
Selesai berpelukan, Welson membawa Agatha duduk ke kursi yang tersedia di sana. Langit senja pun perlahan-lahan meninggalkan warna merah jingga dan berganti dengan warna gelap yang menandakan bahwa saat ini sudah petang.
“Yank, sudah petang nih. Balik villa, ya!” Agatha menatap Welson meminta jawaban.
“Di sini aja dulu! Lihatlah, sekitaran pantai ini sangat indah, sayang!” ucap Welson. tangannya menunjuk ke sekitaran pantai yang memang sangat indah karena lampu-lampu yang berjejer di pantai, kesannya sangat menyejukkan pandangan.
Apalagi ditambah dengan hembusan semilir angin yang menyapu kulit setiap insan yang sedang berada di pantai menikmati indahnya ciptaan tangan Tuhan yang maha dahsyat. Jika sudah seperti itu, nikmat dan anugerah yang mana lagi yang didusta? Semuanya tinggal menikmati dan menjaga titipan Tuhan untuk kita.
“Sayang, ayolah!” Agatha kembali mengajak Welson untuk kembali ke villa seraya menggenggam tangan Welson.
“Sebentar lagi, ya!” pinta Welson, namun Agatha tak setuju.
“Yank, aku belum mandi loh,” timpal Agatha memelas.
Namun, bukannya menjawab, Welson malah kembali merengkuh Agatha dan membawanya ke dalam pelukan. Tangannya mengusap kepala Agatha serta membelai punggung Agatha dengan lembut. Agatha bergidik ngeri ketika Welson meraba punggungnya.
“Yank, lepasin ih! Aku benaran mau mandi.” Agatha berusaha melepaskan diri dari dekapan Welson.
“Kamu udah cantik, ngapain harus mandi?” ucap Welson menggombal.
“Gombal. Emang kamu mau kalau aku bau jigong, bau keringat?” tanya Agatha berusaha menatap mata Welson. Ketika pandangan mata mereka bertemu dan beradu, Welson mengedipkan matanya, sontak membuat Agatha mencubit dagu Welson karena orang yang sedang ia tatap genitnya bukan main.
“Sayang, ayolah!” pinta Agatha kembali dengan mengerucutkan bibirnya yang sexy.
“Bentar lagi ya!” Welson tersenyum.
“Ishhh, kamu mah gitu, gak asyik,” rengek Agatha.
“Jangan cemberut kayak gitu, nanti aku cubit, mau?” Welson mengedipkan matanya lalu tersenyum.
“Yank, aku boleh nanya sesuatu gak?” tanya Agatha hati-hati.
“Hm?” jawab Welson singkat.
“Issh, bisa gak jangan gitu jawabnya, Yank?” Agatha mendesis, “apa kamu mau menandingi Nisa Sabyan?”
“Bukanlah, aku kan gak bisa nyanyi, sayang.” Welson mengacak-acak rambut Agatha.
“Doyan amat ngacakin rambutku, Yank?” ujar Agatha seraya menahan tangan Welson.
“Kamu mau nanya apaan, sayang?” tanya Welson.
“Nanti aja deh. Ayo balik ke villa!” ajak Agatha pada Welson. Welson pun akhirnya menuruti permintaan Agatha yang sudah seperti anak kecil meminta jajan.
Mereka berdua meninggalkan kursi di bibir pantai dan segera bergegas ke villa. Sesampainya di villa, teman-temannya sudah menunggu di sofa ruang tamu. Semua mata tertuju pada Agatha dan Welson yang baru saja tiba di villa.
“Dari mana aja kalian berdua?” tanya Yadi penasaran.
“Dari pantai. Kenapa?” Agatha balik bertanya.
__ADS_1
“Oh dari pantai. Enggak apa-apa, cuma nanya doang kok, Tha,” jawab Yadi kembali.
Agatha melangkah menuju tangga untuk kembali ke kamarnya karena ingin membersihkan badannya setelah berpamitan pada teman-temannya. Ia menghempaskan badannya ke kasur sejenak. Badannya terasa lelah setelah meluapkan amarahnya pada Welson saat di pantai. Namun, amarahnya dapat teredam karena bujuk rayuan dan perlakuan manis dari Welson. Ia terperangkap dan terjerat oleh semua perlakuan dan tipu daya Welson.
“Arrgghhh, kenapa aku gak bisa marah sama dia? Perlakuan manisnya semakin membuatku jatuh dalam cinta yang menggelora.” Agatha mendesah di atas kasur. Kemudian ia segera bangun dan menuju kamar mandi. Jika masih saja berbaring, mungkin ia sudah terlelap tidur dan melewatkan makan malam, sama seperti di rumahnya.
