
Agatha terbangun pagi itu karena samar-samar ia mendengar senandung lagu-lagu pujian diiringi suara gitar yang mengalun dengan lembut, seperti tengah retret. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali sambil memandang sekitar. Pikirnya ia sedang terlelap di kamarnya yang luas dan nyaman dengan ranjang yang empuk juga selimut yang tebal. Nyatanya ia tidur meringkuk di dalam mobilnya sendiri, di bawah lorong jembatan pula.
Ia melihat jam mobil sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Perutnya yang ramping masih sedikit mual. Ia bangun dan melihat teman-teman ‘aneh dan ajaibnya’ juga sudah bangun dan mulai beraktivitas masing-masing. Ada yang menyebar ke berbagai penjuru kota. Agatha tak mengerti apa yang akan mereka kerjakan. Di dalam pikirannya, sudah pasti teman-temannya yang ‘aneh dan ajaib’ itu akan mengamen. Ia keluar dari mobil dan wajah pertama yang ia lihat dan menyapanya dengan hangat adalah Carlos.
“Hallo, Adik. Selamat pagi,” sapa Carlos dengan tak lupa menghiasi wajahnya dengan senyuman yang tulus. Rupanya Carlos yang sedang menyanyikan lagu-lagu pujian di pagi hari seperti ini. Kehadiran Agatha tak membuatnya serampangan memainkan gitar dan menyanyikan lagu.
“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Dia membaringkan aku, di padang yang berumput hijau. Dia membimbingku, ke air yang tenang. Dia menyegarkan jiwaku. Dia menuntunku, ke jalan yang benar, oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan, dalam lembah kekelaman…”
“Suaramu bagus sekali, Kak,” puji Agatha tulus. Carlos yang dipuji hanya menganggukan kepala dan tersenyum.
“Tau lagu ini, kan? Nyanyi, dong,” ajak Carlos. Sesaat Agatha bingung. Awalnya Agatha pikir teman barunya yang menurutnya ‘aneh dan ajaib’ itu hanya peduli pada jenis aliran musik mereka saja, ternyata tidak. Memang benar adanya, jangan menilai sesuatu yang terlihat di mata saja tanpa kita mengenalinya terlebih dahulu.
“Aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku. Gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Dia membimbingku, ke air yang tenang. Dia menyegarkan jiwaku. Dia menuntunku, ke jalan yang benar, oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan, dalam lembah kekelaman. Dan akupun akan diam dalam, rumah Tuhan spanjang masa…”
Awalnya mereka memang tidak bisa menyatukan suaranya, tapi rasanya itu tidaklah terlalu penting. Mereka mencoba bernyanyi dengan hati, tidak hanya sekedar kata-kata yang keluar dari mulut mereka saja. Agatha pun berpikir ulang, rasanya ia sudah lama sekali tidak menyanyikan lagu-lagu gereja selain ia mengikuti misa hari minggu di gereja. Dan kenapa lagu yang dinyanyikan Carlos tadi begitu menggugah hatinya hingga ia terbangun dari tidurnya? Di tengah-tengah saat kesunyian sesudah bernyanyi bersama, tiba-tiba terdengar bunyi perut yang keroncongan. Agatha dan Carlos saling berpandangan.
“Hufftttt… adik laper, ya?” Carlos tak bisa lagi menahan tawanya mendengar perut Agatha yang keroncongan. Agatha hanya menunduk malu-malu dengan wajahnya yang sudah memerah seperti bunga mawar.
“Ayo, kita cari makan,” ajak Carlos akhirnya.
“Agatha, mau ke mana?” tanya Andrew yang baru saja datang.
“Aku baru aja mau ajak dia cari makan,” terang Carlos.
“Oh. Nih,” Andrew menyodorkan bungkusan kepada Agatha. Agatha menerimanya dengan sungkan.
“Dah, ya. Aku pergi dulu. Kalo kamu perlu apa-apa, ada Carlos,” ujar Andrew lalu berbalik.
“Kak Andrew pergi ke mana?” tanya Agatha sedikit menaikkan suaranya, tetapi tidak sempat lagi didengar oleh Andrew.
“Kerja,” jawab Carlos singkat.
“Kalian kerja juga, Kak?”
“Ya, iyalah,” jawab Carlos sambil terkekeh. Meski dengan penampilan mereka yang aneh menurut Agatha, mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, paling tidak mereka bisa mengamen. Carlos lalu duduk menemani Agatha memakan nasi bungkusnya dari Andrew.
