
Hai, happy reading ya😊
Tiada kata yang mampu terucap setelah mereka selesai makan malam di villa. Kali ini mereka memilih untuk tidak makan di luar, karena malam ini adalah malam terakhirnya di villa dan itu juga atas permintaan Bi Inem. Semuanya bergegas ke kamar masing-masing setelah selesai menyantap makan malamnya.
“Tha, gue tidur ikut lo ya,” ucap Memey di saat mereka sudah tiba di lantai atas.
“Kenapa?” tanya Agatha sebelum membuka pintu kamarnya.
“Nadine tidurnya kolot. Gue habis ditendang dia.” Memey seperti mengadu pada ibunya.
“Haha. Yasudah, boleh kok.” Agatha membuka pintunya yang langsung disusul oleh Memey. Mereka berdua masuk ke dalam.
Malam semakin larut menyisakan dentingan suara jarum jam. Detik berganti menit, menit berganti jam, Nadine susah untuk memejamkan matanya. Banyak pikiran yang terlintas di kepalanya sehingga membuatnya gelisah dan tidak bisa memejamkan matanya. Hal utama yang ia pikirkan adalah hubungannya dengan Welson dan hubungan persahabatannya. Ia dilema saat ini. Memilih putus dengan Welson, namun sudah terlanjur hanyut dalam hubungan itu. Jika masih berlanjut, ada satu sosok yang tersiksa di sini, ia dikhianati oleh pacarnya dan juga sahabatnya sendiri. Iya, dialah Agatha. Sungguh menyedihkan, memang. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur takkan bisa kembali menjadi nasi lagi.
“Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan?” ucapnya seraya menatap langit-langit kamar.
Hening dan mencekam. Itulah yang Nadine rasakan malam ini karena seluruh penghuni villa sudah tertidur dengan pulas. Ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi WhatsApp. Matanya berbinar ketika mendapati bahwa Welson masih online.
“Kupikir semua orang sudah larut dalam mimpinya,” ucapnya dan meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas. Ia menarik selimutnya hingga menutupi bagian dada ketika hawa dingin menerpa tubuh mulusnya. Perlahan ia mencoba memejamkan matanya supaya tertidur dengan sendirinya, tetap saja susah. Ke kiri susah, telentang susah, apalagi ke kanan. Rasanya ia ingin berteriak sekeras-kerasnya.
Triiiing!!! Ponselnya berdering menandakan pesan masuk. Lantas ia menyambar ponselnya yang berdering.
“Buka pintunya!” Isi pesan chat dari Welson. Nadine bangun membuka pintu untuk Welson sampai ia lupa jika hanya memakai baju tidur yang transparan.
Ceklek!! Dalam satu tarikan pintu pun terbuka menampakkan Welson yang tengah tersenyum penuh maksud menatapnya. Lagi-lagi ia tergoda dengan pemandangan di depannya. Pemandangan yang sama persis di kala sore ia menatap Agatha, namun kali ini sangat begitu jelas.
“Ada apa ke sini?” tanya Nadine memulai percakapan, suaranya sedikit meninggi.
“Sssttt! Jangan keras-keras!” Welson menutup mulut Nadine dengan telunjuknya. Perlahan ia mengamati keadaan sekitar untuk memastikan bahwa semuanya aman.
Setelah memastikan situasinya aman, Welson segera menutup pintu kamar dan menguncinya dengan pelan namun pasti. “Aman.” Welson langsung menerobos masuk ke dalam kamar Nadine. Nadine hanya menatap heran pada Welson yang seperti dikejar mangsanya.
Nadine kebingungan, “ada apa ke kamarku?” tanyanya sedikit berbisik.
“Bukannya kamu menginginkan waktu berduaan denganku?” Welson balik bertanya. Lalu mendudukkan tubuhnya di ranjang Nadine.
“Iya. Tapikan gak harus di kamar. Kalau setan lewat gimana?” ujar Nadine seperti menimang sesuatu. Wajahnya kemerahan antara takut dan malu karena Welson berada di kamarnya, apalagi malam yang semakin larut.
Welson semakin gemas melihat wajah Nadine yang memerah bak buah delima dan seperti kertas lakmus merah kalau dipelajaran Kimia. Welson meraih tangan Nadine untuk duduk berhadapan dengannya, Nadine tak menolak. Mereka duduk berhadapan saat ini. Welson bisa dengan jelas melihat kulit Nadine yang putih bersih dan mulus. Wangi menyeruak di hidung Welson membuatnya semakin terpana, ditambah lagi baju tidur Nadine yang transparan. Welson menggila saat ini, namun Nadine semakin menunduk dan menunduk karena tatapan intens Welson.
