Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Kembali ke Kota A.


__ADS_3

Mentari pagi kini menyambut seluruh bumi, bumi pertiwi. Hari ini adalah hari minggu yang mana bagi para umat manusia digunakan untuk beristirahat dan bagi umut Kristiani hari minggu adalah hari untuk mengucap syukur atas anugerah dan kuasa Tuhan atas hidupnya.


Di kamar dekat dengan balkon villa, menjadi saksi bisu atas perbuatan yang tak sepantasnya dilakukan oleh orang yang belum mengikat tali perkawinan, tampaklah Nadine tengah merapikan ranjangnya yang berantakan bagaikan kapal pecah. Kamar yang ia tempati itu berantakan akibat percintaannya dengan Welson semalam. Tangannya menarik dan membuka sprei itu lalu memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor sebelum diserahkan pada Bi Inem. Ia bergegas ke kamar mandi sambil membawa keranjang yang berisi sprei bernoda itu. Jalannya terseok-seok karena areanya masih saja terasa perih. Langkahnya gemetar ketika ia kembali mengingat perbuatan bodohnya, perbuatan yang merenggut kesuciannya. Gemetar hingga tak mampu untuk melangkahkan kakinya kembali. Ia terduduk lemas di lantai dan menangis sejadi-jadinya hingga tak mengeluarkan suara. Dadanya serasa ingin runtuh karena menangis. Seisi kamar seolah menatapnya jijik dengan perbuatan yang tak memikirkan nasibnya.


Ia kembali bangkit dari duduknya dan mencoba melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia meraih gagang pintu dengan tangan yang gemetar nyaris tersungkur membentur pintu kamar mandi. Ia lemas karena areanya perih ditambah lagi dengan menangis. Perbuatan yang memiliki kenikmatan sesaat, namun menghancurkannya selamanya. Ia ternodai dan kotor.


Berhasil masuk lalu menutup kamar mandi. Ia sejenak melangkah ke depan cermin untuk menatap gambar dirinya di sana.


“Aku benci dengan diriku sendiri. Aku bodoh, aku kotor,” rutuknya kembali menangis. Salah satu tangannya menghantam benda-benda yang ada di depan cermin.


Brukk!! Semuanya berserakan di lantai. Ia memukul kepalanya dengan kedua tangannya. Sungguh, ia juga jijik pada dirinya sendiri.


Seketika ia menghentikan tangisnya dan wajahnya terlihat penuh dengan tatapan kebencian. “Kau yang menodaiku dan kau juga yang membuat masa depanku suram. Jangan harap aku akan melepaskan kau begitu saja. Lihat saja nanti!” ucapnya menggeram. Tangan mungil dan putih mulus itu mengepal sempurna ibarat telah siap memasuki ring tinju.


Sejenak ia berpikir dan kembali menatap wajahnya di cermin. “Maafkan aku Agatha. Jika saja kamu mengetahui yang sebenarnya, kamu pasti sangat membenciku. Aku memang jahat telah berkhianat padamu karena telah merampas kekasihmu. Kamu sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri, tetapi aku malah mengacaukan semuanya. Maafkan aku,” ucapnya menatap diri di cermin, tatapannya kembali sendu. Matanya terlihat sembab dan membengkak.


Puas bergumam dan menangisi dirinya, ia berjalan ke arah wadah yang bisa untuk merendam pakaian. Ia memasukan sprei yang bernoda itu ke dalam wadah lalu menguceknya hingga bersih.


Setelah dirasa sudah tidak ada lagi noda dan bercak darah, ia membawa dirinya ke shower dan membiarkan tubuhnya terguyur kucuran air. Cukup lama ia membiarkan dirinya di sana sampai ia merasakan pikiran dan kepalanya kembali segar. Lagi-lagi ia meringis karena areanya terasa nyeri.


“Aw, kenapa rasanya ia ingin copot, sih?” Ia memekik pelan dan memegangi areanya.


Selesai membersihkan diri, ia mengambil handuk yang ia sampirkan di dinding. Ketika keluar dari kamar mandi, ia terkejut melihat Memey yang sudah duduk manis di sisi ranjang. Ia memalingkan wajahnya dari Memey karena takut Memey akan memberikannya banyak pertanyaan. Namun, percuma saja ia memalingkan wajah jika akhirnya kelihatan juga.


“Mey, sejak kapan lo masuk?” tanyanya tanpa menoleh ke arah Memey. Ia berjalan menuju lemari yang terdapat pakaiannya. Langkahnya juga belum pasti, masih saja tetap terseok dan seperti ingin terjatuh.


