Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Takut Menjadi Kenyataan 2.


__ADS_3

“Ketahuilah. Berkarya bukanlah suatu yang mudah jika tidak ditekuni dan dijalani dengan hati. Jika kamu ingin berkarya, siapkan mentalmu. Karena tak semua menyukai karyamu.”


“Intinya, jalani dan tekuni setiap yang kamu emban dengan HATI”


 🕊️🕊️🕊️


“......”


Namun tiba-tiba sebuah tamparan yang cukup keras berhasil memberikan bekas jemari di pipi orang itu.


Seketika orang itu berteriak karena melihat adegan itu.


“Aaaaaaaaaaaaaa tidaaaakkkkk. Ku mohon jangaaaaaaaann!” ucap orang itu berteriak.


Akhirnya dia terbangun, teriakannya seolah-olah menembus alam mimpi. Agatha mimpi di siang bolong.


“Astaga Tuhan, ternyata aku cuma mimpi,” ia mengelus dadanya sambil menepuk-nepuk pipinya. Dia kembali mengingat kejadian di mimpinya itu. Dia terdiam karena pasalnya yang sedang dia mimpikan itu ternyata Welson melamar seorang gadis yang tak kalah cantik darinya. Namun sayangnya, dia tidak bisa merekam wajah gadis itu di dalam ingatannya. Di dalam mimpinya itu, dia hanya bisa melihatnya dari arah belakang dan samar-samar. Lalu tiba-tiba datang seseorang dan langsung menampar wajah si gadis yang sedang dilamar oleh Welson. Sontak para tamu undangan kaget akan kejadian itu.


“Syukurlah cuma mimpi,” ucapnya lagi.


“Ku mohon, jangan sampai menjadi nyata kayak di sinetron azab Indosiar,” gumam Agatha kembali.


Tak ingin larut dalam suasana mimpinya barusan, dia segera ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Dia kaget melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 14.25. Akhirnya dia kembali ke kamar mandi dengan terbirit-birit seperti dikejar ayam tetangga karena mengganggu anaknya.


Dia sudah tak sabar ingin jalan-jalan bersama sang pacar. Setelah selesai dengan ritual mandinya, segera dia bergegas ke meja rias. Memoleskan setiap bagian wajahnya dengan berbagai kuas yang terpampang di sana, sehingga membuatnya tampak segar dengan make up flawless.


Setelah berkutat di depan cermin, kini dia menuju walk in closet dan memilih pakaian casualnya. Dia semakin terlihat sangat cantik dengan pakaian casualnya ditambah lagi dengan polesan flawless.


“I’m coming jelek kesayangan,” ucapnya di depan cermin yang ada di walk in closet nya.


Tak lupa juga dia menyambar tasnya untuk mempermanis penampilannya.


Di bawah, Bi Momon sedang menyaksikan acara di salah satu stasiun televisi. Acara tersebut cukup membuat Bi Momon mengocok perutnya karena tak henti-hentinya tertawa. Acara tersebut adalah acara lomba mengambil koin di dalam jeruk bali yang dilumuri dengan kecap menggunakan mulut. Para peserta sudah mirip cemong karena kecap menempel pada wajah mereka. Apalagi ditambah kegilaan sang juri tiba-tiba memutar lagu “Goyang Nasi Padang” yang cukup membuat para peserta heboh berjoget sambil terus memainkan aksinya mencabut koin di jeruk itu.


Agatha yang melihat Bi Momon tengah tertawa dengan terpingkal-pingkal, menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berjalan menghampiri Bi Momon.


“Bi, Bi Momon. Yuhuuuuuuu,” panggil Agatha.


Namun panggilannya tak terjawab. Hingga akhirnya Agatha mematikan televisi itu. Seketika Bi Momon kaget karena acara yang sedang dia saksikan tiba-tiba kembali ke layar hitam.


“Lahhh, kok ngilang cemongnya?” ucap Bi Momon yang masih belum menyadari bahwa nona kecilnya yang mematikan televisi itu.


Mendengar kata cemong, Agatha bertanya.


“Cemong? Siapa yang cemong, Bi?” tanya Agatha sambil melihat wajahnya menggunakan LCD handphone nya.


