
“Lo gimana, Bro?” tanya Dirgo pada Welson.
“Ya mau gimana lagi, gue juga setuju,” tukas Welson.
“Oke, clear ya. Berarti tinggal gue hubungin penjaga villanya, biar mereka bisa kemas-kemas sebelum kita tiba di sana, ya,” jelas Dirgo pada mereka. Mereka mengangguk tanda mengerti.
“Gue lupa, gimana Nadine, Stevanie, dan Maria, apakah mereka bisa ikut?” tanya Welson.
“Ya tinggal tanya aja sama mereka, barang kali mereka juga mau ikut bareng kita.” Yadi menjawab pertanyaan Welson.
“Oke, wait. Gue nanya mereka aja dulu lewat grup cewek-cewek.” Memey mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam tas.
“Hi, Guys. Kita lagi diskusiin tentang liburan minggu depan nih? Kalian ada yang mau ikut enggak? Oiya, kami berempat ada di rumah Dirgo.” Isi chat grup yang Memey ketik.
Nadine yang semula menimang menimang-nimang ingin menyusul Agatha dan Welson ke cafe XY, seketika mengembangkan senyumnya karena mendapat kabar dari Memey. Nadine segera membalas chat grup tersebut.
“Really, Mey? Gue mau ikut, mau banget. Jarang-jarang loh kita liburan bareng.” Nadine membalas chat itu dengan menyertakan emoticon tersenyum senang.
Lain halnya dengan Maria, Maria tidak bisa bergabung bersama mereka karena harus keluar kota mengunjungi keluarganya yang akan melangsungkan acara pernikahan. Sedangkan Stevanie, dia tidak bisa ikut lantaran pada saat yang bersamaan, keluarganya juga akan mengadakan syukuran atas kelahiran keponakannya.
“Gimana, Mey? Mereka bisa ikut juga?” tanya Agatha, karena memang ia tak membuka ponselnya.
“Oh. Si Nadine bisa. Tapi Maria sama Stevanie belum ada responnya,” jawab Memey. Kemudian notifikasi grupnya berbunyi.
Ting!!! Yang menandakan bahwa sudah ada balasan dari mereka berdua (Maria dan Stevanie). Memey segera membuka chat grupnya dan seketika wajahnya nampak sendu ketika melihat balasan itu.
“Aduh, sebenarnya gue juga pengen ikut serta kalian. Tapi masalahnya, minggu depan gue harus keluar kota karena menghadiri acara pernikahan keluarga gue. So, maaf ya, Mey.” Isi balasan chat dari Maria.
“Gue juga sama nih. Gue harus menghadiri acara syukuran dari kakak sepupu gue. Acaranya juga pas banget saat kita libur, jadi gue gak bisa ikut. Maaf ya.” Balasan dari Stevanie.
“Oh, enggak apa-apa, Guys. Santai aja!” Memey membalas chat itu untuk Maria dan juga Stevanie.
“Kenapa muka lo, Meong?” tanya Welson seraya mengejek Memey.
“Gue bukan kucing! Gue Memey Welandi, kupret!” Memey mendengus kesal pada Welson.
“Hmm, Maria dan Stevanie gak bisa ikut serta karena ada acara keluarganya,” lanjut Memey memberikan kabar perihal Maria dan Stevanie tidak bisa ikut liburan bersama mereka.
“Yaudah, enggak apa-apa juga. Jadi hanya kita berenam ya. Mau pakai satu mobil apa dua mobil aja kita berangkatnya nanti?” usul Dirgo.
“Kalo cuma berenam ya satu mobil aja deh. Gak usah pisah.” Agatha mengutarakan pendapatnya.
“Iya, benar juga. Nanti yang ada malah repot,” tukas Memey.
“Oke. Kalo gitu pakai mobil gue aja ya,” tawar Dirgo pada teman-temannya.
“Nanti berangkatnya pas balik sekolah ya. Jadi perkiraan kita nyampe kota L sekitaran pukul 18.30, itupun kalo gak macet aja sih,” ucap Dirgo.
🕊️🕊️🕊️
Seminggu kemudian.
