
Di tengah jalanan menuju ke villa, Welson sengaja memperlambat langkah kakinya. Ia ingin menikmati waktu berduaan bersama Agatha. Sesekali mereka berdua saling bercanda ria, mentertawakan hal-hal yang konyol dan absurd. Agatha tanpa hentinya tertawa di kala Welson melontarkan sebuah lawakan. Ia kini tengah seperti anak kecil di gendongan Welson, layaknya seorang anak dan daddy nya.
Agatha membatin, “aku harap kita akan selamanya seperti ini, sayang. Melewati susah dan senang bersama-sama hingga Tuhan berkata aku harus dimilikimu seutuhnya dan begitu juga sebaliknya. Aku mencintaimu, sayang.”
Agatha tersenyum, makin hari Welson selalu memperlakukannya dengan manis. Walaupun kadang-kadang Welson selalu saja menciumnya tanpa izin.
“I love you, sayang.” Tiba-tiba Agatha berbisik di telinga kanan Welson. Welson hanya mendengar ucapan Agatha dengan tipis-tipis, kurang jelas. Karena memang di saat yang bersamaan, debur ombak tengah memecah pantai.
“Apa yang kamu katakan?” tanya Welson ingin tau yang Agatha ucapkan, sejenak ia menghentikan langkahnya.
“Tidak ada. Aku tidak mengatakan apapun!” Agatha berdalih agar Welson semakin penasaran atas apa yang ia ucapkan.
“Apakah kamu lagi belajar berbohong, hm?” tanya Welson kembali.
“Tidak ada yang berbohong, sayang. Mungkin kamu salah dengar,” jawab Agatha yang masih saja berdalih.
“Apa perlu kita ke dokter THT, sayang? Aku rasa pendengaran ku sudah rusak karena teriakan kamu saat kamu marah.” Welson sengaja menggoda Agatha supaya Agatha mengatakan apa yang ia bisikkan di telinganya.
“Loh, kok bahas itu lagi, sih? Udah ah, kamu gak asyik!” Agatha merengek dan menggoyangkan kedua kakinya seperti ana kecil. Otomatis tubuhnya juga ikut bergerak. Welson seketika terperangah dan tersenyum senang di saat dada Agatha bergesekan dengan belakangnya.
“Sayang, gak apa-apa kalau kamu gak mau kasih tau. Yang penting aku senang sekarang,” seru Welson tersenyum sumringah.
“Memangnya senang karena apa? Kamu kok tiba-tiba aneh, sih?” Agatha bingung atas apa yang Welson ucapkan.
“Kamu yakin mau tau apa yang membuat ku senang, hm?” tanya Welson dengan senyum liciknya. Namun, senyumannya itu tertuju pada jalanan karena memang Agatha tidak melihatnya.
“Ayo katakan! Kalau kamu mau mengatakannya, aku juga akan mengatakan apa yang aku bisik di telingamu.” Agatha mencoba bernegosiasi pada Welson.
“Sayang, dada kamu kenyal,” ucap Welson ceplas-ceplos tanpa beban sedikit pun. Rasanya ia berucap tanpa mempertimbangkan sesuatu terlebih dulu, namun itu membuatnya sedikit plong, lega.
“Dasar kepiting laut!” Tiba-tiba Agatha menggigit tengkuk Welson karena sudah tau arah pembicaraan Welson. Welson meringis karena gigitan Agatha yang terasa perih.
“Kenapa digigit, sayang? Aduhhh!” Welson menghentikan langkahnya kembali.
“Ayo jalan! Siapa yang nyuruh kamu berhenti?” Agatha menaikkan nada suaranya karena kesal. Welson selalu saja mesum, menurutnya.
“Kamu sengaja menggodaku lagi ya?” tanya Welson yang masih mematung tanpa mendengar perintah Agatha yang ada digendongannya.
“Siapa yang menggoda? Itu hukuman buat kamu karena selalu saja berpikiran jorok,” sergah Agatha, “ayo jalan sekarang!”
__ADS_1
“Kamu menggigit ku tandanya menggoda.” Welson semakin giat menggoda Agatha.
“Aturan dari mana? Tidak ada yang seperti itu!” ucap Agatha seraya memukul pundak Welson, “ayo cepat balik, aku ngantuk!”
“Iya-iya, bawel. Kita jalan sekarang,” ujar Welson mengalah pada Agatha.
