Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Menyalahkan.


__ADS_3

“Jika rasa tak mampu membendung asa, maka jangan biarkan rasa itu bergelora”


(By Author)


🕊️🕊️🕊️


Setelah sambungan telepon terputus, kini Bi Momon melenggang mencari perlengkapan untuk di bawa ke rumah sakit, karena dia tau pasti nona kecilnya masih menggunakan seragam sekolah. Setelah mengambil beberapa helai pakaian dan menyiapkan makanan, Bi Momon segera mencari keberadaan Mang Judas di depan rumah. Terlihat Mang Judas sedang asyik tertidur dengan mulut yang sedikit menganga. Bi Momon sudah dengan susah payah membangunkannya, namun hingga pada teriakan ketiga Mang Judas tersadar dari tidurnya.


“Mambang kusut. Ada buaya, ayo bangun!” teriak Bi Momon dengan sedikit menghentakan kakinya jalan di tempat tanda berlari.


“Mana buayanya?” ucap Mang Judas sambil memasang jurus kuda lumping.


Bi Momon tak menjawab pertanyaan Mang Judas. Kini wajahnya terlihat sendu dengan beberapa tentengan di tangannya. Mang Judas menyadari kesenduan yang terpancar dari wajah Bi Momon, membuatnya bertanya dengan hati-hati.


“Ada apa, Bi? Kenapa bawa tentengan segala?” tanya Mang Judas karena penasaran.


“Cepat ambil mobil. Kita ke rumah sakit sekarang. Non Agatha kecelakaan.” Jawab Bi Momon seadanya dan berlalu ke gerbang rumah.


Tanpa bertanya apa-apa lagi, Mang Judas segera mengeluarkan mobil dari garasi dan bersiap-siap menuju ke rumah sakit. Bi Momon yang masih kebingungan di depan gerbang, membuat Mang Judas menglakson mobil untuk menyadarkan kebingungan Bi Momon. Bi Momon kaget.


“Bi, ayo buruan masuk!” perintahnya pada Bi Momon.


Tanpa berkata, Bi Momon segera membukakan pintu mobil dan duduk di belakang kemudi. Jalanan yang kadang ramai dan kadang sepi, membuat Bi Momon tampak gelisah.


“Kita ke rumah sakit mana, Bi?” tanya Mang Judas, lantaran karena belum tau ke rumah sakit mana Agatha dilarikan.


“Rumah sakit Sta. Elisabeth.” Jawab bi Momon langsung.


🕊️🕊️🕊️


Sementara di mobil Agatha, orang itu nampak khawatir karena Agatha belum sadarkan diri.


“Tha, ayo bangun. Aku gak tega liat kamu seperti itu. Bertahan ya, sebentar lagi sampai.” Ucap orang itu lirih dan cemas sambil melihat Agatha yang terbaring di belakang dengan menggunakan kaca mobil.


Sumpah. Demi apapun ingin rasanya orang itu mengutuki dirinya. Karena dia yakin, Agatha kecelakaan karena ulahnya yang membuntuti Agatha.


Namun, terkadang hal buruk akan selalu datang meskipun kita sama sekali tak menginginkannya. Jika saja bisa memutar-balikan waktu, dia ingin yang mengalami itu bukanlah Agatha, tetapi dirinya. Dia semakin merasa bersalah dan selalu menyalahkan dirinya.


“Aaaaaaa bodoh! Jika saja aku gak membuntutimu, kamu gak mungkin seperti ini, Tha.” Teriaknya sambil memukul setir. Untung saja Agatha tidak terbangun karena teriakannya.


Tanpa terasa mereka berdua kini memasuki pelataran rumah sakit. Dia segera mendekatkan mobil ke arah pintu masuk. Dipanggilnya perawat yang kebetulan melintasi mobil mereka.


“Mas, tolong bawa brankarnya ke sini! Teman saya kecelakaan.” Pintanya pada perawat itu.


“Oh, baiklah. Tunggu sebentar ya.” Jawab perawat itu kemudian bergegas mengambil brankar.


Tak perlu waktu lama, perawat itu datang dengan satu rekannya. Agatha diangkat dan dibaringkan di atas brankar itu. Wajah Agatha terlihat pucat, benjolan di keningnya kini membiru. Melihat itu, orang yang mengantarkan Agatha ke rumah sakit, semakin tak kuasa melihat Agatha seperti itu. Apalagi Agatha adalah orang yang sangat berarti baginya, walaupun dia harus memendam perasaannya sendiri. Setelah mendekati UGD, tiba-tiba dia ingin menerobos masuk jika perawat itu tidak melarangnya.