__ADS_1
Seminggu telah berlalu, kini hari yang mereka nanti-nantikan telah tiba. Rabu siang sepulang sekolah, yang mana mereka ingin menikmati liburan bersama, semuanya telah berkemas di rumah masing-masing, tinggal menunggu Dirgo menjemput mereka di rumah. Untuk para cewek-cewek akan dijemput langsung oleh Dirgo, namun untuk Yadi dan Welson harus berangkat sendiri ke rumah Dirgo tanpa dijemput.
Agatha yang telah bersiap dengan kopernya, turun ke bawah untuk makan sebelum berangkat. Jauh hari sebelum berangkat, Agatha sudah meminta izin pada kedua orang tuanya. Awalnya mereka tak mengizinkan Agatha untuk pergi berlibur, namun karena Agatha mengungkit tentang mereka yang selalu mengabaikannya, akhirnya kedua orang tuanya pun mengizinkannya untuk berlibur. Tapi dengan satu syarat, uang jajannya dipotong selama satu bulan setelah liburan yang hanya tiga hari itu usai. Agatha tak mempermasalahkan itu, karena memang dirinya juga lelah dengan semua keadaan keluarganya, lebih baik dia menenangkan pikirannya dari semua yang terjadi, itulah yang ada dipikirannya.
“Non, di sana nanti jangan sampai gak makan ya. Kalau kamu sakit, entar mereka panik loh.” Pesan Bi Momon pada Agatha di sela-sela Agatha makan. Agatha menghela napas sebelum menjawab Bi Momon.
“Baik, Bi. Kalau gak ingat ya pasti karena lupa. Hihi.” Agatha tertawa.
“Ingat, Non! Ntar tuan dan nyonya marah loh. Apakah Non mau jika uang jajannya dipotong jadi dua bulan?” Bi Momon mengingatkan Agatha kembali perihal uang jajannya yang dipotong karena berangkat berlibur.
“Emang peduli apa mereka, Bi? Gak usah dikasih aja juga gak apa-apa, lagian mereka gak ingat aku dalam hal cinta dan kasih sayang, bukan? Apakah materi yang mereka berikan itu cukup?” Agatha menatap nanar ke sembarang arah ketika membahas hal itu, manik matanya seolah sudah tergenang cairan hangat di sana. Namun, Agatha cepat menghapusnya dan ia berusaha tegar walaupun selalu diabaikan orang tuanya.
“Non, maafkan Bibi, ya. Gara-gara Bibi, Non jadi sedih kayak gini,” ucap Bi Momon ketika melihat wajah Agatha yang sendu.
“Gak apa-apa, Bi. Bibi gak salah. Malahan aku bersyukur ada yang masih peduli sama aku seperti Bibi. Terima kasih, Bi.” Seketika Agatha memeluk Bi Momon yang tengah berada di sampingnya. Bi Momon terkejut karena baru pertama kalinya Agatha memeluk dirinya. Bi Momon juga tak kuasa menahan air matanya melihat Agatha memeluknya.
“Kamu kelihatan tegar, namun sebenarnya jiwamu rapuh, Non. Bibi juga bisa merasakan itu.” Bi Momon membatin sembari mengelus belakang Agatha.
🕊️🕊️🕊️
Setibanya Yadi dan Welson di rumah Dirgo, mereka bertiga segera mengemasi koper masing-masing, lalu bergegas berangkat menjemput Agatha, Nadine, dan juga Memey. Tujuan terakhir mereka adalah menjemput Agatha, karena Nadine dan juga Memey telah duluan dijemput.
Tak berselang waktu lama, kini di halaman depan rumah Agatha, terdengar deru mesin mobil yang menandakan bahwa Dirgo dan teman-temannya sudah tiba untuk menjemputnya. Seketika Agatha melepaskan pelukannya dari Bi Momon, menyapu air matanya dengan tissue yang tersedia di meja makan.
“Bi, aku berangkat, ya,” ucap Agatha berpamitan pada Bi Momon dan Bi Momon mengangguk. Namun tangan Bi Momon segera meraih koper Agatha untuk membawanya ke depan. Agatha tetap membiarkan Bi Momon pada aktivitasnya membawa koper miliknya sendiri ke beranda depan. Tampak wajah ceria dari semuanya, namun tak ada yang lebih ceria dibandingkan dengan Memey. Memey heboh sendiri dengan tangannya yang sembari memutar-mutar tripod miliknya.
