Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Apakah Dia?


__ADS_3

“Sorry, ya. Gue gak sengaja...” ucap Agatha terpotong ketika melihat wajah orang yang dia tabrak itu.


“Loh, Dirgo? Kapan lo keluar dari ruangan kepala sekolah? Trus, Welson di mana?” tanya Agatha celingukan ke sana kemari seperti mencari sosok Welson.


“Apa yang kamu harapkan dari Welson, Tha? Apakah kamu tau bahwa dia mengkhianatimu?” batin Dirgo, menerawang menatap Agatha dengan tatapan nanar. Dia ingin sekali membongkar semua kelakuan Welson, namun niatnya dia tarik ulur karena tak ingin merusak hubungan mereka.


“Hello tanjidor! Tangan di jidat kaki mengendor.” Agatha berusaha mengagetkan Dirgo yang melamun dengan suaranya yang lumayan cukup keras. Suara Agatha ternyata mampu menyadarkan Dirgo yang melamun, sehingga membuat Dirgo sedikit kaget.


“Eh, kenapa, Tha?” tanya Dirgo karena memang dia sudah lupa apa yang Agatha tanyakan tadi.


“Dasar lo ya! Gue tanyain bukannya ngejawab, eh malah ngelamun. Lo ngelamunin apa coba? Lagi lamunin mengapa makan bisa kenyang ya? Hahaha.” Ucap Agatha dengan tawanya yang khas.


“Sembarangan kamu, Tha. Oiya, kamu tadi nanyain apa? Serius, aku lupa,” tanya Dirgo lagi.


“Kenapa dia gak pake lo gue ya? Tapi kok aku suka dengar dia bilang aku kamu kayak gitu? Ah, yasudahlah, suka-suka dia aja.” Gerutu Agatha dalam hati.


“Heiii! Kamu juga ngelamun. Balas dendam ya?” seru Dirgo seraya tersenyum.


“Eh, gak kok, gak.” Elak Agatha.


“Welson ke mana, kok gak keliatan? Dia baik-baik aja, kan?” tambahnya.


“Oh itu yang kamu tanyain? Dia udah balik sama papanya barusan.” Jelas Dirgo.


Dan ternyata yang mengagetkan Mang Judas adalah mobil papanya Welson.


“Loh, kok dia gak ngabarin gue dulu sih? Gue khawatir tau gak?” ucap Agatha, ada rasa kecewa di nada suaranya.


“Ya aku gak tau juga sih, Tha. Mungkin dia kelelahan habis perang dunia ketiga.” Jawab Dirgo dengan sedikit candaan.


“Cuma mau nanya itu doang, kan? Kalau gitu aku pamit pulang, Tha.” Sambung Dirgo.


Tampak Agatha memejamkan matanya, indra penciumannya kembali mengendus aroma tubuh Dirgo yang seolah menjadi candu baginya. Sungguh sangat memporak-porandakan organ tubuh di dalam sana.


“Tha, kamu kenapa sih? Jika gak ada yang ditanyakan lagi, aku balik duluan ya?” tegur Dirgo.


“Eh, gak pa-pa, Dir.” Saut Agatha cengar-cengir, mata keduanya beradu pandang. Seketika Dirgo mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Iya, Dir. Gue juga mau balik kok.” Lanjut Agatha sambil merapikan rambutnya yang menutupi sebagian wajah karena terbawa angin.


“Its okay. Hati-hati, ya!” sahut Dirgo dengan senyuman ramahnya.


🕊️🕊️🕊️


Kemudian, Agatha langsung meninggalkan dan menjauh dari tempat itu, dia menghampiri mobil yang sudah terparkir di depan gerbang sekolah semenjak belasan menit berlalu. Setibanya di dekat mobil, Agatha menghela napas melihat mobil yang dikendarai Mang Judas untuk menjemputnya, sebuah mobil sport keluaran terbaru. Agatha menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir dengan daddy nya, bukannya waktu untuknya yang diberikan, tetapi malah mobil baru. Agatha sama sekali tak membutuhkan itu sebenarnya, yang dia butuhkan hanyalah sedikit waktu dari daddy serta mommy nya. Sekarang, dia seperti anak ayam yang kehilangan induknya.


