Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Traktiran Dirgo


__ADS_3

🕊️🕊️🕊️


“Abis ini mau ke mana?” Agatha memecah situasi yang tampak hening.


“Palingan cari makan. Kamu mau barengan?”


Nadi dan jantung Agatha seolah ada yang membuatnya terasa berdenyut dan berirama. Setelah kagum dengan semua yang Dirgo lakukan, mulai dari mereka liburan ke kota L dan hingga saat ini, Agatha hanya bisa tersenyum. Entah mengapa sosok Dirgo sore ini tampak beda dari yang sebelumnya. Kali ini, di mata Agatha, Dirgo tampak lebih segar dan mempesona dengan balutan kemeja hitam dan celana pensil itu.


“Gimana? Mau barengan? Biar gak makan di rumah,” sambung Dirgo lagi.


“Boleh lah. Mumpung keluar juga.”


“Mau makan di mana?”


“Gue ngikut aja,” jawab Agatha apa adanya.


“Bentar, aku searching dulu, ada gak restoran GUE NGIKUT AJA,” goda Dirgo berusaha memecah kecanggungan yang kerap terasa.


“Dih. Bisa aja lo.”


Agatha tampak terkekeh karena Dirgo. Tangannya kemudian meraih tas untuk mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia berniat ingin menghubungi sahabatnya yang lain biar bisa menemani mereka makan malam bersama.


“Kamu ngapain?” tanya Dirgo ketika Agatha tampak ingin memainkan ponselnya untuk membuka panggilan ataupun chat.


“Ngasih tau yang lain, biar makan bareng.”


Tanpa menatap Dirgo, Agatha terus menekan dan menggeser layar ponselnya, tapi niatnya terhenti di saat Dirgo melarangnya.


“Nggak usah! Aku maunya sama kamu aja,”


“Kenapa? Kan gue yang mau traktir mereka.”


“Tapi aku yang ngajak kamu makan bareng!”


Sebuah senyuman terbentuk di wajah Dirgo, karena akhirnya ia berhasil membuat Agatha mengalah. Ia juga senang karena akhirnya bisa juga membawa Agatha makan malam bersama dengannya. Wajah Agatha terlihat gusar karena Dirgo, karena sejatinya ia cukup gugup dan canggung jika hanya berduaan dengan Dirgo. Apalagi Dirgo selama ini tak pernah sama sekali berinteraksi dengannya menggunakan kata elo gue, seperti sahabatnya yang lain. Ia cukup tidak nyaman dengan itu, menurutnya agak kaku. Padahal sudah Agatha protes tentang kata aku kamu yang sering Dirgo gunakan untuk berinteraksi dengannya.


“Kamu pake mobil, kan?”


“Iya, kenapa?”


“Kalo gitu, kita pake motorku aja. Mau?”


“Tapi gue gak punya helm,” jawab Agatha berusaha menolak, supaya mereka pergi menggunakan mobilnya saja.


“Gak pa-pa. Ntar kita singgah beli.”


Jawaban Dirgo yang semakin membuat Agatha merasa canggung, sukses membuatnya beberapa kali melihat ke samping kanan dan kirinya.


“Soal mobil kamu, bisa titip sini bentar.”


“Jangan! Gue telpon Mang Judas aja buat ambil. Ntar yang ada lo repot bolak-balik kayak kipas angin.”


“Haha. Yaudah, ayo!” Dirgo segera bangkit dari kursi yang ditempatinya. Ia meraih tangan Agatha supaya bisa jalan berjejeran.


🕊️🕊️🕊️


Tiba di sebuah toko yang menjual perlengkapan kendaraan roda dua, Dirgo memarkirkan motornya. Ia berjalan mendahului Agatha ke dalam toko. Barang yang ia dan Agatha butuhkan sudah berada di genggaman, sesuai dengan selera Agatha.


“Ini berapa, Ko?”


“Itu 350 ribu. Awet tuh,” jelas Ko Marlo.


“Ok, yang ini aja ya, Ko.” Dirgo membuka dompetnya kemudian membayar helm itu.

__ADS_1


“Xie-xie, Dek. Itu pacarnya, ya?” Ko Marlo melirikkan matanya ke arah Agatha.


