Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Semoga Tidak Sesaat Saja!


__ADS_3

Seluruh isi ruang tamu pecah oleh isakan tangis Nyonya Daria dan Bi Momon. Namun, yang paling histeris adalah Bi Momon dibandingkan Nyonya Daria. Tampak dalam siaran berita itu, kecelakaan itu adalah kecelakaan tunggal, yang mana sebuah mobil itu menabrak trotoar.


Dua puluh menit kemudian, terdengar suara ketukan dan bel pintu utama rumah Agatha. Bi Momon segera menghapus air matanya dan menuju pintu untuk membukanya. Matanya terbelalak menyaksikan semua yang terjadi di depan matanya. Bi Momon mematung tak bergeming. “Siapa mereka?” tanyanya dalam hati.


Karena melihat asistennya tidak mempersilakan yang baru saja mengetuk pintu itu untuk masuk, Nyonya Daria perlahan meredam tangisnya dan membuka suaranya.


“Siapa yang datang, Bi? Kenapa tidak disuruh masuk saja?” tanya Nyonya Daria dengan sesenggukan. Namun, pertanyaannya diacuhkan Bi Momon karena Bi Momon masih saja membelalakan matanya. Akhirnya Nyonya Daria pun menyusul Bi Momon ke pintu utama karena penasaran mengapa Bi Momon diam tak bergeming. “Siapa?” tanya Nyonya Daria sebelum melihat ke depan.


Nyonya Daria juga sama terkejutnya dengan Bi Momon melihatnya. Ada rasa tak percaya atas semua yang terjadi. Kedua mata Nyonya Daria kembali basah, lalu bertanya, “kamu tidak apa-apa, sayang?” Nyonya Daria lantas membawa Agatha pada pelukannya. Diusap-usapnya kepala Agatha lalu menciumnya.


Agatha kebingungan sendiri melihat mommy nya dan Bi Momon yang menangis ketika melihatnya datang. Teman-temannya yang ada di halaman pun menatap heran. Sekali lagi mommy nya bertanya, “ini benar kamu, kan, sayang? Ayo jawab Mommy, sayang!”


“Non, ini benaran kamu apa hantunya?” timpal Bi Momon dengan air mata yang masih saja mengalir.


Pertanyaan dari mommy nya dan Bi Momon serasa membuatnya pusing tujuh keliling. Agatha melonggarkan pelukannya dari sang mommy. “Tunggu! Apa maksud ini semua, Mom? Kenapa kalian menangis?” Agatha menatap mommy nya dan Bi Momon secara bergantian. “Mommy, ada apa dengan kalian? Apa semuanya baik-baik saja? Daddy kemana?” tanya Agatha dengan beruntun. Namun, mendengar suara Agatha, Nyonya Daria serta Bi Momon kembali menangis.


Teman-temannya pun mendekat ke arah mereka bertiga yang masih saja berdiri di depan pintu. “Tante, apa yang terjadi?” tanya Dirgo setelah mendekat ke arah pintu utama keluarga William tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.


“Kalian tidak apa-apa, kan?” Nyonya Daria menatap teman-teman Agatha satu demi satu, memastikan bahwa semuanya memang tidak terjadi apa-apa.


“Kami baik-baik saja, Tante. Ini baru saja sampai,” tukas Welson menimpali.


“Puji Tuhan. Kalian tidak apa-apa. Bibi senang mendengarnya,” ucap Bi Momon dengan kedua tangannya mengusap air matanya yang membasahi pipi.


Agatha menatap mommy nya sekali lagi karena ia masih tidak paham dengan semuanya. “Mom, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kalian begitu menyedihkan? Jangan buat aku khawatir, Mom,” tanya Agatha, lalu kedua tangannya memegang tangan sang mommy.


“Sudah, tidak apa-apa, sayang,” jawabnya pada Agatha. “Kalian hampir saja membuat Tante jantungan, tau.” Nyonya Daria menatap teman-teman Agatha yang lainnya.


“Maafkan kami, Tante.” Memey memberanikan diri menatap wajah Nyonya Daria.


“Kenapa kamu meminta maaf, cantik?” tanya Nyonya Daria dengan suara pelan.


“Tidak apa-apa, Tante. Saya hanya mau meminta maaf saja,” jawab Memey dengan tersenyum. Sontak Welson menyenggol kaki Memey karena bersikap tidak tau malu.


“Apaan sih? Sensi amat lo sama gue.” Memey menjauhi diri dari Welson dan mendekat pada Dirgo.


“Sudah, jangan bertengkar. Ayo masuk!” ajak Bi Momon pada mereka semua.


“Tidak usah, Bi. Kami langsung balik saja ke rumah. Terima kasih, Bi, atas perhatiannya.” Dirgo menolak tawaran Bi Momon dengan sopan.


Mendengar penolakan Dirgo, Nyonya Daria tersenyum ke arahnya dan berkata, “jangan sungkan. Ayo masuk, kita makan bersama!”