“Eh, Non rupanya. Itu tadi di TV ada acara lomba ngambil koin, wajah para pesertanya mirip cemong karena kecap. Hahaha, lucu Non,” jawab Bi Momon dengan gelak tawanya.


“Ohh, kirain aku yang cemong, Bi. Secarakan aku udah cantik nan membahana. Hehe,” kekeh Agatha memuji dirinya sendiri.


“Wahhh, emang Non mau ke mana udah cantik kayak gitu?” tanya Bi Momon karena baru menyadari penampilan nona kecilnya.


Sebelum menjawab, Agatha tersenyum. “Mau jalan dong, sama pacar. Hahaha,” jawab Agatha kembali.


Namun, lagi-lagi Bi Momon bikin ulah. “Jangan Non, jangan ke pasar. Ntar Non jijik, bau tau,” tukas Bi Momon dengan wajah yang serius.


“Ooh my God, Bibi!” teriak Agatha.


Bi Momon menutup kupingnya karena teriakan Agatha.


“Aduh, Non. Kenapa jadi teriak sih, Bibi kan jadi kaget atuh,” tukas Bi Momon heran yang masih belum sadar Agatha berteriak karena ulahnya sendiri.


“Aku bilang mau jalan sama PACAR, bukan ke PASAR, Bibi,” ucap Agatha dengan penuh penekanan.


“Oooooohhh mau jalan sama pacar to. Bibi kira mau ke pasar. Hehe,” pungkas Bi Momon sambil terkekeh. Agatha hanya mendengus karena ulah sang asisten.


“Yaudah, Bi. Aku berangkat ya,” pamitnya pada Bi Momon.


“Iya Non, hati-hati!” ujar Bi Momon sembari membuka pintu.


 🕊️🕊️🕊️


Sore ini dia pergi dengan menyetir sendiri. Dia tidak mau acaranya diganggu oleh siapapun. Melintasi jalan yang begitu ramai dengan kendaraan baik yang roda dua, roda empat maupun enam membuat Agatha sedikit menurunkan laju mobilnya. Di sepanjang perjalanan, dia melihat banyak anak jalanan dengan dandanan rambut seperti bambu runcing dengan sedikit mowhak, memakai kalung dengan rantai yang besar bagaikan tali pengikat sapi yang membuat penampilan mereka sangat kelihatan liar dan sangar. Mereka adalah anak-anak Punk. Namun, tiba di lampu merah, dia tanpa sengaja melihat salah satu anggota anak Punk tersebut sedang membantu bapak tua menyeberangi jalan.


Agatha terdiam dan berpikir. “Orang yang berpenampilan sangar kayak gitu masih ada rasa peduli. Lalu, daddy sama mommy.....”


Agatha menggantungkan kalimatnya ketika suara klakson dari belakang mobilnya saling bersaut-sautan.


Dia melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Tak membutuhkan waktu lama, sampailah ia pada salah satu restoran yang telah mereka sepakati untuk menjemput Welson, yaitu di “Restoran Somplak”.


Agatha turun dari mobil dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya. Namun, setelah tiga kali melangkah, tanpa sengaja dia melihat Welson sedang asyik berbincang-bincang dengan seseorang dengan begitu akrab. Tiba-tiba salah seorang cowok menghampiri mereka berdua dan duduk di samping cewek itu.


Hampir saja Agatha membatalkan niatnya menghampiri Welson jika tidak melihat cowok itu mencium tangan cewek yang ada di sampingnya. Agatha bernafas lega. Sempat dia berpikir bahwa cewek itu adalah selingkuhan Welson. Kemudian menghampiri mereka bertiga dengan langkah semangat.


“Hii sayang. Kamu baru sampai?” tanya Welson ketika melihat Agatha sudah di depan mereka.


“Iya, Yank, baru aja sampai,” jawabnya.


Welson bernapas lega. Untung saja si Nadine sudah duluan pulang karena perutnya mulas. Jika tidak, bisa berabe masalahnya.


“Hufffff ! Untung aja Nadine udah pulang, batin si Welson.


Pasangan cowok cewek tadi itu berpamitan pulang karena Agatha sudah datang.


“Yank, mau makan gak?” tawar Welson.


