Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Kesepakatan.


__ADS_3

...Yang akhirnya kita pelajari dari hidup adalah bagaimana menerima keadaan tanpa harus menyalahkan kenyataan....


...– Author –...


🕊️🕊️🕊️


Tak lama setelah kepergian Andrew, Bernard juga Cath, muncul Ny. Daria dari pintu utama dengan pakaian rapi. Sudah dipastikan mommynya menginap di hotel setelah keputusan pengadilan di hari sebelumnya. Entah di hotel atau malah di rumah selingkuhannya, Agatha pun tak tau memastikan.


“Daddy mu mana?” tanyanya pada Agatha dengan ketus. Tak lama muncul juga sang suami dari kamar.


“Ada perlu apa Mommy ke sini?” tanya Agatha yang tak kalah ketus.


“Husss! Nggak boleh kayak gitu sama Aunty!” tegur Alzio pada Agatha. Agatha hanya melengus kesal pada Alzio karena selalu saja menyanggah ucapannya.


“Ya seperti itulah sepupumu, Zio. Kepalanya keras seperti batu karang,” ujar Ny. Daria. “Kamu gimana, Zio? Betah liburan di sini?”


“Banget, Aunty. Dari dulu Zio betah banget kalo liburan ke kota ini.” Alzio tersenyum pada tantenya. “Uncle, Aunty, Zio pamit ke kamar dulu, ya. Dari tadi belum mandi, hehe.” Keduanya mengangguk seraya tersenyum setelah Alzio berpamitan.


“Sayang, ayo duduk dulu sebentar,” Tn. Thomas meminta Agatha untuk duduk sebentar karena ia dan sang mantan istri ingin memberitahunya sesuatu.


“Ada apa, Daddy?” tanya Agatha. Kedua orang tuanya menyusul Agatha duduk. Pikiran Agatha sudah merasa tak enak, pasti yang akan dibahas adalah tentang perceraian dan hak asuh untuknya.


“Karena mommymu akan angkat kaki dari rumah ini, jadi Daddy memutuskan kalau kamu akan tinggal di asrama yang sudah Daddy siapkan,” ucap Tn. Thomas dengan hati-hati. Sang mantan istri pun mengiyakan perkataan mantan suaminya. Ia tidak mungkin membawa serta Agatha untuk tinggal bersamanya dengan sang selingkuhan.


“NGGAK! Pokoknya Agatha nggak mau!” teriak Agatha pada kedua orang tuanya. Alzio yang mendengar teriakan Agatha dari kamarnya, hanya diam karena tidak terlibat masalah itu dan ia tak ingin ikut campur walaupun sebenarnya ia kasihan dengan nasib kehidupan rumah tangga omnya itu. Ia hanya mencuri dengar percakapan di antara ketiga anak beranak itu dari kamarnya, sambil sesekali mondar-mandir ke ruang makan untuk mengambil makanan juga camilan. Setelah itu ia membawa dirinya ke lantai atas untuk menunggu Agatha di kamar sambil membaca buku dan menikmati camilan.


“Jangan manja, Tha! Ini sudah menjadi keputusan kami!” ujar mommynya memberitahu. Agatha hanya mematung dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh tak percaya ini akan terjadi padanya. Tak percaya juga kalau orang tuanya akan membuangnya seperti ini.


“Agatha masih punya keluarga, kenapa harus tinggal di asrama? Lagian Agatha sudah selesai SMA, tak mungkin jika akan tinggal di sana!” ucap Agatha dengan air mata yang hampir saja meleleh. Agatha tak menyangka akan jadi seperti ini setelah orang tuanya resmi bercerai. Tak satupun dari mereka yang mau mengurusnya. Di usianya yang sudah delapan belas tahun, sebenarnya ia berhak memutuskan sendiri akan ikut siapa nantinya, apakah ikut daddynya ataupun ikut mommynya. Namun, saat ini Agatha sama sekali belum bisa memastikan dan memutuskannya sekarang karena masih tak menyangka begini jadinya.


Hal seperti ini tak pernah terlintas di benaknya sebelumnya. Ia berpikir keluarganya akan aman-aman dan utuh-utuh saja, namun nyatanya retak dan hancur berkeping. Hal yang paling aneh menurutnya ialah karena kedua orang tuanya bertengkar untuk memperebutkan dirinya. Bahkan kedua orang tuanya saling melempar tanggung jawab satu sama lain.


