
“Mommy benar-benar minta maaf, Sayang. Pekerjaan Mommy…”
“Ahh, persetan dengan semua itu, Mom!” hardik Agatha dengan tegas. Jiwa kekecewaannya sudah membuncah.
“Sayang, kenapa ngomong kasar gitu sama Mommy? Mommy sungguh menyesal dan minta maaf buat semuanya, Sayang. Di sana banyak teman-temanmu juga kan?”
Agatha hanya diam bergeming tanpa mengeluarkan satu kata apapun ketika mendengar sang mommy menyatakan kalau dia sungguh menyesal. Menyesal, tapi tak ada upaya sama sekali untuk datang pada pesta ulang tahun anaknya itu barang sekejap.
“Acaranya meriah, kan? Mommy sudah kirimkan kado spesial untukmu, Sayang. Mobil import keluaran Amerika seperti yang kamu inginkan dulu. Gimana, kamu suka? Hmm?” lanjut sang mommy yang tanpa jawaban dari Agatha.
Neot!!! Agatha mematikan ponselnya ketika mommy nya bertanya panjang lebar. Mobil tersebut memang mobil yang diinginkan oleh Agatha semenjak ia masih sekolah junior. Memang hadiah tersebut sudah dipenuhi oleh sang mommy, tapi waktu dari orang tuanya ia rasa selalu kurang. Agatha benar-benar sedih mendapati perlakuan seperti itu. Bagaimana mungkin sang mommy sama sekali tak memahami perasaannya? Seharusnya dia yang menggantikan suaminya ketika sang suami tidak ada. Dan ini malah sebaliknya, sama-sama tak hadir. Sejenak Agatha berpikir, benarkah wanita yang baru saja meneleponnya adalah wanita yang melahirkannya? Jika benar, kenapa selalu seperti itu?
“Ahh sudahlah. It’s okay. I’m okay!” ucapnya meyakinkan diri sendiri sambil menyeka air matanya yang masih membasahi pipinya. Agatha segera bergegas menuju Welson yang sedari tadi menunggunya.
“Why, Honey? Kenapa nangis, hmm?” tanya Welson ketika Agatha berada tepat di depannya.
“No! I’m not crying, Honey!” sebisa mungkin Agatha menyembunyikannya. Welson yang sedari tadi memperhatikan pacarnya berkomunikasi dengan mommy nya, hanya bisa tersenyum supaya Agatha tak berlarut sedih.
“Wahh! Mobil di luar itu keren banget, ya, Tha!” seru Franky dengan genit dan gayanya yang lentik, tanpa memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi pada Agtaha. “Bokap nyokapmu emang paling ngerti ya seleranya anak muda...”
“Huh! Apaan sih? Ini bukan pesta, tau!” Agatha berdecak kesal pada manusia bertulang lunak itu.
“Ah bisa aja kamu, Tsay. Pesta seapik dan sekeren gini dibilang bukan pesta,” ucap Franky dengan gaya khasnya. “Eh, si tampan itu siapa?” tunjuknya pada Welson.
“Hallo, Bro. Gue Welson Smith, pacarnya Agatha.” Menyadari Franky yang bertanya tentang siapa dia, Welson buru-buru langsung memperkenalkan diri pada Franky tanpa menunggu Agatha yang memperkenalkannya.
“Oh wow. Senang berkenalan denganmu. Gue Franky Hans,” ucapnya seraya berjabat tangan dengan Welson. “Eh, kamu mau kan ajak kita-kita keliling pake mobil barumu itu selesai acara nanti? Jalan-jalan, Sist…! sambungnya pada Agatha.
__ADS_1
“Ogah! Jalan aja sendiri!”
“Dihh, gak boleh ngambek tau di acara ultah kayak gini!” satu per satu sahabat Agatha datang menghampiri mereka bertiga.
Tanpa menghiraukan ocehan receh dari Franky, Agatha berlari keluar. Kemudian disusul juga oleh Welson. “Heii, kamu gak apa-apa kan, Sayang?” tanya Welson ketika melihat Agatha kembali tak bersemangat.
“Loh, why you angry with me, Tha? Aduh, gimana ini?” seru Franky yang tak tau apa-apa langsung panik. “Aku kan cuma pengen nebeng doang aja ih. You-you pada, sih! I-iih sebel deh aku!” Franky menatap sahabat-sahabat Agatha kemudian berlalu pergi menuju tempat hidangan makanan.
Welson mengikuti Agatha yang mengarah ke arah kolam renang hotel. Di kolam renang terlihat sepi karena jauh dari jangkauan anak-anak lainnya. Agatha mendaratkan bokongnya duduk di kursi yang tersedia di sekitaran kolam renang.
“Sayang! Come on, Honey! Ini saatnya kita happy-happy. Lagian, ngapain juga sih mikirin hal yang gak perlu? Yang mungkin sudah sering kamu alami selama ini,” ujar Welson dengan cuek.
Tak ayal, dan kontan saja penuturan dari Welson membuat Agatha naik pitam. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu pada pacarnya. Mengapa juga ia bisa berpacaran dengan cowok yang sama sekali tak punya perasaan itu? Mengapa juga tak satu orang pun yang mengerti dan memahami perasaannya? Agatha capek, Agatha lelah, lelah dengan semuanya ini. Dan, bukan ini juga yang Agatha inginkan. Ini bukan pesta! Bukan pesta ulang tahun, menurutnya. Dari kejauhan, Dirgo sengaja memperhatikan Agatha dan Welson, siapa tau akan terjadi hal yang tidak diinginkan, pikirnya.