“Hehe, semoga aja, Ko.” Jawaban Dirgo membuat Agatha tersipu malu. Bagaimana mungkin Dirgo bisa menjawab Ko Marlo dengan selempeng itu. Agatha menatap senyum ke arah Ko Marlo, kemudian memutarkan badannya menuju pintu keluar toko. Dirgo akhirnya menyusul. Ko Marlo tampak tersenyum melihat bujang dan gadis yang berbelanja ke tokonya.


“Sini!” pintanya pada Agatha ketika sudah berada di dekat motor.


“Ngapain?”


“Pakai helm, biar gak kena tilang.” Dirgo segera memasangkan helm pada Agatha. “Ok! Ayo naik!”


Agatha sudah seperti anak kecil dibuat Dirgo, ia manut saja pada sahabatnya itu. Dirgo mengintruksikan Agatha supaya tangannya melingkar di perut Dirgo. Sebenarnya sudah beberapa kali mereka beradu mulut, namun hasilnya tetap saja Agatha kalah. Kembali wajah Dirgo tampak memamerkan segurat senyum tampan. Sesekali dirinya menatap Agatha dengan spion motornya.


🕊️🕊️🕊️


Dirgo mengarahkan motornya menuju restoran Cina, restoran yang sangat populer di kota mereka. Sebenarnya, ada beberapa restoran lain yang menjadi tetangga restoran Cina yang menjadi tujuan mereka, ada juga rumah makan yang menyajikan makanan khas suatu daerah. Namun, Dirgo tak memiliki niat untuk mengisi kampung tengahnya di sana.


Moker (motor keren) hitam bercampur silver milik Dirgo berhenti di parkiran restoran Cina yang mulai ramai dikunjungi oleh para pengunjung. Ada pengunjung yang baru saja datang seperti Dirgo dan Agatha dan ada juga pengunjung yang keluar karena sudah selesai mengisi perutnya. Agatha masih tidak menyangka bahwa dirinya bisa makan berdua dengan Dirgo, sehingga membuatnya masih mematung di atas motor. Agatha termangu, seolah mimpi tapi nyata adanya yang terjadi saat ini.


“Come on!”


Suara Dirgo baru saja berhasil membuyarkan lamunan Agatha. Agatha bangkit dari motor lalu merapikan rambut dan busananya, kemudian berlalu menuju Dirgo yang sudah menunggunya. Dirgo sempat bingung di saat memasuki ruangan restoran, karena jajaran meja dan kursi sudah terisi oleh pengunjung lain. Salah satu waiters yang menyadari Dirgo dan Agatha tampak celingak-celinguk, datang mengarahkan mereka untuk menuju tempat yang masih kosong. Kebetulan tempat yang kosong berada di pojokan, cukup nyaman untuk mereka menikmati makan malam. Setelah Dirgo dan Agatha sudah mendaratkan tubuhnya di kursi, waiters tersebut langsung menyodorkan buku menu kepada kedua pengunjungnya.


“Mmm, kamu mau makan apa?”


Dirgo hanya melihat sekilas buku menu tersebut, kemudian menyerahkan buku menu tersebut pada Agatha. Dirgo sendiri saat ini berniat ingin menyamakan menu makannya dengan gadis yang ada di depannya. Agatha yang menerima sodoran buku menu dari Dirgo, segera melihat-lihat menu itu. Cukup banyak menu yang menggugah selera, dan itu membuatnya bingung ingin memesan menu apa.


“Kok nanya gue? Lo sendiri mau makan apa?” Agatha balik bertanya pada Dirgo.


“Aku ngikut kamu aja. Untuk saat ini, kamu yang nentuin menunya. Aku yakin menu pilihanmu pasti lezat.”


Lagi dan lagi Agatha tampak merona. Tak tau mengapa pikirannya menjadi susah ditebak. Akhirnya Agatha kembali memperhatikan buku menu yang masih di genggamannya dengan seksama. Agatha melambaikan tangannya pada pegawai restoran yang melintas di depan meja mereka. Sang pegawai segera menghampiri meja Agatha dan Dirgo, tak lupa dengan memo kecil di tangannya untuk mencatat pesanan pengunjung.


