
🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨
Author mengucapkan SELAMAT MEMPERINGATI HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA ke-75 Tahun (17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2020).
🇲🇨JAYALAH INDONESIAKU TERCINTA, MERDEKA🇲🇨
🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨
🕊️🕊️🕊️
“Apa kamu anggap kita ini cuma teman tapi mesra, gitu?” tambah Agatha lagi.
“Bukan gitu, Sayang. Kok ngambek sih? Aku kan hanya bercanda.” Ujar Welson tersenyum, tangannya meraih tangan Agatha dan membawa tangan itu ke bibirnya. Welson mencium tangan Agatha agar Agatha tidak cemberut.
“Jangan bercanda gitu, Yank! Aku gak suka,” ucap Agatha mengingatkan.
“Tapi syukur deh kamu gak kenapa-kenapa.” Lanjutnya.
“Kenapa, khawatir gak? Kepikiran terus ya?” tanya Welson kembali mengukir seulas senyum.
“Udah dibilangin dari tadi pun masih aja nanya.” Dengus Agatha kesal.
“Ooo jadi benar nih, khawatir?”
Namun Agatha tak menjawab. Dia merasa kesal karena Welson senang sekali menjahilinya.
“Susah amat sih tinggal jawab iya aja, Yank? Buat pacar senang itu gak dosa, kok.” Ucap Welson.
“Iya khawatirlah. Masa' harus ku ulang berkali-kali? Lagian kamu ngapain juga nanya kayak gitu?” Agatha bersidekap.
Sekilas mata Agatha melihat ada darah di ujung bibir Welson akibat perang dunia ketiga yang berlokasi di roof top sekolahan mereka.
“Bibir kamu luka? Apa sudah diobatin?” tanya Agatha khawatir.
“Udah, kok. Kamu lupa ya jika kamu yang mengobatinya?” Welson tersenyum.
“Botakmu, Yank. Kamu aja baru ke sini, gimana bisa aku ngobatin kamu via udara?” ucap Agatha.
“Ciuman mu itu yang mengobatinya, Yank.” Welson tertawa.
Plakk!!! Agatha mendepak tangan kokoh Welson.
“Nah kan mesum lagi?” ucap Agatha.
“Aku khilaf, Yank.” Welson terkekeh, padahal itu semua memang sengaja ia lakukan.
“Terusin aja, Yank!”
“Wow! Jadi boleh nih aku cium lagi?” Welson terperangah senang.
“Bukan itu! Kamu pasti sengaja 'kan?” Agatha melotot.
“Aduh! Matamu membuatku klepek-klepek, Yank.” Welson semakin senang menggoda Agatha.
“Terserah! Kamu tunggu di sini sebentar ya.” Ucap Agatha mengalihkan pembicaraan. Dengan cepat Agatha melangkah masuk ke dalam mengambil kotak obat dan membawanya keluar menemui Welson.
“Mau di sini apa di gazebo depan, Yank?” tawar Agatha.
__ADS_1
“Atau mau di dalam?” lanjutnya lagi.
Kayaknya di sana aja deh, Yank.” Ucap Welson menunjuk gazebo di sebelah kiri gerbang.
“Okelah. Ayo!” Agatha menarik tangan Welson.
🕊️🕊️🕊️
Setibanya di gazebo, Agatha meletakkan kotak obat itu dan membukanya perlahan. Tangannya memegang kapas yang sudah ia celupkan ke cairan alkohol, ia duduk di sebelah Welson.
Perlahan tangan Agatha bergerak membersihkan bekas darah yang sudah lumayan mengering di ujung bibir Welson. Gerakan tangan dan sapuan kapas itu membuat Welson meringis kecil.
“Maaf! Sakit ya, Yank?” tanya Agatha, menghentikan tangannya sebentar. Namun Welson kelihatan melamun.
“Pokoknya aku harus mendapatkanmu, Agatha William.” Batin Welson seraya senyum penuh maksud.