“Kamu tau apa, hah?” balas Agatha dengan sengit.
Sekali lagi, betapa terkejutnya Agatha dengan perkataan Welson barusan. Agatha tak habis pikir. Bagaimana mungkin di saat-saat seperti ini, sang pacarnya itu yang ia harapkan akan dapat memberi dukungan terhadapnya, justru berkata dan berujar yang tidak perlu? Agatha menghembuskan napas panjang, menggelengkan kepalanya dengan tak yakin karena perkataan Welson. Kadang-kadang, Agatha merasa bahwa Welson adalah pasien Rumah Sakit Jiwa yang sengaja kabur dan berkeliaran di keramaian orang. Lebih tepatnya lagi adalah memang gila. Betapa egois, materialistis, dan tidak berperasaannya manusia itu yang menjadi pacarnya. Sempat juga Agatha berpikir bahwa Welson menjalin hubungan dengannya hanya mengincar mahkota kegadisannya.
“Shut up, Welson! Aku gak pernah minta pesta mewah-mewahan kayak gini! Jika bisa milih, aku rela membuang dan membakar semuanya ini, asal daddy mommy ku bisa balik! Balik bersamaku, dan mau bersatu kembali kayak dulu! Kenapa di saat-saat penting kayak gini mereka tetap gak bisa datang? Sebenarnya aku ini siapa, hah? Aku ngerasa dibuang, Wels! Dari dulu sering kukatakan semuanya padamu, apa kamu masih gak ngerti juga? Masih gak ngerti tentang itu semua? Gak ngerti juga gimana perasaanku? Apakah salah jika aku meminta mereka….” Agatha menangis sejadi-jadinya. Langit sore dan kolam renang itu hanya mampu menjadi saksi bisu, saksi buta atas kepedihan dan kesedihan hati yang Agatha alami. Dirgo yang menyaksikannya dari jauh, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ingin sekali rasanya ia memeluk Agatha jika di sana tak ada Welson. Dirgo merasa geram. Karena Welson jugalah yang membuat Agatha terus menangis seperti itu.
🕊️🕊️🕊️
Tepat pukul lima sore lebih tiga puluh menit, Lanchen Hotel yang menjadi tempat diselenggarakannya pesta ulang tahun Agatha lambat laun menjadi sunyi, acara sudah berakhir. Semua tamu undangan termasuk sahabat-sahabat Agatha pun turut pamit meninggalkan lokasi acara. Sebelum balik ke rumah, Agatha terlebih dahulu ingin mengantar Memey kembali ke rumah. Namun, hal itu tak disetujui oleh Memey karena ia tak tega melihat Agatha bersedih.
“Kayaknya gue bakalan nginep lagi deh di rumah elo, Tha. Gak tega gue ngeliat lo sedih kayak gini,” ucap Memey dengan mata berkaca-kaca pada Agatha setelah mobil menjauh dari hotel.
Karena ucapan Memey, Agatha langsung memeluk Memey dan kembali menangis. Mang Judas yang fokus mengemudi juga curi-curi pandang ke belakang, hatinya juga pilu melihat anak majikannya itu.
__ADS_1
“Makasih, ya!” hanya kata-kata itu yang mampu Agatha ucapkan dengan sesenggukan.
“Iya-iya. Udah, stop crying-nya. Kasihan ntar matanya bengkak,”
“Mang, kita ke rumah Memey dulu ya. Mau pamitan sama orang tua Memey sekalian ambil perlengkapan sekolahnya!” pinta Agatha pada Mang Judas.
“Siap, Non. Tapi hapus dulu air matanya. Jelek sekali tuh wajah,” goda Mang Judas supaya Agatha bisa tertawa.
“Diam, Mang!”
Mang Judas terdiam ketika nada ketus keluar dari nona kecilnya itu. Ia kembali fokus mengemudi hingga tiba di rumah Memey. Memey dan Agatha masuk ke rumah, Agatha membantu Memey menyiapkan perlengkapan sekolah untuk dibawa ke rumahnya. Setelah selesai, ia dan Memey berpamitan pada orang tua Memey. Tak lupa juga kedua orang tua Memey mengucapkan selamat ulang tahun kepada Agatha, yang disambut dengan senyuman oleh Agatha.
“Om, Tante. Agatha pinjem Memey dulu, ya. Gak apa-apa kan?”
“Iya, boleh!” jawab kedua orang tua Memey serempak. “Jangan keluyuran malam-malam, ya. Kalian berdua harus belajar. Tinggal beberapa bulan lagi loh kalian ujian kelulusan,” pesan mamanya Memey.
Seusai berpamitan, mereka berdua bergegas menuju mobil dan Mang Judas yang sudah menunggu di depan rumah. “Sudah beres semuanya tanpa kekurangan rasa apapun?” tanya Mang Judas ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.
“Rasa apa, Mang? Memangnya kita lagi masak, ya?” Memey membalas pertanyaan Mang Judas dengan pertanyaan juga.
“Buruan jalan, Mang!” sergah Agatha. Ia takut keduanya menjadi kumat. Mengingat orang-orang yang berada di dekatnya sekarang merupakan manusia yang terbilang cukup unik dari kebanyakan orang.
“Eh, ntar unboxing kado kan? Tau gak? Gue penasaran sama kadonya Dirgo,” ucap Memey tiba-tiba.
“Sama, gue juga!”
To be continued...
__ADS_1