
Mulai saat ini, Agatha perlahan merubah dirinya. Dari segi penampilan juga gaya hidupnya. Yang biasanya memakai pakaian branded namun terlihat sederhana, kini penampilannya sedikit nyentrik. Ia juga mengenakan jeans sobek-sobek seperti yang lainnya. Perubahan Agatha hampir mencapai angka 180 derajat. Ia mengecat rambunya menjadi warna abu-abu, namun tampak seperti warna uban, persis nenek-nenek yang sudah tua renta. Hanya saja yang membedakannya, kulitnya masih kencang dan belum keriput.
Agatha menindik kedua kupingnya, sehingga total tindikan menjadi dua pasang di masing-masing kuping. Serentetan gelang juga membalut tangannya yang putih mulus. Awalnya, ia terus bertanya tentang siapa dirinya saat melihat perubahannya sendiri. Memang sulit beradaptasi, tetapi ia harus membiasakan diri dengan hal-hal baru yang di luar nalar orang remaja lainnya. Ia juga bertanya dalam hatinya kenapa ia malah mau menambah tindikan di telinganya, sedangkan lazimnya tindikan telinga hanya boleh satu tindikan saja. Tetapi menurut Andrew, selaku ketua kelompok Badai, menindik salah satu anggota tubuh dengan berlebihan, merupakan simbol dari kelompok punk.
Selain penampilan dan gaya hidupnya yang berubah, Agatha juga mendapat nama baru, yaitu Loury. Tentang kebenaran mobil dan ponsel Agatha, hanya Carlos saja yang mengetahuinya. Agatha sengaja menyembunyikan ponsel dan juga memulangkan mobilnya ke rumah. Nama baru Agatha tersebut dicarikan oleh Carlos dan Bernard. Kebanyakan dari mereka menggantikan nama aslinya dengan nama samaran setelah mereka menjadi anak punk. Andrew, Bernard, dan Catherine sengaja mengganti namanya, termasuk Agatha. Sedangkan Carlos, ia tetap menggunakan nama aslinya.
Pokoknya, inti dari kelompok Badai adalah tentang kebebasan dan juga pemberontakan. Anti kemapanan, anti formalitas, ingin memperoleh kebebasan dengan cara mereka sendiri. Bebas, sebebas-bebasnya. Rasanya, jika harus terus dikontrol dan dimonitor oleh orang lain, hidup mereka bagaikan seekor burung di dalam sangkar. Mereka ingin mengembara layaknya seorang musafir.
Lambat laun, Agatha mulai diterima di kelompok Badai. Ia mulai menikmati hidup barunya di jalanan, luntang-lantung ke sana kemari. Perubahan drastis yang Agatha rasakan ialah ia mulai suka minum minuman keras dalam keadaan normal. Biasanya, tempo lalu ia meminum minuman keras karena pikirannya kacau. Tetapi sekarang, seolah telah menjadi keharusannya tiap hari. Sekarang ia juga tidak takut berada di jalanan karena menurutnya tidak ada seorangpun yang akan mengenalinya dengan tampilannya yang baru.
Sementara, Alzio dan Dirgo terus saja mencari keberadaannya. Bi Momon yang tiap malam terus menantikan kedatangan majikan kecilnya itu, kerap kali tertidur di ruang tamu, begitu juga Mang Judas. Mang Judas berharap, ucapan Agatha sewaktu ia mengambil mobil hanyalah ucapan bual semata. Tetapi, justru malah terbalik, Agatha sama sekali tak menampakkan batang hidungnya yang mancung barang sekejap.
Agatha dan teman-temannya bekerja dengan mengamen di jalan-jalan seluruh penjuru kota yang ramai dengan lalu lalang kendaraan. Awalnya, Agatha sempat mengajak Carlos untuk mencari pekerjaan, tetapi hal itu malah dicegah oleh Cath. Padahal, Agatha juga Carlos berharap mendapatkan pekerjaan yang layak daripada meminta-minta, mengingat kondisi fisik mereka yang memang bukan cacat. Harapan mereka berdua pupus karena Cath. Toh niat mereka berdua juga baik, mereka akan membagikan hasil kerjanya pada yang lain. Tetapi entah kenapa dari awal, Cath nampak tak suka dengan keberadaan Agatha di tengah mereka.
