
“Yakin?” tanya Andrew dengan mata yang berbinar-binar. Ya mau bagaimana lagi, pikirnya. Agatha hanya mengangguk mantap. Perlahan Andrew memeluk Agatha dari belakang. Sontak Agatha kaget.
“Eh, maaf. Aku refleks karena kamu mau ikut denganku,” ucap Andrew karena melihat Agatha kaget karena ia memeluknya. “Okay, ayo ke mobil.”
Andrew membawa Agatha ke jalanan yang kini mulai ramai. Lalu lintas dipadati dengan banyaknya kendaraan roda dua hingga roda delapan. Suasana hiruk pikuk kota di siang atau pun malam hari rasanya tak pernah mati. Agatha melirik jam tangannya, ternyata jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam lebih dua menit. Ia merasakan matanya sudah mengantuk sekali, pun kepalanya juga terasa berat. Ya sudah dipastikan itu efek dari minuman beralkohol yang ia tenggak beberapa jam lalu.
“Kami biasanya tidur di jalan-jalan. Tak peduli itu bersih atau kotor. Juga kami hanya tidur dengan beralaskan koran ataupun kardus. Tapi, jam segini masih terlalu pagi untuk kami tidur.” Andrew memberitahu Agatha saat ia melihat Agatha menguap lebar dan matanya berair.
“Dan lagi pula aku nggak bisa menjamin mobilmu ini akan aman-aman saja,” lanjut Andrew menjelaskan. Agatha memasang wajah aneh pada Andrew.
“Kamu nggak bermaksud selamanya ikut tinggal bersama kami di jalanan, kan?” tanya Andrew.
Pertanyaan Andrew yang baru saja Agatha dengar, membuatnya terdiam. Ia sendiri pun tak tau ke aman arah tujuan hidupnya sekarang. Tak berapa lama, Andrew menghentikan mobil di lorong jembatan yang kumal dan lusuh. Di sana ada beberapa anak punk. Mereka terlihat tertawa dan bersenda gurau, ada juga yang bermain musik. Sambil memicingkan matanya, Agatha dapat menangkap sosok bayangan Bernard dan Cath.
“Ayo turun! Mau kukenalkan nggak sama mereka semua?” ajak Andrew. Sementara Agatha hanya menggeleng dan memeluk ranselnya erat-erat.
“Kenapa geleng-geleng? Please, jangan berpikiran yang macam-macam tentang kami. Kami bukan orang jahat, kami bukan perusak. Kumpulan kami hanyalah sebuah komunitas. Dan, ini hanya soal musik dan gaya hidup.”
Agatha tetap terdiam tak bergeming dari duduknya. Baginya, para kawanan Andrew, Bernard juga Catherine itu tetap saja aneh. Mengapa ada komunitas yang anti dengan gaya hidup yang mapan? Bukankah kemapanan itu suatu hal yang selalu dicari dan didambakan setiap manusia normal? Agatha berpikir mengapa itu semua ada, tapi itulah nyatanya yang ia dapatkan sekarang.
“Hah, ya sudahlah,” Andrew menggeleng lalu hendak beranjak keluar dari mobil.
“Kak…” Agatha memanggil Andrew, yang dipanggil langsung menoleh. “Aku haus, Kak.”
Andrew tertawa mendengar ucapan Agatha. Konyol sekali, pikirnya. Ia pikir Agatha mau apa, ternyata cuma mau minum karena haus. “Ayo, makanya turun,” ajak Andrew sekali lagi pada Agatha.
Melihat Andrew tertawa begitu, membuat wajah Agatha sedikit memerah. Mau tak mau ia lalu turun juga dari mobil mengikuti Andrew bergabung dengan teman-temannya yang ‘aneh dan ajaib.’
“Hai,” sapa Bernard ketika melihat Andrew dan Agatha datang, di tangannya memegang sebuah gitar.
“Loh, kenapa lo malah bawa pulang anak ini? Bukannya tadi lo bilang mau memulangkannya ke istananya?” tanya Cath keheranan.
“Ceritanya panjang,” Andrew melirik Agatha.
“Aku mulai sekarang mau tinggal bersama kalian,” ujar Agatha dengan cepat. Ia sendiri heran dengan apa yang baru saja ia ucapkan, tapi entah kenapa relung hati nuraninya mengatakan bahwa teman-temannya yang ‘aneh dan ajaib’ inilah keluarga barunya. Keluarganya yang sesungguhnya.
__ADS_1
“Kamu bercanda, ya,” ucap Cath sambil terkikik-kikik geli.
“Aku kan udah bilang berkali-kali kalo AKU INI KABUR DARI RUMAH! KENAPA KALIAN NGGAK NGERTI JUGA, SIH? jerit Agatha secara tiba-tiba. Cath sampai menutup kedua kupingnya dengan tangan lantaran suara Agatha yang melengking tinggi memekakkan telinga.