“Mohon tunggu di luar, Dek. Dan alangkah baiknya jika kamu melakukan registrasi terlebih dulu agar temanmu mendapatkan pertolongan lebih lanjut.” Tutur perawat itu dengan ramah.


“Astaga Tuhan. Saya hampir lupa.” Ucapnya dengan memukul keningnya sendiri. “Baiklah, Mas. Saya akan registrasi dulu, dan tolong lakukan yang terbaik ya, Mas.” Tambahnya lagi.

__ADS_1


“Akan kami lakukan yang terbaik, Dek. Namun semuanya kembali pada dukungan dan doa dari keluarga. Dan semoga tidak mengalami benturan yang lebih serius.” Ucap perawat ramah.


Agatha sudah masuk ke dalam ruangan UGD. Kemudian orang itu segera bergegas ke bagian registrasi. Di sana, dia tampak kebingungan karena tidak tau apa yang harus dia tulis, terutama di bagian hubungan dengan pasien.


“Aduh, gimana ini? Apa yang harus ku tulis?” gumamnya sambil menggaruk-garukan kepala.


Tak lama, Bi Momon pun tiba di rumah sakit. Dia bergegas ke bagian registrasi untuk mengetahui di ruangan mana Agatha ditangani.


“Permisi, Mbak. Apakah ada pasien yang bernama Agatha William?” tanya Bi Momon.


Pertanyaan Bi Momon sontak membuat mata perawat yang bertugas di bagian registrasi membulat seketika. Bagaimana tidak, orang tua Agatha adalah donatur terbesar rumah sakit itu, tempatnya bekerja.


“Nona Agatha sekarang di ruang UGD, Bu.” Jawab petugas itu ramah.


Seseorang yang masih kebingungan sedari tadi, kini merasa lega karena bagian dari keluarga William sudah tiba di rumah sakit. Dia menghampiri Bi Momon dan menyerahkan formulir itu untuk melengkapi bagian yang belum terisi. Dengan secepat kilat, forrmulir itu sudah kembali ke petugas.


“Terima kasih banyak Den atas bantuannya.” Ucap bi Momon ramah sambil membungkukan badannya.


Orang itu hanya menjawab dengan anggukan kepala serta senyuman. Raut khawatir juga masih terpampang jelas di wajahnya.


Setibanya di depan ruangan UGD, Bi Momon mondar-mandir sembari menghubungi tuan dan nyonya besar, namun belum ada jawaban apapun. Hingga pada panggilan terakhir, sambungan telepon pun terhubung.


“Ya hallo, Bi. Ada apa?” jawab nyonya Daria di seberang sana.


“Maaf nyonya. Non Agatha....” Ucap Bi Momon menggantungkan kalimatnya.


“Iya, ada apa dengan Agatha, Bi?” tanya nyonya Daria datar.


“Ngapain ke rumah sakit? Siapa yang sakit, Bi?” tanya nyonya Daria lagi.


Tanpa basa-basi lagi, Bi Momon langsung memberi tahu kabar yang sebenarnya.


“Non Agatha masuk rumah sakit karena kecelakaan, Nyonya.” Jawab Bi Momon.


“Bagaimana bisa, Bi? Toh dia menghubungi saya berkali-kali kok tadi.” Nyonya Daria masih tak yakin apakah itu benar atau tidak.


“Itu tadi kawannya, Nyonya. Karena tidak ada jawaban dari tuan dan nyonya, dia langsung menelpon ke rumah. Dan sekarang kawannya juga di sini. Kalau tidak ada dia, saya gak tau gimana non Agatha, Nyonya.” Jawab Bi Momon panjang lebar, seolah-olah air matanya akan tumpah sekarang juga.


Neot! Neot! Neot!


Bi Momon membuang napas kasar karena tiba-tiba telpon terputus. Tapi, dia merasa lega karena dia yakin, nyonya nya pasti menyusul ke rumah sakit, pikirnya.


Sudah cukup lama orang itu di rumah sakit dan masih memakai seragam sekolah, orang itu berpamitan pulang karena haripun sudah lumayan sore.


“Bi, saya permisi pulang ya, Bi.” Ucap orang itu dan sesekali melirik ke arah pintu ruangan. Dia menyerahkan kunci mobil Agatha pada Bi Momon.


