Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Pengkhianat!


__ADS_3

🕊️🕊️🕊️


“Agatha…..” ucap Nadine panik. Pemuda yang duduk bersama Nadine pun ikut menoleh mengikuti arah pandangan Nadine. Keduanya memasang wajah panik sepanik mungkin.


“Welson??” ucap Agatha yang tak kalah kaget dari Nadine. Wajah Agatha memancarkan segurat pertanyaan dan kebingungan melihatnya. Agatha menjadi semakin kaget setelah melihat ke arah tangan Welson yang menggenggam sebelah tangan Nadine dengan mesra, tetapi segera Welson lepas tautan tangannya dengan Nadine ketika Agatha menyadari itu. Kecurigaan dan firasat Agatha memuncak melihat semua yang terjadi di depan mata kepalanya tanpa sensor. Sesuatu yang tidak beres memang sedang terjadi pada mereka, antara dirinya dengan sang sahabat dan juga sang pacar.


“Nad? Lo katanya ada acara di rumah tante lo? Kalo ada acara keluarga, kok lo bisa di sini?” tanya Agatha dengan tatapan penuh selidik, memperhatikan semua gelagat Nadine.


“Mmmm, acaranya…. I-ini nggak seperti yang lo pikirkan, Tha. Bisa kita bicara bentar?” jawab Nadine gagu dengan meremas kedua tangannya.


“Nggak usah, Nad. Nggak perlu!” cegah Welson. “Biar aku yang ngomong, karena ini masalah aku dan dia.”


Entah untuk yang ke berapa kalinya Agatha bergeming. Agatha semakin tak mengerti membaca semua situasi seperti ini, pikirannya semakin kalut dengan semuanya. Nadine tentu saja jelas-jelas berbohong padanya dengan membuat alasan ada acara keluarga. Pantas saja di saat Agatha meneleponnya, suaranya tampak bimbang dan ragu.


“Apa yang dimaksud dengan ini semua, hah? Apa maksud kalian berdua?” tanya Agatha dengan histeris. Dirinya sudah tau menangkap semua yang terjadi ini, tetapi ia tidak bisa menerima keadaan. Menurutnya, semua terjadi begitu mengejutkan. Agatha semakin merasa dirinya telah hilang.


Apa yang ditakutkan Nadine sebelumnya, kini terjadi. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya tak berani menatap pada Agatha, sahabatnya. Ia menyadari bahwa semua ini semestinya tidak boleh terjadi. Namun, ibarat sepenggal lirik lagu ‘apa yang terjadi, terjadilah.’ Sungguh, ini bukan situasi yang diinginkan.


“Sayang, maafkan aku. Sorry for this… aku udah lama menaruh rasa pada Nadine,” ucap Welson dengan menggandeng kedua tangan Nadine.


Kembali Agatha merasakan sebuah belati menghujam hatinya, mengiris, dan membelah hatinya dengan tanpa ampun. Tatapan manik matanya seketika nanar. Ditatapnya mereka berdua secara begantian, mencari pernyataan bahwa semua ini hanyalah akting belaka. Agatha menjerit dalam hatinya, menguatkan dirinya bahwa semua ini hanyalah bohong, bukan sungguhan.


“Gimana bisa kamu memanggilku dengan kata sayang jika kamu melakukan semua ini? Gimana ini bisa terjadi? Aku pacarmu…” kata Agatha dengan suara parau dan tercekat.


“Iya, tapi aku nggak bisa terus-menerus membohongi perasaanku. Aku juga nggak bisa berbohong padamu lebih lama lagi. Aku tau, ini salah,” tandas Welson.


“Tha, maafin gue…” Nadine menggapai tangan Agatha yang langsung ditepis oleh Agatha.


“Kenapa kalian tega ngelakuin ini semua, pengkhianat?” tanya Agatha dengan penuh kebencian. Nadine pun mulai menangis.


“Nadine!” bentak Agatha dengan keras. “Kenapa elo jadi nangis, hah? Yang nangis itu harusnya gue, bukan elo!”


“Agatha, cukup! Kamu menjadi perhatian semua orang kalo kamu seperti ini!” Welson mengingatkan Agatha. Agatha mengacuhkan perkataan Welson dan menganggap semua yang melihat ini hanyalah lukisan.


