
“Buat kamu yang saat ini merasa tak diharapkan, yakinlah di luaran sana banyak yang bangga karena mengenalmu”.
(By Author)
🕊️🕊️🕊️
Setibanya di ruangan dokter, nyonya Daria mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
Mendengar suara ketukan pintu, sang dokter pun mempesilakan tamunya masuk.
“Silakan masuk!” perintah dokter di dalam ruangan.
Karena sudah mendapati izin masuk, akhirnya Nyonya Daria masuk dan langsung menuju kursi yang tersedia di depan meja kerja dokter.
“Ada apa dokter menyuruh saya menemui Anda?” tanya nyonya Daria dengan posisi yang masih berdiri.
“Silakan duduk terlebih dulu, Nyonya!” perintah dokter dengan sopan, Nyonya Daria pun duduk setelah ada intruksi dari sang dokter.
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi, Dok?” tanya Nyonya Daria kembali karena dia tidak ingin berlama-lama.
“Begini, Nyonya. Sebelumnya akan saya jelaskan mengenai cedera kepala. Cedera kepala adalah kondisi di mana struktur kepala mengalami benturan dari luar dan berpotensi menimbulkan gangguan pada fungsi otak. Mengenai benturan di kepala Agatha, ini masih termasuk dalam kategori benturan ringan, jadi keluarga tidak perlu khawatir. Dan seperti yang telah kami periksa, sepertinya Agatha sedang mengalami depresi ringan, sehingga menyebabkan dia kehilangan kesadaran, mudah kesal, kehilangan konsentrasi, dan perasaan sedih yang terus menerus setiap hari atau waktu.” Dokter menjelaskan pada nyonya Daria, dan ditanggapi dengan anggukan oleh Nyonya Daria.
“Satu lagi, Nyonya. Apakah yang menyebabkan Agatha sampai mengalami depresi seperti itu?” tambah sang dokter lagi ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Nyonya Daria seperti mengingat-ingat sesuatu.
“Kemarin dia sempat meluapkan isi hatinya pada saya dan daddy nya. Dia bilang bahwa kami mengabaikannya, tak memperhatikannya, serta tak pernah memiliki waktu bersamanya. Dan saya menyadari itu, itu memang benar adanya. Tetapi, saya dan daddy nya memiliki kesibukan yang tak mungkin dibiarkan begitu saja.” Jawab nyonya Daria.
“Baik, saya mengerti apa yang Nyonya katakan. Di usia remaja seperti Agatha, memang tidak baik jika tanpa kendali orang tua. Dan juga pada usia remaja, mereka membutuhkan arahan dan bimbingan yang dapat membentuk karakter dari sang anak. Namun, karakter sebenarnya sudah diterapkan pada anak sejak dia memasuki pendidikan tahap pertama (TK). Nah, pada usia-usia remaja mereka tinggal menggali dan menggali lebih dalam lagi bagaimana karakternya sendiri. Dan ingat, peran orang tua sangatlah berpengaruh. Sebagai orang tua, harus bisa membagi waktu antara kerja dan keluarga. Wajar saja jika dia merasa diabaikan. Jadi saran saya, alangkah baiknya tuan dan nyonya sering mengisi waktu buat keluarga.” Jelas dokter lagi.
“Baik. Terima kasih banyak atas penjelasannya, Dok. Apakah kondisinya tidak apa-apa?” tanya Nyonya Daria memastikan keadaan anaknya.
“Sama-sama, Nyonya. Kondisinya tidak apa-apa dan sudah boleh pulang.” Jawab dokter.
“Saya sebagai dokter hanya bisa menyarankan jika tidak mau hal-hal yang lebih buruk terjadi. Namun itu semua, tergantung kesadaran masing-masing.” Tambahnya lagi.
🕊️🕊️🕊️
Sementara di ruang UGD, Bi Momon berbincang-bincang dengan Agatha.
“Apakah Non mau ganti baju? Kasian tuh seragam udah kayak bungkus terasi saking kusutnya, Non.” Ucap bi Momon sambil terkekeh.
“Ada-ada saja. Yasudah, Bi. Mana pakaiannya?” dengus Agatha.
Bi Momon pun membuka tas di nakas yang dia tenteng dari rumah. Alangkah terkejutnya dia setelah mengetahui apa yang dia kemas. Karena saking terburu-buru, yang seharusnya dibawa malah ketinggalan segala.
“Oh Gusti sejagad belantara nusantara . Ternyata yang saya bawa adalah baju sama kain sarung.” Gumam Bi Momon dan sembari mengaduk-aduk tas itu mencari keberadaan celana.
__ADS_1
“Bi, mana pakaiannya? Bibi nyari pakaian apa lagi bikin gado-gado?” tanya Agatha karena melihat Bi Momon masih mengaduk-aduk tas.
“Hehehe. Anu, Bibi lupa bawa celananya, Non.” Jawab Bi Momon kikuk.
“Lah, trus apa yang Bibi bawa? Jangan bilang bawa gaun kematian.” Ucap Agatha masih berbaring.
“Ini, Non.” Bi Momon menyerahkan yang dia bawa, ternyata yang dia bawa adalah sarung sebagai celananya.
Agatha melotot. “Yang benar saja ini, Bi? Emangnya aku habis sunatan?” tukas Agatha sambil menepuk jidatnya.
“Jadi gimana dong, Non? Soalnya Bibi tadi sangat khawatir makanya sampai salah kemas.” Ujar Bi Momon.
“Masih untung Bibi gak lupa nama sendiri.” Ucap Agatha.
“Gak usah aja ganti pakaiannya. Ntar dikira abis sunatan sama lahiran.” Agatha menambahkan.