“Terima kasih, Tante. Tapi kami harus kembali ke rumah, Tante. Takutnya yang lain kelelahan,” tolak Dirgo kembali.

__ADS_1


“Hm, gitu ya kalian sama gue. Gak mau mampir barang sekejap hanya sekedar mengobrol. Jahat banget, ya,” celetuk Agatha. Mendengar ucapan Agatha, mau tidak mau Dirgo pun menurutinya. Hitung-hitung supaya lebih mengenal keluarga William, itu pikirnya.


“Baiklah. Kami masuk, ya, Tante.”


Sesampainya di ruang tamu, Bi Momon mempersilakan tamunya untuk duduk bersama majikannya, sementara dirinya bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan yang memang sengaja ia siapkan untuk Agatha dan yang lainnya. Karena sudah berbagai pertanyaan yang Agatha lontarkan pada sang mommy di depan pintu, akhirnya sang mommy pun bercerita kepada mereka semua. Mereka bisa tau kenapa mereka menangis, ternyata hanya karena berita kecelakaan.


“Oh, itu bukan mobil kami, Tante. Buktinya kami masih segar bugar, kan?” ucap Memey. Nyonya Daria tersenyum ke arah Memey.


“Kecelakaan itu sudah terjadi sebelum kami melewati tempat kejadian itu, Tan. Jalanan pun sedikit macet hingga akhirnya pun kami agak terlambat mengantar Agatha ke rumah,” timpal Dirgo menjelaskan pada Nyonya Daria.


“Syukurlah. Tante akhirnya bisa bernapas lega karena kalian tidak apa-apa.” Nyonya Daria tersenyum.


Agatha nampak meneteskan air matanya karena haru dan bahagia. Baru kali ini ia melihat mommy nya begitu khawatir dan memberikan banyak ciuman, baik di pipi, kening, maupun kepalanya. Ia berharap ini semua adalah awal pendekatan orang tuanya kembali padanya. Kembali meniti hari-hari dan momen yang telah hilang, menjalani hidup dengan suka cita dan rasa syukur. Suasana ruang tamu itu menjadi hening.


Ia membatin, “Tuhan, semoga ini tidak hanya terjadi bagaikan angin lalu. Aku harap, ini semua akan mengalir terus menerus di hidupku tanpa ada beban sedikit pun.”


“Kamu kenapa?” tanya Welson.


“Gak apa-apa,” jawab Agatha tersenyum.


 🕊️🕊️🕊️


Di ruang makan, makanan telah tersaji di atas meja dan siap untuk disantap oleh jiwa raga yang sedang kelaparan. Kini Bi Momon menghampiri orang-orang yang ada di ruang tamu. “Permisi, Nyonya. Makanan telah siap,” ucap Bi Momon seraya membungkukkan badannya sebagai rasa hormat.


Belum sempat mereka bangkit berdiri, muncullah Tuan Thomas dari dalam kamar. Ia begitu terkejut mendapati ruang tamu ramai dengan anak-anak seusia anaknya. Sekilas ia menatap istrinya lalu berjalan mendekat. “Oh, kamu sudah pulang, sayang?” tanyanya pada Agatha.


Agatha langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan daddy nya, orang yang juga sangat ia rindukan. “Daddy, aku kangen,” ucap Agatha begitu manja. Daddy nya tersenyum melihat anak semata wayang yang baginya tetap saja seperti anak kecil. Hal yang sama juga dilakukan daddy nya, ia mengusap kepala Agatha dan menciumnya. Semakin mendapat perlakuan seperti itu, semakin menjerit hatinya. Ia tidak bisa mengira apakah akan selamanya seperti itu. Namun, ia meyakinkan dirinya bahwa orang tuanya bisa berubah walau hanya sedikit demi sedikit bentuk kepedulian mereka.


“Dad, mereka semua teman-teman aku,” ucapnya seraya menunjuk teman-temannya, “dan yang itu adalah orang yang spesial buat aku, Dad.” Agatha menunjuk Welson malu-malu. Welson tersenyum ketika daddy Agatha melihat ke arahnya.


“Hallo, Om. Selamat pagi menjelang siang,” sapa mereka semua serta membungkukkan badannya. Sapaan mereka pun dibalas dengan ramah oleh Tuan Thomas.


“Wah, anak Daddy sudah mulai nakal.” Tuan Thomas mengusap kepala Agatha dengan gemas. “Daddy tidak melarang, asalkan ingat batasan dan juga ingat pesan Daddy sama Mommy mu.”


“Thanks, Dad. I love you.” Sekali lagi Agatha memeluk daddy nya.


“Sudah, ayo kita makan. Perut mommy sudah lapar,” ucap Nyonya Daria menghentikan Agatha dan suaminya. “Ayo anak-anak!” ajaknya lagi pada teman-teman Agatha.