“Tha, gue… nggak pernah bermaksud kayak gini, Tha…” ucap Nadine sesenggukan. “Gue nggak mau jadi orang yang paling menyakiti perasaan lo…”


Agatha semakin merasakan sakit di hatinya. Belati itu semakin mengiris hatinya dengan sadis. Ia sungguh tak menyangka bahwa orang terdekatnya malah tega mengkhianatinya seperti ini. Dramatis memang, Agatha juga tak menyangka bahwa hal ini juga akan terjadi padanya dan di hidupnya. Ia merasa terbuang, dan perlahan ia juga menangis.


“Tha, ini bukan salah Nadine. Ini memang harus terjadi. Maaf!” ujar Welson tanpa ada rasa penyesalan di wajahnya.


PLAK!!! Sebuah tamparan yang keras berhasil mendarat di pipi kiri Welson. “Bangsat!” Agatha mengumpat. “Kamu anggap aku ini apa, hah? Setelah semuanya baru saja kita lakukan, kamu dengan santainya melakukan ini semua padaku! Kamu bilang, kamu nggak akan pernah ninggalin aku? Kamu bilang sayang sama aku? Nyatanya, kamu berdusta! Semua yang ada padaku, kamu renggut begitu saja.”


“Tha, come on! Aku sama sekali nggak pernah memaksamu. Dan, aku juga merasa menemukan sesorang yang lebih baik…” ucap Welson terpotong karena langsung dicerca oleh Agatha.

__ADS_1


“Jadi, menurut kamu selama ini aku jahat? Kamu bilang nggak pernah memaksaku, tapi kamu sendiri yang mengancamku jika kita tidak melakukannya. Damn! Benar-benar munafik!” cerca Agatha dengan penuh emosi.


Agatha duduk terkulai di depan kedua orang yang mengkhianatinya. Ia sudah tak sanggup lagi berkata-kata. Terlalu banyak hal yang ingin ia sampaikan, tetapi rasanya seolah terhenti begitu saja. Banyak hal sudah terlalu banyak berkecamuk di dalam otaknya. Ingin rasanya ia memaki-maki kedua orang itu sepuas mungkin. Rasanya juga ingin sekali ia menjambak dan menampar Nadine yang telah tega merebut pacarnya dari tangannya. Agatha kemudian perlahan berdiri, kembali berhadapan dengan kedua orang yang masih setia berdiri.


“Okay, fine!” ucap Agatha berusaha tabah seraya menahan air matanya agar tak jatuh lagi. “Kita PUTUS! Dan buat lo, Nad, lo juga pasti merasakan apa yang gue rasakan saat ini. Dan nggak ada untungnya berpcaran atau berumah tangga dengan cowok bangsat ini!” Agatha menatap Welson dengan tatapan benci dan murka.


“Bagus!” Welson hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia ingin membuat Agatha seperti orang dalam gangguan jiwa di depan Nadine.


“Tha, maafin gue…” ucap Nadine sekali lagi.


“Lo nggak perlu ngomong kayak gitu!” balas Agatha dengan bentakan.


“Kami berdua benar-benar minta maaf, Tha. Aku nggak mau nyakitin kamu lebih dari ini. Aku mutusin kamu juga demi kebaikanmu,” ujar Welson.


“Stop! Jangan berakting di depanku, Welson. Stop it!” Agatha lalu berbalik dan hendak pergi. Niatnya yang ingin menyegarkan dan menenangkan pikiran di taman danau ini, batal sudah. Justru kebalikannya, suasana hatinya semakin memanas dan kacau.


“Agatha!” panggil Nadine dan membuat langkah Agatha terhenti. “Gue sayang sama lo, dan selamanya akan tetap sayang.”


“Bohong! Bohong, Nad! Kalo lo benar-benar sayang sama sahabat lo sendiri, lo nggak akan ngelakuin ini semua!” batin Agatha.


“Gue nggak peduli sekalipun elo ngebenci gue. Gue bakalan nunggu sampai lo maafin gue.”


Agatha menolehkkan pandangannya. “Jangan pernah sekali pun muncul dari hadapanku! Aku BENCI KALIAN!” ucap Agatha penuh penekanan.


Agatha menarik sudut bibirnya mendengar ucapan Welson. Sungguh sandiwara yang sangat sempurna, pikirnya. Agatha kemudian mendekat, menghampiri Welson, lalu dengan sekuat tenaganya dan amarah yang berapi-api, Agatha memukul Welson dengan tasnya serta menendang Welson hingga terjatuh menimpa meja di belakangnya. Hidangan cemilan yang menemaninya dan Nadine, tumpah mengenai pakaiannya. Semua orang menyaksikan dengan muka bertanya-tanya, bahkan ada juga yang mengabadikan momen itu.


