Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Kembali Menangis.


__ADS_3

(Ciptakan dan nikmati setiap momen yang kalian jalani sekarang. Karena, momen yang telah hilang dan berlalu, rasanya takkan lagi sama).


-By Author-


🕊️🕊️🕊️


“Pukul aja, gak pa-pa. Asal jangan kuat-kuat, ntar aku keok loh.” Ucap Welson berusaha menenangkan Agatha, tangannya mengusap rambut Agatha dengan pola yang tak karuan.


“Biarin! Sekalian aja aku manggil Mang Judas.” Ucap Agatha yang masih dengan sesenggukan di pelukan Welson.


“Mau ngapain manggil driver mu, Yank?” tanya Welson, namun tangannya masih saja mengacak-acak rambut Agatha.


“Jangan diacak-acakin dong ah.” Agatha menepis tangan Welson, lalu mengelap hidungnya dengan lengan baju Welson. Welson tersentak kaget melihat Agatha mengelap ingus dengan lengan bajunya.


“Ya buat gebukin kamulah, karena kamu nakal. Tuh kan rambutnya kayak singa kepanasan.” Tambah Agatha dan mendengus karena rambutnya kusut.


“Kasian dong, Yank. Masa' digebukin sih? Ini lagi kenapa coba, lap ingusnya pake baju aku?” ucap Welson dan menatap jijik pada lengan bajunya.


“Aku gak peduli!” Agatha masih saja mengelap ingusnya pada Welson.


“Yank.” Sapa Agatha mendongak menatap Welson.


“Hmm.” Hanya deheman yang Welson lontarkan.


“Boleh aku minta sesuatu?” tanya Agatha ragu-ragu.


“Apa? Kamu mau apa, Yank?” ujar Welson lembut dan tersenyum pada Agatha.


Karena lelah sedari tadi berpelukan, Agatha melonggarkan tubuhnya dari Welson, lalu berbaring di kursi itu dengan kepalanya menyanggah pada paha Welson.


“Tapi kamu bisa janji gak? Bisa dipercaya gak?” tanya Agatha menatap wajah Welson, melihat dan mencari keseriusan di sana.


“Apa dulu?” Welson memegang wajah Agatha dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menggenggam jemari Agatha.


“Aku mohon, jangan tinggalin aku sendiri. Selain pada yang Kuasa, hanya padamu aku bisa mencurahkan seluruh isi hatiku, baik tentang daddy dan mommy, maupun tentang kita. Ku mohon.” Ucapnya seraya melepaskan tangannya dari tangan Welson, lalu mengatupkan tangannya seraya memohon.


Welson kembali mengusap kepala Agatha dengan gemasnya. Memberikan ketenangan pada Agatha supaya tidak seperti anak kecil yang sedang meminta uang jajan. Terbersit dipikirannya tentang Nadine. Dia sama sekali belum menghubungi Nadine, sang pacar kedua setelah Agatha.


“Nadine lagi apa ya?” batinnya seraya mengusap kepala Agatha. Tatapannya lurus ke depan tanpa memandangi wajah Agatha yang sedang memohon padanya.


Kesal karena ucapannya tak digubris oleh Welson, hingga akhirnya Agatha mencubit perut Welson dengan kuat, alhasil Welson memekik kesakitan.


“Adoowww!!! Kenapa suka sekali nyubit sih?” pekik Welson sambil memegang bagian perutnya yang dicubit Agatha.

__ADS_1


“Kamu mikirin apa sih? Orang ngomong gak ada tanggapan. Apa kamu sudah lupa caranya mendengar dengan baik?” ketus Agatha kesal pada Welson.


“Iya, aku dengar kok. Lagian mana bisa aku berpaling dari kamu. Only you in my heart, honey.” Ucap Welson membual, dan tangannya menoel hidung Agatha.


“Gombal.” Hanya kata itu yang Agatha ucapkan pada Welson, namun sebenarnya dia senang ketika Welson berucap seperti itu.


