
Seperti di hari-hari sebelumnya, Agatha selalu bangun kesiangan. Orang tuanya sudah pergi ke pengadilan tanpa Agatha. Mommynya sampai marah karena Agatha susah dibangunkan, akhirnya memutuskan untuk pergi hanya ditemani oleh Bi Momon yang nantinya akan dijadikan sebagai saksi. Ny. Daria pergi lebih dulu dari suaminya karena merasa risih jika harus berbarengan. Alzio sebenarnya sudah menawarkan diri untuk menemani omnya itu ke pengadilan, tetapi dilarang Tn. Thomas karena takut Agatha akan berbuat macam-macam.
Setelah hampir kurang lebih setengah jam lamanya Agatha bersiap-siap, mandi dan kemudian berganti baju, lalu tak lupa ia memoleskan wajahnya dengan bedak tipis untuk menutupi kelopak matanya yang nampak sembap dan menggantung. Ia melangkah keluar kamar. Di bawah sudah terdengar riuh cekakak-cekikik sahabat-sahabatnya memenuhi rumahnya.
“Agathaaaa!” teriak Maria yang pertama kali melihat kemunculan Agatha. “Buset lo, jam segini baru mandi? Parah banget lo ah!”
Agatha tersenyum tipis yang dipaksa, lalu duduk di sebelah Memey. “Kalian ngapain ke sini?”
“Ya ngeliat lo laaah. Habisnya lo nggak bales-bales chat kami, sihh. Jadi apa rencana lo selanjutnya?” tanya Stevanie.
Agatha menggelengkan kepalanya pelan. Ia masih belum bisa untuk memikirkan rencana dan langkah yang harus dilakukannya. Menurutnya, langkah yang tepat adalah melenyapkan dirinya, tetapi sia-sia saja karena aksinya tadi malam langsung dicegah oleh sepupunya sendiri hingga akhirnya ia mendapatkan kursus privat gratis.
“By the way, selamat yah. Akhirnya kalian jadi anak kuliahan,” Agatha mengusap punggung tangan milik Memey. Memey langsung memeluk Agatha, Maria dan Stevanie juga berhamburan untuk saling berpelukan. Yadi dan Dirgo tersenyum melihat para cewek tengah berpelukan. Dirgo kemudian mengambil ponselnya lalu memotret yang berada di depannya.
“Lo nggak mau nyoba jalur mandiri, gitu? Kedokteran swasta bukannya masih membuka pendaftaran maba, ya?” tanya Yadi menimpali ketika para cewek selesai berpelukan.
“Nggak, gue lagi banyak masalah. Mumet kepala gue! Untuk sekarang, gue gap year, dan nyoba lagi tahun depan. Jalur mandiri udah lewat, kedokteran swasta udah pada tutup penerimaan mabanya pas daddy gue ke kampusnya. Gue ini udah banyak nyusahin orang tua, dan gue nggak mau nambah beban lebih berat,” jawab Agatha. Liurnya terasa pahit, merasakan kehampaan dalam dirinya yang kian membesar. Mungkin jika saja orang tuanya tidak berkonflik, Agatha tidak akan merasakan hampa yang luar biasa.
“Makasih ya kalian udah repot-repot dateng ke rumah gue. Masih tetap mau kan berteman sama gue, jadi sahabat selamanya? Hmm, pas gue masuk kuliah, kalian semua udah jadi kakak tingkat gue, sementara gue masih ospek. Haha!” Agatha tertawa sumbang menertawakan dirinya sendiri.
Alzio yang mendengar sepupunya tengah mengobrol, keluar dari kamar, lalu mengintip di balik tembok. Ditatapnya para sahabat Agatha satu per satu, kemudian matanya terhenti pada Dirgo. Ia ingin memastikan lebih lanjut tentang Dirgo setelah kemarin pagi mengajak Agatha keluar. Ia memiliki pemikiran yang sama dengan Bi Momon bahwa Dirgo menyukai Agatha.
“Tha, jangan ngomong kayak gitu, aku nggak suka!” Dirgo menghentikan ucapan Agatha. “Kamu harus optimis!”
“Bener! Lagian lo lupa ya, apa yang gue katakan hari itu?” timpal Memey.
Agatha merasa dirinya dikeroyok. Untung saja sepupunya sedang tidur, pikirnya. “Ya nyatanya kalian lebih beruntung dari gue. Sedangkan gue…kalian bisa liat sendiri, kan?”
Padahal ia dan sahabat-sahabatnya sudah merangkai impian, seusai kuliah mereka akan menggapai cita-cita dan berjuang untuk memenangkannya bersama-sama. Mereka berangan akan membanggakan almamater, guru, dosen, dan kedua orang tua. Kemudian mereka akan bertemu kembali dengan cerita bahagia, menunjukkan foto dengan menggunakan toga, foto bersama orang tua, lalu bangga dengan perolehan nilai yang memuaskan. Akan tetapi, kenyataan berbanding terbalik dan menamparnya kuat-kuat. Dirinya harus menganggur satu tahun. Satu tahun yang tak gampang untuk dilewati.