“Yaudah, Non. Yang penting sekarang sudah siluman.” Ujar Bi Momon dan membuat mata Agatha kembali melotot.
“Apa? Siluman, Bi? Siuman, Bi. Bukan siluman.” Agatha bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri.
“Aduh maaf, Non. Ini mulut harus di kasih rempah-rempah kayaknya biar kagak asal ceplok. Hehe.” Jawab bi Momon terkekeh dan sekenanya.
Tak lama kemudian, Nyonya Daria tiba di ruangan Agatha.
“Momm.” Panggil Agatha pada mommy nya.
“Apa mommy masih marah? Aku minta maaf jika menyusahkan kalian.” Ucap Agatha sesenggukan.
“Sudah. Ayo kita pulang!” perintah mommy nya dan disetujui oleh Bi Momon.
“Apa aku bisa pulang bareng Mommy?” tanya Agatha hati-hati.
“Gak bisa. Mommy masih ada urusan di luar. Kamu pulang sama Bibi dan Judas aja ya. Mobil kamu biar Judas aja yang urus.” Tukas Nyonya Daria, membuat Agatha menghela napas kasar.
“Hm. Okay lah.” Jawab Agatha sendu.
“Be careful, Momm.” Tambahnya lagi
Nyonya Daria menjawab dan berlalu pergi. Terlihat manik-manik Agatha seperti ingin menumpahkan sesuatu di sana. Bi Momon hanya bisa menatap sendu pada nona kecilnya itu dan mengajaknya kembali ke rumah.
🕊️🕊️🕊️
Setibanya di rumah, Bi Momon membantu Agatha membawa tas sekolahnya dan mengantar Agatha ke atas menuju kamar. Kamarnya begitu menggoda membuat Agatha langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
“Aduh, Non. Jangan rebahan dulu. Buruan bersih-bersih di kamar mandi.” Ucap Bi Momon melihat Agatha yang berbaring.
“Tolong siapkan air hangat di bath up, Bi!” perintah Agatha.
“Siap!” jawab Bi Momon dan berlalu ke kamar mandi.
__ADS_1
Namun, setibanya di kamar mandi, Bi Momon lupa apa yang diperintahkan oleh Agatha.
“Aduh, kalau gak salah non bilang siapkan air di atap. Ah yang benar saja harus naik ke atap.” Gumam Bi Momon.
Bi Momon keluar meminta keringanan permintaan nona kecilnya.
“Udah selesai, Bi? Kok cepat sekali?” tanya Agatha.
“Aduh, Non. Bisa tidak permintaannya dibatalkan?” ucap Bi Momon.
“Dibatalkan gimana maksudnya? Bibi gak mau bantu?” tukas Agatha sambil mengernyitkan dahinya.
“Gini ya, Non. Bibi kan tidak bisa manjat, apalagi jika harus menyiapkan air di atas atap. Jiwa ketakutan Bibi berkecambah, Non.” Jawab Bi Momon santai.
“Astaga Tuhan. Lagian siapa yang nyuruh Bibi manjat ke atap? Emang bisa aku mandi di atap?” Agatha menepuk jidatnya.
“Maksud aku, siapkan air di bath up, bukan atap. Bath up itu bak mandi, Bibi.” Tambahnya lagi.
“Oh bak mandi. Bibi kira atap. Hihi.” Bi Momon cekikikan.
“Buruan, Bi!” Dengus Agatha kesal.
Dengan langkah yang pasti Bi Momon kembali masuk ke kamar mandi. Tanpa membutuhkan waktu lama, kini bath up sudah terisi sesuai dengan permintaan sang empunya. Dia kembali keluar dan memberi tau bahwa permintaan Agatha telah tersedia.
“Sudah, Non. Mau makan di bawah apa Bibi bawakan ke kamar, Non?” tanya Bi Momon.
“Di antar ke sini aja, Bi. Masakin telor ceplok ya, Bi.” Pinta Agatha.
“Siap komandan. Kalau telor cemplong mah gampang, Non.” Jawab bi Momon, kemudian meninggalkan kamar Agatha.
🕊️🕊️🕊️
Detik demi detik, menit demi menit pun berlalu. Kini Agatha sudah mengistirahatkan tubuhnya. Jam masih menunjukkan pukul 17.30. Di saat matanya ingin mengatup karena mengantuk, tiba-tiba handphone nya berdering, ada notifikasi WhatsApp di sana.
Dia meraih benda itu dan menscroll layarnya. Ada nomor asing lagi yang tertera di WhatsApp nya. Namun itu bukan nomor bi Markonah maupun Alzio, sepupunya. Karena penasaran, dia membuka chat itu.
“Tha, apa kamu sudah baikan? Aku sangat khawatir denganmu. Maaf tak bisa menunggu lama di rumah sakit. Jika kamu kesepian, aku siap menjadi teman curhatmu. By someone.”
Agatha membaca chat itu, dan berpikir itu adalah orang yang sama dengan orang yang menempelkan kertas kumuh di mobilnya.
“Iya aku sudah baikan. By the way, thanks yah sudah bantuin aku.” Balas Agatha.
Notifikasi kembali masuk.
“Sama-sama Tha. Oiya, kamu tidak perlu tau siapa aku, dan aku yakin suatu saat kamu akan mengetahui siapa aku sebenarnya.” Balas orang itu dengan menyertakan emoticon senyum.
“Astaga. Nomor siapa lagi ini? Atau jangan-jangan pengagum rahasiaku?” gumam Agatha, dan meletakan handphone nya kembali.
To be continued....
__ADS_1