Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Persetan!


__ADS_3

Tiap kali Agatha tertidur dengan sendirinya, tiap kali pula ia kebablasan hingga sore berganti malam. Ia masuk ke kamarnya setelah sepupunya itu turun ke bawah, lalu merebahkan diri di ranjang hingga tertidur. Sementara kedua orang tuanya, setelah proses persidangan selesai, mereka kembali melanjutkan kegiatannya masing-masing. Keputusan hakim sudah final, bahwa kedua orang tua Agatha resmi berpisah.


Agatha kembali bermimpi. Entah apa yang terjadi di dalam mimpinya itu. Ia hanya bisa mengingat bahwa Welson mencampakkan Nadine begitu saja setelah Nadine naik ke kuda pangeran. Di dalam mimpinya itu, Nadine dan Welson layaknya seorang pangeran dan putri raja. Alangkah sayangnya karena Nadine harus terjatuh dari kuda pangeran ketika hendak duduk di belakang Welson. Agatha terbangun ketika ponselnya kembali berdering. Ada satu panggilan tak terjawab di sana, dari Nadine. Matanya masih setengah terpejam, lalu duduk di ranjangnya sambil menguap.


“Cupittt, ayo makan,” ujar Alzio yang masuk ke kamar Agatha tiba-tiba. “Kamu mau makan apa? Ayo, kita makan di luar!”


“Cupat-cupit, cupat-cupit! Jam berapa sekarang?” tanya Agatha tanpa menggubris ajakan sepupunya.


“Jam tujuh malam. Makanya aku ngajak kamu cari makan. Ayo,” Alzio menarik tangan Agatha.


“Memangnya Bi Momon nggak masak?”


“Lah, Bi Momon kan baru aja balik dari pengadilan, gimana mau masak, pasti lelah Bi Momon. Yaudah, ayo. Jangan banyak omong!” Alzio kembali menarik tangan sepupunya.


“It’s okay. Oke gampang. Kamu bilang mau makan di luar? Yaudah makan aja di gazebo sana sama meong,” ujar Agatha dengan santai sambil menyisir rambutnya menggunakan jari jemarinya.


Alzio langsung cemberut. Agatha ke kamar mandi untuk mencuci muka supaya kelihatan segar. Setelahnya ia ke meja rias untuk mencepol asal rambutnya.


“Aku ada urusan,” ucap Agatha sambil menyiapkan tasnya ketika rambutnya sudah dicepol.


“Mau ke mana?”


“Bukan urusanmu. Yang pasti bukan mau makan di luar!”


“Aku ikut…”


“Nggak! Kalau mau makan di luar, pergi sendiri aja. Pake mobilku!”


“Kuncinya?”


“Minta sama Mang Judas!”


BRAKKK!! Agatha keluar sambil menutup pintu kamarnya keras-keras meninggalkan Alzio sendirian di kamarnya.


🕊️🕊️🕊️


“Permisi, Nadine ada?” tanya Agatha pada asisten rumah tangga Nadine di saat dirinya dipersilakan masuk.

__ADS_1


“Ada. Ini Agatha, ya? Udah ditungguin sama Neng Nadine. Langsung ke kamarnya aja, ya,” jawab ART baru keluarga Nadine.


“Iya, saya Agatha. Terima kasih, Bi,” Agatha beranjak dari tempatnya menuju kamar Nadine.


Dengan wajah yang terlihat masam dan penuh amarah, Agatha berjalan menuju kamar Nadine yang kala itu sering ia datangi bersama yang lainnya. Hiasan pintu yang menggantung masih terlihat sama, tidak ada perubahan sama sekali. Foto bersama sahabat-sahabatnya juga masih menempel di pintu kamar, foto yang diapit oleh bingkai kayu berbentuk hati itu masih tetap bertuliskan We Are Always Together and Friends Forever.


“Sok sekali dia pake titip pesan ke ART nya. Apakah begitu buruk hanya untuk menemuiku sebentar tanpa harus aku yang ke kamar? Bikin malas aja,” gerutu Agatha dalam hati.


