Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Malam Yang Kelabu.


__ADS_3

🕊️🕊️🕊️


Bi Momon yang masih berdiri di ambang pintu dan menyaksikan antara orang tua dan anak di ruang keluarga, tak kuasa menghela napasnya. Tak satupun yang memperhatikan Agatha. Jangankan membangunkan Agatha supaya berpindah ke kamarnya, membelai dan mengusap kepala barang sedikitpun sama sekali tidak dilakukannya. Entah apa yang telah membuat mereka berubah semenjak Agatha memasuki SMA.


“Non, bersabar aja ya, Non. Mungkin akan ada kehangatan yang datang dari orang-orang sekeliling, Non. Tetap ingat ya, Non. Walaupun orang tua Non melupakan Non, tetapi Tuhan tidak pernah membiarkan anak-Nya sendirian. Tetap berpegang teguhlah pada Tuhan.” Gumam Bi Momon mengusap matanya yang sudah berkaca-kaca.


Bi Momon menghampiri Agatha dan membangunkannya supaya makan malam dan pindah ke kamarnya.


“Non. Bangun,Non!” Bi Momon membangunkan Agatha.


“Astaga! Aku ketiduran ya, Bi?” Ucap Agatha sambil menguap.


“Iya, Non. Makanya Bibi membangunkan Non. Biar bisa makan malam dan pindah ke kamar.” Tutur Bi Momon.


“Thanks ya, Bi. Ooya, apakah daddy sama mommy sudah kembali, Bi?” tanya Agatha.


“Sudah, Non. Mereka sudah di kamar.” Jawab Bi Momon.


“Oh, baiklah.” Agatha bangkit berdiri, mengambil tasnya yang tergelatak di meja lalu menuju tangga.


“Eh, Non gak makan malam dulu? Bibi udah masakin makanan kesukaan Non tuh.” Tawar Bi Momon.


“Antar aja ke kamarku, Bi.” Jawab Agatha yang sudah menaiki tangga.


“Oke, Non.” Gumam Bi Momon sendirian karena Agatha dengan sekejap sudah menghilang dari pandangan matanya.


Di kamar, Agatha mencharger ponselnya yang sudah kehabisan daya. Kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, mengingat ia baru saja dari taman sehabis pulang sekolah. Selesai dengan ritual mandinya, ia mengeringkan tubuh serta rambutnya, lalu berganti pakaian yang serba sexy. Di luar kamar Agatha, bi Momon sudah siap dengan nampan makanan di tangannya.

__ADS_1


Tok..tok..tok! Bi Momon mengetuk pintu.


“Masuk, Bi!” Seru Agatha dari dalam.


Mendengar izin dari sang empunya kamar, Bi Momon langsung membuka pintu. Namun ketika melihat pemandangan di depan matanya, mata Bi Momon membulat seketika. Bagaimana tidak, Agatha tengah mengenakan pakaian yang menurut bi Momon kurang bahan.


“Astaga, Non. Kenapa dengan pakaiannya Non? Kok seperti kurang bahan?” tanya Bi Momon kaget.


“Iya, Bi. Ini emang kurang bahan.” Cetus Agatha kesal.


“Oalah, Non. Bawa sini semua pakaian yang kurang bahan, Non. Nanti Bibi tambahin bahannya, biar kayak baju rombeng. Sepertinya itu menarik loh, Non.” Tutur Bi Momon, kemudian meletakan makanan di atas nakas.


“Bibi yang benar saja nyuruh aku kayak gembel? Apa Bibi tau yang menyebabkan anak-anak menjadi gembel? Cukup di rumah ini saja Bi aku terabaikan, di luar jangan.” Jawab Agatha sendu.


“Aduh, salah ngomong lagi nih mulut kodok.” Batin bi Momon sambil menutup mulutnya.


“Eh, maaf, Non. Bukan begitu maksudnya.” Bi Momon kikuk sendiri jadinya.


Bi Momon keluar ketika mendapat perintah dari Agatha. Dia merasa tidak enak hati pada nona kecilnya itu karena telah menyinggung perasaannya. Bagaimana pun, Bi Momon telah menganggap Agatha sebagai ponakannya sendiri. Bagaimana tidak? Mulai dari Agatha masih dalam kandungan, Bi Momon telah bekerja di rumah Thomas William, daddy nya Agatha.


Jam dinding menunjukkan angka 19.30. Agatha kembali termenung. Dia mencabut ponselnya dari charger dan menyalakannya. Dia mencari kontak Welson dan ingin menghubunginya via suara, namun kontak tersebut tidak aktif.


“Kenapa nomornya gak aktif? Tumben sekali jam segini udah tidur, dan gak biasanya ponselnya dimatikan.” Gerutu Agatha dalam hati.


Krak..kruk..brak..bruk! Perut Agatha memainkan lagu keroncong.


Dia melirik makanan di atas nakas dan memegangi perutnya. Namun selera makannya tiba-tiba nyasar entah ke mana. Makanan itu tak disentuhnya sama sekali, yang ada hanya sebagai pajangan nakas. Dia kembali mencoba menghubungi nomor Welson, namun hasilnya tetap sama.