Memey menyadari ada sesuatu yang aneh pada Nadine, ia sudah menimang-nimang ingin bertanya. Tanpa sadar, di saat ia menoleh ke sisi ranjang dekat nakas, ia melihat pakaian tidur Nadine sudah tercerai berai atau sobek. Memey semakin penasaran ingin bertanya.


“Nad, lo kenapa jalannya kayak robot? Lo lagi memperagakan jadi power rangers?” tanya Memey dengan mata menyipit. Namun, Nadine tak menjawab dan fokus pada tujuannya untuk mengenakan pakaian.


“Nad, itu pakaian lo kok bercerai? Kapan mereka ke Pengadilan Agama?” tanya Memey lagi. Ia bangkit dan memunguti celana tidur Nadine yang sobek. Lagi-lagi Memey tak dihiraukan oleh Nadine.


Memey bergumam sendiri ketika mengamati celana tidur Nadine yang seperti sengaja dirobek. “Si Nadine kenapa ya? Kok rasanya jadi aneh kayak gini sih? Apa jangan-jangan Nadine diserang ikan hiu, secarakan villa ini di pantai?”


Ada rasa lucu ketika Memey bergumam karena gumamannya samar-samar didengar oleh Nadine. Namun Nadine menahan tawanya dan hanya mengulas senyum kecut.


“Lo kapan mengemasi semua barang-barang lo? Apa lo mau tinggal di villa ini selamanya?” Tiba-tiba Nadine melontarkan pertanyaan pada Memey seraya memasukan pakaiannya ke dalam koper.


“Eh iya ya. Gue lupa kalau pagi ini kita balik ke ibukota,” jawab Memey. Benda yang ia pegang dari tadi ia lempar begitu saja. Nadine menoleh ke arah Memey ketika Memey menjawabnya. Seketika Nadine membulatkan matanya mendapati celana tidurnya dipegang Memey. Ia pikir yang Memey tanyakan padanya karena melihat pakaiannya berantakan, tetapi kenyataannya salah. Ia lupa memunguti pakaiannya itu. Niatnya agar Memey tak mengetahuinya, namun justru sebaliknya.


“Astaga, kenapa aku sampai lupa memunguti celana gila itu?” ucapnya lalu bergegas meraih celananya.


“Oh iya, Nad. Ranjangnya kok telanjang kayak gitu sih, spreinya ke mana?” tanya Memey disela-sela ia mengemasi barang-barangnya. Ia memutar badannya untuk menatap Nadine.


“Mmm, barusan gue rendam sih, tinggal kasih sama Bi Inem aja,” jawab Nadine canggung.


“Tumben? Apa lo ngompol?”


“Ngaco lo, Mey.” Nadine menggelengkan kepalanya karena pertanyaan Memey.


Dengan jelas Memey dapat melihat ada yang berbeda juga dari area wajah Nadine. Ia semakin bingung dan juga terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sebenarnya apa yang terjadi pada Nadine.

__ADS_1


“Nad, lo kenapa?” tanya Memey begitu penasaran. Nadine juga tidak merespon pertanyaannya.


“Astaga. Gue kok rasanya kayak lagi ngomong sama batu, ya? Dikatakan batu, tapi bisa bergerak. Dikatakan manusia, tapi kok sama persis kayak batu, enggak bisa ngomong.” Memey menyindirnya secara halus. “Mata lo kenapa sembab? Abis nangis? Nangisin apa lo?” lanjutnya.


“Gue enggak apa-apa. Cuma rindu rumah aja kok,” jawab Nadine berkilah. Suasana terasa kaku dan canggung. Nadine gelisah karena Memey memberikannya banyak pertanyaan ibarat sedang diwawancarai wartawan.


“Dasar cengeng lo, Nad,” ejek Memey pada Nadine berusaha membuat suasana tidak menjadi kaku sekaku manusia kutub.


Di sela mereka bertutur kata, muncullah Agatha dari arah luar dengan membawa semua barangnya. Ia terlihat elegan dengan pakaian casualnya yang dipadu-padankan dengan sepatu kets-nya. Agatha menggelengkan kepalanya karena melihat Memey yang masih saja mengenakan pakaian yang ia pakai untuk tidur.


“Lo belum mandi, Mey? Apa lo mau ditinggal di sini?” tanya Agatha setelah menghampiri Memey dan Nadine.


“Astaga, kalian ini. Lo sama Nadine sama aja, selalu bilang gue mau tinggal di sini. Memang kupret lo berdua,” jawab Nadine kesal.


