
“Apa yang kamu takutkan?” selidik Welson.
“Ih, kamu ini gimana sih gak ngerti-ngerti juga?” Nadine kesal, lalu memutuskan sambungan teleponnya.
“Dih, dimatiin. Dasar cewek, maunya dingertiin aja.” Ucap Welson menatap layar ponselnya seraya tersenyum licik.
Setelah panggilan itu terputus, Nadine mencoba ingin menghubungi Agatha. Dia bingung, apakah memang seharusnya dia memberitahukan kebenaran itu atau malah sama sekali menyembunyikannya. Namun, lama kelamaan pasti akan terbongkar semuanya, entah dari orang lain atau Agatha sendiri yang mengetahuinya.
“Aduh, gimana ini?” ucap Nadine mondar-mandir di dalam kamarnya.
“Tuhan, aku harus gimana?” tambahnya lagi seraya menggoyang-goyangkan ponselnya.
🕊️🕊️🕊️
Di kediaman seseorang.
Tampak dia sedang memoleskan kertas lukisan dengan berbagai warna. Semuanya tampak indah dan menarik serta bernyawa jika sudah memiliki warna, terlebih lagi jika warna itu sesuai dengan karakter dan ciri-ciri seseorang. Sedang asyik melukis, tiba-tiba terlintas dipikirannya mengingat kejadian belakangan yang menimpa Agatha. Mulai dari Agatha kecelakaan karena diikuti olehnya dan juga kejadian di taman yang hampir saja Agatha dicelakai oleh preman. Untung saja dia juga berada di taman itu, atau lebih tepatnya menguntit. Karena penasaran dengan kabar Agatha sekarang, dia merogoh ponselnya di saku baju. Tak urung, dia langsung menghubungi ponsel Agatha.
Triiing..triing..tring.
Bunyi ponsel Agatha, berdering dengan indah.
Agatha yang sedang asyik tiduran di sofa, merasa terganggu dengan bunyi ponselnya itu.
“Aduhhhhh. Siapa sih pagi-pagi udah nelpon aja? Apa gak liat orang lagi tidur?” Agatha meraih ponselnya yang berdering berulang kali dan me-reject panggilan itu.
Orang itu yang keheranan kenapa panggilannya dimatikan, kini mencoba menghubungi ulang.
“Ayo dong, Tha. Angkat telponnya.” Ucapnya menatap layar ponsel.
Di rumah Agatha, ponselnya kembali berdering.
Triiing..triing..tring.
“Ya Tuhan, siapa lagi sih?” ketus Agatha dan mengucek matanya biar bisa lebih jelas melihat siapa yang pagi-pagi sudah meneleponnya.
“Hoaahaam.” Agatha menguap.
“Lah, nomor ini lagi?” ucapnya ketika membuka matanya secara sempurna.
“Mau apa sih dia sebenarnya?”
Supaya tidak penasaran dan tak ingin tidurnya terganggu lagi, kini Agatha menjawab panggilan itu.
“Ya, hallo. Dengan siapa?” tanya Agatha dingin dan langsung pada intinya.
“Hallo juga, Tha. Apa kabarmu, apa baik-baik saja?” balasnya bertanya pada Agatha.
“Ya, puji Tuhan aku baik. Kamu bagaimana?”
“Syukurlah jika baik-baik saja.” Jawabnya.
“Kamu siapa?” Agatha penasaran.
“Aku? Aku bukan siapa-siapa kok. Hehe.” Jawab orang itu cengengesan.
“Apakah kamu tidak bisa serius jika orang bertanya?” ujar Agatha dingin.
“Aduh, dingin sekali kamu sama aku, Tha.” Batinnya.
“Nanti kamu juga bakalan tau siapa aku.” Jawabnya tersenyum di sana.
“Apakah kamu orang yang membawaku ke rumah sakit?” selidik Agatha.
“Iya, itu aku.”
__ADS_1
“Apakah kamu juga yang menolongku pas kejadian di taman?” Agatha semakin penasaran.
“Iya, aku tetap orang yang sama.” Jawabnya santai.
