
Setiba di kamar kesayangannya, Agatha langsung menghempaskan diri ke kasur empuk miliknya. Seragam sekolahnya juga belum diganti sama sekali. Rasanya roh-roh kemalasannya semakin memuncak dan semakin menari-nari di kepalanya. Apalagi jika tiba di rumah hanya disambut oleh sang asisten. Jika ditanya rindu, itu jangan ditanya lagi. Dia sungguh sangat-sangat rindu belaian dan dekapan orang tuanya. Dia rindu disambut oleh mommy nya, dia rindu kepalanya diusap-usap, dia rindu hangatnya pelukan sang pemilik surga. Belum lagi mengingat Welson yang sedari kejadian di sekolah, tak kunjung membalas pesan ataupun memberi kabar sedikitpun padanya.
Pikirannya bercabang dan dipenuhi dengan berbagai macam prasangka, entah itu prasangka buruk atau malah sebaliknya. Agatha semakin tak bisa berkonsentrasi dengan pikirannya. Mau ini dan itu juga terasa sangat membosankan baginya. Jika sudah menyendiri, seolah jiwa cerianya juga ikut sepi dan sunyi. Jadi, yang dia lakukan hanyalah berbaring di atas ranjang sembari memegangi ponsel canggihnya. Sekilas terlintas di hidungnya wangi parfum yang melekat di rambut dan seragam miliknya.
“Hmm, sangat menenangkan sekali aromanya!” ucapnya seraya menghirup aroma parfum Dirgo.
“Kenapa aku tiba-tiba ingat Dirgo, ya?” tanyanya pada diri sendiri.
“Gila! Ini sungguh gila! Mana mungkin bisa aku berpaling dari jelek kesayanganku.” Ucapnya lagi berusaha membuyarkan pikirannya tentang Dirgo.
Agatha mencoba menghubungi Welson kembali, dia mengotak-atik ponselnya berharap panggilan segera terhubung. Namun hasilnya juga sama, tetap tidak bisa dihubungi. Seharusnya, Welson menghubunginya. Entah hanya sekedar bertanya ‘kamu lagi apa?’ atau ‘kamu udah makan apa belum? kalau belum kita makan di luar yuk, makan bareng.’ Itu yang Agatha tunggu dari Welson. Sudah berkali-kali mencoba mengirimi Welson chat, tetapi tidak ada respons. Jangankan dibalas, dibaca saja belum.
Ketika hendak memejamkan matanya, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Non, Non Agatha.” Bi Momon mengetuk pintu kamar Agatha sekeras mungkin hingga jemarinya terasa perih. Tak sia-sia, ketukan keras itu mengalihkan niat Agatha yang mau memejamkan matanya. Agatha bangun dan berjalan ke depan pintu lalu membukanya. Di depan pintu sudah terpampang wajah Bi Momon dengan tangan kiri meremas tangan kanannya.
“Ada apa, Bi? Belum puas ya ketawanya?” tanya Agatha ketika membuka pintu.
“Anu, Non. Auuuuu!” ucap Bi Momon meringis ketika jemarinya tak sengaja diremas oleh tangannya sendiri.
“Idihh. Ditanya malah meringis. Emang tangan Bibi kenapa? Habis tinju sama Mang Judas ya?” tanya Agatha.
“Amit-amit, Non. Ini semua gara-gara pintu nakal itu.” Ucap bi Momon, namun tangannya kembali mengetuk pintu itu dan spontan Bi Momon meringis lagi.
“Aduh. Kenapa pintunya suka sekali menyakiti tangan Bibi, Non?” tambah Bi Momon.
“Bibi sehat? Yang salah siapa dong, Bi? Mana mungkin pintu bisa nyakitin Bibi, yang ada tangan Bibi sendiri itu yang salah. Hahaha.” Agatha tertawa karena ulah Bi Momon.
“Lagian siapa yang nyuruh Bibi gedar-gedor pakai kekuatan hero?” tambahnya lagi.
“Kan biasanya Non kagak dengar jika kagak pake kekuatan hero.” Saut Bi Momon.
“Emang ada apa, Bi? Kok gedar-gedor pintu aku?” tanya Agatha.
“Itu di depan ada temannya, Non.”
“Teman? Siapa, Bi?” tanya Agatha mengernyitkan dahinya.
“Itu loh, Non. Den Klakson yang waktu itu jemput Non.” Ucap Bi Momon berusaha mengingat nama Welson, namun yang dia ingat hanya ‘Son.’
“Klakson? Seingat aku, aku gak punya teman yang namanya Klakson, Bi.” Tukas Agatha.
__ADS_1
“Masa' Non gak tau sih?”
“Lah gimana mau tau, Bi? Kan emang gak ada temanku yang bernama Klakson. Kalo klakson itu di mobil, Bi, bukan nama orang. Bagaimana bisa klakson mencariku?” ujar Agatha menjelaskan.
“Huh! Dasar payah!” tambahnya.