“Wow,” gumam Cath. “Bisa nggak sih nggak teriak? Kamu pikir kami ini tuli, hah?”
“Stop! Sudah, sudah!” Andrew menengahi. “Nih, minumlah!” Andrew menyodorkan sebotol air mineral pada Agatha.
“Hallo, adik manis,” sapa salah seorang cowok dari mereka yang mengenakan kalung dengan bandul besar berbentuk lingkaran dengan gambar ular di dalamnya. Rambutnya juga berdiri, sama dengan yang lainnya, berwarna merah dipadukan dengan warna abu-abu. Agatha langsung mengenalinya. Ia ingat pada sosok yang satu ini. Sosok ini adalah orang yang mengamen di jalanan ketika Agatha dan Mang Judas berhenti saat lampu merah. Mungkin saja Andrew dan yang lainnya juga ada, tetapi Agatha mungkin tak menyadari kehadiran mereka. Hanya sosok cowok ini yang ia ingat. Cowok ini sedang menghisap rokok. Agatha sendiri bingung harus bagaimana.
“Temannya Andrew, ya?” ucap sosok cowok itu lagi. “Kenalan, dong.” Cowok itu mengulurkan tangannya pada Agatha sambil meniupkan asap rokok ke udara.
“Agatha…” Agatha menyambut uluran tangan cowok itu dengan gemetar. Agatha benci dengan asap rokok, tetapi untuk saat ini ia berusaha setenang mungkin dan memutuskan untuk tidak menunjukkan gelagat aneh karena tak menyukai asap rokok. Ia harus bisa beradaptasi dengan teman baru yang ‘aneh dan ajaib’ itu.
“Carlos…” Ia tersenyum dengan sangat tulus pada Agatha. Setidaknya, hal itu membuat Agatha tak merasa takut dengan mereka. Karena pada dasarnya mereka juga sama seperti dirinya, anak remaja biasa. Hanya saja tampilan dan kesenangannya saja yang membedakan mereka, berbeda dari dirinya juga kebanyakan anak remaja seusia mereka.
“Sini,” Carlos mempersilakan Agatha mendekat, ia menyediakan tempat duduk kosong di sampingnya untuk Agatha. Dengan patuh Agatha mendekat ke arah Carlos. “Adik manis, kenapa adik kabur dari rumah?” Carlos bertanya penuh perhatian, seolah-olah Agatha adalah adiknya sendiri. Agatha terdiam beberapa saat, berpikir apakah baik bercerita tentang sesuatu pada orang yang baru dikenalnya ini.
“Ya udah. Nggak apa-apa kalo adik nggak mau cerita.”
“Terus? Orang tuamu? Apa mereka nggak panik mencarimu jika adik tiba-tiba saja kabur dari rumah?”
“Kakak bisa liat sendiri, kan? Buktinya aku masih berada di sini,” Agatha memamerkan senyumnya yang masam. “Kita cari bukti, ya, Kak.” Agatha mengeluarkan ponsel mahalnya dari ransel. Ia ingin memastikan dan membuktikan bahwa tak ada satupun pesan atau telepon yang masuk.
“Cupit, kamu sekarang ada di mana? Apa kamu benar-benar minggat? Ayo pulang, Tha!”
“Heii, Girl. Kamu di mana? Kenapa kamu sampai nekad minggat, hmm? Ayolah, pulang. Orang rumah sedang panik menunggumu. Kamu nggak kasihan liat Bi Momon nangis-nangis dari tadi sampai ketiduran di meja makan?”
Ternyata ada dua buah pesan suara yang masuk di ponselnya, puluhan panggilan tak terjawab dari sepupunya juga Dirgo.
“Siapa itu?” tanya Carlos. “Pacar sama kakakmu?”
Agatha menggeleng, sementara air matanya hampir tumpah. Carlos langsung menepuk kepala Agatha pelan-pelan.
“Masih ada orang yang sayang sama adik, kan?” ujar Carlos berusaha menghibur Agatha. Agatha hanya memandang sekitar dengan mata sendu dan mengabaikan apa yang diucapkan oleh Carlos.
__ADS_1
🕊️🕊️🕊️
Malam ini Agatha tidur di dalam mobilnya. Ada dua alasan mengapa ia harus tidur di dalam mobil. Pertama, ia tak ingin saat bangun pagi, mobilnya hilang tanpa sebab. Alasan kedua, susah membiasakan diri tidur beralaskan kardus di atas aspal yang keras dan dingin. Lagi pula nyamuk juga berterbangan ke sana kemari mengusik kuping. Agatha mungkin hanya bisa bertahan beberapa menit saja.