“Iya, Den. Sekali lagi terima kasih banyak sudah membantu. Hati-hati di jalan.” Bi Momon tersenyum ramah mempersilakan orang itu berlalu pergi.


“Sama-sama, Bi. Itu sudah kewajiban jika ada yang lagi kesusahan.” Jawab orang itu, kemudian pergi meninggalkan bi Momon.


🕊️🕊️🕊️

__ADS_1


Dokter dan perawat keluar dari ruangan, sontak membuat bi Momon menghampiri mereka dan bertanya.


“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Bi Momon khawatir.


“Kondisinya baik-baik saja, sekarang udah siuman.” Jawab dokter ramah.


“Syukurlah, terima kasih Tuhan.” Ucap Bi Momon haru. “Oiya, Dok. Apa sudah boleh ditemui?” tambah Bi Momon kembali.


“Iya, sudah boleh kok. Nanti jika tuan dan nyonya tiba di sini, suruh ke ruangan saya ya, Bi.” Ucap dokter itu.


“Baik, Dok. Nanti saya sampaikan.” Tukas Bi Momon.


Bi Momon masuk ke ruangan. Dia melihat nona kecilnya tengah menatap langit-langit dengan tatapan nanar.


“Non.” Panggil Bi Momon membuka suara.


Agatha hanya menoleh, lalu kembali menatap langit-langit. Bi Momon mendekati brankar Agatha, kemudian meletakkan tentengannya di atas nakas.


“Syukurlah Non udah baikan, Bibi khawatir loh.” Ucap bi Momon sambil tersenyum pada Agatha.


“Aku di mana, Bi? Kenapa bisa berada di tempat ini? Daddy sama Mommy mana?” tanya Agatha tanpa mengalihkan pandangannya dari langit-langit ruang UGD.


“Non sekarang di rumah sakit. Nyonya sepertinya masih dalam perjalanan ke sini.” Jawab bi Momon meyakinkan Agatha.


“Lalu siapa yang membawaku ke sini, Bi?” tanyanya kembali.


“Aduh. Bibi lupa nanya namanya siapa Non. Yang jelas orangnya tampan dan baik, Non. Cocok deh sama Non, dan sepertinya dia satu sekolahan sama Non deh. Dia sama khawatirnya kayak Bibi, Non.” Jawab Bi Momon yang kini menggoda Agatha. Agatha tak habis pikir, di saat-saat seperti ini masih saja Bi Momon menggodanya.


“Oiya, apa Non mau makan? Bibi bawa makanan kesukaan Non loh.” Tawar bi Momon.


“Gak usah, Bi. Aku gak laper.” Agatha menolak, karena memang tak lapar.


Di sela-sela perbincangan, Bi Momon dan Agatha dikagetkan karena pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Di sana terlihat Nyonya Daria datang dengan wajah yang sulit ditebak. Nyonya Daria mendekati di mana anaknya berbaring.


“Kenapa bisa kayak gini, Tha? Kamu mau menyusahkan Mommy mu ini?” ucap Nyonya Daria yang membuat Bi Momon geleng-geleng tak mengerti. Bukannya mendekap, merangkul, ataupun memeluk Agatha, justru malah menyalahkan anaknya.


“Momm, aku minta maaf jika telah menyusahkan kalian. Jika boleh memilih, aku juga gak mau kejadian seperti ini. Maaf telah membuat....” Ucap Agatha menggantung karena air matanya sudah lolos tanpa aba-aba.


Melihat Agatha yang sudah berlinang air mata, Bi Momon memotong pembicaraan antara anak dan ibu itu.


“Maaf, Nyonya. Tadi dokter bilang bahwa Nyonya harus menemuinya.” Potong Bi Momon.


“Yasudah, Bi. Saya ke sana dulu. Bibi tolong jaga di sini.” Ucap Nyonya Daria, kemudian berlalu pergi menemui dokter.


Sepeninggalan mommy nya, Agatha kini bertanya pada Bi Momon.


“Bi, apa benar aku selalu menyusahkan mereka? Jika memang seperti itu, kenapa aku ada di dunia ini, Bi?” tanya Agatha, air matanya kembali mengalir.


“Yang sabar ya, Non. Mungkin beliau terlalu khawatir hingga berbicara seperti itu, Non.” Jawab bi Momon berusaha menenangkan Agatha.


To be continued.....

__ADS_1


__ADS_2