantuk,” jawab Welson.
“Bye-bye beruang kutub dan manusia purba.” Memey menyempatkan diri berpamitan pada Dirgo dan Welson.
Dirgo tak habis pikir kenapa Memey bertingkah seperti itu dari dulu tak pernah berubah. Karena rasa kantuknya yang kian memberat, akhirnya Dirgo meninggalkan Welson sendirian di ruang tamu setelah berpamitan padanya. Semua orang di villa itu sudah berada di kamarnya masing-masing, namun Welson masih berada di ruang tamu. Setelah beberapa menit semenjak ditinggal teman-temannya ke kamar, akhirnya ia juga mengantuk. Namun sebelum ke kamar, ia tiba-tiba tersenyum licik mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
“Hm, jika Agatha tak berhasil gue raih, gue janji akan membuat Nadine bertekuk lutut sama gue. Harus, itu harus!” ucapnya sebelum melangkah ke kamar.
“Syukurlah, si blakutak Memey tak curiga lagi,” lanjutnya. Welson segera berlalu pergi ke kamarnya dan Yadi.
Malam ini, seluruh orang di villa itu tidur dengan sangat pulas, terlebih lagi Dirgo dan teman-temannya yang baru saja melakukan perjalanan yang memakan waktu lumayan banyak. Suara jangkrik dan hempasan ombak semakin menambah suasana malam ini begitu meneduhkan, sangat mendukung sekali untuk mengistirahatkan badan yang terasa kelelahan.
To be continued...
Dukung terus ya!😊
__ADS_1