“Trus, kenapa kamu pergi begitu saja ketika aku ingin mengucapkan terima kasih padamu?” Agatha lanjut bertanya.
“Karena belum saatnya kamu mengetahui siapa aku, Tha.” Jawabnya dengan kondisi yang masih santai.
“Lalu, apakah kamu yang waktu itu sedang melukis di taman ketika ada pertunjukan di sana?”
“Iya, itu juga aku.” Jawabnya karena memang itu faktanya.
Agatha membatin.
“Dih, kenapa dia santai sekali menjawab pertanyaanku?”
Karena sambungan telepon yang mendadak hening, kini yang di seberang sana menyapa kembali.
“Hei, kenapa diam? Ada apa?” tanyanya.
“Eh, iya hallo. Gak kenapa-kenapa kok.” Sangkal Agatha.
“Apakah kamu satu sekolahan denganku?” lanjut Agatha lagi.
“Iya, benar. Bahkan kita sama-sama kelas XII.”
“What? Ini siapa sih sebenarnya?” batin Agatha.
“Nanti juga kamu bakalan tau kok siapa aku.” Ucapnya dengan jawaban yang masih sama dari sebelumnya.
“Hmmm, baiklah. By the way, ada perlu apa kamu menelponku?” tanya Agatha, yang kini menyandarkan tubuhnya di sofa setelah bangun dari rebahannya.
“Tidak apa-apa. Hanya ingin menanyakan kabarmu saja.”
“Oke. Jika begitu udahan dulu ya. Aku mau mandi.” Ucap Agatha yang sengaja ingin mengakhiri panggilan tersebut.
Agatha semakin penasaran akan orang itu. Dia bangkit berdiri dari sofa dan berjalan mondar mandir persis seperti setrika. Memikirkan dan merenungkan siapa orang yang telah menolongnya mulai dari ia kecelakaan dan diganggu preman. Semenjak mendengar suaranya barusan lewat sambungan telepon, rasanya suara itu sangat familiar, namun ia lupa siapa gerangan sang pemilik suara itu.
Dengan pakaian yang masih sama, yaitu pakaian sekolah dan baju tidur, Agatha kembali mondar mandir di sana. Ponselnya kembali berdering, namun panggilan itu dari pacarnya, Welson Smith.
“Tumben dia menelponku duluan?” Agatha menatap layar ponselnya.
“Ya, hallo jelekku. Ada apa honey?” Ucap Agatha setelah menggeser ikon berwarna hijau.
“Aku kangen.” Jawab Welson singkat di sana.
“Idihhh, gombal. Pasti ada maunya.” Ejek Agatha.
“Hmm, kok tau sih, Yank?” ucap Welson.
“Ya iyalah. Kamu kan selalu gombal jika ada maunya. Haha.” Agatha semakin senang menjahili Welson.
“Kok malah ngejekin aku, Yank?” Welson memelaskan suaranya agar terdengar menyedihkan.
“Dih, yang lagi sedih. Cup cup cup.” Goda Agatha.
“Oiya, ada apa, Yank?” lanjut Agatha.
“Nanti malam sibuk gak?” tanya Welson.
“Emang kenapa, Yank? Aku kan belum kerja, gimana mungkin aku sibuk?” Agatha balik bertanya.
“Ya siapa tau ada kesibukan lain, Yank. Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Ujar Welson.
“Suatu tempat? Nanti malam?” selidik Agatha lagi. Agatha mulai berpikir yang tidak-tidak tentang permintaan Welson, lalu mengaitkan dengan yang pernah Welson bilang sebelumnya.
__ADS_1
“Iya, suatu tempat. Apa kamu keberatan?”
“Hmm, gimana ya?” jawab Agatha menimang-nimang.
“Kamu gak mau aku ajak ya, gitu maksudnya?” tanya Welson yang mulai menampakan suara kesalnya.
“Bukan gitu, Yank. Tapi aku takut....” Jawab Agatha menggantung karena Welson langsung memotong jawaban Agatha.
“Takut kenapa? Aku kan bukan monster yang bisa memakanmu hidup-hidup. Aku ini pacarmu.” Jawab Welson kesal dan sedikit membentak.