Tidak terasa waktu berputar begitu cepat. Agatha lantas mengangkat kepalanya dari pangkuan Welson dan kembali pada posisi duduk. Sekali lagi dia menatap wajah Welson dengan begitu meneduhkan, melihat sudut bibir Welson yang semula dia obati.


“Itu bibir udah gak pa-pa kan?” tanya Agatha memastikan.


“Udah. Jangan terlalu khawatir.” Ujar Welson tersenyum.


Welson melihat jam yang melingkar di tangannya, ternyata sudah menunjukkan pukul 16.45. Ia segera bergegas bangkit dan merapikan pakaiannya yang terlihat berantakan.


“Udah sore nih. Aku balik, ya.” Ujarnya pada Agatha.


“Oiya, salam sama om dan tante juga. Jangan lupa makan malam ya.” Tambahnya.


“Hu um. Tenang aja.” Agatha tersenyum simpul pada Welson.


Setelah berpamitan pada Agatha, Welson kemudian segera bergegas keluar dari halaman rumah Agatha dengan menggunakan motornya. Tak selang berapa lama, ketika dirasa bayangan Welson sudah tak lagi nampak, Agatha masuk ke dalam rumahnya. Hari ini terasa sangat lelah sekali baginya.


🕊️🕊️🕊️


Hari ini, entah apa gerangan orang tuanya pulang tak seperti biasanya. Biasanya mereka pulang jika malam telah bersambut. Agatha yang baru saja melangkah ke dalam ruang keluarga, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari arah belakangnya. Dia menoleh ke belakang, di sana dia melihat daddy nya masuk lalu di susul oleh sang mommy. Seketika senyum Agatha merekah melihat kedua orang tuanya telah tiba di rumah.


“Sore, daddy, mommy. Udah pulang?” sapa Agatha ketika sampai di depan orang tuanya, mengulurkan tangannya ingin bersalaman pada mereka.


“Sore juga, sayang.” Jawab keduanya serentak. Mereka berdua mengulurkan tangan satu-satu supaya Agatha bisa bergantian menyalami mereka.


“Daddy ke kamar dulu ya, sayang. Daddy lelah sekali hari ini.” Ujar sang daddy ketika Agatha sudah bersalaman.


“Mommy juga masuk dulu, ya.” Tukas sang mommy.


“Hu um, baiklah. Selamat beristirahat momm, dadd.” Ucap Agatha lesu, senyum di wajahnya kini sirna bak disiram air.


Tanpa menjawab perkataan Agatha yang terakhir, mereka berlalu begitu saja melewati Agatha yang sudah kembali dengan wajah yang murung.


“Padahal aku ingin memeluk kalian, momm, dadd. Aku kangen kalian. Apa kalian sudah gak ingat aku lagi?” Agatha bergumam dengan air mata yang kini telah membasahi area wajahnya. Dia terduduk lemas di depan pintu. Berharap orang tuanya akan memeluknya seperti yang dia harapkan, namun semuanya bagaikan haluan semata yang tak bertepi. Haluan yang tak pernah ada ujung dan pangkalnya. Semuanya tak lagi menjadi sama seperti dahulu.


“Jika sang waktu bisa berputar kembali ke masa yang telah lalu, aku ingin tak pernah hadir di dunia ini jika hanya menjadi bayangan semua bagi mereka. Percuma aku ada jika hanya menjadi penghias dan pengisi kesedihan, kesunyian.” Ucapnya sambil sesenggukan dengan memeluk kedua lututnya.


Baru saja ia menangis karena Welson, sekarang menangis lagi karena orang tuanya. Sudah tak terhitung lagi air matanya yang tertumpah karena orang tuanya, menangisi nasibnya yang tak pernah tau kapan berakhir bahagia, kapan semuanya berjalan sesuai harapan. Hari demi hari dia menapaki kisahnya dengan ceria, tetapi siapa sangka bahwa di balik keceriaannya, sebenarnya dia sangat menderita. Semuanya dia jalani dengan hati yang ikhlas serta dengan kesabarannya. Namun, setiap manusia pasti memiliki ambang batas kesabaran, begitu juga dengan Agatha. Dia berusaha tersenyum walau sebenarnya sakit, berusaha semuanya seolah tak terjadi apa-apa walau sebenarnya berbanding terbalik.

