
Hari sudah semakin gelap. Cahaya yang dipancarkan oleh lampu jalanan menambah keindahan kota di saat Agatha dan Dirgo bertolak dari bukit berbunga. Cukup lama Dirgo membawa Agatha di sana, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Dirgo kembali mengemudi mobilnya, sementara Agatha duduk di sampingnya. Sejenak Agatha memperhatikan Dirgo yang tengah fokus menyetir ketika menjauh dari area bukit. Dari sudut matanya, Dirgo dapat melihat bahwa orang yang berada di sampingnya tengah memperhatikannya tanpa berkedip.
“Benarkah ucapanmu tadi?” tanya Dirgo membuat Agatha mengerjapkan matanya. Sekilas menoleh ke arah Agatha dengan wajah tersenyum, namun tangannya tetap fokus memegang setir mobil.
“Yang mana, Dir?”
“Hubunganmu sama Welson. Benarkah?”
“Bener. Untuk apa gue mempertahankan hubungan yang tak sehat. Bisa-bisa gue stress dan depresi. Gue takut jika diri gue semakin hilang.”
Dirgo mengangguk tanda mengerti. “Sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kamu dari dulu. Tapi aku takut dan aku nggak mau jadi perusak hubungan kalian.”
“Perusak hubungan kami berdua? Maksudnya gimana, Dir?”
“Iya, perusak hubungan. Aku mau cerita, tapi kamu jangan marah sama aku,” ujar Dirgo.
“Okay. Apa yang mau lo ceritakan?”
“Aku tau jika Welson selingkuh dengan Nadine. Tapi aku ingin kamu mengetahuinya sendiri. Dan syukurlah jika sekarang kamu sudah mengetahui semuanya.” Dirgo menghentikan mobilnya di pinggir jalan ketika jalanan sepi. Ia ingin melihat reaksi Agatha setelah mendengar penuturannya. Agatha menatapnya seolah tak percaya dengan ucapannya. Tatapan itu ia balas dengan tersenyum, mencoba memmbuat Agatha supaya tidak memarahinya ataupun memakinya.
“Haha…sebenarnya gue juga udah mulai curiga dengan gerak-gerik mereka berdua. Lo ingat kejadian di kebun binatang itu? Iya, gue sama Memey pulang tanpa ngasih tau kalian, karena tanpa sengaja gue ngeliat Welson dan Nadine tengah bertatapan sangat mesra. Mungkin sepeninggalan gue meninggalkan kalian, mereka asik berciuman. Gue yakin banget itu, karena lo tau sendiri gimana mesumnya Welson,” jelas Agatha panjang lebar.
“So, kamu nggak marah kan sama aku karena baru cerita sekarang?” tanya Dirgo memastikan.
“Untuk apa gue marah? Kejadiannya juga udah berlalu. Dan yang penting gue sama mereka berdua udah nggak punya hubungan apa-apa. Gue benci sama manusia pengkhianat seperti Welson dan juga Nadine. Oh ya, makasih udah peduli sama gue.”
Dirgo mengusap kepala Agatha dengan lembut. Entah refleks atau memang karena rasa sukanya pada Agatha yang membuat Dirgo demikian, tetapi sang empunya kepala justru tersenyum malu mendapat sentuhan itu. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali ke rumah. Dirgo bersyukur dengan reaksi Agatha karena tidak marah padanya.
🕊️🕊️🕊️
Baru saja Agatha melangkahkan kakinya ke anak tangga, tiba-tiba saja melihat kedua orang tuanya keluar dari arah yang berbeda. Daddynya keluar dari ruang kerjanya, sedangkan mommynya dari kamar. Agatha hendak berlalu menaiki anak tangga, namun langkahnya terhenti ketika sang daddy memanggilnya.
“Sayang, kamu dari mana?” tanya Tn. Thomas.
Sejenak Agatha memperhatikan kedua orang tuanya secara bergantian. “Abis dari luar, Dad. Cari sesuatu yang menenangkan.”
“Pergi sama siapa? Sama Welson, bukan?”
“Daddy, please! Jangan sebut nama manusia pengkhianat itu di depanku!” sambil mengucapkan itu, Agatha menoleh ke arahnya. Hati Ny. Daria terasa digelitik kemarahan oleh ucapan Agatha.