“Sudah siap, sayang?” sapa Welson pada Agatha dengan memberikan senyuman manisnya, ada sosok yang tak suka melihat itu. Siapa lagi jika bukan Nadine, sahabat Agatha sendiri.
“Udah siap kok, Yank,” jawab Agatha seraya melangkah mendekati mobil di depannya, dia menyuruh Welson untuk memasukkan kopernya ke bagasi mobil.
“Oiya, kalian udah pada berdua sebelum berangkat? Eh kok berdua, berdoa maksudnya,” ucap Bi Momon sembari membetulkan kalimatnya yang salah ucap.
“Udah sih, Bi. Tapi alangkah baiknya berdoa lagi deh, mumpung udah lengkap semua personilnya,” ucap Dirgo menjelaskan.
Namun, ketika Bi Momon melihat siapa yang berbicara, tiba-tiba teringat saat kejadian Agatha masuk rumah sakit karena kecelakaan. Yang mana orang yang mengantar Agatha sangat mirip dengan Dirgo, dan pada faktanya memang Dirgo yang ikut andil saat kejadian itu.
“Orang itu kok sangat mirip saat mengantar Non Agatha ke rumah sakit, ya?” tanya Bi Momon dalam hati, tak berani mengeluarkan suara karena rasa penasarannya.
“Bibi, kenapa?” tanya Agatha karena melihat Bi Momon tengah melamunkan sesuatu.
“Eh, gak apa-apa, Non.” Bi Momon membetulkan posisi berdirinya karena ketahuan melamun.
“Huftt. Syukurlah Bibi itu tak menanyakan siapa aku, bisa-bisa ketahuan nantinya.” Dirgo membatin seraya mengelus dadanya lega, karena Bi Momon tidak menginterogasinya secara rinci, dan terlihat jelas di raut wajah Bi Momon tengah bertanya-tanya tentang siapa dirinya.
“Yaudah, Guys. Mari kita berdoa memohon perlindungan Tuhan agar kita selamat sampai tujuan,” ajak Dirgo pada mereka semua. Agatha tertegun melihat dan mendengar penuturan Dirgo yang sangat dewasa menurutnya dibandingkan Welson.
“Siapa yang memimpin doa?” tanya Memey pada mereka.
“Lo aja, Mey. Bisakan?” pinta Dirgo, dan Memey mengangguk mengiyakan.
“Baiklah. Mari kita berdoa,” ajak Memey.
__ADS_1
“Tuhan, terima kasih Engkau boleh mengumpulkan kami di sini dan memberikan kami menikmati liburan yang singkat. Kini, kami berenam meminta perlindunganMu karena sebentar lagi kami akan berangkat menuju kota L. Kiranya Engkau menuntun dan membimbing kami selama perjalanan kami, jauhkanlah kami dari segala marabahaya dan rintangan yang kiranya akan menghambat perjalanan kami nanti. Sebab kami tau, Engkaulah tempat kami meminta pertolongan dan memohon keselamatan. Berikanlah kami kekuatan dan kesehatan selama kami berada di kota L, sehingga keluarga kami di rumah tidak mencemaskan kami selama jauh dari mereka. Terima kasih Tuhan, Engkau kami puji kini dan sepanjang segala masa. Amin.”
Doa singkat yang Memey panjatkan telah selesai. Kini mereka bersiap masuk ke dalam mobil. Tak lupa juga mereka berpamitan pada Bi Momon yang juga tengah bersama mereka.
“Wah! Ternyata lo juga bisa berdoa ya, Mey.” Yadi memuji Memey ketika telah selesai berdoa.
“Ya iyalah. Emangnya lo yang gak bisa-bisa berdoa? Bisanya cuma bilang ‘amin’ doang lo, kan?” jawab Memey sombong.
“Eh, jangan berantem. Ntar suka sama suka loh.” Bi Momon menggoda Memey. Memey menggeleng karena tidak suka dengan ucapan Bi Momon, lebih baik berjodoh sama kura-kura ninja daripada sama Yadi, pikirnya. Yadi jangan ditanya, dia malah senang dengan ucapan Bi Momon. Dalam hatinya dia mengatakan amin supaya memang berjodoh sama Memey.
“Bi, kami berangkat, ya. Doakan kami semoga selamat tiba di sana,” ucap Dirgo berpamitan pada Bi Momon.
