
...Pada dasarnya, kita hanya perlu tenang untuk melewati semua yang sedang terjadi. –Author–...
🕊️🕊️🕊️
“Arrrghhhhh!!! Ya ampun kepalakuuuu,” pekik Agatha saat ia bangun pagi. Ia baru saja terbangun dan kepalanya terasa berat sekali. Ia memijat kepalanya yang serasa dihantam palu raksasa itu. Alzio yang baru saja keluar dari kamar mandi, sempat kaget karena Agatha memekik.
“Dasar sepupu sok jagoan. Kamu nggak tau, ya, kalo minum bisa bikin kepala pusing?” Alzio menyapa sepupunya dengan sebuah petuah dan omelan.
“Zio, semalam…aku pulang jam berapa? Aku nggak ingat apa-apa. Aku pulang bawa mobil nggak? Tasku ada nggak?” tanya Agatha bertubi-tubi sambil memegangi kepalanya dan memejamkan mata.
“Semalem kamu balik jam sepuluh lebih tiga puluh menit. Yang bikin aku heran, kamu dalam keadaan mabuk berat masih bisa nyetir sendiri. Bahaya banget, tau! Udah nggak sayang lagi sama nyawamu sendiri?” omel Alzio. Alzio tidak mengetahui jika sepepunya ini pulang di antar oleh Dirgo. “Udah gitu, kamu langsung muntah-muntah, untung belum sempat kena aku karena cepat-cepat kubawa ke toilet.”
“Iyakah? Masa sih?” tanya Agatha tak percaya. “Terus aku ada bilang yang aneh-aneh nggak?”
“Nggak ada. Kamu cuma nangis-nangsi aja, udah kayak orang stress. Emang kenapa?”
“Nggak. Beneran nih aku nggak ngomong apa-apa atau nyebut nama seseorang? Ngomongin soal bayi, misalnya?” Agatha memicingkan mata.
“Apa? Bayi?” Alzio membelalakkan matanya. “Cupit, apa jangan-jangan kamu…?”
“Jangan-jangan apa? Nggak ada, ya! Jangan negative thinking deh!”
Alzio hanya memandangi tiap gerak-gerik sepupunya. Tak ada sesuatu yang aneh, pikirnya.
“Oh my God. By the way, tasku mana? Kamu ada liat nggak?” Agatha kalang kabut mencari keberadaan tas pada sepupunya. Perlahan ia mulai sedikit ingat bahwa dirinya tak membawa serta tasnya pulang, yang artinya ia meninggalkan tasnya di club. Ia berharap ini hanyalah dugaannya semata, karena takut kalau-kalau tasnya hilang. Ia menyimpan semua barang berharga di dalam tasnya. Ada ponsel dan dompet yang tebal berisi buku tabungan beserta lima buah ATM yang semuanya blackcard, beberapa voucher belanja, SIM Card, juga tanda pengenal. Apabila tasnya hilang maka semua barang berharga tersebut pun lenyap sudah.
“Tas?” Alzio mengerutkan keningnya. “Kayaknya semalem kamu nggak bawa tas, deh!”
“Ahh yang bener aku nggak bawa tas? Kamu umpetin kali!”
“Enak aja! Kurang kerjaan banget aku umpetin tas kamu!”
“Aduhh, Zio. Gimana dong ini, Ziooo… aduh tasku ketinggalan di club semalem. Gimana, dong?” rengek Agatha. Ia mondar-mandir di depan Alzio sambil memegangi kepalanya.
“Ada apa aja isinya? Udah telepon ke sana aja, deh!” ujar Alzio dengan santai.
“Duhh, nggak bisa dong. Apa masih ada tasku di sana? Kamu pikir orang macam apa yang pergi ke sana?”
“Orang-orang macem kamu, kan?” sindir Alzio.
“Ihh, malah mau nyeramahin aku lagi. Aku lagi cemas, jangan bikin aku makin cemas, dong!”
“Lagian siapa suruh sok-sokan jadi jagoan dadakan kayak gitu? Udah, buruan telepon ke sana!”
“Iya-iya, boleh dicoba juga,” jawab Agatha sambil mengangkat gagang telepon yang ada di kamarnya.