Welson bangun dari jatuhnya. Ia mengusap perutnya yang terkena tendangan Agatha. Ada rasa ngilu dan perih yang ia rasakan. Untung saja bukan gagang sapunya yang ditendang, bisa habis masa depannya jika Agatha menendang itu. “Cewek kurang ajar! Untung aja udah putus dari dia,” batin Welson sambil berdiri yang dibantu oleh Nadine. Agatha pun pergi meninggalkan pasangan gila itu dengan langkah yang tegar, meskipun langkahnya tak setegar hatinya.


Dirgo memperhatikan semuanya dari kejauhan. Semua yang terjadi terekam jelas di kepalanya. Menyadari Agatha yang perlahan mendekati pintu keluar taman, Dirgo segera menghindar dan mencari tempat lain agar Agatha tak memergoki dirinya. Sejujurnya, Dirgo merasa sedikit lega karena Agatha sudah mengetahui hubungan antara Welson dan Nadine, tetapi ia merasakan sakit seperti yang dirasakan oleh Agatha. Ia tak tega pujaannya mengalami hal ini.


Hujan pun mulai turun seolah tau dengan perasaan Agatha. Agatha menyeberangi jalan untuk menuju parkiran restoran di mana mobilnya berada. Ia sudah basah kuyup karena hujan turun seolah mengeroyoknya. Ia tak mempedulikan hujan yang sedang mengguyur seluruh tubuhnya, dan ia merasa lega karena ia bisa melepaskan air matanya bersama dengan air hujan. Agatha kembali merasa bahwa dirinya paling hina, hina karena tubuhnya pernah disentuh oleh lelaki bajingan yang sepantasnya tidak berhak ia cintai.


Ternyata, itu semua tak menjamin bahwa Welson akan tetap menjadi miliknya, menjadi orang yang berada di sampingnya setiap membuka mata. Ia salah. Ia merasa menjadi gadis yang murahan. Betapa mudahnya ia terbuai dengan belaian dan tipu daya Welson, sehingga dengan gampangnya ia melepaskan keperawanannya saat itu. Agatha benar-benar menyesal dengan itu. Namun, semuanya telah terjadi dan sudah tak ada artinya lagi. Dirinya sudah tidak berarti lagi dari seorang bernama lengkap Welson Smith. Habis manis sepah dibuang, dan hidup Agatha sama seperti dengan pepatah legendaris itu. Beginikah rasanya? Sore hari ini, Agatha kehilangan dua orang yang juga menjadi bagian orang-orang terdekatnya. Ia sungguh tak menduga ini semua sungguh terjadi.


🕊️🕊️🕊️


“Kubilang juga apa? Semua jadi kacau kayak gini, kan?” ucap Nadine dengan berlinang air mata. Welson yang berada di depannya, tersenyum nyengir.


“Apa yang harus dirisaukan lagi? Toh aku sama dia juga udah putus, kan? Bukannya ini keinginanmu dari dulu?” Welson memicingkan matanya.


“Tapi…, bukan kayak gini juga jadinya. Dia sahabatku, aku takut dia akan ngebenci aku seumur hidupnya…”


“Ini udah resikonya. Lagian kita juga nggak bisa terus berpura-pura dari yang lain, terlebih Agatha. Aku yakin, selain Memey yang curiga sama hubungan kita, pasti ada salah satunya lagi yang juga sudah mengetahui hubungan kita,” jawab Welson. Tak ada jawaban dari Nadine, ia hanya bisa menangis diiringi dengan derasnya hujan.

__ADS_1


Nadine dan Welson yang sama-sama kehujanan, segera keluar dari taman menuju mobil yang terparkir di tempatnya, kemudian mengantar Nadine pulang.


🕊️🕊️🕊️


Dalam kondisi yang basah kuyup dan wajah yang penuh derai air mata, Agatha melajukan mobilnya pulang ke rumah. Ketika ia akan memarkirkan mobilnya ke garasi, mobil Agatha terhalang oleh mobil mommynya. Senang juga rasanya ia melihat sang mommy pulang cepat, tetapi sang mommy tidak boleh melihatnya dalam keadaan kacau seperti ini. Agatha segera menghapus sisa-sisa air matanya. Mengenai seluruh tubuhnya yang basah kuyup, ia beralasan terguyur hujan pas kembali dari restoran dan lupa membawa payung, karena memang cuacanya sedang hujan.