Agatha mengetuk pintu kamar Nadine dengan kesal. Biasanya tiap kali ia datang ke rumah Nadine, ia langsung masuk begitu saja ke kamar tanpa harus mengetuk pintu. Tapi kali ini, Agatha merasakan dirinya sudah asing. Tak ada lagi nuansa persahabatan yang melingkupinya saat ini. Tanpa perlu menunggu lama, pintu segera di buka oleh Nadine. Nadine muncul di balik pintunya dengan wajah kuyu dan mata yang basah. Agatha langsung ditarik ke dalam seolah Agatha adalah sandera yang sudah siap dibinasakan.


“Gue tau, lo pasti dateng ke sini,” ucap Nadine menunjukkan wajah bahagia yang terpancar melalui kedua bola matanya walau terlihat basah. Tangannya ingin merangkul supaya bisa memeluk Agatha, tetapi dengan cepat Agatha memundurkan tubuhnya mendekati dinding kamar berwarna biru langit itu. Agatha menatap aneh dan jijik pada Nadine.


“Kenapa sih orang satu ini? Dramanya nggak usah semanis-manis ini, deh. Palingan nanti yang bakalan diomongin adalah hal yang nyakitin!” tuduh Agatha dalam hatinya.


“Segitu bencinyakah lo sama gue?” Nadine melihat Agatha dengan air mata yang kembali mengalir dari sudut matanya.


“Udah, nggak usah basa-basi lagi! Langsung ke inti masalahnya aja,” ucap Agatha dingin tanpa menatap Nadine, lawan bicaranya.


Nadine terdiam. Ia terduduk di ranjangnya sementara Agatha tetap merapatkan tubuhnya ke dinding kamar. Ekspresi wajah Nadine kembali nanar kemudian menangis. Melihat Nadine yang semakin menangis, Agatha terheran juga. Kembali Agatha menuduh Nadine di dalam hatinya bahwa Nadine sudah gila.


“Tha…peluk gue…” ujar Nadine sambil menangis lalu menutup wajah dengan kedua tangannya.


“Sulitkah bagi lo memaafkan gue?” tanya Nadine sambil terus-menerus sesenggukan. “Gue nggak tau apa yang harus gue lakukan.”


“Coba lo pikir! Apakah mudah membangun persahabatan kita dahulu?” tanpa menjawab, Agatha malah balik bertanya. “Posisi gue sekarang bagaikan kertas yang diremas-remas, tanpa bisa kembali utuh seperti semula. Nggak mudah bagi gue kembali seperti awal.”


“Gue sangat menyesal buat semuanya. Gue nyesel lebih memilih Welson daripada lo…sahabat yang dulu gue dapet dengan susah payah.”


“Terlambat! Seperti yang gue katakan, gue ini kertas yang udah diremas-remas. Harusnya dari awal lo nggak usah deketin Welson. Karena apa? Karena lo tau, dia pacar gue. Tapi apa? Lo malah pacaran sama dia, nusuk gue dari belakang,” ujar Agatha dingin. Betapa pun ia mencoba untuk tegar, namun nyatanya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.


“Iya, gue tau ini terlambat. Gue harus gimana, Tha?” seketika Nadine mencengkeram lengan Agatha lalu mengguncang-guncang tubuhnya. “Gue…gue hamil, Tha. Gue…” Nadine tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi. Agatha yang shock mendengar tutur Nadine, ikut terduduk lemas di ranjang.


“Apaaa?” Agatha menjerit dengan spontan. “Ini nggak mungkin! Sama sekali nggak mungkin!” pekiknya lagi. Air mata kembali membanjiri wajahnya, padahal sudah berusaha untuk tidak menangis.


Hati Agatha benar-benar sakit, bahkan lebih sakit dari sebelumnya. “It’s crazy!! Oh God, kenapa semua ini terjadi???”


Nadine merasa sangat tertekan melihat reaksi Agatha begitu histeris. Nadine bertanya pada dirinya, salahkah ia bercerita? Haruskah ia mencari orang lain lagi untuk berbagi keluh kesah? Orangtuanya? Tidak mungkin juga pada Welson.

