Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Ganteng Kamuflase.


__ADS_3

Bel rumah berbunyi. Rupanya yang sedang membunyikan bel rumah adalah Dirgo. Setelah mengobrol dengan Mang Judas, Dirgo langsung meminta izin untuk bertemu dengan Agatha lalu memencet bel. Dari Mang Judas, Dirgo telah mengetahui yang terjadi pada Agatha dengan orang tuanya karena tidak lulus tes, tetapi ia belum mengetahui bahwa hubungan Agatha dan Welson sudah berakhir.


“Saya masuk dulu, Mang,” pamitnya pada Mang Judas. Mang Judas memberikan jempolnya dengan membentuk tanda oke.


Ketika pintu utama dibuka, muncullah Bi Momon di baliknya. “Eh, Nak Dirgo rupanya. Mari masuk, Nak,” Bi Momon mempersilakan tamunya masuk dengan senyuman ramah.


“Terima kasih, Bi.”


“Silakan duduk di sini dulu, Nak. Bibi ambilkan minum sebentar, ya.”


“Makasih, Bi. Tapi Bibi nggak perlu repot-repot kok,” ujar Dirgo tersenyum.


“Haha, Nak Dirgo ini gimana? Masa Bibi mau ambil raport, sih? Udah, tunggu di sini aja dulu!” Bi Momon berlalu pergi dan melesat ke dapur.


“Hmm, kocak sekali Bi Momon. Haha!”


Sesekali Dirgo memainkan ponselnya menunggu kedatangan Bi Momon dari dapur. Di saat dirinya sedang memandang tembok yang terpampang foto Agatha beserta orang tuanya, ia tampak tersenyum perih mengingat semua perlakuan orang tua Agatha.


“Mari, silakan di minum, Nak!” tawar Bi Momon dan menyadarkan Dirgo dari lamunannya.


“Eh, iya, Bi. Makasih banyak.”


“Mmm, boleh Bibi bertanya, Nak?” tanya Bi Momon hati-hati seraya mendudukkan dirinya di atas sofa.


“Boleh. Bibi mau bertanya tentang apa? Jika tentang kuman, itu Memey spesialisnya.” Dirgo mengulumkan senyumnya menahan ketawa.


“Ada-ada saja Nak Dirgo. Tapi memang benar, Nak. Non Memey kocak memang orangnya.”


“Bibi juga kocak. Cocok mah Bibi sama Memey kupret. Hahaha.”


“Buahahaha. Cantik-cantik dibilang kupret.”


“Kenyataannya, Bi. Haha!” Dirgo lalu menyesap minumannya karena tenggorokannya terasa kering karena ulah Bi Momon. Bi Momon memperhatikan Dirgo dalam-dalam sambil membayangkan Agatha memiliki hubungan dengan Dirgo.


“Oh iya, Nak Dirgo. Dulu yang mengantarkan Non Agatha ke rumah sakit, itu Nak Dirgo, kan?” tanya Bi Momon.


“Uhuk…uhukkk!” Dirgo tersedak mendengar pertanyaan Bi Momon. Mengapa pula Bi Momon masih mengingat itu, padahal dirinya sudah mengharapkan bahwa Bi Momon sudah lupa, ternyata salah.


“Loh, kenapa Nak Dirgo? Minumannya nggak enak, ya? Atau kemanisan?” Bi Momon lalu menyodorkan tissue pada tamunya itu.


“Nggak, Bi. Pas kok rasanya. Cuma ya Dirgo agak kaget aja tadi.”


“Kaget kenapa? Kan Bibi cuma bertanya, bukan ngagetin, Nak.”


“Iya, Bi. Tapi pertanyaan Bibi yang bikin Dirgo kaget. Hehe.” Dirgo menyengir pada Bi Momon berharap dirinya tidak ditanya tentang itu lagi.

__ADS_1


“Wajar kalau Nak Dirgo kaget. Karena pertanyaan itu adalah pertanyaan yang dari dulu ingin Bibi tanyakan pada Nak Dirgo. Itu beneran Nak Dirgo, kan?” tanya Bi Momon kembali.