Sang daddy menyarankan bahwa Agatha akan lebih baik ikut dengan mommynya, karena bagaimanapun sang anak harus dekat dengan sang mommy. Sementara sang mommy menyarankan Agatha ikut sang daddy karena sebagai kepala keluarga sudah pasti akan mampu membiayai semuanya yang menjadi kebutuhan Agatha. Padahal Agatha tau dengan pasti bahwa mommynya juga kaya raya, jadi tidak mungkin tidak bisa memenuhi kebutuhannya. Konyol sekali memang. Kini, karena Agatha masih belum mau memutuskan dengan siapa ia nantinya, mereka akhirnya secara sepihak malah sepakat ingin mengirim Agatha ke Beijing.

__ADS_1


“Baiklah jika kamu tidak mau memutuskannya sekarang, maka kami sepakat akan mengirimmu ke Beijing. Mengertilah, sayang! Ini yang terbaik buat kamu nantinya,” ujar daddynya.


“Atas dasar apa Daddy mengatakan itu yang terbaik untuk Agatha? Kalian hanya memikirkan diri kalian sendiri tanpa memikirkan Agatha!”


“Jangan salahkan kami! Kami sebagai orang tuamu punya hak untuk melakukannya,” timpal mommynya pula.


“Dan Agatha sebagai anak juga punya hak untuk menolaknya! Jika memang kalian punya hak, tak seharusnya kalian berpisah. Terlebih Mommy malah lebih mementingkan lelaki gila itu!” jawab Agatha tanpa gentar. Hampir saja Agatha akan mendapatkan tamparan dari mommynya jika sang daddy tidak mencegah tangan mommynya.


“Cukup, Daria! Kamu nggak berhak menyakiti anakmu sendiri!” tegur Tn. Thomas tegas. Ia tak habis pikir sang mantan istri selalu saja ingin main tangan dengan anaknya sendiri.


“Dengan berbekal pengalaman universitas internasional itu akan membuka wawasanmu nantinya. Jika kamu sudah selesai kuliah, kamu akan mudah diterima di dunia kerja,” bujuk sang daddy pada Agatha.


Agatha menggeleng. “Apa kalian nggak mikirin Agatha? Gimana nantinya jika Agatha hidup seorang diri di sana? Lagi pula kita nggak punya keluarga di sana. Gimana jika Agatha nggak kenal siapa-siapa di sana? Gimana kalo Agatha nggak punya teman di sana? Gimana juga dengan bahasa mereka yang sama sekali Agatha belum ngerti? Gimana jika Agatha butuh sesuatu?”


“Agatha, berhentilah mengeluh dan bersikap manja seperti itu!” bentak sang mommy. “Jika kamu terus bersikap seperti itu, kapan kamu bisa mandiri? Lalu cowok mana yang mau menikahimu kelak?”


“NGGAK!!! Pokoknya Agatha tetap tidak mau dan tidak akan pergi ke Beijing! NO!!” Agatha bangkit berdiri lalu menghambur pergi meninggalkan kedua orang tuanya.


“Agatha…” panggil daddynya, namun tidak digubris olehnya sama sekali. Ia terus menaiki tangga dengan berlari di atas anak tangga.


Tn. Thomas menghela napas lalu bangkit dari duduknya. “Karena mengingat Agatha seperti itu, kurasa tidak perlu lagi membujuknya. Dan, sebaiknya kamu pergi dari rumah ini sekarang juga!”


Dengan kesal Ny. Daria beranjak pergi meninggalkan rumah yang sudah puluhan tahun menjadi tempat tinggalnya.


🕊️🕊️🕊️


“Kenapa, Cupit? Something wrong, ya? There's a problem, huh? (Ada masalah, ya?)” tanya Alzio yang sudah duduk bersila di ranjang Agatha seolah memang sudah siap untuk menginterogasi sepupunya. Agatha yang melihat sepupunya sudah ada di kamarnya begitu ia membuka pintu, langsung dibuat kaget.


“Huhhh, ngagetin aja!” ujar Agatha seraya melangkahkan kaki mendekati Alzio.


“Gimana? Ada masalah lagi, ya?”