Nadine bergumam memerangi hatinya di kala Welson menatapnya, “tatapan itu yang tak ingin ku lepas begitu saja.”
Tangan kanan Welson terulur untuk meraih dagu Nadine, ia mengangkat dagu Nadine supaya kembali menatapnya. Sekarang, dengan jelas Welson bisa melihat kecantikan wajah Nadine yang tanpa polesan sedikit pun. Mata Nadine menatapnya sayu.
__ADS_1
“Kamu gak tidur?” tanya Welson lembut.
“Aku susah tidur malam ini.” Nadine membuka mulutnya dan matanya memelas.
“Tidurlah. Atau kamu ingin tidur denganku?” Welson mengembangkan seulas senyum licik.
Nadine membulatkan matanya tak percaya apa yang diucapkan Welson. Perlahan ia menggeser duduknya menjauhi Welson. Semakin Nadine bergeser, begitu pula Welson mengikutinya sampai Nadine mencapai sisi lain ranjang, hampir saja terjatuh ke lantai. Nadine membetulkan duduknya yang sudah kelimpungan.
“Ja...jangan macam-macam atau aku akan teriak?” ucap Nadine gelagapan seraya menutup area dadanya. Wajahnya semakin memerah hingga keringat dingin pun menghampiri. Telinganya seolah mengeluarkan uap panas.
“Aku tidak melakukan apa-apa, kenapa kamu begitu ketakutan?” tanya Welson berpura-pura bodoh. Namun, senyuman licik dan penuh maksud masih saja terpampang nyata di wajah tampannya.
“Keluar dari sini! Aku mau tidur.” Nadine mengusir Welson yang dibalas dengan kukungan. Welson mendekapkan Nadine dalam pelukannya. Welson merundukkan wajahnya ke wajah Nadine. Semakin lama semakin merunduk bagaikan padi yang sudah siap untuk di panen pemiliknya. Nadine tampak memejamkan kedua matanya. Welson tersenyum menyeringai melihat Nadine yang memejamkan mata.
“Kenapa kamu memejamkan mata? Apa kamu berharap aku akan menciummu?” ucap Welson tersenyum.
Dag!! Dig!! Dug!! Serr!!! Darah Nadine berderap naik ke ubun-ubun ketika mendengar ucapan Welson. Tak ayal lagi, kini Nadine semakin merona malu.
“Loh, tadi kamu memejamkan mata, sekarang wajahmu semakin memerah. Kamu kenapa, hm?” Welson semakin senang menggoda Nadine.
“Tau ah. Keluar sana, aku ngantuk! Hoaaahamm.” Nadine berpura-pura menguap agar Welson mempercayainya.
“Kamu mencoba membohongiku? Haha.” Welson tertawa pelan.
Welson mendekat dan semakin merapat. Tangannya kembali membawa Nadine duduk di atas ranjang. Kepalanya kembali merunduk. Kini jarak pandangan mereka hanya beberapa senti saja, saling bertukar napas yang berhembus. Detak jantung Nadine seolah berirama rock dan seolah jantungnya ingin meloncat dari tempatnya. Sungguh, ia merinding dengan perlakuan Welson.
Kini, tangan nakal Welson mulai bergerak ke sana kemari menjelajahi tubuh Nadine. Meluncur ke leher putih Nadine lalu turun ke pundak dan melepaskan tali baju tidur yang Nadine kenakan. Nadine tak bergeming karena sudah terpedaya oleh Welson sehingga tidak ada perlawanan darinya. Ia membiarkan tangan Welson berkuasa atas tubuhnya.
Sudut mata gila Welson melihat dua buah gundukan milik Nadine yang masih tersampirkan pengamannya. Welson menyusupkan tangannya ke sana. Ada rasa hangat, lembut tetapi kenyal. Tangannya mencoba meremas pelan, sungguh luar biasa, itu pikirnya. Sambil meremas, mereka tetap berciuman dan masih berciuman. Terdengar desisan dari Nadine di antara ciuman mereka yang diselingi oleh tangan nakal Welson.