“Mmm iya, Bi. Bibi bener, itu memang Dirgo. Tapi Bibi jangan bilang-bilang sama Agatha, ya!”


“Nah kan bener. Tenang, masalah itu aman sama Bibi.” Bi Momon tertawa kecil. “Oh iya, Nak Dirgo kemari mau ketemu sama Non Agatha, ya?”


“Iya, Bi. Agatha ada, kan?” tanya Dirgo sembari melihat sekeliling.


“Ada di kamarnya. Mungkin lagi molor orangnya.”


“Wahh kayak kebo dong, Bi. Haha.”


Agatha yang merasakan perutnya minta segera diisi, segera bangun dari tidurnya. Suasana hati dan pikirannya, membuatnya malas untuk makan. Tetapi jika ditahan, bisa mati kelaparan, batinnya. Ia segera keluar kamar dan menuruni anak tangga sambil menguap. Rambutnya masih berantakan karena tidak sempat menyisir rambut.


“Nak Dirgo, itu…coba Nak Dirgo lihat!” Bi Momon memonyongkan mulutnya memberi tanda pada Dirgo supaya mengikuti petunjuknya.


“Astaga…kayak singa betina, ya, Bi.”


Bi Momon langsung tertawa mendengar ucapan Dirgo. Agatha yang sedang asyik menguap sampai dibikin kaget. Agatha semakin kaget ketika melihat Dirgo sudah berada di rumahnya, padahal ia belum memberikan janji, tetapi orangnya sudah muncul duluan di rumah.


“Eh lo rupanya. Dari kapan lo di sini?” tanya Agatha pada Dirgo setelah duduk di sofa samping Dirgo.


“Baru aja kok. Iya kan, Bi?” Dirgo meminta persetujuan Bi Momon dengan mengedip-ngedipkan kedua matanya.


“Dihh, boong banget. Tuh liat, gelas udah hampir kosong gitu. Berarti lo udah lama di sini. Ck..ck! Huaahaammm…” Agatha kembali menguap.


“Dih, ganteng dari mana coba? Cuma ganteng kamuflase aja gitu doang. Mirip kang sirkus mah iya,” Agatha menutup mulutnya. Tiba-tiba saja seluruh wajahnya terasa panas. Entah, tiap kali berhadapan dengan Dirgo, rasanya jadi berubah. Entah apa yang dirasakannya.


“Jangan salah, Non. Ntar suka loh. Yaudah, Bibi ke belakang dulu. Kalian lanjutkan saja ngobrolnya,” pamit Bi Momon. “Nak Dirgo, ehemmmm.” Bi Momon mengulumkan senyumnya, kedua tangannya ia tautkan seperti memberi tanda orang sedang berciuman. Dirgo hanya tersenyum melihat yang dilakukan Bi Momon. Bi Momon tau jika Dirgo sebenarnya menyimpan rasa pada majikan kecilnya itu.


“By the way, tumben lo ke sini?”


“Bosan di rumah mulu. Trus bosan juga ngelu…” ucapan Dirgo tertahan. Hampir saja ia keceplosan bahwa dirinya bisa melukis. Jika keceplosan, bisa-bisa Agatha tau bahwa hadiah darinya waktu itu dan orang yang dilihat Agatha di taman adalah dirinya, bukan kenalan ataupun sepupunya.


“Ngelu? Ngelu apaan?” tanya Agatha bingung.


“Mmm itu, maksudnya ngelap kaca jendela kamarku,” jawab Dirgo asal. Sebenarnya ia memang jarang dan hampir tidak pernah menyentuh pekerjaan itu.


“Kayak yang rajin aja lo,” ejek Agatha.


“Jalan, yuk. Cari makan!” tawar Dirgo.


“Nggak ah! Gue masih berantakan kayak gini juga.”


“Yaudah mandi dulu. Aku tungguin.”

__ADS_1


“Nak Dirgo, Non Agatha. Ayo makan dulu!” potong Bi Momon ketika sampai di ruang tamu.


“Iya, Bi. Tapi Dirgo mau ajakin Agathanya makan di luar, hehe.”