“Gak ah Yank, aku udah makan kok di rumah. Aku maunya kamu bawa aku ke suatu tempat Yank,” jawab Agatha dengan senyuman manisnya yang selalu bisa meluluhkan hati bagi siapa saja yang melihatnya.


“Kamu maunya ke mana, Yank?” tanya Welson lagi.


“Hmm, up to you deh Yank. Yang penting tempatnya adem dan agak jauh dari bisingnya kendaraan, Yank,” tukas Agatha.


Welson yang seakan sudah hafal dengan tempat yang seperti itu, seketika menyetujui permintaan Agatha.


“Okay. Aku tau kok tempat yang bagus, Yank. Aku yakin kamu pasti suka, bawel ku,” ucap Welson seolah tau betul Agatha akan menyukai tempat itu.


Mereka berdua segera bergegas ke tempat parkiran menuju mobil Agatha dengan tangan saling bertautan sangat mesra. Sesekali Welson mengelus kepala Agatha karena saking gemasnya.


Setibanya di parkiran, Welson membuka pintu mobil untuk Agatha yang langsung disambut senyum manis oleh Agatha. Sekarang giliran Welson yang menyetir. Tujuan mereka adalah ke suatu taman yang mana di taman tersebut terdapat danau buatan yang ditumbuhi para kelompok bunga teratai. Perjalanan yang mereka tempuh cukup memakan waktu, kira-kira 30 menit lamanya. Agatha sudah tak sabar ingin sampai, apakah tempat yang mereka tuju bisa membuatnya terkesima atau malah sebaliknya. Agatha sesekali melihat ke sepanjang jalan melalui jendela mobilnya. Wajahnya terlihat gusar karena perjalanan mereka terasa sangat lama. Welson yang menyadari kegusaran sang pacar, meraih tangan Agatha. Digenggamnya tangan itu lalu diciumnya hingga Agatha kaget ketika mendapat perlakuan manis dari Welson.


“Kamu kenapa, Sayang? Kok dari tadi melihat ke arah luar terus?” tanya Welson.


“Sebenarnya kita mau ke mana sih Yank, kok lama bener nyampainya?” Agatha balik bertanya.

__ADS_1


“Gak sabaran sekali sih Yank,” ucap Welson sambil mengacak-acak rambut Agatha.


“Bentar lagi nyampai kok, Yank. Percaya deh,” tambahnya lagi meyakinkan Agatha.


Akhirnya, Welson menambahkan laju kecepatan mobil sehingga tak lama mereka telah sampai ke taman tersebut. Jam sudah menunjukkan pukul 16.30. Di taman itu sedang ramai pengunjung mengingat ada pertunjukan wayang golek. Banyak pengunjung berlalu lalang menyaksikan acara itu.


Lain halnya dengan pengunjung lain, mereka berdua langsung menuju danau yang ada di taman itu. Mereka duduk di kursi yang sudah tersedia di pinggir danau. Agatha sangat menyukai tempat itu.


Tak hanya mereka, banyak pasangan yang sedang bermanja ria di tepi danau. Agatha yang sedang kumat sifat manjanya, tiba-tiba meletakkan kepalanya di atas pangkuan Welson. Dia berbaring dengan begitu asyiknya.


“Yank, kok kamu tau tempat yang beginian sih, Yank?” tanya Agatha penasaran sambil membawa tangan Welson ke pipinya. Memeluk tangan itu begitu erat seolah-olah tak ingin lepas.


Welson tersenyum karena Agatha begitu manja padanya. Namun sayangnya, hatinya telah terbagi pada sahabat mereka sendiri. Sungguh nasib tak pernah berpihak pada Agatha. Jika saja Agatha tau akan tabiat pacarnya itu, sudah pasti dia sangat murka, apalagi dengan sahabatnya sendiri.


“Pernah denger dari teman, Yank,” jawab Welson, “gimana, bagus gak?” tambahnya lagi.


“Bagus, Yank. Aku suka. Thanks, sayang,” ujar Agatha begitu manja.


Suasana sore itu sangatlah sejuk, sehingga banyak pasangan yang sedang kasmaran berkumpul di taman itu. Tangan Welson yang halus menyentuh wajah Agatha dan merapikan rambut Agatha yang tergerai di pangkuannya.