“Ko, pesan tamie capcay satu. Bebek pekingnya satu, terus szechuan satu, nasinya dua porsi, dan minumnya teh krisan. Lo minum apa?” Agatha menatap pada Dirgo.


“Samain aja kayak kamu.”


“Nggak! Kan udah kubilang kalo kamu yang nentuin menunya,” Dirgo tersenyum menatap Agatha.


“Ishh… Teh krisannya dua, Ko.”


“Tamie capcay satu, bebek peking satu, szechuan satu, nasi dua, teh krisan dua. Ada tambahan lagi?” tanya pegawai restoran dengan menyebutkan kembali pesanan Agatha dan Dirgo.


“Sudah, itu aja, Ko.”


Sebelum meninggalkan meja Agatha dan Dirgo, sang pegawai restoran menganggukkan kepalanya, kemudian meninggalkan meja tersebut. Sepeninggalan sang pegawai resto, ponsel Agatha mengeluarkan bunyi dentingan. Ada sebuah pesan masuk di sana. Terukir senyum di wajah Agatha ketika melihat pesan yang menampakkan nama dari pacarnya, Welson.


“Lagi apa?” tanya Welson melalui chat.


“Lagi di luar, Yank.”


“Udah makan? Kalo belom, kita makan bareng. Mau?😙”


“Ini mau makan. Lagi nunggu pesanan😊.”


“Sama siapa?🤔”


“Sama Dirgo. Gak apa-apa kan, sayang?🤗”


“Oh sama Dirgo. Iya, gak pa-pa😉.”


“Makasih, sayang. Kamu sendiri lagi apa? Makannya udah?”


“Ntar lagi cari makan. Sekarang lagi nanggung ganti ban motor.”

__ADS_1


“Iya, jangan lupa makan, ya❤️.”


“Siap bawel sayang💋💋💕💕.”


Dirgo sedari tadi menyaksikan Agatha senyam-senyum sendiri sembari membalas chat. Dia sudah tau jika orang yang tepat berada di depannya bahwa hatinya tengah bersemi. Dan tentu saja yang membuatnya bersemi adalah Welson.


“Kayaknya lagi bersemi tuh hati,” tutur Dirgo. Dan jujur saja, harus diakui bahwa Dirgo cemburu, walaupun dia hanya bisa memendamnya. Dari dulu dirinya sudah menyimpan rasa terhadap sahabatnya itu, tetapi dirinya menahan diri karena Agatha sudah menjalin hubungan dengan Welson. Apalagi sekarang, semenjak Dirgo mengetahui hubungan gelap tak kasat mata antara Welson dan Nadine, semakin membuatnya yakin bahwa suatu saat Agatha pasti akan bersama dirinya.


“Haha, apaan sih?” Agatha kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. “Makanya cari cewek, biar gak joloting.”


“Hah? Apaan tuh joloting?” Dirgo kebingungan dengan kosakata yang Agatha sematkan pada dirinya.


“Jomblo long lasting, haha. Alias jomblo akut.”


Dirgo tak menggubris gelar yang disematkan Agatha untuknya. Tangannya ikut membantu pegawai restoran yang sudah datang mengantarkan makanan pesanan mereka. Seporsi nasi diletakkannya di hadapan Agatha, kemudian segelas teh krisan ikut menyusul nasi.


“Mampu makan pedes?” Dirgo menatap ragu dengan menu szechuan yang tampilannya menunjukkan bahwa makanan tersebut pedas.


“Kalo gak mampu, gue gak bakal pesan!” jawab Agatha tanpa menatap yang sedang berbicara dengan dirinya.


Dirgo langsung meraih sendok yang tertata di dalam mangkok tamie capcay. Menyendoknya lalu menaruh tamie capcay ke dalam piringnya. Kemudian Dirgo mengambil sesendok szechuan lalu mencicipinya. Ada rasa pedas yang menjalar di lidahnya. Terakhir, Dirgo mengambil sepotong bebek peking ke dalam piringnya.


“Kamu kok belum makan? Atau mau kuambilin ke piringmu?” Tanpa persetujuan Agatha, Dirgo langsung menyendok semua hidangan yang tersaji di meja, kemudian menaruhnya ke dalam piring Agatha. “Makanlah! Ntar gak bisa chat-an sama Welson kalo kelaparan,” ledeknya.