“Oh begitu.” Tn. Thomas mengangguk-anggukan kepalanya. Jika seperti itu, ia sudah mengerti arah yang diucapkan oleh anaknya, karena memang dirinya juga pernah muda sama seperti Agatha.
“Kenapa Daddy memanggilku?”
__ADS_1
“Bersihkan dirimu. Mandi dengan air hangat. Setelah itu kita makan. Daddy tungguin di ruang makan. Oke sayang?”
“Okay, Dad. Agatha mandi dulu.”
Ini merupakan sesuatu yang tak biasa terlepas bagaimana kehidupan keluarganya belakangan ini. Orang tuanya baru saja mengajaknya untuk makan malam bersama. Ia was-was jika saja orang tuanya menceramahinya karena tidak lulus seleksi masuk perguruan tinggi sampai dua kali. Agatha segera membersihkan dirinya sampai benar-benar merasakan kesegaran. Agatha bergegas ke bawah menemui kedua orang tuanya yang sudah menunggunya untuk makan.
Sepanjang dentingan sendok dan garpu terus bertalu, ketiganya tidak membuat dialog apapun. Agatha mengira bahwa orang tuanya ingin menceramahinya, tetapi ternyata tidak. Daddynya sampai makan malam bersama selesai, tidak mengucapkan sepatah kata pun perihal yang menyinggung ketidaklulusannya mengikuti seleksi. Tidak ada kata-kata menceramah. Tidak ada kata-kata menasihati. Tidak ada kata-kata menyemangati. Juga tidak ada kata makian. Hal itu justru membuat Agatha merasa sedih. Ia berasumsi bahwa daddynya memang sudah tidak lagi peduli padanya.
Padahal paling tidak, daddynya akan marah besar seperti yang dilakukan oleh mommynya kemarin. Entah mana yang lebih buruk dan menyakitkan. Didiamkan daddynya atau dimarahi oleh mommynya yang memarahinya bukan karena rasa peduli, melainkan karena alasan reputasi dan juga kedoknya tertangkap oleh Agatha, anaknya sendiri. Agatha tidak ingin memikirkan itu, yang pasti didiamkan oleh daddynya yang justru lebih buruk dan menyakitkan.
“Sayang, maaf jika hal ini mendadak. Tetapi kami sudah lama memikirkannya…” ucap daddynya memulai perbincangan.
“Memikirkan apa, Daddy?”
“Kami memutuskan untuk bercerai…” jawab daddynya tepat pada sasaran, membuat Agatha cukup shock dan seakan tak mempercayai pada indera pendengarannya. Ia kemudian berhenti memasukan makanan penutup ke mulutnya.
“Oh, baguslah! Setelah semua yang terjadi selama ini, belum ada cinta dan kasih sayang yang kalian berikan untukku. Kalian ingin mencampakkanku begitu saja! Setelah Mommy selingkuh, aku nggak lulus seleksi, daddy yang mendiamkanku, dan sekarang...kalian mau mau bercerai? Tidak cukupkah kalian menghancurkan dan merusak mental anak kalian sendiri?” ratap Agatha dalam hatinya.
“Karena apa kalian ingin bercerai?” tanya Agatha tanpa memandang orang tuanya, ia tertunduk masih tidak percaya dengan keputusan yang dibuat orang tuanya. “Apa karena gara-gara aku kalian ingin bercerai?”
“No! Tentu saja tidak, Sayang,” jawab daddynya dengan cepat.
“Kami merasa lebih baik jika kami hidup sendiri-sendiri,” timpal mommynya.
“Apa maksud dari pertanyaanmu, Agatha?” bentak mommynya mulai marah. “Cepat selesaikan itu dan pergi tidur! Besok pagi kita semua harus pergi ke pengadilan.” Selesai mengatakan kalimat itu, Ny. Daria lalu bangkit dari kursinya.