Selesai berbenah diri, ia turun ke bawah untuk menemui yang lainnya yang sudah duduk manis di sofa ruang tamu. Dari atas, ia melihat teman-temannya saling bercanda ria, entah apa yang mereka bicarakan. Karena Agatha sudah berada bersama mereka, akhirnya mereka berembuk untuk makan di luar atau makan di villa saja. Karena semuanya setuju makan di luar, akhirnya Agatha pun ikut serta bersama mereka. Sebenarnya ia malas untuk keluar, tetapi mengingat jika sendiri di villa, rasa bosan pasti menghampirinya. Jadi, ia memilih untuk ikut serta.
“Kita makan di restoran depan saja, ya.” Dirgo menatap teman-temannya lalu menyambar ponselnya yang tergeletak di meja.
“Pakai mobil?” tanya Memey, karena ia masih fokus dengan ponselnya sendiri.
“Enggak! Kita jalan kaki aja. Kan dekat,” jawab Dirgo lalu berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah pintu depan.
Mereka semua pun ikut melangkahkan kakinya mengikuti arah Dirgo. Agatha dan Welson kembali bergandengan tangan sehingga Nadine yang di belakang mereka berdua menatap jengkel pada orang yang di depannya. Dalam beberapa menit, mereka semua telah sampai di restoran yang dimaksud Dirgo sebelum mereka pergi. Restoran yang terkesan sederhana namun elegan karena ditambah dengan pemandangan laut dan pantai.
Lama mereka bergulat dengan sendok dan garpu, akhirnya makanan pun selesai mereka santap. Agatha dan Welson memilih kembali ke kursi yang berada tepat di pantai. Saling bersandar satu sama lain, sayup-sayup mereka mendengar sebuah lantunan lagu yang diiringi dengan petikan gitar, bintang-bintang yang berkedap-kedip membuat suasana menjadi sangat indah. Mereka berdua menikmati itu semua.
“Kamu kenapa gak cerita?” tanya Agatha tiba-tiba. Welson kaget karena pertanyaan itu.
“Cerita apaan?” Welson memutar badannya dan menatap Agatha.
“Soal kamu yang berantem sama Rico.” Raut wajah Agatha terlihat serius.
“Udahlah, gak usah dibahas, sayang,” potong Welson seolah tidak mau berbagi pada Agatha.
“Harus dibahas! Aku gak suka sifat kamu seperti itu. Apakah kamu sudah minta maaf?” tanya Agatha kembali.
“Wels, serius! Apa susahnya tinggal minta maaf?” Nada suara Agatha meninggi dari sebelumnya dan memanggil Welson dengan sebutan nama. Welson kaget melihat tindakan Agatha yang berbeda dari sebelumnya.
“Kalau aku gak salah, haruskah aku minta maaf, sayang?” Welson mencoba membujuk Agatha supaya tidak marah padanya.
“Kamu sudah dewasa, harusnya kamu bisa menelaah mana yang benar dan mana yang salah!” Agatha menatap Welson dengan tatapan serius.
“Sayang, jangan marah!” Dia mengacak lembut rambut Agatha yang berada di depannya, namun tangannya segera ditepis oleh Agatha. Lagi-lagi Welson terkejut karena Agatha tak seperti yang biasanya.
“Apa alasan kamu gak mau meminta maaf?” tanya Agatha, “tinggal minta maaf saja susah!”
“Ya karena aku gak salah, sayang. Aku gak bakalan mulai jika bukan dia yang memancing keributan. Aku gak terima kamu dijelek-jelekin dia!” jawab Welson sesuai apa yang sebenarnya terjadi.
“Lalu?”
“Dia yang memulai duluan!” Welson menjawab seperti seorang anak kecil yang sedang ketahuan bersalah oleh ibunya.
“Tapi, diliat dari sudut mana pun, kamu tetap salah.”
Welson terdiam, membiarkan Agatha mengoceh dan memarahinya. Sebenarnya Welson dan Rico sudah saling memaafkan di ruangan kepala sekolah, namun Welson ingin menjahili Agatha.
“Kamu benaran marah sama aku, hm?” Tangan Welson sudah menangkup wajah Agatha dan menatapnya dengan penuh maksud.
__ADS_1
“Jangan sentuh aku!” Agatha berusaha melepas tangan Welson dari wajahnya. Namun, Welson segera merengkuh Agatha masuk ke dalam dekapannya supaya tidak marah lagi.