“Kalau gak sakit aku terusin nih?” tukas Agatha.
“Gak, Yank. Gak sakit sama sekali kok?”
“Kalau gak sakit kenapa meringis?” tanya Agatha.
“Hehe, sedikit.” Welson cengengesan.
“Giliran diobatin meringis sakit. Kalau ciuman gak dihiraukan.” Dengus Agatha.
“Itu beda, Sayang. Salah siapa punya bibir seksi dan manis kayak gitu.” Welson tersenyum.
Tak ingin Welson semakin menjadi gila karena Agatha, kini Agatha melanjutkan lagi membersihkan luka di ujung bibir pacarnya. Welson kembali meringis dan spontan tangannya memegang pergelangan tangan Agatha. Dari pegangan itu, Welson dapat merasakan bahwa denyut nadi Agatha berdenyut begitu cepat. Welson mendekatkan wajahnya dan menatap wajah Agatha dengan jarak dekat, melihat ekspresi pacarnya itu. Lagi-lagi Welson mencuri kesempatan.
Cup!!! Welson kembali mencium Agatha untuk yang kedua kalinya. Refleks Agatha menjatuhkan kapas yang dia pegang, kemudian merangkulkan tangannya di leher Welson. Welson yang merasakan adanya sinyal-sinyal ciuman terbalaskan oleh sang pacar, kini ia semakin bergairah mencumbu Agatha. Ciuman semakin lama semakin panas. Udara yang berhembus seolah tak bisa mendinginkan hawa panas mereka berdua. Bibir mereka saling bertaut dan berpagutan. Bibir Agatha yang terasa ada vitamin manisnya, membuat Welson semakin memperdalam ciumannya.
“Kau mau membunuhku dengan ciumanmu?” tanya Agatha, jemarinya menyentuh bibirnya basah dan lembab karena Welson.
Namun tak ada jawaban yang Welson berikan. Yang ada Welson malah menarik Agatha kembali ke dekapannya dan mulai menciumnya lagi. Lagi dan lagi mereka berciuman. Kali ini terasa sangat bergairah. Agatha tiba-tiba mendudukkan tubuhnya di pangkuan Welson, yang mana membuat benda Welson memberontak di dalam sana.
“Kau sengaja menggodaku?” bisik Welson di telinga Agatha dengan suara yang serak karena hasratnya sudah memuncak. Bisikan itu membuat Agatha bergidik. Hawa panas yang keluar dari mulut Welson seolah menjalar merasuki jiwanya.
“Ti..tidak.” ucap Agatha gugup, wajahnya merona.
Welson tak menggubris ucapan Agatha. Dia kembali menghujani Agatha dengan ciumannya. Tangan kirinya mendekap pinggang ramping Agatha, dan tangan kanannya bergerilya menarik baju Agatha. Agatha seolah terbuai dengan ciuman itu, sehingga tak sadar bahwa Welson kini sudah menciumi area sensitif yang kembar itu. Welson semakin gemas. Lenguhan Agatha membuatnya bersemangat, hingga refleks dia menggigit dada Agatha.
“Auuhhhhh!” Agatha meringis kesakitan, mendorong kepala Welson dari aktivitasnya lalu menjitak kepala itu.
“Sakit, Yank.” Ucap Agatha merintih, lalu menaikkan bajunya kembali.
“Maaf, dear. Kau membuatku sangat berhasrat. Lihatlah ini!” ucap Welson, salah satu tangannya menunjuk ke bagian celananya. Ada sesuatu yang sedang berkembang biak di sana. Hal itu membuat Agatha merona dibuatnya.
“Nakal.” Hanya kata itu yang dapat Agatha ucapkan.
“Kenapa mukamu merah? Grogi, ya? Detak jantungmu kedengaran loh?” celetuk Welson gemas, yang mana membuat wajah Agatha semakin merona merah.
“Iya memang benar, sih. Cewek mana coba yang gak grogi jika berhadapan dengan cowok cakep di depannya.” Puji Welson pada diri sendiri.