“Kenapa kalian nggak pernah berunding dulu dengan anak kalian sendiri?” tanya Agatha menatap kedua orang tuanya, dirinya merasa tak terima dengan keputusan itu. “Kenapa nggak pernah bilang jika kalian ingin bercerai? Ternyata benar, Agatha memang nggak pernah penting dan nggak pernah dianggap sama kalian…”
Ny. Daria hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian berlalu pergi meninggalkan anak dan suaminya di ruang makan. Hening menaungi ruang makan beberapa saat.
“Dad, beberapa hari lalu.…Agatha tanpa sengaja memergoki mommy tengah bermesraan dengan pria lain di rumah ini, tepatnya di ruang keluarga.…” Agatha menundukkan kepalanya kembali, sementara daddynya menatapnya dengan penuh arti. Tidak ada ekpresi yang menunjukkan kekagetan yang tercermin di wajah daddynya.
“Daddy? Kenapa Daddy nggak marah?” tanya Agatha akhirnya sembari mangangkat kepalanya setelah daddynya diam cukup lama. Ia menatap wajah daddynya yang masih terlihat tampan itu seraya berpikir bahwa daddynya sedang menjalankan reaksi tidak percaya padanya.
“Daddy sudah tau, Sayang,” jawab daddynya sambil sedikit menyimpulkan senyum di wajahnya yang terlihat letih. Sinar keletihan yang terpancar dapat dipantau jelas oleh Agatha.
“Really, Dad? Lalu kenapa Daddy diam saja?” tanya Agatha tak mengerti dengan ucapan daddynya.
“Daddy tau sejak sebulan yang lalu dan sengaja menyembunyikan ini dari kamu. Bi Momon bilang, sebenarnya sudah lama perselingkuhan yang mommymu lakukan dan berani membawa lelaki bangsat itu ke rumah. Karena hal itulah, untuk lebih jelasnya Daddy sengaja menyuruh orang pilihan Daddy untuk mencari tau semuanya, dan ternyata benar. Selama ini Daddy berusaha bersabar, tapi mommymu tidak mengerti dengan kesempatan yang Daddy berikan. Akhirnya, Daddy sengaja memergoki mereka di rumah kontrakan lelaki itu agar kami bisa bercerai,” jawab daddynya panjang lebar.
“Apakah ini jalan terbaik menurut Daddy?” tanya Agatha dengan mata yang berkaca-kaca. Daddynya hanya mendesah dan memegang tangan Agatha, tangan anak semata wayangnya.
“Maafkan Daddy, Sayang. Tapi ini memang yang terbaik dan sudah Daddy pikirkan baik-baik.” Daddynya menepuk-nepuk tangan Agatha untuk memberikan pengertian terhadap jalan yang dipilihnya. “Sayang, setelah ini kamu mau ikut siapa?”
__ADS_1
Agatha hanya diam membisu. Tangannya mengepal keras, seolah ia bisa menghancurkan meja makan itu dalam kepalan tangannya. Giginya terkatup rapat dan menggeram.
“Terserahlah….”
Hanya kata terserah yang sanggup Agatha ucapkan. Baginya, sudah tidak ada lagi yang penting di dunia ini. Tidak ada yang dimilikinya di dalam keluarga ini selain dirinya. Ia kecewa dengan keputusan daddynya. Bahkan ia pun sudah tidak utuh lagi setelah tidur bersama Welson. Ia lalu bangkit dari duduknya lalu pergi ke kamarnya.
🕊️🕊️🕊️
Ketika dirinya sedang merenungi nasib dan segala sesuatunya di kamar, ia merasa bahwa hidupnya hanyalah sia-sia belaka. Terbersit sesuatu di benaknya untuk mengakhiri semua penderitaan yang selama ini dirasakan. Ia ingin mengakhiri semuanya untuk selamanya supaya penderitaan itu tidak terjadi kembali padanya.
“Memang nggak ada yang adil di dunia ini! Masa seorang Agatha William…gitu loh, nggak lulus seleksi universitas? Haha, nggak banget. Ini tidak mungkin!” omel Agatha pada dirinya sambil mengaduk-aduk isi lemarinya. Isi yang ada di lemari sudah tumpah ruah dan berserakan dibuatnya. Ia mencari tali-temali atau sejenisnya untuk gantung diri. Ia rasa idenya itu sudah mantap.