“Yank, selesai nanti mau lanjutin di mana? Luar negeri apa tetap di sini?” tanya Welson pada Agatha.


“Belom tau, Yank. Aku sih maunya di sini aja. Tapi gak taulah daddy sama mommy,” jawabnya pada Welson.


Raut wajah Agatha nampak sendu. Welson ingin menenangkannya dengan sebuah lagu. Dan kebetulan lagu itu adalah lagu yang sering Agatha dengar ketika sedang rindu pada Welson. Agatha semakin terhanyut akan merdunya suara Welson yang menyanyikan lagu “Bahasa Kalbu” dari sang diva.


Setelah menyelesaikan tarik suaranya, kini Welson merasa sangat haus. Di sekitaran danau itu kebetulan ada yang menjual es krim serta berbagai jajanan lainnya, mengingat di taman itu sedang ada sebuah pertunjukan.


“Yank, kamu haus gak? Biar aku belikan sekarang,” tawarnya pada Agatha.


“Iya, Yank. Kayaknya es krim vanilla milk enak deh,” ucap Agatha sambil menelan liurnya.


“Oke, Yank. Kamu tungguin di sini ya, aku mau ke sana,” tunjuk Welson pada sang penjual yang terpampang di sekitaran taman.


“Jangan lama!” perintahnya pada Welson.


Welson pun meninggalkan Agatha setelah mendapatkan ultimatum.


Sepeninggalan Welson, tiba-tiba Agatha melihat seseorang duduk yang tak jauh dari tempat mereka berdua. Tampak seseorang tersebut sedang memainkan kuas dan cat yang ada ditangannya. Sesekali dia melirik ke arah kursi Agatha. Ya, dia sedang melukis wajah Agatha.


Agatha yang penasaran akan orang tersebut, seketika beranjak dari kursi dan menemui orang tersebut. Menyadari akan sosok Agatha yang menghampirinya, sontak dia membalikkan lukisan wajah Agatha yang hampir selesai dilukisnya, menggantikannya dengan lembar kertas baru yang dia buat secara spontan membentuk burung beo.


“Jangan sampai dia tau kalau aku lagi lukisin wajahnya,” batin orang tersebut.


Sementara di sekitaran kursi, nampak Welson sedang mondar mandir mencari keberadaan Agatha. Namun, setelah melihat Agatha yang sedang berjalan ingin menghampiri orang tersebut, seketika Welson memanggilnya.


“Yank, kamu ngapain ke sana?” tanya Welson dengan sedikit berteriak.


Mendengar ada yang memanggilnya, Agatha menoleh ke arah suara itu. Ternyata sang pacar sedang menunggunya dengan dua es krim vanilla milk di tangannya. Agatha ingin melihat ke arah orang yang melukis itu, namun sayangnya orang itu telah lebih dulu meninggalkan Agatha. Rasa penasaran Agatha semakin menjadi-jadi akan orang tersebut.


“Ah, yaudahlah. Mungkin aku lagi salah liat,” gumamnya sembari meninggalkan tempat itu dan menghampiri Welson.


“Kamu ngapain ke sana, Yank?” tanya Welson dan menitahkan es krim pada Agatha.


“Oooh itu tadi kayak gak asing sama orangnya Yank. Tapi aku lupa, pernah ketemu di mana,” jawabnya sambil menjilati es krimnya.


“Trus kayaknya dia lagi ngelukis deh,” tambahnya lagi.


Kini, mereka berdua menikmati es krimnya duduk di atas rumput yang tertata rapi di bibir danau. Angin yang berhembus dengan sepoi-sepoi menambah suasana yang begitu menyejukkan hati dan pikiran. Apalagi ada yang memainkan gitar dan bernyanyi dengan berbagai macam lagu cinta.


“Yank, kamu lucu deh.” Welson berkata sambil mencubit pipi Agatha.


“Isshhh, gombal,” jawab Agatha dengan senyum malu-malu kucing. “Masa baru nyadar kalau aku lucu dan cantik, Yank?” sambungnya lagi.