“Dengarkan aku! Sebenarnya aku sudah meminta maaf saat kejadian itu juga, di ruangan kepala sekolah.” Welson mengusap lembut pipi Agatha.
“Kamu sengaja ya bikin aku emosi, gitu?” tanya Agatha tak terima karena Welson malah mengerjainya.
“Haha. Kan sudah ku bilang, jangan dibahas,” jawab Welson dengan tertawa, Agatha semakin geram dengan tingkah Welson. Lantas Agatha mencubit perut Welson dengan sangat kencang karena saking kesalnya pada pacarnya itu.
“Ampun!” Kata-kata itu yang Welson ucapkan. Ia berpura-pura pingsan akibat cubitan Agatha. Agatha panik mendapati Welson terbaring di kursi tanpa berkata apa-apa lagi. Ia mencoba mengguncang tubuh Welson, namun Welson tak juga bangun. Agatha semakin panik.
“Sayang, kamu kenapa?” Raut wajah Agatha khawatir dan matanya sudah berkaca-kaca. Ia takut akan terjadi apa-apa sama Welson.
“Oh my God! Ini gimana?” Seketika Agatha menangis. Welson membuka matanya sedikit ingin melihat reaksi wajah Agatha.
“Sayang, bangun! Jangan tinggalin aku! Hiks...hiks...hiks.” Agatha menangis tersedu-sedu. Ia mengira bahwa Welson sudah menghembuskan napas terakhir dan meninggalkannya seorang diri. Tangisnya semakin menjadi. Kata-kata maaf telah berkali-kali ia ucapkan untuk Welson dan ia berjanji tidak akan mencubitnya lagi jika Welson kembali bangun, itulah yang dia ucapkan diisakan tangisnya.
“Ku mohon, bangunlah sayang! Aku cinta sama kamu. Hiks.” Agatha kembali mengguncang tubuh Welson. Mendengar ucapan Agatha, Welson tersenyum. Ia lupa bahwa ia sedang menjahili Agatha.
“Sayang, kok kamu tersenyum? Kamu pura-pura ya?” tanya Agatha, tangisnya kembali mereda. Tidak ada jawaban dari Welson.
“Kalau kamu menjahiliku, awas aja nanti,” ucap Agatha dan tangannya refleks mencubit bibir Welson. Welson tak menggeliat. Akhirnya Agatha kembali mencubit bibir Welson seraya mencondongkan wajahnya. Secepat kilat Welson menangkup wajah Agatha dan mulai menghujani Agatha dengan ciumannya. Ya, mereka kembali berciuman.
“Hmmmmpppp.” Agatha memukul-mukul dada bidang Welson karena jengkel. Welson selalu saja mencari kesempatan di dalam kesempitan. Kalau Memey bilang, kesempatan di dalam peluang.
Puas menghujani Agatha dengan ciuman, Welson bangun dan merapikan rambut Agatha yang terlihat berantakan karena ulahnya.
“Makin hari bibirmu semakin manis. Kamu sengaja ya menggodaku?” tanya Welson tersenyum dan mengedipkan mata belangnya.
“Huh! Kamunya aja yang otak mesum. Mana mungkin bibirku mengandung madu lebah?” Agatha mendengus.
“Oh iya, kamu juga makin lincah dalam berciuman. Aku suka,” ujar Welson tanpa berdosa.
“Don’t say anything!” sergah Agatha karena ia merasa malu dengan penuturan Welson.
Mereka menghabiskan waktu cukup lama di pantai, dengan Welson yang hampir saja membuat Agatha jantungan karena ulahnya. Teman-temannya yang lain sudah duluan kembali ke villa.
“Kamu lupa ya sama aku? Kamu selalu saja menghabiskan waktu bersama Agatha.” Nadine mengirimkan chat pada Welson.
Welson membuka ponselnya dan membaca chat dari Nadine. Ia tampak tersenyum. Agatha menatap bingung karena Welson tersenyum ketika melihat ponselnya.
“Siapa yang chat?” tanya Agatha.
“Bukan siapa-siapa, sayang.” Welson memasukkan ponselnya ke saku celananya.
“Oh. Ayo balik, Yank. Aku ngantuk,” ucap Agatha sambil menguap.
“Ayo. Aku juga mengantuk.” Welson tanpa aba-aba memberikan punggungnya pada Agatha agar Agatha naik dan ia akan menggendongnya sampai tiba di villa. Agatha yang paham dengan maksud Welson, dengan senang hati ia melompat di atas punggung Welson. Mereka kembali ke villa dengan Agatha digendong Welson.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
To be continued....