
🕊️🕊️🕊️
Hari demi hari, minggu demi minggu pun sudah terlewati pasca kecelakaan yang menimpa Agatha waktu itu. Keadaan pun masih sama. Orang tuanya masih saja sibuk dengan kegiatannya.
Hari ini, Agatha tidak langsung balik ke rumah. Dia meminta Mang Judas mengantarnya ke tempat yang pernah ia dan Welson kunjungi tempo lalu, Mang Judas pun menurutinya.
“Mang, antarkan aku ke suatu tempat, bisa?” tanya Agatha.
“Kemana, Non? Kalau orang tua Non marah gimana?” Mang Judas menimang-nimang permintaan nona kecil itu.
“Udah, jangan khawatir Mang. Lagian gak lama kok. Mau nge-refresh pikiran dulu.” Agatha meyakinkan Mang Judas supaya mau mengantarnya.
“Baiklah, Non. Tujuan kita kemana?” Mang Judas kembali bertanya.
“Ke taman yang ada danaunya Mang. Gak jauh kok dari posisi kita sekarang.” Jawab Agatha.
Mang Judas pun mengiyakannya. Semenjak perintah dari daddy nya pasca dia kecelakaan, Agatha selalu diantar oleh mang Judas ke mana pun dan kapan pun dia keluar rumah. Sebenarnya dia malas jika terus menerus diantar. Apalagi mengingat Mang Judas yang sama koplaknya dengan Bi Momon. Tapi lebih parah Bi Momon menurutnya. Tanpa terasa mereka telah sampai ke taman itu. Suasana taman tidak terlalu ramai seperti waktu mereka mengunjunginya. Waktu mereka mengunjungi taman itu, kebetulan ada pertunjukan wayang golek di sana, sehingga membuat suasananya ramai tak seperti sekarang. Agatha tampak melamun melihat-lihat keadaan sekitar taman itu.
“Kita udah sampai, Non.” Tutur mang Judas pada Agatha.
“Eh. Iya, Mang.” Jawab Agatha terkejut dari lamunannya.
“Mang Judas mau tunggu di mobil apa mau pulang?” tambahnya lagi.
“Saya tunggu di sini aja, Non. Takutnya Tuan sama Nyonya marah jika meninggalkan Non sendirian. Apalagi sepertinya taman ini tampak sepi.” Jawab Mang Judas.
“Udah, Mang. Kalau mau pulang, ya pulang aja. Aku bisa naik taxi kok nanti. Lagian kayaknya aku juga agak lama deh, Mang.” Pungkas Agatha.
“Gak bisalah, Non. Kalau terjadi apa-apa sama Non nanti gimana? Siapa yang nolongin? Di sini sepi loh, Non. Apa Non mau minta tolong sama kura-kura ninja?” tutur mang Judas khawatir.
Perkataan Mang Judas membuat Agatha tertawa.
“Hahahaha. Mang Judas, Mang Judas.” Agatha tertawa.
“Kok Non malah ketawa sih? Apa ada yang lucu, Non?” tanya mang Judas keheranan, dan melihat wajahnya di kaca spion.
“Gak ada yang lucu di wajah saya kok, Non.” Tambahnya lagi.
“Haha. Lupakan, Mang!” jawab Agatha.
“Baik, Non. Saya tungguin Non di sini saja ya.” Ucap Mang Judas.
__ADS_1
“Yasudah. Terserah Mang Judas aja kalau begitu. Tapi jangan ke mana-mana sebelum aku kembali!” Jawab Agatha.
Kini Agatha turun dari mobil. Dia menyusuri taman itu dengan langkah gontai. Di sekitaran taman banyak bunga yang sedang bermekaran, sehingga menambah taman itu nampak indah. Sesekali tangannya meraba bunga-bunga yang dia lewati, kakinya menendang kerikil-kerikil yang menghalangi jalannya. Tujuannya adalah ke pinggir danau yang ada di dalam taman itu. Dia ingin menyegarkan dan menenangkan segala yang ada dipikirannya. Dia berpikir, mungkin di tempat-tempat terbuka bisa menyegarkan pikirannya, membuang jauh-jauh yang tak menyenangkan hati. Sampailah dia di danau itu. Dia duduk di kursi, di mana dia dan Welson pernah duduk berdua di situ.