 🕊️🕊️🕊️


Makan bersama dengan keluarga William sudah selesai. Dirgo dan teman-temannya pun pamit pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.


“Terima kasih, Om, Tante, atas jamuannya,” ucap Dirgo sebelum bangkit berdiri.

__ADS_1


“Sama-sama. Jangan sungkan, anggap saja ini adalah rumah kalian sendiri,” jawab Tuan Thomas lalu menepuk pundak Dirgo.


“Ah, seandainya Om tau bahwa aku menyimpan rasa pada anak Om, apakah Om setuju denganku?” batin Dirgo.


“Kami permisi, Om, Tante,” ucap Welson yang juga diikuti oleh yang lainnya.


Mereka pun akhirnya meninggalkan pelataran rumah Agatha setelah berpamitan pada orang tua Agatha. Hari ini adalah hari pertama pacar serta temannya mengobrol dan makan bersama orang tuanya. Ia merasakan sesuatu yang beda dari biasanya dan ia tersenyum bahagia. Ia kembali masuk ke dalam menemui orang tuanya di ruang tamu setelah mobil Dirgo menjauhi rumahnya.


“Daddy, Mommy. Kalian gak marah, kan, kalau aku traktir mereka?” tanya Agatha pelan ketika sudah mendudukkan badannya di antara sang daddy dan sang mommy.


“Itu tentu saja sangat boleh, sayang. Kita harus berbagi rejeki pada orang lain, karena tidak selamanya kita selalu berada di atas. Bisa saja besok kita di bawah, sayang,” jawab daddy nya. “Memangnya habis berapa, sayang?”


“Terima kasih, Dad, Mom. Hampir 320 juta, Dad,” jawab Agatha malu-malu dan takut daddy nya akan memarahinya mendengar nominal uang yang ia keluarkan, ia lalu mengusap tengkuknya.


“Itu belanja apa aja, sayang?” tanya mommy nya.


“Gak banyak kok, Mom. Hanya sepatu, pakaian, dan tas aja. Itupun Dirgo sama Welson yang gak mau aku traktirin, yaudah aku gak maksa, Mom.”


Mommy nya menganggukkan kepala tanda mengerti. Ia tau pasti, bahwa barang yang Agatha sebutkan adalah barang-barang bermerek (branded). “Oh. Enggak apa-apa, sayang. Mommy sama Daddy senang, kok. Iya gak, Pa?” Suaminya tersenyum tanda setuju. Agatha semakin berbinar bahagia atas penuturan kedua orang yang ia sayangi. Saking bahagianya, tanpa terasa ia meneteskan air matanya.


“Thanks, my hero and my angel.” Agatha merangkul kedua orang tuanya dengan isakan tangis. Sungguh, ia sangat bahagia saat ini. Ia mencium daddy dan mommy nya secara bergantian.


“Jangan nangis. Masa udah punya pacar masih suka nangis, sih?” goda daddy nya.


“Daddy ah, aku kan jadi malu,” ucap Agatha lalu membenamkan wajahnya ke dalam dekapan daddy nya.


“Ingat, ya, sayang. Boleh saja pacaran, tapi pacaran yang sehat, ya.” Mommy nya mengelus pipi Agatha.


“Iya, Mom. Aku janji gak akan membuat Daddy sama Mommy malu dan terbebani olehku. Aku akan berusaha mengingat semua pesan Daddy sama Mommy. Aku janji,” ucap Agatha sesenggukan seraya mengacungkan tangannya membentuk huruf V.


“Yasudah, sekarang kamu istirahat, ya. Pasti lelah habis perjalanan jauh,” perintah mommy nya.


“Oh ya, nanti sore, Daddy sama Mommy ada undangan ke acaranya relasi Daddy. Kamu di rumah jangan nakal!” Daddy nya mencubit pipinya dengan gemas.


Agatha bergeming, “ya Tuhan, semoga ini tidak hanya sesaat. Biarkan aku merasakan kebahagiaan yang selama ini telah hilang dariku.”


“Baiklah. Aku ke atas, ya, orang terhebatku,” ucap Agatha tersenyum.


Sepeninggalan Agatha, sepasang suami istri itu kembali ke kamarnya. Mereka juga ingin beristirahat kembali karena nanti sore akan menghadiri acara relasinya. Tak ayal, semua interaksi antara orang tua dan anak kembali Bi Momon saksikan. Bi Momon juga terharu, berharap semuanya akan kembali lagi ke sedia kala. Bi Momon menyeka air matanya yang kembali membasahi pipi, namun kali ini adalah air mata haru, bukan seperti saat ia menyaksikan berita kecelakaan beberapa jam yang lalu.


“Nah, seperti itu terus kan adem rasanya, enggak kepanasan melulu,” ucap Bi Momon lalu kembali ke dapur untuk membersihkan piring kotor bekas mereka makan bersama.


 🕊️🕊️🕊️

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2