Welson mencoba mendorong tubuh Nadine agar tertidur di ranjang. Tatapan mata Welson semakin menjadi, semakin nelangsa. Sedangkan Nadine, ia hanya menatap dan membisu seolah sudah terkena biusan lokal. Bagaimana mungkin? Tetapi begitulah jika setan sudah berkuasa jika sedang berduaan. Semuanya menjadi aneh tetapi nikmat. Welson berdiri dan mencoba membuka membuka kaos dan celananya dan menyisakan boxer yang masih menutupinya.
Welson kembali mengikuti Nadine yang terlentang di ranjang. Mereka kembali berciuman dan semakin lama Welson bergerak ke bawah. Ia mencium serta menjilati leher Nadine tanpa jeda dan tanpa terlewatkan. Nadine mengerang antara rasa geli dan nikmat. Kini satu tanda cinta Welson lukiskan di leher indah Nadine. Puas bermain dan menyecap di area leher, kini gerakan lidahnya mulai turun ke bawah.
Kedua tangan Welson melepaskan kaitan pengaman dua gundukan itu. Dan sebuah pemandangan indah terpampang begitu nyata di kedua mata Welson. Ia tatap pemandangan indah nan menggoda itu lalu menatap Nadine seraya mengisyaratkan permohonan. Permohonan yang dapat menghancurkan segalanya.
Nadine mengedipkan matanya dengan pelan sebagai jawaban. Mata Welson berbinar karena tak menyangka dengan semudah itu mendapatkan Nadine. Dalam satu belaian, satu masa depan hilang, hancur, dan tak berguna.
Dengan napas yang bergelora dan memburu, Welson segera menyergap dua gundukan Nadine. Ia remas dan hisap sepuasnya seperti anak bayi sedang menyusui. Nadine hanya mengerang dan membelai rambut Welson dengan lembut tetapi terasa tercabut. Dua gundukan itu telah habis ia cecap dan salah satu tangannya mulai bergerak ke bawah. Ada sesuatu yang mengganjal di sana karena memang celana Nadine masih tertata indah di pinggang rampingnya. Dengan cepat Welson merobek celana tidur Nadine dan membuang ke sembarang arah yang ia bisa.
Lantas dengan cepat Nadine mengambil guling untuk menutupi tubuhnya yang sudah tidak berbusana lagi. Tetapi apa boleh buat, niatnya menutupi tubuhnya terhenti ketika Welson juga merampas dan menarik guling itu dari tubuhnya. Ia malu pada Welson.
Tangan Welson dengan nakalnya bermain di area kepemilikan Nadine. Lalu ia membuka boxernya karena sudah tidak tahan lagi. Benda pusakanya telah mengeras sekeras batu dan berdiri kokoh seperti tiang listrik. Nadine seketika menutup matanya saat melihat yang ada pada Welson.
Lagi-lagi Welson menatapnya meminta persetujuan. Tetap sama yang Nadine lakukan. Perlahan, Welson memasukkan benda pusakanya ke area kepemilikan Nadine. Nadine menjerit dan menangis walau hanya setengah yang Welson lakukan. Berulang kali Welson melakukannya dan berulang kali pula Nadine menangis. Ada suatu penghalang di sana yang menghalangi benda pusaka Welson. Welson terus menyunggingkan senyuman di kala mendapati Nadine yang masih fresh. Tentu saja fresh, berciuman juga baru empat kali baginya dan ia lakukan juga dengan Welson.
__ADS_1
“Jangan. Hiks..hiks!” ucap Nadine sambil menangis. Ia tak menyangka akan melepas kepemilikannya dengan begitu bodoh hanya karena belaian dan cumbuan Welson.
“Percayalah sayang. Ini tidak akan sakit. Percayalah padaku,” ucap Welson dengan suara yang serak menahan hasratnya.
“Ku mohon hentikan, Wels.” Nadine tetap saja menangis lalu mendorong tubuh Welson hingga terjatuh. Welson geram dan emosi pada Nadine.
“Beraninya kau menolak dan mendorongku, hah?” Welson membentak Nadine. Lalu dengan paksa ia memasukan lagi bendanya ke area Nadine. Ia tidak peduli pada Nadine yang sudah menangis dan mengerang kesakitan. Lolos, akhirnya Welson berhasil meruntuhkan pertahanan Nadine. Ia semakin memaju-mundurkan tubuhnya. Nadine sepenuhnya sudah berada di bawah kendali Welson. Nadine terus mendesah dan juga menjerit. Tubuhnya tiba-tiba mengejang dan mencakar punggung Welson.