“Buruan mandi. Nanti kita terlambat.” Agatha mendorong Memey supaya bergegas ke kamar mandi.


“Aishhh! Sabar bisa gak sih lo, Tha? Masa iya gue gak bawa handuk? Parah amat lo,” ucap Memey lalu mengambil handuknya.


“Mana duli,” ucap Agatha pada Memey, “lo udah beres, Nad?” tanyanya pada Nadine.


“Udah kok. Tinggal ke bawah aja,” jawab Nadine dengan tersenyum yang sedikit memaksa.


Mereka bertiga segera turun ke bawah menuju meja makan karena ketiga temannya sudah menunggu di meja makan bersama Bi Inem dan juga suami Bi Inem. Sebelum melanjutkan ke meja makan, tak lupa mereka meletakkan koper dan barang-barangnya yang lain di ruang tamu.


“Buruan, Mey! Lelet amat, lo?” celetuk Nadine melihat Memey yang masih saja kebingungan meletakkan sepatu branded yang dibayarkan Agatha.


“Tau tuh. Leletnya udah melebihi siput aja,” timpal Agatha. Memey hanya tersenyum mendengar ocehan kedua sahabatnya itu. Mereka bertiga segera menuju ke meja makan untuk sarapan. Semuanya sudah duduk manis di sana, hanya mereka bertiga yang masih berdiri.


“Thank’s, Dir.” Mereka bertiga menjawab secara bersamaan.


Selesai berdoa, mereka semua memulai sarapannya. Hanya deburan ombak memecah pantai yang menjadi pengisi suara di saat mereka sarapan. Ada satu sosok yang tersenyum-senyum melihat Nadine, dialah Welson. Welson mengedipkan matanya ketika Nadine menatapnya ke arahnya. Nadine menunduk dan wajahnya kembali merona merah. Ia malu dan marah ketika mengingat kejadian semalam bersama Welson.


Di bawah meja makan, kaki Welson kini menyentuh kaki Nadine. Nadine terkejut di saat merasakan kakinya tengah disentuh seseorang. Refleks ia kembali melihat ke arah Welson karena ia yakin Welson lah biang keladinya.


Sarapan selesai. Bi Inem dan suaminya mengantar Dirgo dan teman-temannya ke depan villa. Mobil yang mereka pakai telah disiapkan oleh suami Bi Inem. Suami Bi Inem sangat cekatan memasukan barang satu per satu ke dalam bagasi mobil, ia juga dibantu oleh Dirgo. Lagi-lagi Agatha terperangah melihat semua yang Dirgo lakukan.


“Sayang, kenapa melamun?” tanya Welson ketika melihat Agatha tengah melamun karena terpana melihat aksi Dirgo.


“Aku gak melamun, sayang,” ucap Agatha. Agatha dengan manjanya bergelayut di tangan Welson.


“Haha. Bisa aja kamu, Yank. Kamu kok manja sekali, sih.” Welson mencubit pipi Agatha dengan gemas.


“Gak boleh ya manja pada pacarnya sendiri?” Agatha memasang wajah sedih. Welson semakin geram melihatnya.


“Boleh dong, sayang. Bahkan itu yang aku suka dari kamu,” ucap Welson tersenyum manis. Tangannya mengusap lembut rambut Agatha lalu mencium pucuk kepala Agatha dengan dalam. Ia menghirup aroma rambut Agatha yang begitu wangi. Nadine hanya menatap nanar pada mereka.


“Sudah selesai.” Dirgo menatap semua teman-temannya.


Sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke ibukota, Bi Inem memimpin doa untuk mereka semua agar selamat sampai tujuan. Selesai berdoa, mereka semua berpamitan dan bersalaman pada Bi Inem serta suaminya. Tampak raut sedih di wajah Bi Inem. Tetapi apa boleh buat, karena masa liburan Dirgo dan teman-temannya sudah habis. Mereka juga sudah harus kembali masuk sekolah seperti biasanya.


“Jika ada waktu libur lagi, jangan lupa ke sini, ya,” ucap Bi Inem dengan mata berkaca-kaca seolah tak merelakan mereka kembali ke kotanya.

__ADS_1


“Bi, jangan sedih dong. Nanti pasti ke sini lagi kok jika ada libur lagi,Bi.” Agatha memeluk Bi Inem yang juga diikuti oleh Memey.


“Iya, Bi. Jangan sedih, ya. Makasih ya, Bi, udah baik banget,” ucap Memey yang juga berkaca-kaca.


“Sayang, ayo!” tukas Welson.


“Hati-hati di jalan, ya. Jangan ngebut ya, Nak.” Bi Inem menepuk pundak Dirgo lalu menatap yang lainnya.


