Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Menggerutu.


__ADS_3

Makan malam bersama orang tua Welson yang awalnya sungguh sangat menegangkan bagi Agatha, kini berubah jadi menyenangkan dan menghangatkan bagi Agatha sendiri. Orang tua Welson yang menyambut hangat diri Agatha, walaupun ada sedikit drama di awal. Bahkan ketika di meja makan pun tak ada yang memasang muka jutek dan sinis pada Agatha, seperti tatapan mama Welson padanya ketika mereka sampai di ruang makan. Agatha seperti mendapat keluarga baru setelah daddy dan mommy nya.


Mereka berdua keluar yang diiringi senyuman dan lambaian tangan dari kedua orang tua Welson.


“Hati-hati, sayang! Titip salam ya buat calon besan Tante ” ucap mama Welson tersenyum.


“Iya, Tante. Salamnya Agatha sampaikan ketika sudah di rumah.” Balas Agatha yang juga tersenyum.


“Wels, ingat ya, jangan buat Agatha nangis!” pinta mama Welson pada bayi gedenya itu.


“Mama bawel ah. Wels tau kok, Ma.” Jawab Welson. Padahal, andai saja mama dan papanya serta Agatha tau yang sebenarnya, sudah pasti dia habis diomelin mamanya.


“Andai saja daddy dan mommy seperti orang tua Welson, dan kembali pada momen-momen yang telah lalu. Pasti sangat meneduhkan.” Gerutu Agatha membatin dalam hati.


Keduanya telah memasuki mobil. Dan dengan perlahan mobil itu menjauh dari rumah Welson. Di sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Agatha terus mengukir senyum yang membuat orang di sebelahnya bertanya-tanya apa yang sedang dilamunkan Agatha.


“Yank? Kamu kenapa senyam senyum sendiri? Apa lagi latihan menutup kesedihan atau lagi kerasukan?” tanya Welson keheranan.


“Enak saja lagi kerasukan. Yang benar aja, Yank.” Dengus Agatha.


“Lalu kenapa senyum-senyum seperti itu?” tanya Welson lagi.


“Lagi senanglah.” Jawab Agatha singkat.


“Karena?”


“Cie yang kepo. Hihi.” Ledek Agatha.


“Aku serius, Yank. Apa yang membuatmu senang?” tanya Welson sungguh-sungguh.


“Karena malam ini.” Jawab Agatha yang tak langsung pada yang sebenarnya.


“Malam ini kenapa? Apa kamu senang melihatku dipukul mama tadi?” terka Welson.


“Idih, sembarangan!” deru Agatha.


“Lalu apa jika bukan itu? Apa kamu senang karena dapat perlindungan dari mama?” tanya Welson berpura-pura kesal.


“Haha. Cie yang ngambek.” Agatha kembali meledek Welson.

__ADS_1


“Sayang, makasih ya. Malam ini sungguh membuatku senang, dan aku seperti mendapatkan sebuah kehangatan walau bukan dari daddy dan mommy.” Ucap Agatha yang langsung bergelayut manja pada lengan kokoh Welson yang sedang mengemudikan mobil. Welson yang mendapat perlakuan seperti itu dari Agatha langsung mengembangkan senyumnya.


“Senang karena bisa makan malam bersamaku, atau senang karena papa dan mama menerimamu dengan hangat?” tanya Welson sambil fokus mengemudikan mobilnya untuk mengantar Agatha pulang.


“Dua-duanya, sayang. Pertama, senang karena papa dan mamamu menerima dan menyambutku dengan baik. Dan yang kedua, senang karena bisa makan malam bersama keluargamu, dan yang pastinya kamu. Sungguh, ini benar-benar membuatku tak menyangka dari yang aku pikirkan, Yank. Awalnya, aku pikir mamamu tak suka padaku, dan ternyata mamamu orangnya asyik juga.” Jawab Agatha panjang lebar. Meskipun pada awalnya Agatha sempat dibikin keringat dingin oleh mamanya Welson.


Beberapa titik lampu merah telah mereka lewati, yang berarti itu menandakan bahwa perjalanan untuk mencapai rumah Agatha semakin dekat. Dan tak terasa mereka telah sampai juga di rumah Agatha.


“Kita sudah sampai, Yank,” ucap Welson.


“Thanks, jelekku sayang.” Agatha memeluk lengan Welson.


“Yaudah. Buruan masuk sana!” pinta Welson, tak lupa Welson mengusap kepala Agatha dengan gemasnya lalu mencium puncak kepala Agatha.


Agatha hanya bisa merona mendapat perlakuan manis itu dari Welson. Namun, akankah semua perlakuan manis itu selamanya akan tetap berpihak pada Agatha? Ataukah itu hanya bayangan semu yang berujung kepedihan bagi Agatha? Ataukah tali persahabatan antara Agatha dan Nadine selamanya terjalin? Andai saja Agatha bisa menebak dan menerawang, takkan ia biarkan hatinya dirundung kepedihan.


“Oke, aku masuk, Yank. Hati-hati, selamat sampai rumah.” Tutur Agatha dan langsung mencium pipi Welson.


“Hm, mulai nakal ya. Sejak kapan berani menciumku duluan?” goda Welson.


“Udah ah, aku mau masuk.” Agatha berpaling dan menyembunyikan wajahnya karena wajah itu yang terus saja memamerkan rona merah layaknya kepiting rebus.