“Iya. Hati-hati, jangan ngebut bawa mobilnya. Bibi selalu mendoakan kalian selama kalian di sana,” jawab Bi Momon pada Dirgo, “Non, jangan lupa kabari rumah jika kalian sudah tiba di sana, agar Bibi tidak cemas, ya” pesan Bi Momon pada Agatha dan langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Agatha.
“Yad, lo aja yang nyetir ya!” pinta Dirgo pada Yadi. Yadi yang kaget karena Dirgo memintanya menyetir, seketika menggelengkan kepalanya tanda tak setuju.
“Hm, lo gila ya? Lo mau kita nyasar ke rumah orang?” tukas Yadi.
“Lah, lo gimana sih? Kan nanti dikasih tau jalannya.” Dirgo tak mengerti dan mengernyitkan dahinya karena Yadi yang langsung menolak perintahnya.
“Bukan itu masalahnya, dodol. Gue belum mahir bawa mobil, dan gue gak mau kalo kita kenapa-kenapa. Lo mau kita nginap di rumah sakit?” kata Yadi menjelaskan.
“Wah, dodol enak tuh! Mampir ya jika lewat supermarket, gue mau beli.” Memey sudah membayangkan betapa nikmatnya dodol itu.
“Soal makanan dan liburan lo selalu nomor satu, Mey. Jangan norak deh!” Agatha menjitak pelan kepala Memey. Memey mendengus karena Agatha selalu saja ingin menyakitinya walau memang tak sesungguhnya, melainkan untuk mengingatkan Memey.
“Sudah-sudah. Ayo kita berangkat! Biar gue aja yang nyetir, tapi Agatha ikut gue di depan ya!” pinta Welson. Dan yang lainnya setuju, kecuali si Nadine. Ia seketika memasang wajah malas karena dirinya tak bisa dekat dengan Welson.
Jam sudah menunjukkan pukul 14.00, Welson segera menyalakan mesin mobil ketika semuanya telah masuk dan berpamitan pada Bi Momon. Posisi duduk mulai dari Agatha dan Welson yang berada di depan, Nadine dan Memey di kursi bagian tengah, serta Dirgo dan Yadi di kursi bagian belakang. Perlahan, mobil itu meninggalkan halaman rumah Agatha, kini mobil mereka menuju ke jalan raya. Bi Momon yang masih melihat kepergian Agatha dan teman-temannya segera bergegas masuk ke dalam rumah ketika dirasa mobil sudah tak menampakkan wujudnya alias sudah berjalan menjauh dari rumah.
Welson menepikan mobilnya ketika melewati supermarket karena dia teringat kata-kata Memey sebelum mereka berangkat dari rumah Agatha.
“Kenapa, Wels? Kok berhenti di sini?” tanya Memey karena belum melihat ke arah luar, yang mana supermarket itu berada di sebelah mereka.
“Bukannya lo mau nyari dodol?” Welson balik bertanya pada Memey.
“Ya tapikan bukan di sini juga belinya,” ucap Memey karena masih belum menyadari bahwa mereka bersebelahan dengan supermarket.
“Lo buta apa gimana sih, Mey? Coba lo liat keluar!” celetuk Nadine di sebelah Memey. Mata Memey lantas berbinar setelah menyadari bahwa di sebelahnya ada sebuah supermarket. Tanpa aba-aba, Memey lantas membuka pintu mobil dan berlari kecil ke dalam supermarket. Mereka berlima hanya geleng kepala melihat kelakuan Memey.
“Kalian ada yang mau dibeli?” tanya Welson ketika tangannya sudah meraih pintu mobil.
“Aku pesan air mineral aja, Yank.” Agatha tersenyum pada Welson. Lagi-lagi yang berada di belakangnya kepanasan mendengar ucapan Agatha.
“Oke, Yank,” jawab Welson.
Di dalam mobil menyisakan Agatha dan Nadine karena Yadi dan juga Dirgo telah menyusul Welson. Sekilas Agatha menoleh ke belakang menatap Nadine yang masih memasang wajah kusut.
“Lo kenapa, Nad? Sakit ya?” tanya Agatha pada Nadine.
“Eng...enggak kok, Tha. Sembarangan lo, gue baik-baik aja,” jawab Nadine simpul.
__ADS_1
“Kirain....” ucap Agatha terpotong karena melihat banyak tentengan plastik belanjaan di tangan Memey.
To be continued....