Padahal jalan untuk menuju ke villa tidak jauh, namun karena Welson masih menghentikan langkahnya sehingga mereka berdua sedikit terlambat sampai pada tujuannya, yaitu villa.
Welson berniat menurunkan Agatha dari gendongannya, karena mereka telah sampai di depan pintu masuk villa. Untung saja teman-temannya yang lain belum masuk kamar atau beristirahat. Mereka tengah menyaksikan acara di televisi sambil menikmati teh hangat yang disediakan oleh Bi Inem dengan ditemani berbagai cemilan. Tentu saja yang berkuasa di situ adalah Memey, karena ia anti sekali dengan yang namanya makanan. Otomatis akan ia lahap semua.
Bahkan, sampai masuk ke dalam villa pun, Agatha masih berada digendongan Welson. Gaduh dari Yadi dan Memey seketika memecah malam dan waktu santai mereka ketika melihat Agatha yang digendong Welson. Nadine tiba-tiba menegur Yadi dan Memey karena ia sudah kepanasan menyaksikan keromantisan antara Agatha dan Welson.
“Bisa diam gak lo berdua? Udah kayak rebutan bantuan sosial karena wabah Corona aja lo. Norak, tau gak?” tukas Nadine seraya memanyunkan bibirnya.
“Biarin! Gue kan senang. Gak kayak lo selalu murung kalau liat mereka berdua,” ucap Memey tepat sasaran seraya memiringkan kepalanya menuju Agatha dan Welson.
“Siapa bilang gue murung? Gue mah oke-oke aja.” Nadine mengambil tehnya dan menyeruputnya untuk menenangkan hatinya yang sudah tidak karuan. Ucapan Memey tepat pada pelosok hatinya yang tengah meronta-ronta antara sedih dan marah, antara bingung mau melanjutkan hubungannya pada Welson atau malah mengakhiri semuanya. Karena ia juga sadar, ia telah merebut pacar sahabatnya sendiri. Tapi di sisi lain dan dari relung hatinya yang paling dalam, ia tidak bisa memungkiri bahwa ia telah jatuh dan terbuai pada semua perlakuan Welson, sama seperti Agatha saat ini.
“Lalu kenapa bibir lo manyun? Lo mau ngempeng kayak anak bayi, ya?” tanya Memey yang apa adanya.
“Haha. Gue gak bisa bayangin kalau Nadine mengulum empeng.” Yadi tertawa membayangkan yang diucapkan Memey. Sontak Dirgo menoyor kepala Yadi karena getaran dari ketawa Yadi yang hampir saja menyikut lengan Dirgo yang tengah menyeruput tehnya. Untung saja Dirgo cepat menjauhkan lengannya.
“Haha. Sorry, Bro. Habisnya lucu sih.” Yadi memegang perutnya yang terasa dikocok.
Agatha dan Welson masih saja belum duduk karena tengah asyik menyaksikan yang tengah tertawa ria. Sampai pada saat Bi Inem datang, mereka pun tengah bergendongan.
“Loh, Nak Agatha kenapa? Kenapa sampai digendong seperti itu?” tanya Bi Inem ketika sudah sampai di tempat Dirgo dan teman-temannya, dengan kain lap bersih yang disampirkan di pundaknya.
“Turunkan!” Agatha memerintah Welson untuk menurunkannya karena takut Bi Inem panik padanya.
“Saya tidak apa-apa, Bi. Saya cuma lagi pengen digendong saja.” Agatha tersenyum ramah pada Bi Inem ketika Welson sudah menurunkannya. Akhirnya Bi Inem bisa bernapas lega karena tidak terjadi sesuatu pada tamunya.
“Astaga, Nak. Bibi pikir kamu kenapa-kenapa loh. Tapi syukurlah, kamu baik-baik saja. Kalau begitu Bibi pamit ke belakang. Nak Agatha sama Den Welson mau Bibi buatkan teh hangat, tidak?” ucap Bi Inem sambil bertanya dan berpamitan.
“Tidak usah, Bi.” Agatha menolak. Namun, perutnya seketika berbunyi seperti orang yang sedang masuk angin.
“Tidak apa-apa. Itu perutnya bunyi, Nak. Kamu masuk angin loh. Biar Bibi buatkan teh hangat campur madu, ya,” ucap Bi Inem yang langsung bergegas begitu saja tanpa mendengar jawaban Agatha yang menjadi lawan bicaranya.