“Kok malah bentakin aku, Yank? Apa aku salah jika aku takut?” ucap Agatha dan mulai sesenggukan.
“Alasan kamu gak masuk akal tau gak? Bilang aja jika gak mau pergi denganku.” Welson kembali membentak pacarnya.
“Kamu jahat. Hiks hiks hiks.” Kini tangis Agatha pecah.
“Ditanyain bukannya menjawab, eh malah nangis. Alasan kamu takut itu kenapa?” Welson bertanya memastikan apa yang membuat pacarnya takut.
“Makanya kalo orang lagi ngomong jangan langsung disambar, dengerin dulu kan bisa.” Jawab Agatha sesenggukan.
“Yaudah, aku minta maaf. Ceritakan apa yang membuatmu takut?” Welson memelankan suaranya supaya Agatha tak merasa dibentak-bentak olehnya.
“Aku takut jika daddy dan mommy tak mengizinkanku” jawab Agatha yang langsung membuat Welson tertawa.
“Hahaha. Memangnya mereka peduli terhadapmu, sayang? Toh selama ini kamu kan sering curhat kepadaku bahwa mereka tak peduli padamu.” Seru Welson.
“Iya, aku tau itu, Yank.” Jawab Agatha singkat.
“Jadi gimana? Apa kamu mau?” tanya Welson kembali mengenai ajakannya tadi.
“Hm, baiklah. Jam berapa? Aku yang jemput atau kamu yang ke rumahku?” jawab Agatha sekaligus bertanya.
“Jam tujuh bisakan? Nanti aku yang ke sana. Jadi kamu tinggal siap-siap aja.” Tawar Welson.
“Oke, bisa. Menunggumu! Love you.” jawab Agatha.
“Love you too.” Balas Welson senang.
🕊️🕊️🕊️
Detik berganti menit, menit berganti jam, kini bersambut malam. Agatha yang sudah bersiap diri dengan dress merah muda selutut, rambutnya dibiarkan tergerai lalu di samping kiri dipadu-padankan dengan jepitan kecil. Aura cantiknya semakin terpancar. Dia mematutkan dirinya di depan cermin, berputar dan mengibaskan dress nya itu bagaikan seorang penari balet. Sejenak Agatha menghentikan aktivitasnya di depan cermin.
“Kok aku ngerasa gerogi kayak gini ya?” tanyanya pada bayangannya di cermin.
“Hei, Agatha pokoknya kamu harus percaya diri, jangan gerogi.” Ucapnya menyemangati diri sendiri.
Tampak di bawah, Welson sedang menunggu di depan pintu, menunggu pintu dibuka oleh sang pemilik ataupun sang asisten. Bi Momon yang mendengar bel tanda masuk, segera membuka pintu. Bi Momon terperanjat ketika melihat yang menurut Bi Momon mirip model majalah harian pria.
“Ya ampun. Kenapa tampan sekali tuan muda ini?” Bi Momon terpana, mulutnya menganga dan matanya membulat.
“Hallo, Bi. Mulutnya kondisikan, ntar kemasukan lalat loh.” Tegur Welson.
“Eh, maaf tuan muda. Ada perlu apa kemari?” tanya Bi Momon, yang mana baru pertama kalinya dia melihat pacar Agatha.
“Oh iya. Saya mau menjemput Agatha. Apakah dia sudah siap?” tanya Welson yang matanya sudah menelisik ke dalam rumah.
“Maaf sebelumnya tuan muda. Apakah sudah membuat janji sama nona Agatha?” ucap Bi Momon ramah.
“Sudah, Bi. Kenalkan saya Welson.....” jawab Welson menggantung karena melihat Agatha yang tiba-tiba berdiri di belakang Bi Momon dan tepat di hadapannya. Mata Welson seolah mau copot melihat kecantikan Agatha malam ini.
“Pacarnya Agatha.” Sambung Agatha seraya memberikan seulas senyum termanisnya pada Welson.
“Eh, non bikin Bibi kaget aja.” Hardik Bi Momon yang hampir saja berjingkrak.
“Oo pacarnya, Non.” Sambungnya lagi.
__ADS_1
🕊️🕊️🕊️