“Mmm, makasih, Dir.”


Dengan sedikit dentingan antara sendok dan piring, mereka berdua menikmati makanan dengan lahap dan bersemangat. Apalagi daging bebek pekingnya mempunyai tekstur yang lembut, sehingga mudah untuk dinikmati. Sesekali Agatha meneguk teh krisannya karena rasa pedas dari menu masakan szechuan.


Tangan Dirgo kembali mengambil sepotong bebek yang sudah dipotongnya menjadi 2 bagian. Satu potong untuk dirinya, dan satu potong lagi langsung disodorkan ke mulut Agatha. Agatha menolak karena merasa tak biasa. Dengan sekali kedipan mata dari Dirgo, akhirnya Agatha membuka mulutnya. Desiran darah di dalam tubuh Agatha kembali menjalar ke bagian wajahnya ketika mereka beradu tatapan.


“Uhukk!”


Kembali tangan Dirgo mengambil gelas minum miliknya ketika Agatha terbatuk. Terlanjur merona, Agatha langsung meminum teh krisan milik Dirgo.


“Pelan-pelan,” ucap Dirgo lembut seraya meletakkan gelasnya kembali.


Perasaan Agatha sudah tak karuan, ketika mendapat perlakuan manis nan lembut dari Dirgo. Menurutnya, yang dilakukan Dirgo untuk dirinya melebihi dari rasa seorang sahabat. Mungkin perasaannya sekarang sudah seperti permen nano-nano atau gado-gado.


Agatha sesekali curi pandang dengan pemuda di depannya. Tampilan wajah Dirgo terlihat senang. Tangan kanan Dirgo kembali bergerak, namun kali ini dia menarik tissue. Ia mengusap bibir Agatha dengan tissue karena terkena bumbu dan rempah dari bebek peking. Entah angin surga atau angin neraka yang membuat Dirgo sangat perhatian, pikir Agatha. Semua makanan yang dipesan sudah ludes termakan, menyisakan sendok, piring, mangkok, dan gelas karena memang mereka tidak makan beling.


“Gimana? Kamu kenyang?”


“Kenyang. Kenyang banget malah. Thanks, ya!” jawab Agatha. Tak ayal, Dirgo kembali memberikan senyuman manisnya untuk Agatha, membuat kedua mata indah Agatha tak berkedip memandangnya.


“Tampan sekali malam ini,” Agatha bergumam di dalam hati.


“Pulang?”


“Iya. Dah waktunya balik.”


Andai saja ia tak ingat pesan dan aturan orang tuanya yang tak mengizinkannya pulang larut malam, sudah pasti ia ingin berlama-lama menikmati kebersamaan dengan Dirgo. Agatha terus tersenyum memikirkan apa yang Dirgo lakukan untuknya.


Sepanjang perjalanan pulang, mereka tak banyak melakukan percakapan. Hanya tangan Agatha yang melingkar di tubuh Dirgo, mengingat cuaca malam kota itu terasa dingin.


“Sudah sampai!” Dirgo mematikan mesin motornya. Kemudian ia turun, yang juga disusul oleh Agatha.


“Dir, thanks, ya. Makasih udah traktir gue makan malam, hehe,” ucap Agatha. Helm yang masih nangkring di kepalanya, segera ia lepas dan diberikan kepada Dirgo.


“Iya, sama-sama. Itu helmnya buat kamu aja. Btw, kapan-kapan makan bareng lagi ya,” harap Dirgo.


“Mmmmm, iya,” jawab Agatha malu-malu. “Yaudah, lo balik gih. Makasih dan maaf udah ngerepotin.”


“Santai aja, dan aku sama sekali gak ngerasa direpotin, justru aku senang. Aku balik dulu ya, see you.”

__ADS_1


Dirgo berpamitan pada Agatha. Ia kembali ke rumahnya dengan perasaan senang tak terhingga, karena baru pertama kalinya ia bisa makan malam bersama Agatha, apalagi melihat reaksi yang ia dapat dari Agatha, walaupun kadang Agatha tampak keras padanya.


To be continued…..


__ADS_2