“Aduh! Itu loh Non yang ganteng itu. Kalau gak salah itu pacarnya Non deh.” Ucap Bi Momon.
“Si Welson, Bi?” tanya Agatha memastikan.
“Nah! Itu dia maksud Bibi, Non.” Bi Momon mengacungkan jempolnya.
“Udah salah malah ngacungkan jempol. Bibi payah!” dengus Agatha.
“Bibi kan lupa, Non. Kalo lupa ya pasti karena gak ingat loh, Non.” Ujar Bi Momon yang membuat mata Agatha melotot.
“Lama kelamaan aku bisa gila dan terjangkit virus Bi Momon ujung-ujungnya.” Gerutu Agatha dalam hati.
Mendengar Welson yang ke rumah, Agatha mengganti seragamnya dengan kaos oblong yang sedikit longgar dan dengan celana selutut. Tanpa menghiraukan Bi Momon yang masih berdiri di depan kamarnya, Agatha bergegas turun ke bawah menemui Welson. Setibanya di bawah, Agatha menemukan Welson duduk di kursi depan yang menghadap ke gazebo. Welson mengenakan jaket berwarna abu tua dengan celana jeans hitam.
“Hai.” Sapa Welson. Satu kata yang lolos dari mulut Welson terdengar biasa dan seperti tak terjadi apa-apa.
Agatha melangkah menuju kursi di dekat Welson, namun kejadian tak terduga malah membuatnya limbung. Kakinya tanpa sengaja menyandung kaki kursi di sebelah Welson.
“Eh, maaf.” Ucap Agatha berusaha menarik diri dari dekapan Welson, tapi rasanya tangan Welson malah terasa mengunci pinggang Agatha.
Cup!! Welson langsung menyosor mencium Agatha tanpa aba-aba terlebih dahulu. Ciuman itu hanya sebentar karena Agatha tiba-tiba mencubit dada Welson. Agatha takut kepergok oleh asisten maupun drivernya. Agatha mengelap bibirnya yang basah dan lengket akibat Welson.
“Kenapa di lap? Gak suka ciuman dariku?” tanya Welson tersenyum menyeringai.
“Kenapa kamu suka sekali menciumku?”
“Bibirmu manis. Aku bisa gila jika tak menciummu.” Ucap Welson.
“Dasar mesum! Awas saja jika nyosor-nyosor lagi!” ancam Agatha.
“Tapi kamu juga menikmatinya, bukan?” tanya Welson.
“Ya bukan berarti kamu bisa nyosor-nyosor duluan.” Tukas Agatha, tangannya menarik kursi lalu duduk di sebelah Welson.
Welson melepaskan jaketnya dan meletakkan di sandaran kursi yang ia duduki.
__ADS_1
“Kenapa nomornya gak aktif? Aku chat dan ku telepon dari tadi gak ada balasan apapun,” tanya Agatha risau.
“Ponselnya mati, Sayang. Baterainya habis, lupa isi daya.” Jelas Welson.
“Aku khawatir tau gak? Mana pulang tadi gak ngasih tau dulu.” Ucap Agatha kesal dan memonyongkan mulutnya.
“Mulutnya kenapa tuh? Mau ku cium lagi?” Welson menggoda Agatha yang cemberut.
“Dasar buaya cap kadal!” dengus Agatha.
“Hahaha. Oiya, Om sama Tante di mana?” tanya Welson.
“Kenapa nyari mereka? Apa kamu lupa bahwa mereka jarang ada di rumah?” Agatha balik bertanya pada Welson.
“Mereka belum pulang. Kamu gak apa-apa?” lanjut Agatha.
“Ya cuma mau nanya aja sih.” Pungkas Welson.
“Kepalaku rasanya berat gitu, sih.” Sambungnya seraya memegangi kepalanya dan meringis bak orang kesakitan.
“Kenapa? Kepalanya dipukul Om?” Ucap Agatha menduga-duga.
“Gak lah, mana mungkin papa berani mukul aku. Berat karena memikirkan kamu terus, Yank.” Ucap Welson.
“Dih, kumat lagi gombalnya. Serius kamu gak apa-apa, Yank?” tanya Agatha lagi.
“Aku gak apa-apa, Sayang.” Jawab Welson tersenyum.
Mendengar jawaban Welson, ada perasaan hangat yang mengaliri dada Agatha.
“Senang deh, kamu perhatian sekali, sayang.” Ucap Welson.
“Kamu gak mau aku perhatian sama kamu, gitu maksudnya?” ketus Agatha.
“Eaa ngambek, hihi. Bukan gitu kok maksudnya, Yank.” Ujar Welson tersenyum.
“Lalu?” tanya Agatha.
“Ya senang dong. Serasa diperhatiin pacar sungguhan deh yang ada.” Ucap Welson.
“Kamu gak menganggap aku pacarmu, gitu? Lalu apa hubungan kita jika kamu gak mengakui hubungan itu?” Agatha semakin cemberut mendengar ucapan Welson.
__ADS_1
🕊️🕊️🕊️