Tak lama kemudian, muncullah Bi Inem dari dapur dengan membawa dua buah cangkir yang berisi teh hangat campur madu untuk kedua pasangan kekasih itu.
__ADS_1
“Ini, Nak. Silakan diminum mumpung lagi hangat.” Bi Inem memberikan secangkir teh untuk Agatha, kemudian yang terakhir adalah Welson.
“Terima kasih, Bi.” Keduanya menjawab bersamaan.
Nadine begitu senang ketika Welson duduk di sampingnya. Kemudian disusul Agatha yang juga duduk di samping Welson, sehingga posisi duduk mereka dengan Welson yang berada di tengah. Sekilas Nadine tersenyum ketika Welson menatap ke arahnya. Tidak ingin melihat kedekatan Agatha dan Welson lebih lama, akhirnya Nadine berpamitan lebih dulu kembali ke kamarnya.
“Guys, gue istirahat duluan, ya.” Nadine pamit pada teman-temannya yang langsung dijawab setuju oleh mereka.
Sampai di kamarnya, Nadine melangkah gontai menuju ranjang yang menjadi tujuannya. Setibanya di ranjang, Nadine langsung merebahkan tubuhnya di sana. Ia membuka ponselnya berniat ingin mengirim sebuah pesan chat pada Welson. Sebelumnya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya meluapkan perasaannya yang tengah bercampur menjadi satu. Akan tetapi, niatnya ia urungkan mengingat situasi saat ini sudah malam dan teman-temannya pasti akan mengira ia kesurupan jika saja berteriak.
“Hai, Wels. Jangan lupa sama aku ya. Aku juga mau dimanja seperti Agatha. Oh iya, kapan kamu mau mutusin dia, hm? Aku tunggu kata-katamu yang pernah kamu janjikan dan tindakanmu ambil keputusan. Jika kamu memang sayang sama aku, kamu harus berani ambil keputusan. Aku tidak mau kamu menduakan cintaku. Selamat istirahat, Wels. I love you.” Isi chat Nadine yang dikirimkan untuk Welson.
Setelah Nadine berpamitan, kini Memey juga ingin menyusul Nadine. Memey kekenyangan karena telah menghabiskan satu toples kecil cemilan.
“Guys, gue juga pamit, ya. Gue ngantuk sekali,” ucap Memey yang langsung menguap. Ia bangkit berdiri dan meninggalkan orang yang masih tersisa di sofa. Belum sempat Memey menginjakkan kakinya pada anak tangga, kini ia tengah diteriaki Agatha supaya menunggunya kembali ke atas.
“Memey!” teriak Agatha.
“Aduh, apalagi sih Agatha William?” ucap Memey dengan menyebutkan nama lengkap Agatha karena kesal.
“Tunggu! Gue juga mau ke atas,” ujar Agatha.
“Sayang, aku ke kamar ya, aku lelah dan ingin tidur sepuasnya,” pamit Agatha pada Welson dan langsung dijawab dengan anggukan oleh Welson, “selamat malam, Dirgo, Yadi. Gue duluan, ya.”
“Selamat istirahat, Tha,” jawab Dirgo dan Yadi serentak.
Memey menatap jengah pada Agatha yang masih berjalan menuju tangga. Ia duduk di anak tangga seperti tengah mengemis makanan.
“Buruan ih. Lama amat jalannya, udah kayak model iklan shampoo lifebuoy aja lo,” seru Memey dengan sedikit meninggikan suaranya.
“Sabar kali, Mey. Gue kan emang lagi jalan.” Agatha menjawab dengan santai.
Kini di sofa ruang tamu, hanya tersisa tiga lelaki yang masih setia di sana. Welson membuka ponselnya dan melihat apakah ada notifikasi khusus untuknya. Ia kembali tersenyum melihat isi chat Nadine. Menurutnya, Nadine memang ingin mereka (Agatha dan Welson) putus di tengah perjalanan.
“Kamu sabar saja. Aku tidak lupa kok, apa yang aku katakan kemarin. Hanya saja aku masih mencari waktu yang tepat,” balas Welson dengan memberikan emoticon kedip pada ujung chatnya untuk Nadine.
Malam semakin larut, rembulan pun naik ke peraduannya. Ketiga lelaki itu akhirnya juga mengistirahatkan tubuhnya yang juga lelah. Villa kembali hening karena penghuninya sudah beristirahat.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
To be continued...