Welson menciumnya dan ciuman itupun berbalas. Ia sentakan kembali senjatanya pada Nadine.
“Arrgghhh...” Nadine mendesah.
Sesaat, Welson mengehentikan gerak tubuhnya lalu bergerak perlahan. Nadine pun perlahan mengikuti irama Welson. Tubuh mereka bersatu seperti perangko. Keringat yang mengalir bercucuran tak mereka hiraukan. Jangankan keringat yang mengucur, bahkan dosa-dosa yang mereka perbuat sama sekali tak dihiraukan. Saat ini, mereka hanya ingin mencapai puncak kenikmatan bersama-sama. Erangan Nadine ia balaskan dengan desahannya. Semakin lama gerakan semakin cepat. Welson merasakan ada sesuatu yang ingin mendesak keluar dari persembunyiannya. Semakin cepat dan cepat.
“Arrghhh...” Kenikmatan itu akhirnya tercapai sudah. Nadine terkulai lemas dan Welson ambruk di atas tubuh Nadine. Welson menatap mata Nadine, kemudian mereka tersenyum bersama. Ia kecup kening dan mata Nadine secara bergantian.
“Terima kasih,” ucapnya pelan. Nadine mengangguk.
“Kau merenggut masa depanku. Hiks..hiks.” Nadine kembali menangis mengenang perbuatannya yang sangat bodoh.
“Sssttt. Bukannya kamu setuju aku merampas dan merenggutmu?” ucap Welson tanpa dosa sedikitpun di wajahnya.
“Pergi!” Nadine melempar semua bantal pada Welson. Namun benda yang ia lempar tak membuat Welson kesakitan.
Takut Nadine akan semakin berteriak, akhirnya Welson membungkam mulut Nadine dengan kedua tangannya lalu mulutnya juga ikut berkuasa di sana. Ia kembali mencium Nadine untuk memberikan ketenangan. Puas berciuman, Welson memunguti pakaiannya yang tergeletak di lantai. Mengenakannya kembali dan berlalu ke bawah untuk kembali ke kamarnya.
Nadine meringkuk menangisi semua perbuatan bodohnya. Ia melihat ke area pahanya, ada bercak darah di sana. Areanya itu terasa perih dan lengket akibat perbuatan Welson. Ia menangis sejadi-jadinya dengan memangku kedua lututnya. Mencoba turun dari ranjang untuk memunguti pakaiannya, nyaris terjatuh karena areanya nyeri.
“Auhhh,” pekiknya pelan.
Untung saja sprei ranjangnya juga berwarna merah, jadi darah yang menempel di sana tidak begitu jelas terlihat dan hanya samar-samar. Ia berjalan dengan kelimpungan berusaha menyeimbangkan agar areanya tidak terasa perih. Selesai memunguti pakaiannya, dengan pelan ia merangkak ke ranjang dan ingin memejamkan matanya. Ia sudah tak memikirkan perbuatannya lagi, itu juga salahnya kenapa memberi izin pada singa yang kelaparan, otomatis akan disantap habis.
Setiba di kamarnya, dengan langkah hati-hati Welson naik ke atas ranjang yang di salah satu sudut terdapat Yadi yang sudah pulas. Ia perlahan membaringkan tubuhnya berusaha tak memberikan gerakan agar Yadi tidak terbangun.
“Dari mana aja lo, hah?” ucap Yadi, namun matanya terpejam.
“Mati aku!” Welson menepuk keningnya pelan. Ia pikir Yadi mengetahui keberadaannya.
“Kenapa lo nyuri sandal gue, hah?” lagi-lagi Yadi berucap. Matanya masih saja terpejam. Namun, kata terakhir membuat Welson ingin tertawa tapi ia tahan.
“Astaga. Ternyata lo ngigau, kupret,” ucap Welson, “syukurlah, jadi aku tidak ketahuan.” Tubuhnya pun terbaring sempurna, perlahan ia memejamkan matanya dan tertidur.
Belum lama ia memejamkan matanya, salah satu kaki Yadi bergerak mengikuti yang sedang ada di mimpinya, ia menendang Welson dengan kuat sampai Welson terguling ke bawah ranjang. Welson terbaring dengan sempurna di karpet.
“Keparat! Lo yang mimpi jadi gue kena imbasnya. Lo gak tau apa gue lagi senang,” ucapnya dan kembali naik ke atas ranjang.
__ADS_1
To be continued...
Dukung dengan cara like, vote, komen, dan tips juga boleh😊.