__ADS_1


Tenggorokannya terasa kering karena menangis. Rasa itu membawa dia berjalan ke dapur ingin mengambil minum. Setibanya di dapur, dia membuka lemari pendingin dan mengambil botol yang berisi air di sana. Kebetulan, Bi Momon tengah berkutat menyiapkan hidangan makan malam untuk majikannya. Tanpa sengaja, Bi Momon melihat wajah Agatha yang masih sembab dan basah karena menangis, sehingga membuat jiwa keingintahuannya menjadi-jadi.


“Non. Non kenapa?” tanya Bi Momon hati-hati.


“Gak kenapa-kenapa, Bi.” Agatha bersikap seolah tak apa-apa. Namun, mau bersembunyi seperti apa pun, takkan pernah bisa menyembunyikannya bahwa sebenarnya dia sedang tak baik-baik saja.


“Yakin gak kenapa-kenapa, Non? Lalu kenapa menangis? Apakah pacarnya minta putus?” tanya Bi Momon panjang lebar.


“Sembarangan. Ini karena Bibi, tau gak? Ini karena masakan Bibi terlalu banyak cabenya, makanya mataku berair.” Agatha menyangkal.


“Loh, perasaan Bibi enggak buat sambal cumi pedas manis loh, Non. Dari mana bisa seperti itu? Apa jangan-jangan ada kembaran tak kasat mata ya, yang ikut Bibi masak?” Bi Momon bergidik membayangkan yang dia ucap sekarang.


“Udah tau nangis masih aja nanya.” Ketus Agatha, kemudian meletakkan botol itu ke atas meja.


“Iya, Bibi tau. Tapi nangis karena apa? Atau Non lagi kehilangan tali sepatu?” tanya Bi Momon asal.


“Menyebalkan! Mana mungkin kehilangan tali sepatu.” Agatha mendengus kesal.


“Seperti biasa, karena siapa lagi jika bukan karena mereka.” Tambahnya dengan wajah mengarah ke arah kamar orang tuanya.


“Mereka? Mereka siapa, Non? Non bisa ngeliat makhluk halus ya?” Bi Momon semakin tak mengerti dengan arah bicara Agatha.


“Mau ku cebur ke empang, Bi? Ngomong asal-asalan gak ada benarnya.”


“Emang Bibi pikir aku ini dukun?” tanya Agatha.


“Di rumah ini kan enggak ada empangnya, Non? Kok lupa sama rumah sendiri sih?” Bi Momon menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


“Bibiiiiiiiii.” Agatha berteriak karena saking kesalnya sama Bi Momon.


“Heran dah. Kenapa suka sekali berteriak, Non? Kalau mau lomba berteriak belum waktunya Non, jadi ditunda dulu ya Non.” Ucap Bi Momon seraya menutup kupingnya.


“Sekali lagi Bibi ngomong, akan ku kasih Bibi kecoa. Berani?” ancam Agatha.


“Eh, ampun! Jangan, Non!” Bi Momon mengatupkan tangannya tanda memohon.


“Makanya kalau orang lagi kesal jangan cari gara-gara.”


“Oh mau agar-agar. Sebentar ya, Non, Bibi buatkan khusus untuk Non.” Ucap Bi Momon seraya melangkah ke lemari makanan mencari agar-agar di sana.


“Ya Tuhan. Makin lama makin gak nyambung. Bibi tolong jangan aneh-aneh!” Agatha berteriak.


“Loh, bagaimana? Katanya tadi mau agar-agar, Non? Yasudah, enggak jadi bikin agar-agarnya.” Bi Momon menutup lemari.

__ADS_1


Dengan wajah yang kesal, Agatha meninggalkan Bi Momon kambali ke atas menuju kamarnya. Dia berpikir, jika semakin lama berinteraksi dengan asistennya maka ia juga akan ikut-ikutan tidak jelas.


🕊️🕊️🕊️


__ADS_2