“Hei, kenapa masih di sini juga?” bentak Cath saat melewati Agatha dan Carlos. Si cewek berambut pink ini memang hobi sekali membentak Agatha. Agatha berusaha mengacuhkan bentakan Cath dengan berpura-pura tidak mendengar dan terus menyendoki mulutnya dengan nasi dan lauk.
“Adik yakin nggak akan pulang ke rumah?” tanya Carlos dengan lembut.
“Nggak, Kak,” Agatha menggeleng. “Kenapa sih Kak Carlos manggil aku adik-adik terus dari semalam? Emangnya umurmu berapa, Kak?”
Carlos kembali terkekeh dengan pertanyaan Agatha. “Coba tebak berapa?”
“Nggak tau. Palingan kita seumuran, Kak.”
“Aku dua puluh. Kamu?”
“Aku dua tahun di bawahmu. Dua tahun lebih muda, Kak.”
__ADS_1
“Nah… Keberatan nggak aku panggil adik?”
“Hehe…” Agatha nyengir sebelum menjawab. “Terserah Kak Carlos aja..”
“Aku punya adik perempuan di rumah. Dia hampir seumuran sama kamu.”
“Oh ya?” Ponsel Agatha tiba-tiba saja berbunyi di dalam saku bajunya. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan melihat nama yang tertera di sana. Ia sempat ragu-ragu untuk menjawabnya.
“Siapa Sepupu Nyebelin?” tanya Carlos yang ikut melihat ponsel Agatha. “Apa orang yang kemarin?”
“Hallo…” sapa Agatha tanpa sempat lagi menjawab pertanyaan Carlos.
“Ah, Tha. Akhirnya kamu angkat juga telpon dariku. Kamu ada di mana? Kamu kenapa nggak pulang? Beneran minggat, ya, Pit?”
“Jangan tanya lagi, Zio. Aku nggak akan pulang! Apa Daddy Mommy mencariku?” tanya Agatha sedikit berharap.
“Nggak, eh…maksudku…” Alzio bingung harus mengatakan apa pada sepupunya. Tidak mungkin juga ia tega mengatakan bahwa omnya mengatakan dan bersikeras bahwa sepupunya itu akan pulang dengan sendirinya ke rumah karena mereka mengganggap sepupunya itu hanya merajuk saja. Sementara tantenya, sama sekali tidak peduli dengan kabar Agatha yang kabur dari rumah. Beliau sudah tinggal serumah dengan calon suami barunya.
“Sudah kuduga. Udahlah, Zio, jangan ditutup-tutupin. Aku tau kenyataannya memang pahit, nggak pernah aku harapkan sebelumnya. Kamu nggak perlu peduliin aku lagi, okay? Mending kamu mikirin kuliahmu saja. Aku di sini baik-baik aja. Titip salam sama Bi Momon…”
TUUUTT!!! Agatha mematikan sambungan panggilan. Alzio hanya bisa berkoar-koar sendiri di seberang sana.
“Cupit, tunggu. Kamu di mana, Pit? Cupit….”
Sebelum ponselnya kembali berbunyi, Agatha langsung menyalakan mode pesawat di ponselnya.
“Nah, adik dicari, kan?”
“Nah, lalu kenapa adik minggat kalo masih ada yang peduli?”
“Aku nggak sanggup, Kak,” jawab Agatha, kemudian ia menenggak mineral botol sampai tandas. “Oh ya, Kak. Tadi Kak Carlos bilang punya adik perempuan, lalu kenapa Kakak kabur juga dari rumah?”
“Hmmm… Aku hanya nggak mau dipaksa papa mama kuliah di bidang kesehatan. Karena mereka terus memaksa, akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari rumah.”
“Mereka nggak nyariin?” tanya Agatha lagi.
“Sampai sekarang mereka masih nyari. Aku ke rumah hanya di saat papa mama nggak ada di rumah,” jawab Carlos sambil memetik senar gitarnya.
“Kalo adikmu, Kak?”
“Dia tahun ini masuk kuliah. Dia bilang ambil di bidang kejiwaan.”
“Keren!! Kapan-kapan kenalin aku sama dia, ya, Kak,” pinta Agatha seolah mereka sudah lama saling kenal. Carlos hanya mengangguk.
Tengah asyik berbincang, tiba-tiba Cath muncul. “Mau?” Cath menyodorkan sebungkus rokok pada Agatha.
“Aku kan udah bilang, aku nggak ngerokok!!” bentak Agatha dengan garang. Cath tidak menggubris dan malah meniupkan kepulan asap rokok ke wajah Agatha.