Agatha terus mengembangkan senyumnya ketika tiba di ruang tamu. Di sana ada sepasang mata yang sedang mengamati gerak-gerik Agatha. Makin lama makin penasaran pula sepasang mata itu apa yang sedang terjadi dengan Agatha. Dia berjalan ke arah Agatha dan langsung mengagetkan Agatha.


“Eh, Non. Kenapa senyum mulu dari tadi? Non gak kerasukan, 'kan?” tanya Bi Momon yang langsung membuat Agatha memegang dadanya karena terkejut.


“Astaga Bibi. Hampir saja jantungku loncat dari dalam sana.” Dengus Agatha.


“Ini lagi. Gak Welson, gak Bibi kenapa kalian selalu saja menyamakan senyumanku dengan kerasukan? Apakah semenakutkan itu?” sambungnya lagi dengan muka kesal.


“Eh bukan kayak gitu, Non. Memangnya apa yang terjadi sampai-sampai Non senyum-senyum gitu?” Bi Momon semakin penasaran.


Agatha mengingat kejadian di mobil dan di rumah Welson, ia kembali menampakkan wajahnya yang merona. Bi Momon pun dibuat semakin penasaran olehnya.


“Ya ampun. Ditanya malah memerah kayak gitu mukanya. Memangnya habis berjemur di mana, Non?”


“Hussss! Bibi yang benar saja berjemur malam-malam kayak gini? Sinar matahari dari mana coba? Apa Bibi sudah menciptakan matahari malam?” ketus Agatha jengah dengan pertanyaan aneh Bi Momon.


“Upsss!” Bi Momon menutup mulutnya.

__ADS_1


“Tuh liat! Pipinya merah merona kayak gitu. Apa yang Non pikirkan, hayo?” goda Bi Momon.


“Bibi! Udah ah, aku malu,” ucap Agatha.


“Malu kenapa? Lagian cuma Bibi aja di sini.” Ucap Bi Momon tak mengerti.


“Apa jangan-jangan...” sambung Bi Momon yang sengaja menggantungkan kalimatnya.


“Jangan-jangan apa, Bi?” tanya Agatha.


“Itu loh. Yang kayak gini.” Ucap bi Momon lalu mempraktekan tangan kanan dan kirinya saling bertautan.


“Ishhh. Bibi bisa aja ih. Aku kan jadi malu, Bi.” Ujar Agatha memanjakan suaranya.


“Oooh jadi benar ya, Non?” Bi Momon terkekeh.


“Udah ah, Bi. Jangan dibahas lagi.” Seru Agatha.


🕊️🕊️🕊️


Keesokan paginya.


Matahari sudah mulai terbit di luar jendela, menyinari mata Agatha yang masih terpejam. Sayup-sayup Agatha mendengar suara yang membuatnya menuju kesadaran. Pagi ini, Agatha dibangunkan Bi Momon.


“Non, ayo bangun! Hari sudah hampir siang loh. Jangan sampai telat.” Ucap bi Momon seraya menggelitik kaki Agatha.


“Aduh, Bi. Geli ih.” Agatha berusaha menjauhkan kakinya dari tangan bi Momon.


“Ayo bangun! Nanti Non telat dan salah pakai seragam kayak kemaren loh.” Bi Momon mengingatkan kejadian minggu pagi itu.


Dengan sigap dan dengan rambut yang semerawut Agatha segera bangkit dan mandi. Sejak kecil Agatha memang selalu dimanja oleh kedua orang tuanya, tidak seperti sekarang ini. Mungkin karena mereka terlalu sibuk dengan dunianya masing-masing sehingga ada satu jiwa yang tak dipikirkan dan cenderung mengabaikannya. Kini, apapun yang dilakukan Agatha, semuanya bi Momon akan ikut andil di dalamnya. Jam menunjukkan tiga puluh menit menuju bel masuk sekolah.


Sehabis mandi, Agatha berdiri di depan cermin memperhatikan penampilannya. Seragam sekolah sudah disiapkan oleh Bi Momon, sehingga tak butuh waktu lama, kini ia bersiap berangkat sekolah. Pagi hari ini Agatha hanya sarapan dengan roti bakar dan segelas susu hangat.


“Gak duduk dulu Non sarapannya? Ntar kesambet loh.” Tegur bi Momon serius.


“Apa hubungannya duduk sarapan sama kesambet, Bi?” tanya Agatha yang sudah berlari menuju pintu utama dengan memegangi sarapannya.


Mang Judas sudah siap di depan rumah saat Agatha keluar. Tak lama kemudian, mobil yang ditumpanginya sudah memasuki pelataran parkir sekolah Agatha. Dari balik jendela mobil, Agatha dapat melihat ada beberapa murid perempuan yang sama seperti dirinya, masih diantar oleh orang tua mereka. Lalu Agatha? Wajah Agatha sudah sangat kebal dengan kesendirian itu, namun hatinya rapuh.

__ADS_1


“Daddy, mommy, apa kalian tau betapa tersiksanya aku harus sendirian jika aku lagi dalam kesulitan dan kesunyian? Aku iri, dadd, momm. Aku iri pada teman-temanku yang memiliki keluarga harmonis, memiliki orang tua yang selalu peduli terhadap mereka. Aku hanya ingin menjadi seperti anak normal lainnya.” Gerutunya dalam hati.


__ADS_2