Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Apotik.


__ADS_3

🕊️🕊️🕊️


Setibanya di dalam rumah, Agatha mencari keberadaan Bi Momon. Tempat pertama yang Agatha cari adalah daerah kekuasaan Bi Momon yang tak lain tak bukan adalah dapur. Namun di sana, tak ada tanda-tanda keberadaan Bi Momon. Akhirnya dia mencari ke belakang, dan hasilnya juga tidak ada alias kosong. Agatha kebingungan sendiri.


“Duh! Bi Momon ke mana sih?” tanyanya dalam hati sambil terus melangkah mencari keberadaan yang sedang ia cari. Di sela Agatha melangkah melewati kamar tidur khusus tamu, Agatha mendengar samar-samar isakan tangis dari dalam sana. Karena penasaran akan suara itu, Agatha membawa dirinya melangkah menuju asal sumber isakan itu. Dengan gerak-gerik seperti orang ingin mencuri, Agatha perlahan mendekatkan indra pendengarannya ke dekat pintu. Isakan itu kini terdengar jelas di telinga Agatha.


“Siapa yang nangis di dalam kamar ini ya?” Agatha bergumam sendiri dengan ekspresi wajah yang kebingungan.


Tok..tok..tok!!!


Agatha mengetuk pintu sampai tiga kali, namun tak ada jawaban. Yang menjawab ketukan pintu itu hanyalah isakan tangis yang kini terdengar naik volumenya dari pertama Agatha tiba di sana.


“Loh, diketuk kok malah nangisnya makin kencang?” ucapnya, “apa aku buka aja ya pintunya?” lanjutnya yang mana tangannya sudah memegang gagang pintu kamar itu.


Ceklekkk!! Pintu terbuka dan langsung menampakkan Bi Momon yang tengah menangis sambil membersihkan tempat tidur. Namun, Bi Momon tak menyadari kedatangan Agatha karena posisinya membelakangi pintu kamar.


“Astaga! Makin hari makin aneh kerjaan Bibi. Kenapa pula nangis sambil kerja, apa kecapean kali ya?” gumam Agatha yang masih bingung apa yang sebenarnya terjadi dengan asistennya. Agatha tak menyadari bahwa sebenarnya Bi Momon tengah menonton


Bi Momon yang tengah asyik menonton film “If I Stay” sebuah film yang menceritakan sosok Mia gadis pemain cello yang memiliki kehidupan sempurna. Namun semua itu hilang seketika semenjak ia dan keluarganya mengalami kecelakaan yang cukup parah. Mia mengalami koma dan satu per satu keluarganya meninggal. Mia diberikan kesempatan untuk memilih melanjutkan kehidupannya yang penuh kesendirian atau malah menyusul keluarganya yang telah tiada. Jalan cerita dari film itulah yang membuat Bi Momon menangis.


“Hiks..hiks..hiks! Jangan mati Mia, kamu harus hidup meskipun sendirian. Hiks!” ucap Bi Momon sambil menangis, tangannya fokus merapikan tempat tidur kamar tamu itu.


Agatha semakin bingung dengan tingkah aneh Bi Momon. Televisi yang sedang Bi Momon tonton ternyata juga tak kelihatan oleh Agatha, suaranya juga kalah sama isakan tangis Bi Momon.


“Mia? Mati?” Agatha terperangah, “apa maksudnya ini?” sambungnya. Agatha masih terpaku karena ingin melihat reaksi Bi Momon selanjutnya.


“Ternyata nasibmu hampir sama dengan non Agatha, Mia.” Ucap Bi Momon yang langsung membuat Agatha kaget.


“What?” tanya Agatha pada diri sendiri.


Tak ingin semakin penasaran, alhasil Agatha menghampiri Bi Momon dan menjejerkan badannya di samping Bi Momon.


“Bibi? Bibi kenapa nangis sambil kerja kayak gitu?” seru Agatha dan menepuk pundak Bi Momon. Bi Momon tersontak kaget.


“Ku mohon, Mia. Jangan pergi!” ucap Bi Momon karena kaget.


“Bi, sadar! Mia itu siapa?” tanya Agatha yang masih fokus dengan Bi Momon, hingga tak melihat sebenarnya sang asisten tengah menonton.

__ADS_1


“Astaga Tuhan,” Bi Momon mengelus dadanya, “Bibi lagi nonton itu, Non,” ucap Bi Momon lalu menunjuk ke arah televisi yang terpampang nyata di sana.


“Oh My God! Bibi. Aku kira apa coba, ternyata gara-gara itu!” ucap Agatha.


“Iya, Non. Sedih sekali. Hikss!” jawab Bi Momon dengan sesenggukan.


“Sedih kenapa? Sedih karena enggak tau bahasanya apa karena jalan ceritanya, Bi?” tanya Agatha dengan menyipitkan matanya.


“Dua-duanya, Non.” Jawab Bi Momon santai. Jawaban itu membuat Agatha geleng kepala dan tertawa.


“Hahaha. Lucu sekali, Bi! Masa enggak tau bahasanya?” Agatha tertawa.