“Pokoknya, lo harus kuat! Lo nggak boleh sedih. Kita akan selalu ada buat lo.” Maria menguatkan Agatha sembari mengusap pelan bahu Agatha.
Barang sejenak, Agatha menghela napasnya dengan perlahan, berusaha mengusir rasa sedih yang sesak di dada, mengumpulkan tenaga dan kekuatan untuk bisa menyunggingkan senyuman.
“Ehemmmmm…!!” Alzio akhirnya menghampiri sepupu dan yang lainnya yang berada di ruang tamu. Suaranya sontak membuat mereka semua menoleh ke arah suara. Dengan langkah yang tegas dan senyum yang mengembang, ia duduk mendekati cowok yang berjumlah dua orang, Dirgo dan Yadi.
“Kak Zioooo! Ini kak Zio, kan?” Memey membulatkan matanya melihat Alzio. “Makin tampan saja. Berbanding terbalik dengan yang diceritakan Agatha.” Memey masih kagum dengan Alzio. Alzio hanya terkekeh melihat tingkah Memey.
“Dihh, si jelek malah nongol,” ujar Agatha sambil mengejek sepupunya. “Kenalin, guys. Itu sepupu gue yang rese, nyebelin trus jelek juga. Cepat cuci tangan kalo sudah salaman, haha!”
“Buahahaha....” Mereka tertawa dengan ucapan Agatha.
“Enak saja aku jelek!” Alzio kemudian menyalami sabahat-sahabat Agatha satu per satu.
__ADS_1
“Hallo, gue Maria…”
“Stevanie…”
“Yadi.”
“Memey, Kak..”
“Mmm ini pasti Dirgo?” tebak Alzio ketika giliran Dirgo tiba.
“Kok tau sama gue, Bro?” Dirgo bingung sendiri.
“Ya tau dong. Dari kemaren kan gue udah di sini. Dari lo makan bareng sampe lo ngajakin sepupu gue jalan, gue tau semuanya. Gue sengaja nggak ngasih tau Agatha, biar kejutan buat dia.”
Dirgo dan Agatha hanya cengo dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bisa-bisanya sepupu nyebelinnya berterus-terang seperti itu. Yang lainnya jadi bertanya-tanya tentang itu semua.
🕊️🕊️🕊️
Nada dering terdengar nyaring yang berasal dari ponsel Agatha di saat ia dan Alzio tengah memutar lagu Better When I'm Dancin', lagu yang dipopulerkan oleh penyanyi perempuan asal Amerika Serikat, Meghan Elizabeth Trainor atau yang lebih dikenal dengan Meghan Trainor.
...Don't think about it. Just move your body. Listen to the music. Sing, oh, ey, oh. Just move those left feet. Go ahead, get crazy. Anyone can do it. Sing, oh, ey, oh. Show the world you've got that fire (fire). Feel the rhythm getting louder. Show the room what you can do. Prove to them you got the moves. I don't know about you.🎶
Alunan lagu dan hentakan musik semakin menambah semangat Alzio hingga tanpa terasa Alzio mengikuti irama musik yang mengalun. Sementara itu, ponsel Agatha masih saja berdering. Si penelepon tak pantang menyerah hingga membuat ponsel Agatha terus berdering.
…But I feel better when I'm dancing, yeah, yeah. Better when I'm dancing, yeah, yeah. And we can do this together. I bet you feel better when you're dancing, yeah, yeah🎶
Alzio yang sedang asyik menikmati alunan musik, merasa terganggu dan akhirnya langsung mengomeli Agatha.
“Siapa sih yang nelepon? Kenapa nggak diangkat teleponnya, Tha?”
“Orang nggak penting. Terserah aku dong mau diangkat atau nggak!”
“Siapa tau dia ada urusan penting sama kamu…”
Agatha mengacuhkan ucapan sepupunya. Karena merasa kesal dan tidak mau lagi berdebat dengan sepupunya, Alzio langsung mengambil inisiatif yang di luar dugaan Agatha.
“Iya, hallo. Ini Nadine, ya?” sapa Alzio setelah panggilan terhubung.
Agatha seketika membelalakkan mata di saat itu juga. Berani-beraninya Alzio menjawab telepon orang seenak dengkulnya saja tanpa basa-basi. Agatha tidak terima dengan tindakan sepupunya hingga dengan cepat Agatha merampas ponselnya dari tangan Alzio.