Agatha melesat masuk ke dalam rumah tanpa suara, noleh sana noleh sini seperti pencuri. Sandal dan pakaiannya yang basah, meninggalkan bekas di lantai marmer rumahnya. Agatha yang hampir mendekati ruang keluarga, ia mendengar suara seorang pria dewasa di sana. Apa mungkin daddynya juga sudah pulang, pikirnya. Tetapi anehnya, ia sama sekali tak melihat mobil daddynya di garasi mobil.


Kening Agatha berkerut berusaha mengingat apakah dirinya yang tidak melihat keberadaan mobil daddynya, atau dirinya yang salah mendengar suara pria dewasa yang baru saja ia dengar. Tetapi semuanya terasa tidak biasa, semua terasa aneh. Dugaan Agatha salah begitu ia tiba di ruang keluarga. Begitu melihat semuanya, membuat Agatha semakin terpukul. Mommynya (Daria) memang berada di ruang keluarga, tetapi pria yang sedang bercumbu mesra dan dipeluk Daria bukanlah daddynya. Agatha terperangah melihat pemandangan yang benar-benar tidak layak untuk dilihat. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata, hanya sedikit saja air mata itu akan tumpah ruah.


“Ehem…” pria itu menyadari kehadiran Agatha yang tidak diharapkan langsung berdehem. Deheman pria itu berhasil membuat Daria menoleh.


“What are you doing, Mom?” tanya Agatha dengan suara yang parau.


“Agatha! Apa-apaan ini? Dari mana saja kamu? Beraninya kamu membentak Mommy, hah?” cerca Ny. Daria. “And then, kenapa pulang dengan keadaan basah kuyup begini?”


Agatha tak menyangka sama sekali bahwa mommynya malah menyalahkannya di saat tabiatnya sudah terbongkar di depan anaknya sendiri. Baru saja ia menangis karena pengkhiatan Welson dan Nadine padanya, kini giliran menangis karena perbuatan mommynya.


“Siapa dia?” tanya Agatha sambil menunjuk pada pria asing tersebut dengan penuh amarah.


“Agatha, Mommy bertanya padamu, kenapa kamu balik bertanya?” hardik Ny. Daria.


“Mommy yang harus jawab pertanyaan Agatha! Apa-apaan ini semua, Mom?” teriak Agatha semakin histeris.


“Apa yang kamu bicarakan? Anak kurang ajar! Beliau adalah teman Mommy!”


“Iya, Mommy bener! Dia adalah teman Mommy, teman selingkuh!” jawab Agatha kecut. Air matanya sudah ia seka dengan kedua tangannya.


Nyonya Daria mengayunkan tangannya untuk menampar Agatha. Tetapi dengan cepat Agatha menepis dan mencekal tangan mommynya. “Apa? Mommy mau nampar Agatha? Setelah semuanya kepergok seperti ini, Mommy mau menyalahkan Agatha? Begitu, Mom? Ayo tampar! Tampar Agatha sepuas Mommy. Ayo tampar!!”


“Lepaskan tangan Mommy!” Ny. Daria berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Agatha anaknya. Pergelangan tangannya terlihat memerah karena cekalan Agatha yang cukup keras.


“Mommy ini kenapa, hah? Apa Agatha salah jika bertanya?”


“Naik dan masuk ke kamarmu sekarang!”


“Mmm, okay, Daria. Aku pulang dulu, bereskanlah masalah dengan putrimu,” sela pria itu lirih kepada mommy Agatha. Pria itu mengambil jasnya dan disampirkan ke bahunya lalu pergi secepat kilat. Agatha memperhatikan jas yang diambil pria itu, mirip sekali dengan yang ia lihat kala itu. Agatha menatap pria itu penuh kebencian. Pria itu akan selalu ia ingat. Rambut sedikit ikal, berkumis, lumayan putih tetapi lebih putih daddynya, tinggi sekitar seratus delapan puluhan, dan sepertinya lebih tua dua tahun dari daddynya.


“Awas saja nanti. Aku akan membuat perhitungan pada manusia bejat seperti Anda. Lihat saja jika kita bertemu, di mana pun itu. Akan kupastikan lehermu patah terkulai!” batin Agatha.


“Gleo, bawa saja mobilku,” Ny. Daria menawari pria itu, tetapi pria yang dipanggil Gleo itu menolak.


🕊️🕊️🕊️

__ADS_1


To be continued….


__ADS_2