Wajah Bi Momon sengaja dibuat bersedih untuk memancing keduanya supaya makan di rumah. “Yah, sayang dong masakan Bibi. Padahal Bibi masakin makanan kesukaan Non Agatha. Spesial untuk kalian berdua,” ujar Bi Momon tak bersemangat.


“Tuh, kasian Bi Momon udah cape-cape masak. Kita makan di rumah aja, ya. Lagipula, gue males mau keluar. Ayo!” Agatha bangkit berdiri lalu menarik tangan Dirgo. Bi Momon berbinar karena Agatha berhasil membawa Dirgo untuk makan. Dibuntutinya Agatha dan Dirgo dari belakang hingga sampai ke ruang makan.


“Bi Momon kurang kerjaan. Ngebuntutin orang kayak anak bebek sama induknya,” celetuk Agatha ketika sudah berada di meja makan. Dirgo hanya bisa terbahak mendengar ucapan Agatha.


Menu makanan yang sudah Bi Momon hidangkan, benar-benar menggugah selera Agatha. Dirgo juga sama, ia sampai menelan ludahnya di saat melihat sajian di atas meja. Aroma hidangannya membuat Dirgo mengelus batang lehernya.


“Silakan, Tuan Muda dan Nona Muda!” ucap Bi Momon kembali menggoda keduanya.


“Makasih, Bi,” jawab keduanya secara bersamaan.


“Ciee kompak nih. Cihuy…” Bi Momon kegirangan.


“Dih, Bibi ini kenapa? Jangan malu-maluin, Bi,” tukas Agatha dengan wajahnya yang sudah terasa hangat karena malu digoda-goda.


“Bibi nggak makan juga?” sela Dirgo.


“Nggak, Bibi nanti aja. Jangan khawatir!” jawab Bi Momon.


“Bi, panggilkan Mang Judas! Kita makan bareng aja!”


Bi Momon menolak permintaan Agatha. Tetapi dengan sekali keratan gigi saja, Bi Momon langsung ngacir memanggil Mang Judas. Ya hitung-hitung supaya kekesalan hatinya pada kedua orang tuanya bisa sedikit mereda, maka dari itu Agatha meminta Bi Momon dan Mang Judas untuk makan bersamanya dengan Dirgo. Selesai menyantap makanannya, Agatha berpamitan untuk membersihkan diri meninggalkan ketiga orang yang sedang sibuk bertutur cerita satu sama lain.


🕊️🕊️🕊️


“Wah, tempatnya bagus, ya? Selama ini gue ke mana aja sih, kok sampai nganggurin tempat seindah gini?” ucap Agatha kagum.


“Iya, tempatnya bagus. Makanya aku ngajak kamu ngapelin tempat ini,” timpal Dirgo tertawa kecil karena ucapannya sendiri


“Dihh, mangga pepaya, pisang jeruk sekalian. Oh ya, makasih udah ajak gue ke sini.”


Dirgo hanya terkekeh. Ucapan Agatha benar-benar mengocok perutnya. Orang yang berada di sampingnya memang kelihatan tegar walau sebenarnya hati dan jiwanya rapuh. Ingin rasanya merangkul Agatha, membawanya ke dalam pelukan, tetapi nyalinya masih tersimpul rapi dan masih belum berani. Jika saja ia memeluk Agatha, takut-takut Agatha akan mengamuk padanya karena memang suasana hattinya sedang tidak stabil.


“Gue udah putus sama Welson,” ucap Agatha secara tiba-tiba di tengah keduanya tengah menikmati bukit berbunga dengan hembusan angin sepoi-sepoi itu. Sontak membuat Dirgo menoleh ke sampingnya.


“APA? Coba ulangi sekali lagi!” Dirgo hampir tak mempercayai ucapan Agatha. Ia bisa mengambil kesimpulan, tidak mungkin Agatha hanya bercanda. Ada senyum yang muncul di wajah Dirgo mendengar kata-kata itu.


“Semoga yang kamu ucapkan itu benar adanya. Jadi, aku bisa lebih dekat denganmu.”


🕊️🕊️🕊️

__ADS_1


To be continued…


__ADS_2