“Hehehe. Tapi sekarang lebih lucu loh Yank. Apalagi ada itu,” jawabnya sambil menunjuk hidung Agatha yang ditempeli es krim.


Menyadari arah tangan Welson, sontak Agatha ingin meraba hidungnya. Belum sempat menaikkan tangannya, tiba-tiba Welson melarangnya.


“No. Don’t do it, dear !” cegahnya ketika Agatha ingin meraih hidungnya.


Agatha kebingungan.


“What’s the matter, baby?” tanyanya kebingungan.


“Itu. Ntar aku yang bersihin,” pungkas Welson.


Tanpa aba-aba, Welson membersihkan es krim yang menempel di hidung Agatha dengan ibu jarinya, kemudian menjilati es krim itu.


“Hmm, kok rasanya lebih manis, Yank?” Ujarnya sambil tersenyum penuh maksud.


Dan akhirnya, dia meraih wajah Agatha menghadapnya sehingga jarak pandang sangatlah dekat. Welson menghembuskan nafasnya pada hidung Agatha, yang mana membuat wajah Agatha bagaikan udang rebus. Dia merona malu, padahal berciuman sudah hal yang tak tabu lagi bagi mereka berdua.


“Emmhh, Yank. Kamu mau ngapain? Agatha bertanya menahan wajahnya yang memanas seakan bisa memanaskan makanan.


“Jangan, Yank. Aku malu.” Tambahnya lagi.


Namun, bukan Welson namanya jika misinya tak terselesaikan. Kini Welson membawa Agatha berbaring di atas rumput dengan posisi yang sangat mesra.


“Kenapa mesti malu, Yank. Kan gak ngapa-ngapain,” jawab Welson. “Toh kita juga sering kok ngelakuinnya,” ujarnya kembali.


Agatha semakin merona dibuatnya.


Jantungnya berdebar-debar bagaikan ingin copot dari daerahnya di dalam sana. Entah kenapa kali ini dia merasakan sesuatu yang sangat berbeda dari biasanya. Rasanya sangat bahagia mendapat perlakuan manis dari Welson.


Cup.....


Kini, Welson sudah berkuasa mencecap manisnya bibir sang pacar. Saling berpagutan dengan begitu nikmat, sontak tangan Agatha mengalung di leher Welson. Ciuman semakin panas. Sesekali, Welson menghentikan aksinya ketika Agatha mencubit lehernya. Bagaimana tidak, nafas Agatha seakan terkuras 180 derajat. Ciuman berlangsung cukup lama, seolah-olah tak ingin lepas dari rasa manisnya bibir sang pacar. Nafas keduanya memburu bagaikan habis lomba lari.


“Thanks, bawelku.” Welson berucap ketika ciuman mereka selesai.


Agatha hanya menjawab dengan senyuman malu dan anggukan kepala.


Jam pun sudah menunjukkan pukul 17.45. Langit senja bagaikan lembayung merah begitu sangat indah. Posisi mereka masih berbaring di atas rumput. Agatha berbaring di atas lengan Welson sebagai sanggahannya. Mereka menatap langit sore yang sama. Tertawa dan tersenyum bersama menikmati romantisnya acara mereka hari ini, seolah-olah dunia pada sore ini milik mereka berdua.


“Yank, udah hampir jam 18.00 nih. Balik yuk!” ucap Welson sambil membawa Agatha bangun.


“Hmmmm, okelah Yank,” jawabnya dengan wajah sedikit cemberut.


Sebenarnya, Agatha ingin lebih lama menikmati momen-momen romantis mereka berdua. Dari yang sebelum-sebelumnya, baru kali inilah Agatha merasakan sangat romantis, terlebih lagi dengan udara yang sangat segar.


“Gendongg,” rengekannya pada Welson.


“Apa sih yang enggak buat bawel kesayangan.” Welson terkekeh seketika dia menggendong Agatha.

__ADS_1


Tak peduli dengan orang yang berlalu lalang di taman itu, mereka fokus akan perjalanannya menuju mobil diparkirkan.


Ternyata, seseorang masih memperhatikan keberadaan Agatha dan Welson. Mulai dari makan es krim bersama hingga dia menyaksikan ciuman panas mereka berdua. Dia yang melihat itu hanya bisa tersenyum datar tanpa rasa.


