Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Sedikit Kumat.


__ADS_3

Selang beberapa menit kemudian, lantas sang pelayan sudah tiba di meja mereka dengan salah satu rekan kerjanya untuk membawa pesanan Agatha dan kawan-kawan. Dia membawa rekannya dengan tujuan untuk membantunya, karena jika hanya dia sendiri otomatis akan bolak-balik mengantarkan pesanan pengunjung.


“Selamat menikmati, Mbak, Mas.” Ucap sang pelayan bergantian meletakkan makanan sesuai pesanan. Pelayan yang satu curi-curi pandang pada Yadi, hingga ketika meletakkan minuman, tanpa sengaja ia menyenggol lengan Yadi, dan untung saja minuman itu tidak tumpah.


“Aduh, maaf, Mas. Saya sedikit kumat.” Sang pelayan yang satu berucap. Lantas membuat Yadi bergidik ngeri membayangkan yang diucapkan sang pelayan.


“Huss..huss, sana! Jangan dekat-dekat!” Yadi mengusir sang pelayan yang membawa minuman mereka, layaknya mengusir kucing yang ingin mencuri ikan di meja makan. Hal itu membuat teman-temannya menatap aneh pada Yadi.


“Eh, bukan itu maksud saya, Mas tampan. Saya kumat jika melihat yang bening-bening kayak Mas. Uuuhhh, pengen cubit deh,” potong sang pelayan itu segera karena takut mereka mengira bahwa dirinya gila atau sakit, dengan tingkahnya yang dibuat-buat sembari menggoda Yadi. Yadi semakin geli melihat hal itu yang tampak jelas di matanya. Baru kali ini dia melihat seorang cewek yang kecentilan seperti itu. Melihat ekspresi Yadi yang tak jelas bentuknya, ketiga temannya itu tak kuasa menahan tawanya, apalagi si Memey.


“Buahahaha. Bening bukannya air ya, atau malah sayur bening?” Memey tertawa, “dan ternyata lo langsung dapat gebetan di sini, Yad,” sambungnya kemudian.


“Ngaco lo, buntut ayam!” Yadi mendengus tak terima karena Memey mengejeknya.


“Aduh, aduh. Setop!” hardik sang pelayan yang membawa makanan, “maafkan teman saya Mbak dan Mas, silakan menikmati makanan yang telah tersedia di depan kalian,” perintahnya.


“Ini gara-gara lo!” bisik pelayan A (yang membawa makanan) pada pelayan B (yang membawa minuman) dengan merapatkan gigi atas dan gigi bawahnya, sehingga menimbulkan suara keretan di sana.


“Maaf, Mbak. Saya suka lupa karena kebanyakan melihat wajahnya yang tampan itu.” Jawab pelayan B yang juga berbisik sembari mengarahkan pandangannya pada Yadi.


“Mata keranjang!” pelayan A mengomel seraya kembali berbisik pada rekannya.


“Kami permisi, Mbak, Mas. Mohon maaf atas yang tadi. Silakan dan selamat makan!” ucap pelayan A ramah dan membungkukkan badannya sedikit.


“Iya, Mbak. Santai aja.” Saut mereka berempat serentak. Lagi-lagi pelayan A itu membuka suaranya.


“Wow, lagi-lagi kompak!” ucapnya terkagum.

__ADS_1


“Loh, katanya mau pamit, kok masih di sini, Mbak?” tegur Memey karena pelayan A masih saja belum cabut dari pandangannya.


“Oh, iya-iya. Saya permisi ya, semuanya.” Pelayan A pamitan lalu memboyong tangan pelayan B agar menjauh dari mereka berempat.


Ketika sang pelayan telah meninggalkan tempat duduk mereka, barulah mereka menikmati makan dan minumnya. Tak lupa juga mereka saling tertawa dan melotot karena ulah Memey. Kebersamaan mereka saat ini, berhasil membuat Agatha sejenak melepas kesunyian di hatinya, kegundahan yang melanda, keresahan yang merasuk jiwa, kesendirian yang tiada tara. Kesempatan sekali Welson mengajaknya keluar rumah, maka ia nikmati dengan suka cita tanpa beban di hati, berusaha menyembunyikan semua yang terjadi padanya. Walaupun kadang tingkah Yadi dan Memey menyebalkan, tetapi itu bisa membuatnya lupa akan kisahnya, kisah yang selalu diabaikan orang tuanya.