__ADS_1


“Apa yang harus gue lakukan, Tha?” Nadine terus menangis. “Gue takut, Tha…”


Agatha menggeleng kepalanya beberapa kali dengan keras. Ia sudah pusing sebelumnya, ditambah lebih pusing lagi karena Nadine. Agatha merasa dirinya dilukai semakin dalam. “Kenapa kalian lakukan ini terhadap gue?” jerit Agatha tak percaya.


“Tha…”


“Apa Welson tau ini semua?”


“Udah…”


“Lalu?”


“Dia nggak mau tanggung jawab! Yang bikin gue nggak bisa berbuat apa-apa, dia nyuruh gue gugurin ini,” ujar Nadine sambil meraba perutnya yang belum terlihat ada perubahan. “Gue nggak bisa ngadepin ini seorang diri, Tha. Apa gue harus ikutin ucapan Welson?” Nadine menangis sejadi-jadinya.


“PERSETAN! Jangan tanyain ke gue! Gue bukan ahlinya!” Agatha mengibas tangannya yang sedari tadi dipegang oleh Nadine.


“Urus saja diri lo sendiri! Kalian berdua nggak ada yang peduli sama gue! Kenapa kalian berdua kejam pada gue?” Agatha mengucapkan kata-kata itu dengan suara yang bergetar. Ia begitu marah, ingin rasanya muntah saat itu juga karena sudah muak. Setelah puas memarahi Nadine, Agatha pergi meninggalkan Nadine.


“Agatha..!” panggil Nadine dengan pilu.


Namun percuma Nadine memanggilnya. Pintu kamarnya telah dibanting dengan kuat oleh Agatha. Pintu hati Agatha juga sudah tertutup rapat-rapat. Nadine sungguh tidak tau bagaimana caranya membuka kembali hati Agatha dan bagaimana meluluhkannya. Haruskah dengan kunci Inggris atau tang? Ah, percuma juga rasanya.


Nadine sangat sedih karena Agatha sangat benci padanya. Setitik kasih pun tak ia dapat dari Agatha kali ini. Ia sedih karena Agatha lebih terluka. Ia juga kecewa pada Agatha karena tidak simpati sama sekali apalagi membantunya menghadapi pergumulan ini. Tadinya ia sudah berharap persahabatan mereka akan kembali utuh, nyatanya berbanding terbalik.


🕊️🕊️🕊️


Agatha menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil menangis, sampai-sampai ia hampir menabrak pedagang keliling dengan gerobak-gerobaknya hingga ia dimaki-maki oleh pengendara motor.


Agatha masuk ke sebuah club. Ia memilih club untuk membuang semua yang menggunung di hati dan pikirannya. Ia ingin melampiaskannya supaya bisa melepaskan semua beban. Kalau saja sepupunya ikut bersama dengannya sejak tadi, tindakannya ini sekarang pasti sudah habis diceramahi dan dinasehati.


Agatha ingin melepaskan semua bebannya dengan sekejap. Ia ingin berlari sejauh mungkin dan mengudara seperti angin, mengalir seperti air dan berputar seperti roda. Ia segera memesan wiski. Tidak memesan segelas, tetapi ia memesan dengan botolnya langsung. Ia menenggak botol wiski itu langsung dari mulutnya tanpa disalin ke dalam gelas.


Gemerlap lampu club yang menyilaukan mata dan hentakan musik yang menggema mengisi seluruh ruangan, sama sekali tetap tak ada artinya bagi Agatha. Ia tetap merasakan hampa yang luar biasa.


Sejumlah pemuda-pemudi yang berdiri tak jauh dari Agatha tampak tertawa bahagia. Mereka adalah anak punk yang pernah Agatha lihat di jalanan sebelumnya. Dandanan dan gaya mereka memang sangat khas, sehingga bisa dibedakan dengan pengunjung club yang lain.


“Heh, liat deh gadis itu,” ujar salah seorang dari mereka yang mengenakan jeans sobek-sobek dan rantai yang disampirkan pada celananya. Rambutnya dengan gaya yang khas dicat dengan warna ungu cerah. “Merana banget, ya? Pasti habis diputusin pacar!”

__ADS_1


🕊️🕊️🕊️


To be continued…


__ADS_2