Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Menyukai Dalam Diam.


__ADS_3

(Pokoknya, cinta itu saling menghargai, bukan merusak. -Agatha William-)


🕊️🕊️🕊️


Waktu yang sama, di kediaman cowok itu.


Tampak dia tengah duduk di sebuah kursi taman di belakang rumahnya. Cat air dan kuas lukisannya itu selalu dibawa ketika ingin menyendiri. Dengan secangkir cokelat panas dan dua potong roti bakar, dia menikmati siang itu yang hampir mendekati sore hari. Udaranya sangat sejuk, terasa dari setiap terpaan angin yang sepoi-sepoi. Dia menyeruput cokelat panasnya, kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Menarik napas perlahan lalu menghembuskannya. Terlintas dalam pandangan matanya, Agatha tersenyum pada dirinya. Entah mengapa setiap kali dia melamun, wajah Agatha selalu saja datang dengan senyum simpul dan selalu mampir di dalam jangkauan matanya. Dia kembali mengingat sewaktu pulang sekolah tadi. Dia tersenyum sendiri seperti orang gila.


“Hmmm, wangi rambutnya masih menyeruak di hidungku.” Ucapnya seperti mengendus aroma rambut Agatha, seolah sang pemilik rambut ada di pelukannya.


“Dia sedang apa, ya? Apa ku telepon aja orangnya?” dia menimang-nimang niatnya.


“Gak usah aja deh. Mungkin dia sedang istirahat, takutnya gangguin istirahatnya.” Dia mengurungkan niatnya merogoh ponsel di saku celananya.


Ingin melukis pun rasanya susah. Pikirannya selalu saja digentayangi oleh Agatha. Wajah cantik Agatha, senyum manisnya semua membaur menjadi satu di dalam otaknya.


“Aarrggggghhhhh gila! Ini benar-benar gila!” ucapnya sekeras mungkin, berusaha membuang jauh-jauh bayangan Agatha dalam pikirannya. Namun, semakin dia bersikeras membuyarkan pikirannya sendiri, bayangan itu seolah-olah tidak ingin lepas darinya.


“Oh, God! What’s the matter with me???” ucapnya menengadah ke langit.


“Senyummu, wajahmu, matamu, dan semua yang ada padamu sungguh membuatku tergila-gila, Agatha.” Tambahnya.


“Coba saja kita bisa saling bertatap mata seperti kamu menabrakku sepulang sekolah tadi. Itulah hal yang selalu aku impikan dan harapkan.”


“When i look into your eyes, my hearts starts racing and I see myself falling for you. (Ketika aku melihat matamu, hatiku mulai berdebar kencang dan aku melihat diriku jatuh cinta padamu).” Dia berkata sambil tersenyum pada diri sendiri.


Terkadang, perasaan tulus seseorang tidak menjamin ia juga akan tulus terhadap diri kita. Kadang lebih mudah untuk dicintai daripada mencintai tanpa balasan yang pasti. Sejatinya, jika memang mereka ditakdirkan untuk bersama, niscaya itu akan berbalik padanya meskipun berbagai hal dan rintangan yang harus dilalui. Begitu juga dengan kisah dan perasaan Dirgo. Ia yakin, jika memang Agatha ditakdirkan untuknya, sudah pasti akan berada dalam dekapan dan pangkuannya.


“Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Ahhh! Biarkan saja aku menyukaimu dalam diam. And, just wait until I can make you feel my love.” Ucapnya penuh percaya diri.


🕊️🕊️🕊️


Back to Agatha’s House.


Welson memandangi isi di dalam nampan yang Bi Momon letakkan di atas meja. Perutnya yang terasa kosong seolah langsung terkoneksi dengan benda di depan matanya.


“Cuma diliat gitu doang, Den?” tanya Bi Momon mengagetkan Welson.


“Eh, iya Bi. Sepertinya enak.” Ucapnya, padahal cemilan itu sudah kedua kalinya menerobos kerongkongannya barusan.


“Den kalau bilang sepertinya enak jangan sambil menikmatinya! Seharusnya sebelum Aden eksekusi baru boleh bilang seperti itu.” Protes Bi Momon pada pacar nona kecilnya.