“Kamu nggak mungkin bisa menyesuaikan diri gabung bersama kami, Tha,” ujar Cath dari luar. “Besok kamu pulang saja, jangan bikin sepupumu panik.”
“Bodo, ah!” teriak Agatha, lalu ia kembali baring telentang di jok belakang mobil sambil memakai bantal beruang sebagai alas kepalanya.
🕊️🕊️🕊️
Karena Agatha yang belum saja kembali saat jarum jam menyentuh pukul dua belas malam, Alzio ingin mencari Agatha, tetapi dirinya juga tidak tau harus mencari ke mana. Ia pun tidak mengetahui rumah sahabat-sahabat Agatha, sama halnya dengan tempat-tempat yang biasa Agatha singgahi. Lagi pula ia juga sudah lupa arah kota tempat sepupunya ini. “Ah, bodo amat. Yang penting keluar dulu, deh!” tekad Alzio dalam hati.
Ketika ia masuk ke dalam mobil Agatha hadiah ulang tahun dari sang mommy, ia menyadari satu hal kalau mobil sport mahal milik Agatha ternyata tidak berada di garasi. “Hah? Apakah sepupuku itu minggat dengan membawa mobil? Ini mah namanya pencurian di rumah sendiri,” batin Alzio menggeli.
Alzio mengemudikan mobilnya lambat-lambat sambil menghubungi Dirgo supaya ketemu di titik yang pas untuk bertemu setelah lelah mencari Agatha. Kaca jendelanya ia turunkan selebar sepuluh senti supaya bisa dengan leluasa melihat area luar. Barang kali ia melihat Agatha di jalan-jalan. Ia juga terus mengingat-ingat plat mobil Agatha. Sebelum dirinya merasa lelah, ia memutuskan untuk mencari Agatha ke mall, tetapi hasilnya nihil.
Alzio juga harus keluar masuk restoran untuk memastikan mungkin sepupunya itu sedang mampir untuk makan, tetapi ia justru seperti orang aneh karena ia tak memesan apa-apa. Tujuan terakhir Alzio adalah ke hotel-hotel bintang lima untuk mengecek apakah sepupunya baru saja memesan kamar, tapi ternyata tak membuahkan hasil apa-apa.
Sementara Dirgo, ia mencari ke seluruh tempat yang pernah Agatha kunjungi. Mulai dari taman danau, bukit berbunga, café dan restoran, mall, hotel, juga tak membuahkan hasil. Hatinya gelisah karena pujaan hatinya nekad minggat dari rumah. Ia akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Alzio karena sudah lelah berkeliling ke sana kemari. Ia melajukan mobilnya menuju Alzio yang sudah menunggunya.
Alzio lelah sendiri dan beristirahat di pinggir jalan. “Kamu di mana, Cupit?” gumamnya sambil menekan nomor Agatha. Ia lagi-lagi menghubungi Agatha, tetapi tetap tidak diangkat. Ia terpaksa meninggalkan voice note (pesan suara), “Cupit, kamu sekarang ada di mana? Apa kamu benar-benar minggat? Ayo pulang, Tha!”
Setelah Alzio selesai meninggalkan pesan suara pada sepupunya, tiba-tiba matanya silau terkena sorotan lampu mobil yang datang mengarah padanya. Dalam hati ia berpikir, mungkinkah itu Agatha sepupunya atau bahkan perampok. Dan ternyata setelah turun dari mobil, yang membuat matanya silau adalah Dirgo.
“Gimana, Dir? Lo ada ketemu atau menemukan titik celah?” tanya Alzio tergesa-gesa.
“Nggak ketemu apapun. Gue udah nyari di mana-mana, nggak ada juga. Jadi, ini gimana? Gue khawatir…” jawab Dirgo. Tanpa terasa air matanya menetes perlahan membasahi pipi tampannya yang mulus. Melihat itu, Alzio tak kuasa, ia lalu memeluk Dirgo memberi ketenangan. Alzio juga sama cemasnya dengan Dirgo, tetapi ia sebagai sepupu Agatha, harus lebih kuat.
“Ya udah, sekarang lo tinggalkan pesan suara aja sama dia. Berdoa aja, semoga dia aman-aman aja di luaran sana, di mana pun ia berada.”
Dengan patuh Dirgo menuruti ucapan Alzio. “Heii, Girl. Kamu di mana? Kenapa kamu sampai nekad minggat, hmm? Ayolah, pulang. Orang rumah sedang panik menunggumu. Kamu nggak kasihan liat Bi Momon nangis-nangis dari tadi sampai ketiduran di meja makan.”
🕊️🕊️🕊️
To be continued…
__ADS_1