“Kak, gawat jika sudah begini. Kita tidak bisa bekerja di tempat itu. Padahal pemiliknya udah suka dengan kita berdua,” ucap Agatha putus asa ketika mereka pulang mengamen melewati toko jam tempat mereka mencari kerja.
“Sudahlah. Akupun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Mungkin keberuntungan belum berpihak pada kita.” Carlos menepuk-nepuk bahu Agatha memberi semangat. “Ya begitulah resikonya ketika kita memutuskan untuk berada di kelompok ini. Jadi, ya, kita nikmati saja, Dik.”
Agatha mengangguk. “Kak, yuk hitung hasil ngamen kita hari ini!” Agatha lalu duduk di kursi halte bus, Carlos pun mendaratkan tubuhnya di sana, di sebelah Agatha.
“Lima ribu…empat belas ribu… lima puluh tujuh ribu…” Agatha menghitung hasil mengamen. “Wah, Kak…. Kita dapat lima puluh tujuh ribu,” ucap Agatha senang.
“Adik mau makan apa? Sebelum menemui yang lain, kita harus makan dulu.”
“Mmm aku pengen nasi goreng, Kak.”
“Ayo kita ke sana!” ajak Carlos menunjuk area di seberang mereka yang kebetulan ada kedai di sana.
Sore ini, Agatha dan Carlos sudah mengisi perutnya dengan nasi goreng sesuai permintaan Agatha. Setelah selesai, mereka akan menemui yang lainnya di tempat biasa mereka ngumpul, di kolong jembatan.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
Petang ini, Carlos tanpa sengaja memergoki Cath tengah memasukan narkoba ke dalam botol air mineral milik Agatha. Ia mengendap sampai Cath pergi. Setelah Cath pergi, Carlos buru-buru membuat botol tersebut dan menggantikannya dengan botol yang baru. Ia tak ingin Agatha sampai mengkonsumsi obat-obatan tersebut. Karena, ia melihat Agatha sudah seperti melihat adiknya sendiri. Andrew juga meminta Carlos untuk mengawasi Cath supaya tidak berbuat macam-macam pada Agatha. Jika saja Carlos tak memergoki aksi Cath, sudah dipastikan Agatha akan terjerumus oleh Cath.
Walaupun Agatha tak selalu berada di samping Andrew, setidaknya Andrew merasa lega karena ada Carlos yang selalu menemani Agatha. Menurutnya, Agatha akan baik-baik saja di tangan Carlos.
“Apa yang Cath lakukan?” tanya Andrew pada Carlos.
“Dia memasukkan obat-obatan itu dalam minuman Agatha… mmm maksudnya Loury, Kak.”
“Kamu biarkan saja?”
“Nggak. Setelah Cath pergi, aku langsung membuang botol itu dan menggantikannya dengan yang baru.”
“Good job, Carlos! Awasi terus Cath, agar Loury aman.” Andrew menepuk punggung Carlos.
“Kak Andrew tenang saja. Karena Agatha sudah kuanggap sebagai adik sendiri.”
🕊️🕊️🕊️
Malam ini, sekitar pukul delapan, kelompok Badai mendapat tantangan dari geng motor. Geng motor yang selalu saja mencari masalah di jalanan. Mereka juga selalu mengganggu kelompok Badai dengan alasan kawasan di mana biasa kelompok Badai tidur, merupakan kawasan milik kelompok geng motor. Tentu saja kelompok Badai tidak terima dengan gangguan tersebut.
“Jadi, kita harus nyerah gitu aja? Gitu maksudnya? Gue harus ngaku kalah sama mereka?” pekik Bernard sembari berbalik.
“Menyerah bukan berarti kalah! Masalahnya, resiko yang kita ambil terlalu besar, Kak,” timpal Agatha.
Kelompok Badai harus menerima tantangan dari geng motor untuk adu balap, one by one. Mereka memperebutkan masalah kawasan dan kekuasaan di sekitar taman kota. Tantangannya ternyata tak semudah yang dibayangkan. Mereka mengajukan syarat bahwa motor yang akan dipakai untuk adu balap, remnya harus dipotong. Setelah berunding, kelompok Badai memutuskan Bernard yang akan mewakili kelompoknya melawan geng motor itu. Mereka juga telah berpikir tentang resiko terburuk yang akan Bernard terima, bisa saja Bernard terenggut saat itu juga, tetapi mereka tak mau mundur lagi.