“Huuffff! Syukurlah kamu bahagia, Tha. Setidaknya aku akan terus memantaumu dari kejauhan. Membayangkan wajahmu dan ku lukiskan di lukisanku, aku udah bahagia. Jangan sampai aku melihatmu menangis karena perlakuan manis Welson. Aku harap, jika kamu merasa kesepian, aku bersedia menjadi teman curhatmu,” ucapnya dengan wajah datar dan mengelus dadanya.


Mencintai dan mengagumi dalam diam tidaklah nyaman, terlebih lagi orang itu dekat dengan kita. Kita hanya mampu berperang dengan perasaan diri kita sendiri, berperang dengan rasa yang campur aduk bagaikan seblak.


Sementara di mobil, tampak keduanya telah bersiap melajukan kendaraan.


“Mau diantar sampai rumah gak?” Welson menawarkan diri.


“Kalau ngantar aku sampai rumah, ntar kamu naik apa Yank?” tanyanya pada Welson.


“Udah, gak pa-pa Yank. Aku kan bisa naik mas-mas hijau,” tukas Welson.


“What? Mas-mas hijau? Itu apaan Yank?” Agatha bertanya kaget.


“Wkwk. Dasar bawel, masa gak tau mas-mas hijau. Ojol Yank, ojol.” Welson terkekeh.


Kini mereka sudah melintasi jalan yang telah dihiasi lampu-lampu pinggiran jalan dan lampu kendaraan. Jalanan yang lumayan padat membuat mereka menurunkan laju kendaraannya. Tanpa mereka sadari, ada sebuah mobil yang sangat mentereng mengikuti mereka dari belakang. Kini mereka sedang berada di lampu merah. Tak lama, traffic light berpindah posisi dari merah ke hijau.


Setelah berapa lama, mobil tersebut terus saja membuntuti mereka. Agatha baru menyadari itu.


“Yank, kok perasaan ku dari tadi mobil itu terus membuntuti kita Yank?” ujar Agatha sambil menoleh spion mobilnya.


Welson yang fokus mengemudi, tak menghiraukan pertanyaan Agatha.


“Yank, kamu dengerin aku gak sih?” ketusnya cemberut.


“Ehh, apa Yank?” tanya Welson.


“Coba deh liat di belakang!” perintah Agatha yang langsung diikutin oleh Welson dan melihat lewat kaca spion.


“Gak ada apa-apa di belakang Yank.” Welson kembali fokus menyetir.


“Ihhh, coba perhatikan baik-baik deh Yank. Itu mobil kayak lagi ngikutin kita dari tadi,” terangnya kembali pada Welson.


Dan, Welson pun baru menyadari ada mobil yang mengikuti mereka. Karena hal itu, kini Welson menancap gas dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


“Yank, hati-hati, jangan ngebut dong,” ucap Agatha khawatir.


“Tenang dulu Yank, aku mau mancing dia beneran ngikutin kita apa enggak,” ujarnya memberikan ketenangan pada Agatha.


Lagi-lagi mobil itu terus membuntuti mereka. Sementara seseorang yang membuntuti Agatha dan Welson, seolah-olah tau bahwa mereka telah mengetahuinya. Sehingga dia menurunkan gas mobilnya.


Tak membutuhkan waktu lama, tibalah mereka di kompleks perumahan elit milik keluarga William. Mang Judas yang mendengar deru mesin mobil, buru-buru membuka gerbang depan agar sang nona kecilnya bisa masuk tanpa harus diklakson berkali-kali.


“Akhirnya kita sampai juga Yank.” Welson bersuara sambil meraih tangan Agatha lalu menciumnya. Lagi-lagi Agatha merona.


“Yank, kamu yakin pulang naik ojol?” tanya Agatha kembali untuk memastikan.


“Yakin dong. Orang tampan gitu lho.” Welson membanggakan diri yang mengundang tawa Agatha.


“Ihhhh PD banget sih, jelekku.” Agatha mencubit perut Welson.


“Aucchhhh, sakit Yank,” bohong Welson, padahal cubitan itu sama sekali tak membuat Welson kesakitan.