“Haha. Bibi bisa aja. Oh iya, Bi! Masa' Agatha bilang saya gak tampan? Padahal ketampanan saya bisa mengalahkan siapa saja di dunia ini alias ketampanan yang sangat paripurna.” Ucap Welson mengadu pada Bi Momon dengan sembari memuji dirinya. Bi Momon yang mendengar itu hanya tertawa geli.

__ADS_1


“Haha. Baru kali ini Bibi mendengar ada ketampanan sekelas laut Natuna, Den.” Jawab Bi Momon dengan percaya diri, padahal yang dia ucapkan selalu melenceng dari yang diucapkan lawan bicaranya.


“Astaga, Bibi!” Agatha melototkan matanya dan memberi kode supaya kembali ke dapur.


Mendapat kode dari Agatha, Bi Momon segera melangkah pergi menjauhi gazebo, menyisakan Agatha dan Welson di sana. Agatha tersenyum melihat Welson menikmati cemilan dan teh dari Bi Momon. Saking asyik tersenyum menatap Welson, hingga tak sadar Welson memanggilnya.


“Heii, kenapa senyum-senyum seperti itu? Iya, aku emang cakep kok.” Welson kembali memuji dirinya.


Karena Agatha masih saja asyik tersenyum dengan mata menatap wajah Welson, Welson mengibaskan tangannya pada wajah Agatha supaya Agatha kembali tersadar dari tingkah anehnya. Agatha tersentak kaget.


“Kenapa?” tanya Agatha.


“Kamu lagi mikirin apa sampai tak sadar aku memanggilmu?” Welson balik bertanya.


“Apa jangan-jangan kamu lagi membayangkan ciuman kita barusan ya?” tambahnya dengan mengedipkan mata buayanya.


“Haissttt, siapa coba yang mikirin itu. Itu mah akal-akalanmu saja, Yank.” Dengus Agatha.


“Beneran gak mikirin ciuman tadi?” Welson terkekeh.


Agatha tak menjawab pertanyaan Welson. Jika saja masih dibahas, sudah pasti Welson akan menghujaninya dengan ciuman gilanya. Maka dari itu, ia memilih diam dan tak menjawab. Udara di gazebo terasa sangat sejuk, sehingga membuat Agatha sedikit menguap. Mengingat sebelum Welson ke rumahnya, ia baru saja akan memejamkan matanya, namun ulah Bi Momon membuatnya terjengit dan malah menemani Welson. Agatha memandang wajah Welson sekilas. Ujung bibirnya yang luka, kini telah bersih. Entah bersih karena dibersihkan Agatha dengan alkohol atau malah bersih karena ciuman panas mereka.


“Udah selesai kan?” tanya Agatha tiba-tiba, membuat Welson menyeringai.


“Apanya yang selesai, Yank? Mau aku cium lagi ya?” jawab Welson tanpa berdosa.


Agatha menoyor lengan Welson. Entah bagaimana dan apa penyebabnya, setiap kali Agatha berbicara dengan Welson, pasti selalu dikaitkan dengan ciuman oleh Welson.


“Dasar mesum! Mau ku sumpel mulutnya pake batok kelapa? Biar gak bisa nyosor-nyosor lagi?” tukas Agatha.


“Wuihhh! Kejam amat sih, Yank. Nanti gimana kalo aku mau minta asupannya?” ucap Welson masih dengan segala ide nakalnya.


“Makanya jangan nakal!” Agatha menjawab simpul.


“Yank, dia belom bobo nih? Gimana dong?” Welson berujar dengan bersikap manja.


“Apanya yang belom bobo?” tanya Agatha mengernitkan dahinya. Pasalnya yang diucapkan Welson sama sekali tidak dimengerti oleh Agatha.


“Ini!” ucap Welson cepat, lalu menunjukkan salah satu tangannya ke bagian celana yang sedikit bergelembung karena ada sesuatu yang tegang di sana. Agatha tak menyangka, bahwa yang dimaksudkan Welson adalah senjata pribadinya. Lagi-lagi Agatha menoyor lengan Welson.


Bugghhh!!!


“Mulai lagi kan gesreknya.” Agatha mendengus kesal.