“Huffff!” Agatha membuang napas.
Sesekali dia mengamati sekeliling danau. Bunga teratai yang mengapung, kupu-kupu serta burung-burung berkeliaran ke sana kemari seakan-akan menambah kesan tersendiri bagi yang sedang menikmati suasana dan pemandangan itu. Harum semerbak bunga-bunga membuat indra penciuman Agatha mengendus menikmati wangi yang berasal dari bunga sekitaran danau. Ada beberapa mata yang juga sedang menikmati suasana danau di taman itu.
“Indah sekali tempat ini.” Agatha terkagum-kagum akan tempat yang sedang dia pijak sekarang.
“Begitu indah karyaMu Tuhan.” Ucap Agatha mengadahkan wajahnya ke langit serta memejamkan matanya.
Sementara di pinggir jalan, Mang Judas sudah menguap untuk yang ke sekian kalinya. Menunggu membuatnya merasa mengantuk. Apalagi jika melihat ke sekitarnya yang tampak sepi.
“Hoaaahamm!” Mang Judas kembali menguap.
“Lebih baik tidur aja dulu. Biji mata sudah 1 watt.” Gumaman Mang Judas.
Tanpa berpikir panjang lebar lagi, kini Mang Judas sudah berada di alam mimpinya. Dia tidur sambil mengorok, yang jika siapa saja mendengar itu akan mengira suara itu adalah gemuruh pertanda hari akan hujan.
Di sisi lain, seseorang sedang mengendarai mobilnya menuju taman yang juga ada Agatha di situ. Dia juga membawa serta alat lukisnya. Entah angin apa yang membawanya ke taman itu. Jika sedang merasa sunyi, dia selalu menghabiskan waktunya dengan melukis, menuangkan apa yang terlintas dipikirannya di atas kertas dengan sebuah kuas dan cat. Tak lama kemudian, sampailah dia di taman itu. Dia memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil Agatha. Dia kaget karena mobil orang yang dia cintai diam-diam juga ada di sana, terlebih juga dekat dengan mobilnya.
Karena Agatha juga di situ, dia merubah penampilannya sedikit agar Agatha tak mengenalinya. Dia mengambil topi, jaket, serta masker yang ada di mobilnya. Setelahnya, dia memasuki taman itu, tak lupa dia melihat-lihat sekitar ingin mengetahui keberadaan Agatha. Tampaklah satu sosok yang sangat ia kenali sedang duduk menyendiri di pinggir danau.
“Hmm, rupanya dia di situ. Tapi, dalam rangka apa dia kemari seorang diri?” ucapnya, dia mencari tempat lain agar tak kelihatan oleh Agatha.
Dia mengirimkan pesan singkat pada Agatha.
“Hi, Tha. Apa yang sedang kamu lakukan?” isi pesan singkatnya.
Di pinggir danau, Agatha tampak melamunkan sesuatu. Dia mengingat perlakuan manis dari Welson tempo lalu, wajahnya menyunggingkan seulas senyuman yang begitu manis. Tapi, kali ini dia menikmati suasana danau itu dengan menyendiri. Sebuah notifikasi tanda pesan masuk, dia mengambil ponselnya di saku dan melihat pesan itu.
“Hm, nomor yang sama? Apakah dia tau bahwa aku di sini?” gumamnya masih melihat pesan itu.
Agatha pun membalas pesan itu dengan berbohong.
“Hi too. Aku sedang mendengarkan ceramah.” Balas Agatha bohong.
Namun orang yang mengirimkan pesan itu tertawa mendapat balasan dari Agatha yang mengatakan bahwa dia sedang mendengarkan sebuah ceramah. Padahal, dia tau Agatha sedang menyendiri tanpa suara apapun.
“Haha. Bagaimana bisa kamu mendengarkan ceramah di pinggir danau?” ucapnya tertawa dan tetap memandangi Agatha dari kejauhan.
__ADS_1
Tak ingin ambil pusing dengan pesan itu, kini Agatha meletakkan ponselnya di atas kursi. Di sekitaran kursi, Agatha melihat batu-batu kecil yang tertata di atas rumput. Dia memunguti beberapa buah batu dan membawanya ke atas kursi. Dia kembali melamun. Karena merasa bosan, akhirnya Agatha bersuara.