__ADS_1
“Hallo, saya ingin bertanya, apakah semalam karyawan Anda ada yang menemukan tas Louis Vuitton yang ketinggalan di situ?”
“Mohon maaf, kami tidak menemukan barang yang dimaksud.”
“Nggak ada?” tanya Agatha panik.
“Iya. Menurut karyawan yang bertugas di kasir, katanya tas itu udah dibawa oleh tiga orang cewek-cowok.”
“Apa? Tiga orang?” Agatha menatap menatap sepupuya dengan putus asa.
“Mungkin mereka teman-temannya kamu.”
“Siapa? Aduh, pake nggak ingat segala…”
“Style mereka beda dari yang lain. Rambutnya warna-warni, ada yang ungu cerah, hijau menyala, juga pink.”
“Oh gitu, ya? Ya udah, thanks, ya. Maaf udah ganggu.” Agatha mengakhiri panggilannya.
“Gimana?” tanya Alzio.
“Huaaa tasku dicuri…! Katanya ada tiga anak punk yang membawa tasku. Zio, gimana dong? Tas kesayanganku nggak bakalan balik. Hiks…hiksss.”
“Ya mau gimana lagi, kan. Udah, kamu relain aja. Ini kan juga jadi pelajaran buat kamu, biar nggak teledor kayak gitu lagi.”
“Enak banget ya kamu kalo ngomong!” Agatha mencubit tangan Alzio. Sontak Alzio meringis.
Saat sedang asyik berdebat, pintu kamarnya terbuka. Tampak Bi Momon datang menghampiri dengan tubuhnya yang masih terbalut apron atau yang lebih dikenal dengan sebutan celemek. Celemek ya, bukan cepmek (Haha). Agatha dan Alzio saling berpandangan karena Bi Momon datang begitu saja ke kamar Agatha tanpa mengetuk pintu. Mereka menduga bahwa sesuatu hal buruk sedang terjadi, namun suasana rasanya tidak menggambarkan akan hal itu.
“Ada apa, Bi?” tanya Alzio.
“Di bawah ada yang nyari, Den,” jawab Bi Momon. “Non, dicariin temen tuh. Di ruang tamu.” Bi Momon mengalihkan pandangannya pada Agatha.
“Siapa, Bi?” tanya Agatha. Ia heran, pasalnya baru saja bangun sudah ada tamu yang mengatasnamakan teman dari Agatha sendiri.
“Nggak tau, Non. Tampangnya cakep-cakep, namun terlihat sangar juga. Katanya, mereka temen-temen, Non. Tapi sayang, Bibi nggak kenal sama mereka. Nggak mungkin juga kan Nak Dirgo dan yang lainnya berubah begitu cepat?” ujar Bi Momon.
Agatha dan sepupunya itu saling pandang dalam beberapa detik, berusaha mencari jawaban di wajah satu sama lain. “Bi, lain kali, siapapun yang nyariin aku, tanya dulu namanya siapa dan ada perlu apa dia nyariin aku,” terang Agatha pada Bi Momon. Bi Momon mengangguk patuh sebagai jawabannya. Agatha kemudian beranjak keluar dan mengintip dari lantai atas melihat yang sedang mencarinya. Ia kaget ketika melihat ketiga anak punk itu.
“Oh My God!” Agatha berlari kecil ke arah Alzio dan Bi Momon. “Mereka mah anak jalanan, bukan temen-temenku! Kok bisa Mang Judas membiarkan mereka masuk, sih? Kita harus telpon Mang Judas!” Agatha tiba-tiba sudah memegang gagang telepon untuk menghubungi Mang Judas, tetapi Alzio mencegahnya.
“Tha, jangan! Ada baiknya kita ladenin dulu apa maunya mereka. Yakin nih kamu nggak kenal mereka? Sama sekali nggak kenal?”
“Nggaklah! Sejak kapan sepupumu ini punya teman kayak mereka?”
“Sudah dicegah sama si Judas, Non. Tapi mereka ngotot tetap masuk. Katanya ada hal penting,” timpal Bi Momon.
__ADS_1
“Tuh denger apa kata Bi Momon! Udah, ayo! Aku penasaran, nih!”