“Fasilitas lancar, tapi kasih sayang tersendat. Aturan dari mana itu? Apa mungkin mereka berguru sama tuan takur sehingga menyesatkan pikiran mereka?” Gumamannya kesal sebelum membuka pintu mobil sport barunya.


Selama perjalanan menuju rumah, Agatha tampak gelisah memikirkan Welson yang sedari tadi tidak bisa dihubungi. Pikirannya jadi bercampur aduk, yang jika dijadikan makanan pasti menimbulkan rasa aneh. Semuanya menjadi satu, tentang kedua orang tuanya dan juga Welson.


“Mang? Kapan daddy beli mobil ini?” tanya Agatha membuka suara terlebih dulu.


“Sudah tiga hari yang lalu, Non. Tapi baru diantar ke rumah hari ini oleh petugasnya.” Jawab Mang Judas yang fokus melihat jalanan.


“Oh, oke Mang.” Tukas Agatha singkat.


Suasana kembali hening. Agatha menopangkan tangan kanannya ke dagu, tatapannya lurus menembus kaca mobil berwarna silver itu. Dia kembali mengingat kejadian sebelum keluar gerbang sekolah. Senyumannya mengembang membayangkan aroma tubuh itu.


“Wangi parfumnya menusuk jantungku, membuat hidung ini seakan ingin terus mengendus aroma itu. Sepertinya ada yang aneh dengan diriku.” Batinnya, seulas senyum terukir di wajah cantiknya.


“Tapi tunggu, kenapa jaketnya kayak gak asing ya? Kayak pernah liat seseorang yang memakai jaket itu? Tapi di mana ya? Apa jangan-jangan....” gerutunya dalam hati dan menggantungkan kalimatnya.


“Ah, yasudahlah, stop!” ucap Agatha yang lolos begitu saja sehingga membuat Mang Judas terperangah kaget.

__ADS_1


“Ada apa, Non? Kenapa nyuruh saya berhenti? Kita kan belum sampai? Mana mungkin berhenti di sini lalu kita jalan kaki?” tanya Mang Judas di depan sambil melirik ke belakang menggunakan kaca mobil.


“Gak, Mang. Aku ngomong sendiri kok.” Ucap Agatha spontan.


“Wah hebat dong, Non, bisa ngomong sendiri? Apa Non lagi kursus menjadi gila ya?” tanya Mang Judas yang masih fokus menyetir.


Plak!!! Agatha menendang kursi kemudi yang Mang Judas duduki.


“Mang, Mang! Sejak kapan ada kursus seperti itu?” tanya Agatha jengah.


“Ya siapa tau aja ada, Non.”


“Trus, kalau ada Mang Judas mau ikutan kursus juga?” tanya Agatha.


“Gak maulah, Non. Saya belum nikah loh.” Ucap Mang Judas terang-terangan.


“Buahahaha. Ternyata Mang Judas bujang lapuk.” Spontan Agatha tertawa.


“Non, gak boleh ngolok yang lebih tua, pamali tau!” seru Mang Judas, tangannya masih setia memegang setir mobil sport baru Agatha.


“Hihihi. Kan emang faktanya loh, Mang. Emang umur Mang Judas berapa?” tanya Agatha penasaran.


“Kalau menurut Non berapa umur saya?” Mang Judas malah balik bertanya.


“Ya Tuhan, kenapa malah main tebak-tabakan sih, Mang? Ya mana aku tau, aku bukan penerawang kayak di TV, Mang.” Tukas Agatha.


Mang Judas hanya bisa mengelus dadanya, pasalnya baru kali ini majikan kecilnya itu menanyakan umurnya.


“Mang, ditanya kok malah bengong? Biar aku upah deh jika Mang Judas mau jawab.” Pancing Agatha agar Mang Judas mau menjawab pertanyaannya, sementara ide konyolnya sudah seketika menempel dipikiran jahilnya.


Mendengar iming-iming upah, telinga Mang Judas gatal dan seolah bergerak sendiri. Telinganya sangat peka jika mendengar kata yang berkaitan dengan upah atau uang.


“Wow! Upahnya apa, Non?” tanya Mang Judas antusias, berharap upahnya adalah dua lembar uang dengan nominal yang besar.