“INI GILA!!” Agatha menjerit sekeras-kerasnya hingga membuat Alzio memundurkan tubuhnya ke belakang menjauhi Agatha. Puas menjerit, Agatha lalu merebahkan dirinya ke ranjang kemudian membenamkan wajahnya di bantal dan mulai menangis terisak-isak.

__ADS_1


“Tha, kenapa? Bertengkar lagi, ya?” Alzio mendekat, lalu menyentuh pundak sepupunya.


“Jangan sentuh aku!!! Pergi sana! Keluar dari kamarku, tinggalkan aku sendiri!”


“Heii, kamu nggak pengen berbagi sama sepupumu, gitu? Cerita dong!” bujuk Alzio. Sebenarnya ia tau apa permasalahan Agatha, tapi ia berharap bahwa Agatha sendirilah yang akan menceritakannya. Agatha terus menangis semakin kencang dan meraung hingga bahunya berguncang-guncang. Agatha merasa kini dunianya benar-benar berakhir. Tak ada lagi harapannya untuk bangkit. Bangkit dari semua rasa sakit oleh kedua orang tuanya juga sakit karena pengkhianatan yang dilakukan oleh sang sahabat dan pacarnya sendiri.


“Rasanya aku pengen mati saja, Zio!” ucap Agatha sambil terus terisak akan tangisannya.


“Apa? Emang kamu mau gantung diri lagi?” Alzio tersentak kaget.


Agatha mengangkat wajahnya. Sedikit tenang rasanya dapat melihat wajah manis sepupunya yang menatapnya dengan penuh kasih. Di tengah dalam keadaan seperti ini, Agatha justru menginginkan Dirgo juga menatapnya dengan manis juga. Tiba-tiba saja ia kepikiran sosok Dirgo.


“Aku mati pun, nggak akan ada yang peduli padaku. Aku rasa, duniaku sudah benar-benar hancur, Zio,” ucap Agatha lirih.


“Siapa bilang nggak ada yang peduli lagi sama kamu? Ada aku, sepupumu. Ada Bi Momon, Mang Judas, sahabatmu yang waktu itu, dan tentunya juga Dirgo. Uncle sama anty juga…”


“NGGAK! Daddy mommy nggak pernah sayang sama aku, Zio. Mungkin lebih baik aku dulu nggak dilahirkan kedua ini…”


“Husss! Jangan ngomong ngawur kayak gitu! Nggak baik. Mereka bercerai bukan berarti mereka udah nggak sayang lagi sama kamu. Kamu tau hubungan darah? Hubungan darah, selamanya akan tetap ada walaupun terpisah jauh. Sejauh apapun itu, yang namanya hubungan darah tidak akan pernah bisa diganti.”


“Tau apa kamu? Kamu mah enak punya keluarga yang harmonis dan bahagia, jadi nggak usah khotbahin aku!”


“Bukankah aku juga keluargamu, hmm?” tanya Alzio memastikan Agatha. “Ya udah, oke, I am sorry. Aku tau ini hal yang sensitif buat kamu kalo tentang kelaurga. Tapi, ada satu kebenaran yang aku pengen kamu denger….”


“Aku tau ke arah mana yang akan kamu omongin. Tuhan Yesus sayang aku. Iya kan?” Agatha merasa kalimat itu sudah sering ia dengar dan terlalu klasik baginya. Apalagi ia tau bahwa kalimat itu adalah kalimat favorit Alzio sejak SD.


“Basi!” lanjut Agatha lirih dan memantapkan kata. Alzio hanya bisa tersenyum simpul. Bagaimana mungkin mereka memiliki pandangan yang sangat bertolak belakang satu sama lain.


“Yang jelas aku nggak yakin Tuhan sayang sama aku kalo mereka mengizinkan daddy mommy bercerai, pacar dan salah satu sahabatku mengkhianatiku. Daddy mommy mau membuangku ke Beijing, Zio! Ini sangat gila, kan? Ini sangat nggak masuk akal!” Agatha mengguncang-guncang tubuh Alzio yang berisi itu, namun guncangan Agatha sama sekali tak membuat tubuh Alzio bergerak sedikit pun.


“Maksudmu, kamu akan dikuliahkan di Beijing, gitu? Wow, keren, Tha!”


“Kamu ini sama gilanya dengan daddy mommy!” Agatha langsung mendorong tubuh Alzio.

__ADS_1


🕊️🕊️🕊️


To be continued…


__ADS_2