“Zio, kamu gila, ya?” Agatha melotot pada sepupunya karena bersikeras ingin menemui ketiga anak punk itu.
“Tenang aja, kan ada aku. Bener nggak, Bi?” Alzio tersenyum sambil menunjuk dirinya sendiri dengan bangga. Setelah dibujuk-bujuk dan dirayu-rayu, akhirnya Agatha menurut juga pada sepupunya.
Mereka bertiga keluar dari kamar dan segera menuruni anak tangga satu per satu dengan Bi Momon mendahului kedua saudara sepupu itu.
“Hai! Agatha, ya?” sapa anak punk cewek ketika melihat kedatangan Agatha dan sepupunya. Sementara Bi Momon kembali ke tempat peraduannya di dapur. Agatha hanya mengangguk sekali menjawab terkaan anak punk itu. Terkaan yang memang tepat pada sasaran.
Belum sempat Agatha mendaratkan tubuhnya di sofa, salah seorang anak punk yang cowok memberi barang yang sedari tadi dicarinya.
“Nih,” cowok berambut ungu cerah menyerahkan tas branded milik Agatha yang baru saja ia cari-cari. Agatha langsung menyambar tasnya lalu memeriksa isi di dalam tasnya.
“Masih utuh, kok. Tapi lain kali kalo ditinggal lagi, kami nggak menjamin tasmu bakalan selamat, Dik. Dan kita nggak mungkin bakalan ketemu lagi, kan?” timpal cowok yang berambut ungu cerah.
“Thanks, ya,” ucap Alzio mewakili sepupunya.
“What? Apanya yang utuh? Uangku hilang…?” Agatha bicara dengan terbata-bata.
“Heii, adik kecil! Jangan lupa ya, kamu pulang begitu aja dan minumanmu semalem belum kamu bayar. So, kami ambil aja uang dari tasmu, adik kecil. Nggak salah kan uangmu untuk membayar minumanmu sendiri?” jelas si cowok berambut hijau menyala. Anting di lidahnya bergerak-gerak tiap kali ia berbicara hingga membuat Agatha bergidik ngeri melihatnya.
“Lalu, kok…kakak-kakak bisa sampai sini gimana ceritanya?” tanya Agatha bingung, pikirannya lagi dongkol karena malu belum membayar minumannya semalam.
“Aduh, adik kecil. Di dalam tasmu kan ada kartu identitasmu. Ya kami ikuti saja alamat yang tertera di sana. Udah, sekarag kami bertiga pamit pulang dulu,” si cewek rambut pink bangkit berdiri.
“Eh, tunggu dulu! Kami ngerasa berhutang budi banget, nih,” ucap Alzio. “Nggak pengen makan-makan atau bersantai dulu apa…” Tiba-tiba Agatha mencubit tangan Alzio, Alzio langsung nyengir.
“Nggak deh. Thanks, yah. Kami senang jika kalian merasa berhutang budi pada kami.”
Agatha dan Alzio terbengong-bengong sambil berpandangan mendengar penuturan cewek berambut pink.
“Mmm, boleh tau namanya, Kak?” tanya Alzio berhati-hati.
“Cath. Catherine,” cewek berambut pink mengulurkan tangannya pada Alzio dan Agatha bergantian. Kedua temannya pun mengikuti Cath.
“Bernard,” ujar si rambut hijau menyala.
“Dan aku, Andrew,” ucap si rambut ungu cerah menyalami tuan rumah.
Kedua saudara sepupu itu menyalami mereka sambil berpikir dengan nama ketiga tamunya yang kebarat-baratan. Mereka tak percaya bahwa tamunya yang merupakan anak punk bisa memiliki nama yang tak kalah keren dari nama mereka.
“Nice to meet you, Kakak-kakak.” Alzio tersenyum. Ketiga anak punk itu mengacungkan jempolnya bersamaan, kemudian mereka pamit undur dari rumah megah nan mewah milik keluarga Thomas William. Sebelum mereka melesat pergi, Agatha dan Alzio sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada ketiga anak punk itu karena telah mengamankan tas Agatha.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
To be continued….