Bernard cukup yakin dengan dirinya bahwa bisa melakukan dan menyelesaikan tantangan ini dengan baik. Ia juga yakin dirinya akan baik-baik saja. Semoga saja keberuntungan berpihak padanya, pikirnya saat itu.
“Hentikan saja, Bernard!” Cath masih tak terima dengan keputusan Bernard.
“Cukup! Kita kan sudah membicarakannya kemarin. Gue akan tetap maju, apapun resikonya. Bahkan, jika seandainya pun aku akan mati malam ini…karena tantangan ini…” Bernard memandangi teman-temannya satu per satu, yang terakhir adalah Agatha.
__ADS_1
Dengan cepat Cath memeluk Bernard. “Jangan katakan itu! Berjanjilah! Lo akan pulang dengan selamat memenangkan tantangan konyol ini.”
“Oke, kalo gitu. Come on, Bernard! Kami semua mendukungmu,” seru Andrew memberi semangat.
“Ummm yeahhh! Ayo kita kalahkan mereka!” Carlos yang sudah siap di atas motornya mengibas-ngibaskan sapu tangan kebanggaannya ke udara.
Kelompok Badai lalu berangkat menuju tempat yang telah ditetapkan sebagai garis start adu balap. Para geng bermotor yang memberikan tantangan telah lebih dahulu sampai di garis start. Di sana berdatangan para punkers dan komunitas lain untuk menyaksikan pertandingan balap liar ini. Mereka semua tertarik dengan balap liar ini meskipun resiko besar telah menunggu jika gagal menaklukan motor yang remnya sudah dipotong.
Lawan Bernard adalah seorang bernama Gempa, badannya tinggi besar, rambut gondrong, hidung mancung, berkaca mata hitam legam, dan ada tattoo di kedua lengannya yang kekar.
Pertama-tama mereka saling berjabat tangan dengan erat dan saling melemparkan senyum licik. Salah satu anak dari geng motor itu memastikan dengan teliti bahwa kedua motor yaang akan digunakan untuk adu balap, remnya sudah benar-benar dipotong biar tidak terjadi kecurangan. Agatha dan Cath sampai bergidik ngeri membayangkan mengendarai motor itu.
“Batalkan! Batalkan Bernard!” Tiba-tiba Cath menjerit-jerit. Ia tak sanggup membayangkan orang yang paling dicintainya harus mengalami hal-hal yang buruk.
“Guys, doain gue, ya. Gue pasti menang,” ucap Bernard dengan senyum khasnya. Ia mengacuhkan jeritan dari Cath. Ia mengacungkan jempol pada teman-temannya, dan menatap lekat-lekat mereka satu per satu. Ia seolah dapat merasakan sesuatu yang buruk terhadap dirinya malam ini, mungkin saja ini yang terakhir kalinya ia dapat melihat sadara-saudarinya itu.
“Bernard, batalkan!” jerit Carlos tiba-tiba memecah keheningan. Padahal ia awalnya sudah bersorak, tetapi sekarang menjerit meminta Bernard untuk membatalkan ikut tantangan. Semua tertegun mendengarnya dan memandang Carlos dengan bingung. “Turun sekarang! Kita nyerah!”
Anak-anak geng motor tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan konyol Carlos. Sementara di antara kelompok Badai sedikit terjadi gesekan karena Carlos.
“Carlos, kamu ini apaan?” ujar Andrew ketus.
“Kak Andrew ketua, tapi Kakak hanya memikirkan harga diri!” seru Carlos garang.
“Aku? Aku hanya memikirkan harga diri? No! Itu nggak bener, Carlos. Aku memikirkan nasib kita semua!”
“Kalo gitu, kalo Kakak bener-bener memikirka kita semua, kenapa bukan Kakak aja yang maju? Jangan suruh-suruh Bernard!” Carlos menarik kerah baju Andrew dengan kuat.
“Aku nggak pernah maksa Bernard untuk mengikuti tantangan itu! Mana mungkin aku nggak memikirkan Bernard? Aku juga sedih kalo nanti bakal terjadi apa-apa sama dia, tapi Bernard sendiri yang mau melakukannya! Aku nggak akan maksa kalo dia mau batal sekarang!” Andrew mendorong Carlos hingga terpental beberapa meter.
“Stop! Stopppp!” Cath menengahi Andrew dan Carlos. “Kenapa kalian berdua malah ribut?”
__ADS_1
🕊️🕊️🕊️
To be continued….