Iya, film itu menggunakan bahasa Inggris, namun ada terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia. Bi Momon hanya membaca sekilas terjemahan itu, yang mana membuatnya sedikit mengerti walau tak banyak.


“Iya, Non. Filmnya kan pakai bahasa linggis, gimana Bibi tau. Bibi kan enggak paham, Non.” Jawabnya sambil menggarukkan kepala.


“Ya Tuhan! Kayak mau tukang aja bawa-bawa linggis, Bi. Inggris loh Bi, bukan linggis.” Dengus Agatha.


“Iya sama saja, Non. Bibi maunya itu.”


“Oiya, Bi. Aku mau jalan-jalan dulu sambil ke apotik. Nanti jika daddy dan mommy bertanya, bilang saja seperti yang aku bilang ya, Bi!” tambah Agatha menjelaskan pada Bi Momon.


“Iya, Non. Nanti disampaikan jika tuan dan nyonya bertanya. Hati-hati ya, Non!” jawabnya sekaligus berpesan pada Agatha.


“Thanks, Bi,” ucap Agatha, kemudian meninggalkan Bi Momon.


Agatha berjalan keluar menemui mereka bertiga yang sedari tadi sudah menunggu kehadirannya. Ia berjalan dengan wajah sumringah karena mendapatkan izin dari Bi Momon. Sebenarnya tak perlu izin, namun mengingat ia ingin mendekatkan diri pada orang tuanya agar mereka bisa seperti dulu lagi, alhasil membuatnya menyampaikan pesan dan berpamitan pada Bi Momon sang asisten.


“Sorry, guys. Menunggu lama. Gue tadi nyari Bi Momon ke dapur dan ke belakang, eh ternyata lagi nangis di kamar tamu. Mana nangis sambil merapikan tempat tidur lagi.” Ujar Agatha menjelaskan pada ketiga orang di depannya.


“Lama amat lo, Tha? Minta izin apa molor sih di dalam?” ucap Memey ketika Agatha telah sampai di depan mereka bertiga.


“Woi, koplak! Gue kan udah bilang tadi. Apa lo kagak dengar yang gue bilang?” sergah Agatha pada Memey.


“Dihh, ngegas. Santai aja kali, Tha.” Memey mendengus kesal pada Agatha.


“Udah-udah! Ayo kita berangkat!” ajak Welson pada Agatha dan kedua temannya.

__ADS_1


Mereka berempat pun masing-masing membuka pintu mobil Welson. Ketika tangan Memey meraih handle pintu mobil yang mana di barisan depan, membuat Welson melotot ke arahnya. Bagaiman mungkin ia akan sejejer dengan Memey, pikirnya. Menyadari tatapan itu, akhirnya Memey mundur ke pintu belakang yang berarti ia akan duduk bersebelahan dengan Yadi. Ketika hendak membuka pintu mobil, tangan Memey dihalang dan dipegang oleh Yadi. Yadi berusaha ingin membukakan pintu mobil untuk Memey seperti yang dilakukan oleh Welson pada Agatha.


“Apaan sih lo? Lo ngelarang gue masuk, gitu?” ketus Memey pada Yadi.


“Dihhh! Jadi cewek jangan galak-galak!” ucap Yadi tersenyum ke arah Memey.


“Lepasin tangan gue, kupret!” Memey berusaha menangkis tangan Yadi, namun pegangan Yadi begitu erat sehingga Memey tak berhasil menangkisnya.


“Silakan masuk, princess!” ucap Yadi tanpa menghiraukan Memey yang bete karena ulahnya.


“Gue bisa sendiri!” ketus Memey lagi.


Tin..tin..tin!! Welson menekan klakson mobilnya karena kesal pada kedua temannya itu yang sedang asyik berdebat. Yang satu ingin membukakan pintu, dan yang satu lagi tidak mau diperlakukan seperti itu. Sungguh koplak (pikir Author).


“Woi, lo berdua mau ikut apa kagak sih?” sergah Welson kesal.


“Kenapa sih doyan sekali teriak-teriak?” saut Memey dengan suara memelas dan raut wajah yang menyedihkan.


Agatha yang melihat ekspresi Memey tak kuasa menahan tawanya.


“Hahaha. Baru segitu doang udah ciut lo, Mey.” Agatha tertawa karena tingkah Memey yang lucu.


“Udah, buruan masuk kalo gak mau ditinggal!” sambung Welson kembali.


“Iya-iya, iya.” Jawab Memey, lalu masuk ke dalam mobil.


Ketika mereka sudah berada di dalam mobil, kemudian mereka berempat meninggalkan rumah Agatha. Di sepanjang perjalanan, Memey tanpa hentinya berceloteh, yang mana membuat Welson semakin risih dengan temannya yang satu itu.


“Ekhem!” Memey berdehem ketika melihat tangan Welson menggenggam tangan Agatha.


“Kenapa, Mey?” tanya Yadi.


“Uhh kepo!” Memey mendengus, “tuh liat ke depan!” perintahnya pada Yadi.


Melihat apa yang Memey tunjukkan padanya, Yadi tiba-tiba ingin menjahili Memey.


🕊️🕊️🕊️

__ADS_1


__ADS_2