“HALLO..!!!” sapa Agatha dengan ketus. Agatha kesal karena dua hal. Pertama, kesal karena tindakan semena-mena sepupunya yang tanpa basa-basi menjawab panggilan itu. Kedua, karena orang yang meneleponnya adalah Nadine. Nadine adalah orang yang tidak ingin ia jumpai di dunia ini sama seperti Welson.
“Nah coba gitu dari tadi. Nggak susah kan?” cibir Alzio. “Ck… Dasar cewek!”
__ADS_1
“Hallo, hallo, hallo…” sapa Agatha berulang kali lantaran yang di seberang sana masih belum bicara juga.
“Tha …” ucap Nadine pada akhirnya dengan suara yang lemah tak bersemangat. “Tha, sahabat gue…”
Agatha mengernyitkan dahinya. Suara Nadine yang terdengar parau membuat Agatha heran, yang sepertinya menandakan bahwa Nadine sedang dalam masalah. Setelah semua yang terjadi, rasanya tidak mungkin dan sangat tidak percaya jika Nadine masih menyebutnya sahabat. Agatha muak mendengar kata itu, yang keluar dari mulut pengkhianat seperti Nadine.
“Sahabat?” ucap Agatha mengulang kata yang diucapkan Nadine. “Denger….” Belum juga Agatha selesai bicara, Nadine langsung memotongnya.
“No, Tha. Please, Tha…lo harus dengerin gue. Ini bukan soal Welson, tapi ini soal kita berdua,” ujar Nadine yang hampir menangis di seberang sana.
Hati Agatha pedih. Tiap kali ia mendengar nama Welson, ia pasti mengingat Nadine. Dan tiap kali mengingat Nadine, secara tak langsung ia ingat semua tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh Nadine juga Welson. Alzio memandang pada sepupunya sambil bersidekap. Ia berusaha mencerna semua omongan antara sepupunya dengan Nadine.
“Tha, lo bisa ke rumah gue nggak? Sekarang….”
“Nggak bisa!” jawab Agatha dengan lantang. Apa pun yang akan dikatakan Nadine, ia tidak ingin mendengarnya lagi. Rasa kecewanya masih membekas. Ia sungguh-sungguh tidak ingin berurusan lagi dengan semua ini.
“Please, Tha… Gue butuh lo. Gue nggak tau lagi harus ngomong sama siapa lagi,” Nadine pun menangis di seberang sana. “Gue mau lo peduli lagi sama gue, kayak dulu, meskipun untuk yang terakhir kalinya…”
Agatha hampir saja ikut meneteskan air matanya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan manusia pengkhianat ini? Tuhan, tidak bisakah Engkau menjauhkan mereka dari hidupku? Aku sesak! Aku butuh ruang untuk bernapas, pikir Agatha di dalam hatinya. Alzio masih menatap sepupunya dengan penuh arti.
“Nggak, Nad. Lo sama sekali nggak butuh gue. Lo cuma butuh Welson, bukan gue. You know that, lo punya Welson di sisi lo.”
“Tha…gue udah nggak mau lagi dengar nama itu. Please, Tha, gue nggak bakalan makan sebelum lo datang ke rumah gue.”
TUUUUTTT!!! Panggilan diputuskan sepihak. Agatha termenung mencoba mencari celah untuk bernapas walau sesak. Ia masih tidak mengerti dengan ucapan Nadine. Apakah Nadine sudah gila? Ya, Nadine memang gila pikirnya.
“Kenapa dia bilang tidak mau mendengar nama Welson lagi? Apakah aku harus ke sana?” gumam Agatha. “Ah, paling-paling mereka habis berantem. Bodo amat! Bukan urusanku.”
“Ada masalah apa, Tha?” tanya Alzio hati-hati.
“Bukan urusanmu, rese!” ujar Agatha ketus.
Alzio hanya mengangkat bahunya. “Ya udah. Paling nggak kamu harusnya berterima kasih sama sepupumu ini. Kamu jadi angkat teleponnya kan karena aku?”
“Membantu? Hahaha ngaco! Sama sekali nggak membantu tau!”
PLUK!! Agatha melempar wajah Alzio dengan bantal lalu beranjak pergi keluar kamar. Kali ini Alzio tidak sempat menghindar lemparan Agatha.
“Hei! Kenapa sih kamu doyan banget nimpuk wajah cakepku pake bantal?” Alzio pun keluar kamar karena ditinggal pergi oleh Agatha.
Jam di pergelangan tangannya baru saja menunjukkan pukul empat sore, ia ingin mengobrol santai dengan Mang Judas di beranda depan sambil meminum segelas cokelat panas ditemani oleh penganan buatan Bi Momon.
“Ahh dari pada bengong sendiri, mending ngobrol sama Mang Judas,” gumamnya sembari menuruni anak tangga.
__ADS_1
🕊️🕊️🕊️
To be continued…