“So, kalo kamu mau bergabung bersama kelompok ini, kamu harus berubah. Baik dari segi penampilan maupun gaya hidupmu. Mobil dan barang-barang mewahmu, dijual! Pakaian seadanya, dan makanpun seadanya juga. Apa ada yang ingin ditanyakan?” Cath berjalan mondar-mandir di sekeliling Agatha. “Ingat, ketua kita adalah Andrew, dan kelompok kita bernama Badai. Jelas?”
__ADS_1
Agatha jadi bimbang dengan penuturan Cath. Meskipun ia sekacau ini, ia tak tega menjual mobil yang dibelikan oleh daddynya. Meskipun juga ia kecewa, tapi tak ada niatan untuk melakukan itu semua. Ia kembali menonaktifkan mode pesawat di ponselnya. Ia mengirim pesan kepada Mang Judas untuk mengambil mobilnya di tempat biasa Agatha kunjungi.
“Kak, nanti ikut aku sebentar, bisa?” pintanya pada Carlos.
“Ke mana?” tanya Carlos.
“Aku mau jual mobil ini,” ucap Agatha sambil mengedipkan matanya. Ia tak mau Cath mengetahui jika Agatha akan memulangkan mobilnya ke rumah. Akhirnya ia memutuskan untuk berbohong.
“Okay. Kita berangkat sekarang,” ujar Carlos.
🕊️🕊️🕊️
“Adik yakin mau jual mobil ini? Ini mobil mahal dan limited edition, loh,” ujar Carlos yang masih belum mengerti setelah mereka sudah berada di jalanan.
“Nggak akan aku jual, Kak. Ini mobil kesayanganku. Aku terpaksa mengatakan itu supaya Kak Cath percaya jika aku akan menjual mobil ini,” jawab Agatha sambil mengemudi.
“Good! Aku juga nggak setuju jika adik harus menjual semua barang-barangmu. Untuk penampilan, okelah bisa diubah, tapi jangan sampai menjual harta benda. Satu lagi, jangan sampai terjerumus, ya,” Carlos menjelaskan pada Agatha.
“Terjerumus? Maksud Kak Carlos gimana?”
“Tentang obat-obatan…”
“Obat terlarang maksudnya?” Agatha mengernyitkan dahinya.
“Iya. Jangan sampai adik menyentuh barang itu!”
“Baik, aku mengerti, Kak. Kak, kita sebentar lagi sampai. Nanti Kak Carlos sembunyi, ya.”
Tiga menit kemudian mereka sampai di dekat taman danau. Agatha dan Carlos segera turun dari mobil. Carlos langsung mengikuti instruksi dari Agatha untuk bersembunyi. Dari kejauhan nampak sebuah taksi yang menuju ke arah Agatha. Ternyata di taksi tersebut ada Mang Judas.
“Non, gimana kabarnya?” tanya Mang Judas panik dan khawatir.
“Aku baik-baik aja, Mang.” Agatha tersenyum simpul. “Maaf telah merepotkan, Mang.”
“Nggak merepotkan, Non. Non, pulanglah ke rumah. Den Zio terus mencari Non ke mana-mana. Malam itu ia sampai tertidur di ruang tamu menunggu Non pulang,” ucap Mang Judas seraya memohon majikan kecilnya untuk pulang ke rumah.
“Aku udah berjanji sama diriku sendiri, Mang. Aku nggak akan pulang. Lagipula aku udah nyuruh Zio jangan nyari aku lagi.”
“Ta…tapi, Non…” belum sempat menuntaskan ucapannya, langsung dipotong oleh Agatha.
“Udah, Mang. Buruan Mang Judas pulang. Kabari Bi Momon juga kalo aku baik-baik aja. Dan aku akan pulang jika waktunya telah tiba.” Agatha kembali tersenyum, kemudian tanpa terasa sudut matanya terasa basah.
“Kapan tiba waktunya? Apa yang Non maksud dengan akan pulang jika waktunya tiba?”
“Ya tunggu saja kedatanganku ke rumah, Mang. Sampaikan juga salamku untuk Daddy. Bye-bye, Mang. See you next time.”
Agatha perlahan berjalan menjauhi Mang Judas sambil melambaikan tangannya. Mang Judas terpaku melihat majikan kecilnya itu menjauhinya. Sementara, mata Agatha terus mengeluarkan cairan bening hangat mengucuri wajahnya yang mulus. Ya, Agatha menangis setelah mengucapkan kata-kata itu pada Mang Judas.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
To be continued…