__ADS_1


“Tehnya masih ada ‘kan?” tambah Agatha.


“Ho oh. Masih ada kok.” Jawab Welson santai.


“Masih panas gak?”


“Iya. Eh, hangat-hangat kuku sih. Emang kenapa, Yank?” tanya Welson heran.


“Kamu mau supaya senjatamu bobo lagi 'kan?” Agatha balik bertanya dengan sedikit penekanan.


“Iya. Lagian kamu gak mau menidurkannya. Hanya sekali juga gak apa-apa kali.” Jawab Welson, yang mana membuat Agatha jengah sendiri oleh Welson.


“Apa kamu gila? Kita ini masih anak sekolahan. Dan aku gak mau hamil gara-gara rudal gilamu itu. Lagian aku juga mau kuliah sebelum aku nikah.” Agatha memalingkan wajahnya dan mendekapkan kedua tangannya ke dada.


“Sebenarnya kamu sayang gak sih sama aku?” lanjut Agatha dengan wajah serius.


Welson yang mendapat pertanyaan itu seketika gelagapan. Belum juga Agatha mengetahui kebusukannya, hanya ditanya seperti itu sudah membuatnya gelagapan.


“Iya sayanglah. Kenapa nanya kayak gitu?” tanya Welson dengan cengar-cengir.


“Sejatinya, jika pria mencintai dan menyayangi wanitanya, dia akan menghargai serta menghormati wanitanya. Bukan dilecehkan dan juga bukan bertindak seenaknya tanpa memikirkan wanitanya.” Jawab Agatha dengan wajah serius, perkataannya itu mampu membungkam mulut Welson.


“Jika hanya sebatas ciuman, oke, aku terima. Bahkan itu menurutku adalah hal yang tak tabu lagi bagi kebanyakan remaja seperti kita. Tapi, jika kamu memintaku untuk memenuhi hasratmu itu, maaf, aku gak bisa. Nah, sekarang aku tanya sama kamu, kamu tinggal milih yang mana antara udahan atau masih lanjut?” tambahnya lagi tanpa menatap wajah Welson.


“Ma..maksud kamu apa, Yank?” tanya Welson terbata-bata.


“Apakah masih kurang jelas yang aku katakan barusan? Bukankah kamu bisa mencerna semuanya kata demi kata?”


“Maksud kamu kita PUTUS?” tanya Welson dengan menekankan kata putus.


“Udah tau kenapa nanya? Jika kamu menginginkan cewek yang seenaknya buat kamu keluar masuk untuk memuaskan hasratmu, lebih baik kita akhiri saja sampai di sini.” Ucap Agatha dengan mata berkaca-kaca, perlahan air mata itu berhasil membasahi pipinya.


“Sayang, jangan gitu dong. Bukankan kamu telah menyetujui ketika selesai nanti kita juga akan melakukannya? Apa kamu lupa?” ujar Welson tetap pada pendiriannya.


“Bukan berarti juga aku harus memenuhi hal konyol yang kamu minta itu.” Agatha menangis sesenggukkan.


“Yaudah, aku minta maaf jika itu membuatmu tak nyaman. Aku tau kamu belum siap untuk itu.” Ucap Welson kemudian menarik Agatha ke hadapannya, menghapus air mata Agatha dengan kedua ibu jarinya.


Semakin Welson memperlakukannya seperti itu, semakin kencang pula isakan tangis Agatha. Sakit memang jika mengucapkan kata putus, apalagi jika masih sayang pada orang yang kita cintai, begitu juga yang Agatha rasakan saat ini. Hatinya terasa sakit dengan ucapannya sendiri.


“Sssttttt! Udah jangan nangis!” Welson kembali menarik wajah Agatha dan memberikan kecupan simpul di bibir Agatha, lalu memeluknya.


“Kamu jahat tau gak.” Agatha terisak sambil memukul dada bidang Welson yang kini tengah memeluknya.

__ADS_1


“Pukul aja, gak pa-pa. Asal jangan kuat-kuat, ntar aku keok loh.” Ucap Welson berusaha menenangkan Agatha, tangannya mengusap rambut Agatha dengan pola yang tak karuan.


🕊️🕊️🕊️


__ADS_2