“Iya, Bi. Paman dan Bibi juga jaga diri baik-baik di sini. Jika ada apa-apa jangan sungkan hubungi rumah,” ucap Dirgo.


“Iya, Nak. Hati-hati!” jawab suami Bi Inem.


Mereka semua masuk ke dalam mobil karena semuanya telah siap. Welson membawa Agatha untuk duduk di kursi bagian paling belakang. Dirgo sendiri yang memilih untuk menyetir pada perjalanan pulang ini. Perlahan, mobil meninggalkan halaman villa yang diiringi oleh lambaian tangan dari Bi Inem dan suaminya. Agatha menoleh ke belakang untuk melihat Bi Inem dan suaminya yang melambai-lambaikan tangannya. Agatha terharu melihat dan menyaksikannya.


“Yank, aku terharu melihat Bi Inem dan suaminya. Mereka begitu baik sama kita,” ujar Agatha menatap Welson dengan mata yang sudah diisi oleh air mata. Matanya berkaca-kaca.


“Udah, gak boleh sedih. Orang seperti merekalah yang patut dicontoh, Yank.” Welson merangkul Agatha ke dalam dekapannya.


“Seandainya daddy sama mommy...” ucap Agatha terhenti karena ia sudah terisak karena menangis.


“Sssssttt! Udah, jangan menangis, sayang.” Welson mengelus-elus kepala dan belakang Agatha dengan lembut agar pacarnya itu bisa tenang.


Nadine melihat villa itu sebelum mereka semakin menjauh. Tatapannya kosong dan sendu. Nadine membatin, “villa itu adalah saksi bisu kebodohanku. Selamat berjumpa kembali villa penuh kenangan.”


Dua jam perjalanan telah mereka tempuh. Semuanya tertidur, hanya Dirgo yang fokus pada jalanan. Agatha tertidur dalam dekapan Welson dengan begitu mesra. Kini, untuk mencapai kotanya hanya butuh setengah jam lagi.


🕊️🕊️🕊️


Di rumah Agatha.


Bi Momon yang telah menyelesaikan aktivitasnya, ia segera mengistirahatkan tubuhnya di depan televisi. Ia menyalakan televisi yang langsung disuguhkan dengan berita yang sangat mengenaskan. Bi Momon seketika membenarkan duduknya supaya dapat menyaksikan berita terkini yang tengah berlangsung. Banyak polisi yang tengah berjaga dari lokasi kejadian kecelakaan sebuah mobil yang berisi enam orang di dalamnya. Bi Momon seketika terkesiap. Ia ingat betul bahwa Agatha dan teman-temannya kembali hari ini. Napas Bi Momon sudah tidak karuan lagi. Darahnya terasa membeku menyaksikan berita itu. Dikabarkan dari berita itu, hanya ada empat orang yang selamat dengan luka-luka di bagian tubuh. Namun, seorang gadis dan remaja pria dinyatakan meninggal di tempat kejadian. Tanpa sadar dan tanpa izin, air mata Bi Momon pun langsung membasahi pipinya. Pikiran buruk telah merasukinya.


“Ini tidak mungkin, non. Kenapa non meninggalkan Bi Momon begitu cepat? Jika bisa diganti, biar Bi Momon aja yang pergi, bukan non.” Bi Momon menangis sejadi-jadinya di atas sofa.


“Non, diberita itu bukan non dan teman-temannya, kan?” ucap Bi Momon seolah Agatha berada di sampingnya.


Mendengar suara orang menangis, nyonya Daria keluar dari kamarnya. Ia melihat bahwa asistennya tengah menangis tersedu-sedu. Karena penasaran, nyonya Daria pun menghampiri Bi Momon. “Bi, Bibi kenapa menangis?”


“Liat itu, Nyonya. Hiks..hiks.” Bi Momon kembali menangis.


Serr!! Darah nyonya Daria berdesir ketika menyaksikan itu. Ia membulatkan matanya tak percaya. Hatinya terenyuh menyaksikan semuanya.


“Tidak! Ini tidak mungkin.” Nyonya Daria berteriak dengan kencang. Bi Momon menutup kupingnya dengan kedua tangannya. Nyonya Daria juga menangis.


“Nona Agatha, Nyonya. Kenapa nona Agatha meninggalkan kita begitu cepat?” tanya Bi Momon sambil menangis.


Nyonya Daria tak bergeming dengan pertanyaan Bi Momon. Beliau seperti tengah memikirkan sesuatu pada berita itu.


🕊️🕊️🕊️


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2