__ADS_1


“Ini orang kemana sih? Kagak aktif mulu nomornya.” Dengus Agatha.


“Hmm, sepertinya Nadine belom tidur deh kayaknya.” Tambahnya lagi dan mencari kontak Nadine.


Betapa kesalnya Agatha. Sahabat serta pacarnya sama-sama tidak bisa dihubungi. Dibandingkan dengan Memey dan Stevanie, Agatha memang dekat dan sering curhat pada Nadine. Apalagi jika mengingat Memey yang juga mirip Bi Momon, membuatnya tak kuasa bila sedang berbagi rasa.


“Welson ghaib, Nadine ghaib. Huhhh!” Dengus Agatha semakin kesal.


Sementara di tempat lain, tampak Nadine dan Welson tengah berduaan. Mereka bersenda gurau, sementara Agatha kesepian. Mereka (Nadine dan Welson) malam ini pergi ke suatu tempat yang bisa dibilang romantis. Mereka tak mempedulikan apa yang terjadi ke depannya jika Agatha mengetahui hubungan Nadine dan Welson. Tak peduli siapa yang tersakiti, tak peduli hubungan sahabat yang telah terjalin lama antara Nadine dan Agatha. Sungguh, memang begitulah nasib Agatha.


🕊️🕊️🕊️


Kembali ke kamar Agatha.


Tatapan Agatha semakin sendu. Dia lelah. Lelah hati, lelah diri. Menapaki hari-hari yang tiada bertepi. Sepi dan sunyi melanda hati. Agatha melangkah gontai menuju balkon kamarnya, dia membuka pintu dan keluar balkon. Duduk di kursi yang tersedia di sana. Malam ini adalah malam yang cerah, banyak bintang bertaburan mengelilingi sang rembulan yang sedang merekah.


Semakin lama, kini sang rembulan perlahan meredamkan cahayanya. Seolah tau akan perasaan dan kesunyian Agatha. Agatha menghela napas, menghembuskannya perlahan. Ingin rasanya dia berteriak jika tidak mengingat orang akan mengiranya gila.


“Wahai sang rembulan, kenapa engkau meredup setelah aku menikmati indahnya dirimu? Apakah engkau juga merasakan hal yang sama pada diriku? Ataukah engkau juga ingin membuatku terus begini?” Agatha menatap nanar ke langit malam.


“Aku terjebak diantara puing-puing lamunanku, mengingatkan tentang kisah hidupku. Haru biru kini bertemu dan menyatu. Aku terbelenggu dikeheningan sendu. Malam yang kelabu seakan menjadi candu. Rindu yang menggebu seolah menerpa diriku. Aku terbuai dalam helaan napasku yang tak tentu arah dan pandangan. Berpijak pun seakan tak mampu. Menambah asa di dalam dada, rasa yang bergelora sirna mendera. Jiwa yang terlena seolah menyiksa. Tawa dan duka hingga tak bernyawa. Kesunyian, kesepian kini mereka datang silih berganti. Menghibur diri namun tak bisa dihampiri, semuanya berlari dan menepi. Menyapa rasa yang tak pernah mendamba. Tujuan dan arah kini berkelana di segala masa. Haruskah aku seperti ini Tuhan? Haruskah aku berlalu tanpa seorangpun yang tau? Hati ini sungguh rindu, namun rasa ini hanya bisa ku pendam bersama sang waktu. Berharap sang waktu akan berbaik hati padaku. Membuka lembaran baru yang tak pernah tertuliskan dan tersirat sebelumnya.” Ucap Agatha yang tanpa terasa cairan bening hangat berhasil membasahi pipinya.


Seiring kesenduan Agatha, kini sang benda-benda langit sama sekali tak menampakan wujudnya. Mereka bersembunyi di balik awan yang bergelut. Malam yang semakin dingin, menambah kepedihan hati sang penikmat sendu. Ya, siapa lagi jika bukan Agatha. Bahkan, alam pun tau jika saat ini ada hati yang terbelenggu. Agatha mengusap pipinya yang basah dan berlalu bangkit meninggalkan balkon kamarnya. Perutnya yang keroncongan semakin berteriak ingin meminta asupan. Namun, sama sekali tak dia hiraukan. Kini ia duduk di ranjang dengan tatapan yang begitu menyedihkan.


“Aku tau Tuhan, ini adalah cara-Mu agar aku kuat dan bertahan. Bertahan di dalam kesepian, bertahan memendam rasa, dan bertahan dari kerasnya hidup ini. Mampukan aku untuk selalu berserah diri pada-Mu, Tuhan. Kelak, aku yakin semuanya akan berbuah manis walaupun aku harus berjuang sendirian. Aku ada, namun sepeti tak pernah ada oleh mereka. Tuhan, aku lelah. Namun aku tak ingin membuat mereka terbebani olehku.” Ucapnya kemudian merebahkan tubuh lelahnya di ranjang kesayangan.


Dan, untuk yang ke sekian kalinya Agatha melewati makan malamnya.

__ADS_1


🕊️🕊️🕊️


Dukung karya Author dengan meninggalkan jejak, like, komen, vote, tip, dan rate ya (bagi yang ikhlas aja😊, bukan paksaan).


__ADS_2