“Rahasia. Makanya jawab dulu! Upahnya pas nyampe rumah aja, Mang.” Jawab Agatha sambil menahan tawanya.


“Saya tahun ini baru 36, Non.” Lanjutnya.


“Wahhhh, muda dari daddy dong, Mang?” ujar Agatha seraya menganggukkan kepalanya mengerti.


🕊️🕊️🕊️


Tanpa terasa, obrolan receh antara majikan dan driver itu telah membawa mereka sampai di rumah dengan kesan yang sangat menghibur bagi mereka berdua. Kini Mang Judas menagih janji pada Agatha karena telah memenuhi permintaan Agatha.


“Non, jadi bagaimana perjanjian kita tadi?” tanya Mang Judas.


“Perjanjian apa, Mang?” Agatha balik bertanya seolah lupa dengan perkataannya tadi.


“Aduh! Non ini bagaimana, kok lupa sih? Apa Non tidak punya memori pengingat?” tanya Mang Judas yang seketika membuat Agatha tertawa.


“Buahahaha! Memori pengingat.” Ucap Agatha sambil tertawa.


“Yaudah, Mang. Ini hadiahnya aku kasih, tapi Mang Judas tutup mata dulu ya!” pinta Agatha.


Mang Judas pun menuruti perintah Agatha, matanya tertutup dan tangannya menadah seperti orang buta mengemis di emperan toko. Agatha mencari jepit rambutnya yang berwarna pink yang dia simpan di saku tas sekolahnya. Barang yang Agatha cari kini sudah berhasil di genggamannya. Tanpa mengulur waktu lagi, Agatha langsung meletakkan jepit rambut tersebut di telapak tangan Mang Judas.


“Upahnya udah aku simpan di tangan Mang Judas ya. Namun, Mang Judas gak boleh buka mata dulu sebelum hitungan satu sampai tiga seleai ya!” perintahnya, Mang Judas mengangguk tanda mengerti.


Sambil membuka pintu mobil dan menurunkan jendela agar suaranya dapat terdengar oleh Mang Judas, perlahan Agatha melangkah keluar dari mobil barunya dan mulai berhitung tanda memberi aba-aba.


“Satu... Dua... Tiga! Boleh di buka, Mang!” perintah Agatha, kemudian dia langsung melesat masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan apa yang Mang Judas omelkan nantinya di mobil setelah mengetahui upah yang diberikannya.


Perlahan Mang Judas mengerjapkan matanya, membuka sedikit celah matanya untuk mengintip benda yang berada di telapak tangannya. Sekilas Mang Judas melihat warna pink.

__ADS_1


“Wahhhh! Warnanya seperti tidak asing di mata gilaku.” Gumam Mang Judas, kemudian membuka matanya lebar-lebar. Betapa terkejutnya dia melihat ada jepit rambut berwarna pink di tangannya.


“What??? Jepit rambut? Bagaimana bisa aku memakai benda terkutuk ini? Tidak mungkin jika dipakai pada telinga?” ucapnya terperangah kaget.


“Bisa-bisa Bi Momon mengejekku lagi seperti waktu meminum kiranti.” Tambahnya.


Agatha menghampiri Bi Momon yang tengah berkutat di dapur dengan masih gelakan tawanya. Bi Momon yang tengah asyik memegang spatula, berjengit keheranan ketika menyadari Agatha tengah asyik tertawa, tanpa sadar spatula itu mengenai kepalanya sendiri.


“Aduh! Siapa yang menjitak Bibi?” tanya Bi Momon pada Agatha, tangan kanannya memegang spatula dan tangan kirinya memegang bagian kepala yang terkena spatula.


“Aneh sekali! Kemaren di gazebo ketika Bibi memangkas tanaman, jus Bibi tiba-tiba kosong dari gelasnya. Bibi kira gelasnya bocor dan terkontaminasi virus Colorna. Eh dicari-cari kagak ketemu-ketemu juga jusnya.” Ucap Bi Momon menjelaskan pada Agatha, namun itu semakin membuat Agatha tertawa terbahak-bahak.


“Buahahaha. Ada-ada saja, Bi. Itu tadi Bibi yang mukul kepala Bibi sendiri dengan spatula itu.” Tukas Agatha dan tangannya menunjuk ke arah spatula yang dipegang Bi Momon.