Sementara di kediaman Agatha, tuan Thomas dan juga nyonya Daria baru saja terbangun dari tidurnya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 09.00, tetapi kedua pasangan suami istri itu baru saja terbangun karena kelelahan bekerja seharian penuh. Mereka keluar menuju ruang makan untuk sarapannya yang terlambat.


Melihat sosok majikannya, Bi Momon segera bergegas menghampiri mereka berdua untuk menyampaikan salam dan izin dari Agatha.


“Pagi, Tuan, Nyonya,” sapa Bi Momon membungkukkan badannya, “Non Agatha izin keluar sama teman-temannya, dia meminta saya untuk menyampaikannya,” ucap Bi Momon.


“Oh, pagi, Bi.” Jawab keduanya.


“Udah, biarkan saja, Bi. Dia mau ke mana juga terserah dia, dia sudah besar dan bisa menjaga dirinya.” Ucap nyonya Daria yang berhasil membuat Bi Momon terperangah.


“Baik, Nyonya. Saya mengerti.” Bi Momon lalu meninggalkan meja makan dan bergegas ke ruang belakang.


Kembali ke cafe XY.


Layar ponsel Welson berubah ketika ada panggilan video call masuk, video call tersebut adalah dari Nadine. Sekilas Agatha melihat nama yang menghubungi pacarnya itu, namun hal itu secepat kilat Welson menggeser ikon berwarna merah, yang menandakan panggilan tersebut telah Welson tolak.


“Kenapa gak dijawab, Yank? Emang siapa yang calling?” tanya Agatha mengernyitkan keningnya heran.


“Gak penting, Yank.” Jawab Welson yang sudah memasukkan ponselnya ke saku jaket dan mensenyapkannya.


“Siapa yang video call, Yank?” tanya Agatha lagi, “mana tau itu penting,” lanjutnya.

__ADS_1


“Gak apa-apa, Yank. Palingan mama ngasih tau jangan sampai lama-lama.” Jawabnya.


🕊️🕊️🕊️


Sementara di rumah Nadine, ia semakin gusar karena Welson menolak panggilan video darinya. Ia berharap Welson mengangkatnya, tetapi malah sebaliknya, panggilan itu di tolak. Ia mondar-mandir sembari menyentakkan kakinya ke lantai hingga menimbulkan suara hentakan. Tak peduli dengan orang di rumahnya yang mungkin saja risih karena ulahnya.


“Welson ke mana sih? Di telepon gak diangkat-angkat.” Dengusnya kesal pada Welson.


“Apa mungkin lagi jalan sama Agatha?” dia menduga-duga sendiri. Dan dugaannya memang benar.


Welson memang sengaja tak mengajaknya keluar, karena Welson akan mengajaknya berdua, tanpa ada yang mengetahui hubungan mereka. Tetapi siapa sangka, salah satu teman mereka, Dirgo telah mengetahui kebusukan keduanya. Tapi Dirgo hanya berdiam diri, dan ada saatnya kebusukan itu terbongkar dengan sendirinya. Itu yang dipikirkan Dirgo saat ini.


“Biasanya kalo mereka jalan atau makan di luar, pasti ke cafe XY. Apa aku susul ke sana aja ya?” tanya Nadine pada diri sendiri.


“Tapi malas, ah. Mereka pasti mesra-mesraan,” lanjutnya.


Next cafe XY.


“Oh, okelah kalo gitu, Yank.” Agatha mengiyakan jawaban Welson. Jawaban Agatha yang baru saja terucapkan, membuat Welson bernapas lega, karena Agatha tidak menginterogasinya lagi.


“Denger-denger, bulan depan kita ada libur tiga hari ya? Bener gak?” celetuk Memey tiba-tiba.


“Emang kenapa, Mey?” tanya Agatha.


“Ya bagus dong. Biar gak cape mikirin tugas sekolah.” Memey menjawab dengan santai, yang mana hal itu membuat Agatha melotot padanya.


“Kamu sebenarnya mau sekolah apa enggak? Senang sekali kalo denger kata libur?” Agatha melotot pada Memey.

__ADS_1


“Elehhh, sok iya banget lo, Tha. Bilang aja lo juga senang kalo libur.” Memey memprotes karena tidak terima.


To be continued....


__ADS_2