Setelah berhasil membuat kamarnya porak-poranda dan berhasil menemukan tali yang bisa dikatakan adalah tali pramuka, ia segera membuat simpul sebesar batang lehernya, kemudian ia mengaitkan ujung tali yang lain ke lampu kristal berlapis emas yang berada di atas ranjangnya. Berharap semoga lampu itu bisa menahan berat badannya, maklum belum pernah melakukan ini sama sekali sebelumnya.
Baru saja Agatha naik ke atas ranjangnya sebagai pijakan dan memegang talinya, tiba-tiba ada seseorang berteriak dari arah jendela kamar.
“Nooooo! Don’t do it, please! Jangan lakukan itu!” seru seorang cowok sambil menyingkapkan gorden. Agatha kaget bukan kepalang. Ia memperhatikan ke arah jendela kamarnya yang terbuka lebar. Ada seorang anak cowok seusianya yang duduk nangkring di kusen jendela. Agatha membelalakkan matanya karena kaget. Dari mana datangnya manusia itu dan bagaimana bisa dia naik ke kamarnya, pikir Agatha.
“Emang kamu udah tau bakal ke surga atau neraka sesudah kamu bunuh diri? Apakah kamu tau bakal ke mana sesudah kematian?” tanya cowok itu dengan seksama memperhatikan Agatha.
“Zioooo!” jerit Agatha seketika dan aksinya ingin bunuh diri batal sudah. Agatha segera mengenali cowok itu, karena Alzio Steward adalah saudara sepupunya. Agatha awalnya hampir tidak mengenali sepupunya itu. “Ngapain kamu ada di sini?” tanya Agatha.
“Sorry, ya. Aku masuk ke kamar tanpa seizin kamu.” Alzio segera turun dari kusen jendela. “Abisnya sih kamu nggak sadar-sadar. Padahal aku dari tadi asyik ngumpet di situ.” Ia menunjuk tempat favorit barunya dengan bokongnya.
“Ngapain kamu di sini?” Agatha kembali meneriaki sepupunya dengan lantang, dengan mengulangi kalimat yang sama hingga Alzio harus menutup kedua telinganya. Teriakan Agatha sungguh memekakkan telinganya.
“Duh, Nona. Makanya jadi orang kerjanya jangan cuma makan tidur doang. Jalan sana-sini sama cowok. Sampai sepupumu yang cakep membahana ini dateng pagi-pagi buta kamu sama sekali nggak tau.”
Agatha masih tidak mengerti apa yang sedang dilakukan akhir-akhir ini semenjak dirinya tidak lulus seleksi. Agatha jadi malas melakukan aktivitas apa pun. Paling-paling cuma bangun jam sepuluh, makan, mandi, terus tidur lagi. Kadang ia sampai melewatkan jam makannya. Begitu seterusnya hingga tiba siang berganti malam. Seperti tadi pagi, tiba-tiba saja Dirgo sudah di rumahnya, sementara ia baru bangun dari tidurnya. Jadi wajar saja jika ia tidak mengetahui kedatangan sepupunya ini.
“Eh, cowok yang jalan denganmu tadi pagi cakep, ya! Pepet terus,” ledek Alzio.
“Dih, dia cuma sahabatku! Jadi, jam berapa kamu dateng?”
“Pagi-pagi buta. Tau nggak pagi-pagi buta?” tanya Alzio.
“Ya taulah. Kok tadi nggak ikut makan malam?” tanya Agatha berbasa-basi meski ia sebenarnya tidak terlalu peduli dengan sepupunya yang ia rasa menjengkelkan itu.
“Terserah kek, mau makan atau nggak. Makan di teras kek, di kusen kek, di gazebo kek, atau bareng Bi Momon sama Mang Judas, I don’t care! Yang jelas sepupuku yang ini nyebelin pake banget tanpa tawar-menawar!” batin Agatha.
“Udah. Aku duluan yang membuka hidangannya, terus aku main ke sini,” ujar Alzio sambil cengar-cengir, membuat Agatha semakin jengkel saja rasanya. Meski tak bisa dipungkiri Alzio memiliki wajah yang cukup tampan, hingga mampu membuat cewek-cewek berteriak histeris. Ingin rasanya Agatha menonjok muka imut milik sepupunya itu.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
To be continued…