“Ishh. Sok cakep! Aku gak grogi dan kamu gak cakep.” Agatha berusaha menyembunyikan kegerogiannya.
“Wajahnya merah tuh kalo bohong.” Goda Welson.
__ADS_1
“Dih. Nggak!” Agatha berdalih.
“Sekali lagi, Yank!” pinta Welson, permintaan itu membuat Agatha membelalakkan matanya.
“Masih belum puas? Kamu gak sadar udah gigit aku?” Agatha tak percaya dengan permintaan pacarnya itu. Pasalnya, dia sudah lelah jika Welson terus mencumbunya.
“Please! Sekali saja, Yank!” rengek Welson.
“Ya Tuhan. Kenapa punya pacar mesumnya kebangetan sih?” Agatha membatin.
“Ayolah!” ucap Welson. Tanpa menunggu jawaban Agatha, Welson langsung memulai aksinya.
Entah angin apa yang membawa Bi Momon ke gazebo dengan membawakan nampan berisi secangkir teh dan sedikit cemilan. Terlihat dari kepulan uapnya, teh itu baru saja selesai di seduh oleh Bi Momon. Bi Momon tertegun melihat penampakan di depan mata kepalanya sendiri.
“Mereka lagi ngapain seperti itu? Aneh sekali.” Gumamnya.
“Uhuk-uhuk.” Bi Momon berpura-pura batuk, berharap Agatha dan Welson menyadari kehadirannya di sana.
“Kamu batuk, Yank?” tanya Welson ketika melepaskan ciumannya.
“Tidak. Itu...” Ucap Agatha terpotong ketika Welson menautkan bibirnya kembali.
Karena Welson masih tak menyadari adanya kehadiran Bi Momon, kini Bi Momon berdehem.
“Ekhemm.” Deheman Bi Momon berhasil membuat Welson melepaskan ciumannya.
“Kamu kenapa lagi, Yank?” tanya Welson tak mengerti.
“Itu dibelakangmu.” Tunjuk Agatha, lalu menjauhkan tubuh Welson darinya.
“Eh, Bibi. Dari kapan di sini, Bi?” tanya Welson kikuk ketika menoleh ke belakang dan menggarukan tengkuknya yang tak gatal sama sekali.
“Sudah lama. Sebelum Non Agatha lahir sudah di sini kok, Den!” jawab Bi Momon melenceng dari pertanyaan Welson.
“Loh bukan itu yang saya tanyakan, Bi. Bibi tiba di gazebo ini dari kapan?” tanya Welson lagi.
“Oh itu. Baru saja sih, Den. Emangnya kenapa?” selidik Bi Momon.
“Syukurlah.” Batin Welson, lalu meremas dadanya.
Mendengar ucapan Bi Momon, wajah Agatha kembali merona.
“Wajahnya kenapa memerah seperti itu, Non?” tanya Bi Momon pada Agatha.
“E....nggak kenapa-kenapa kok, Bi.” Sangkal Agatha gugup.
“Abis di serang lebah ya?” ucap Bi Momon.
“Iya, Bi. Lebah jantan. Hihi.” Hardik Welson tiba-tiba. Refleks tangan Agatha mencubit perut Welson.
“Adowww!! Kenapa? Kok nyubit, Yank?” tanya Welson pura-pura, padahal ia tau bahwa Agatha sedang malu karena ciuman panas mereka tadi.
“Eh, Bibi bawa apaan tuh? Apa gak capek dipegang mulu, Bi?” ucap Welson.
“Oiya. Bibi lupa. Ini buat Den Welson. Selamat mengeksekusi, ya Den!” tukas Bi Momon lalu meletakkan nampan itu di meja.
“Hahaha. Eksekusi. Macam psikopat saja, Bi.” Ucap Welson.
__ADS_1
“Jangan macam-macam sama Non Agatha!”
🕊️🕊️🕊️