“Apakah Welson yang akan menjadi pendamping hidupku selamanya?” ucapnya sambil melemparkan batu ke dalam danau.
“Apakah aku bisa membuat daddy dan mommy bangga terhadapku?” ucapnya lagi dan tetap melempar sebuah batu ke danau.
Namun, waktu berkata bukan. Daddy dan mommy nya juga masih sibuk dengan pekerjaannya. Mengabaikan seseorang yang butuh dampingan serta kasih sayang. Dia tertawa, namun hatinya sepi.
“Aaaaaaaaaaaaa. Apakah hidupku akan terus seperti ini, Tuhan? Apakah yang membuat kedua orang tuaku sibuk dengan dunianya? Sebenarnya salah ku apa, Tuhan?” kini Agatha berteriak meluapkan segala isi hatinya.
Dengan tangan yang masih menggenggam sebuah batu, kini dia melemparkan batu itu ke sembarang arah. Entah kebetulan atau bagaimana, tiba-tiba batu itu berhasil mendarat di kepala seseorang yang tampilannya seperti seorang preman pasar.
Pokkkk! Bunyi batu itu di kepala sang preman.
“Auhhhh!” ucap preman sambil memegangi kepalanya yang terkena batu lemparan Agatha.
“Siapa yang menjitakku? Nakal sekali dia. Dia tidak tau bahwa aku preman kalang kabut. Hahaha.” Tambahnya lagi sambil tertawa membanggakan diri.
Tanpa sengaja preman itu melihat seorang gadis yang tak lain adalah Agatha, sedang duduk menyendiri di pinggiran danau.
“Apakah gadis itu yang melempar batu ke kepalaku? Sepertinya dia orang kaya. Wah kesempatan perak nih.” Ucap sang preman.
Dia mengendap-ngendap mendekati ke arah Agatha, dan celingukan ke sekitar memastikan tidak ada yang mengetahui aksinya nanti. Setelah berhasil berdiri tak jauh di belakang Agatha, tiba-tiba ada yang melemparkan sebuah batu, dan mengenai kepalanya lagi.
“Aduh! Siapa lagi yang menikamku? Apa di sini ada setannya?” sang preman meremas kepalanya yang sudah dua kali mendapat ciuman dari dua buah batu.
Tak ingin berlama-lama lagi, akhirnya dia mendatangi Agatha, dan membekap mulut Agatha dengan tangannya.
“Hahaha. Tertangkap juga kamu cantik.” Ucap sang preman yang sudah berhasil membekap Agatha.
Agatha meronta-ronta dan berteriak ingin meminta tolong, namun usahanya hanyalah sia-sia. Seseorang yang menyadari bahwa Agatha dalam bahaya, menghentikan lukisannya dan berlari ke arah kejadian. Dia menendang preman itu dari belakang, sehingga membuat preman itu kehilangan keseimbangan. Preman itu tersungkur, dan bekapan Agatha pun terlepas. Tak terima dirinya tersungkur, akhirnya sang preman bangkit dan mau menonjok orang itu. Namun itu tak berhasil karena orang itu telah terlebih dulu memukul perut sang preman, menonjok area wajahnya dan sekelilingnya. Agatha yang melihat aksi itu berteriak histeris.
“Tolongggggggggggg!” teriak Agatha.
Namun karena suasana taman itu yang sedang sepi, tak ada satupun yang mendengar teriakannya. Aksi pun masih berlanjut, saling memukul satu sama lain. Pada akhirnya, sang preman jatuh terkulai akibat seseorang itu. Agatha dengan langkah gemetar menghampiri seseorang itu ingin mengucapkan terima kasih. Tetapi, orang itu telah lebih dulu meninggalkan Agatha karena takut Agatha akan mengetahui siapa dia.
“Siapakah orang itu? Sepertinya tidak asing? Siapapun kamu, terima kasih telah menolongku.” Ucap Agatha sambil melihat belakang orang itu berjalan membelakanginya.
“Lebih baik aku pulang saja.” Tambahnya lagi.
To be continued.....
__ADS_1