Mereka berdua turun dari mobil. Kini mang Judas yang mengambil alih mobil itu dan memasukinya ke dalam garasi khusus Agatha.


“Yaudah, Yank. Pulang gih, aku tungguin di sini,” ucap Agatha.


“Kamu dulu yang masuk ke rumah, baru aku pulang, Yank,” pungkas Welson.


Terjadilah saling dorong mendorong siapa yang duluan dan siapa yang terakhir. Akhirnya Agatha lah yang kalah.


“Udah, masuk sana, Yank. Kangen-kangenannya besok lagi,” godanya pada Agatha dan mencium kening Agatha.


“Aku masuk ya. Jangan nakal! Miss you, jelek.” Ujar Agatha berlalu masuk dan tersenyum pada Welson.


“Bye, bawelku sayang.” Welson melambaikan tangannya pada Agatha setelah memastikan Agatha benar-benar masuk atau tidak.


Akhirnya dia memesan ojol untuk mengantarkannya kembali ke rumah. Tak membutuhkan waktu lama, kini Welson telah sampai di rumahnya berkat ojol (ojek online).


 🕊️🕊️🕊️


Tampak di ruang keluarga, daddy dan mommy nya sedang duduk di sofa. Daddy nya sambil membaca file-file yang dikirim oleh asisten pribadinya, dan sang mommy sedang menyaksikan acara amal kasih di televisi.


Menyadari anaknya sudah pulang, sang mommy tiba-tiba bertanya.


“Dari mana kamu jam segini baru pulang?” tanya mommy nya menyelidik.


“Gak ke mana-mana kok Mommy. Cuma jalan sama temen,” jawabnya.


“Lalu cowok itu tadi siapa? Berani-beraninya kalian seperti itu!” ucap mommy nya marah.


“Kalau sampai kamu buat malu keluarga, mau pasang di mana wajah kita?” tambahnya lagi.


“Daddy akan tarik semua fasilitas yang sudah Daddy kasih jika kamu memalukan nama keluarga,” tukas sang daddy dengan tegas.


Karena orang tuanya selalu saja menyudutinya, akhirnya dia menjawab.


“Peduli apa Daddy sama Mommy sama aku selama ini? Fasilitas yang kalian kasih tak cukup mengobati rasa sakitku karena ulah kalian. Kalian selalu saja tak memperhatikanku, bahkan hanya duduk sekedar mengobrol kecil saja kalian tak sempat. Sepenting itukah pekerjaan dibandingkan keluarga? Apa kalian tau jika selama ini aku selalu kesepian? Aku rindu masa-masa di mana kita selalu bersama, Dadd. Bahkan, selesai sarapan pagi tadi, ingin rasanya mengajak kalian ngobrol buat mengobati rasa rinduku pada kalian, tapi apa? Mana? Sebenarnya aku ini anak kalian apa bukan?” jawabannya disertai dengan isakan tangis.


Plak !!!


Sebuah tamparan dari sang mommy lolos begitu saja di wajahnya.


“Bahkan sekarang Mommy berani menamparku hanya karena pengakuanku,” jawabannya yang ingin membuat mommy nya mengayunkan tangannya kembali.


“Apa? Apa Mom? Ayo tampar lagi! Jika belum puas, masih ada satu pipi lagi!” tantang Agatha kembali.


“Cukup! Beraninya kamu melawan Mommy mu!” bentak sang mommy dan Agatha tersentak kaget.


“Ma, cukup, Ma. Biarkan saja dia!” hardik sang daddy dari duduknya.


Agatha tak habis pikir dengan perlakuan Mommy nya. Akhirnya dia meninggalkan ruang keluarga tersebut sambil menangis.


Lagi dan lagi Bi Momon menyaksikannya.


“Ya Tuhan, kasihan sekali kamu non. Yang sabar ya. Kelak pintu hati mereka akan dibukakan oleh Tuhan, dan bagaimana pentingnya keluarga dari apapun,” gumam Bi Momon sambil menghapus air matanya.


To be continued........

__ADS_1


Hallo Readers, jangan lupa tetap dukung terus karya Author ya. Vote, like, komen, favorite, sama tipnya juga ya, hehe. Tuhan memberkati.


__ADS_2