“Pantas saja! Dasar kapulaga!” ucap Bi Momon, lalu meletakkan spatula itu ke atas kompor.


“Ya Tuhan! Spatulanya sejak kapan di oplas jadi kapulaga, Bi?” tanya Agatha dengan cekikikan.


“Bukan amplas, Non. Tapi mereka saudara tidak kembar. Hihihi.” Bi Momon juga cekikikan, kata oplas yang diucap Agatha kini terdengar seperti kata amplas di telinga Bi Momon.


“Astagadragon, Bi. Kenapa jadi amplas? Emangnya Bibi mau jadi tukang pengamplas tembok, dan mau rehat dari dunia keartisan dapur?” ujar Agatha, dia memegangi perutnya yang terasa dikocok akibat tertawa.


Tanpa mereka sadari, mang Judas juga menghampiri mereka berdua dengan telinganya dikenakan jepit berwarna pink, upah dari Agatha. Karena Agatha membelakangi Mang Judas, otomatis dia tidak melihat terlebih dahulu, melainkan Bi Momon.


“Buahahaha. Non.” Kini Bi Momon tak kuasa lagi menahan tawanya, sehingga membuat Bi Momon guling-guling di lantai marmer.


“Lah, Bibi kenapa sampai guling-guling kayak gitu?” tanya Agatha heran, gelak tawanya sudah bisa dia rem.


“Hihihi. Coba liat di belakang, Non! Ada wanita cantik jadi-jadian.” Bi Momon masih guling-guling.


Agatha pun menoleh ke belakang sesuai perintah Bi Momon. Seketika dia terbahak-bahak.


“Hahaha. Ya Tuhan, kenapa kalian lucu sekali?” ucap Agatha yang juga sudah guling-guling seperti Bi Momon. Mang Judas hanya bisa memutar bola matanya melihat tingkah Bi Momon dan Agatha persis suster ngesot yang kesurupan hantu gerandong.


“Juntai anggrek berjuntai-juntai. Melambai-lambai bak terkukur di pantai.” Ucap Mang Judas spontan, yang mana membuat keduanya semakin menjadi-jadi.


Suasana dapur siang ini terasa menjadi kelas kursus lomba tertawa. Bi Momon tertawa sampai-sampai tenggorokannya kering dan mengeluarkan air mata.


“Tunggu dulu, Non! Bibi minum dulu, tenggorokan Bibi manja minta asupan.” Ucap Bi Momon menyudahi tawanya, lalu bangkit berdiri.


“Dasar kecebong hanyut!” seru Mang Judas.


“Kalian kesurupan hantu apa?” tambahnya. Mang Judas heran kenapa Bi Momon dan nona kecil itu doyan sekali tertawa. Padahal mereka seperti itu juga karena ulah dirinya.


“Enak aja kesurupan.” Kini Agatha yang menghardik Mang Judas.


“Oiya, Mang, sejak kapan terkukur bisa melambai, bukannya nyiur ya?” lanjut Agatha.


“Asbut, Non.” Jawab Mang Judas.


“Hahaha. Lo buta ya, Judas? Udara sesegar ini dibilang kabut?” pungkas Bi Momon sembarangan.


“Asbut, Bi. Asal sebut!” jelas Agatha.


Jepit rambut itu masih saja setia di telinga Mang Judas, lagi-lagi Bi Momon tertawa.


“Hahaha. Sekarang lo jadi memiliki dua nama, Judas! Kalau siang, tetap Judas. Tapi kalau malam jadi Julia.” Ucap Bi Momon terkekeh.


“Hahaha. Parah! Benar-benar parah.” Agatha bangkit berdiri.


“Huhhh! Ini semua gara-gara Non.” Dengus Mang Judas merasa kesal karena telah dijahili oleh Agatha.


“Hahaha. Wekkkkk!” ejek Agatha menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


Tak ingin menjadi gila karena berlama-lama tertawa, akhirnya Agatha meninggalkan dapur dan menyisakan Bi Momon serta mang Judas. Agatha melesat menerobos Mang Judas.


🕊️🕊️🕊️


__ADS_2