
Malam pun berlalu dan kini berganti pagi. Mentari telah menyambut pagi dengan sinar yang menghangatkan. Hari ini adalah hari kedua mereka berada di villa kota L. Tampak Agatha masih terlelap di balik selimutnya. Tepat di sebelah kiri ranjangnya, terdapat nakas yang dihiasi oleh lampu tidur. Di atas nakas itu juga ia meletakkan ponselnya.
Triiiiing... Triiiiing... Triiing...
Ponselnya berdering berkali-kali. Namun yang punya ponsel masih tak bergeming karena memang belum terbangun. Ia benar-benar menepati perkataannya ingin berpuas-puas tiduran. Ia menggeliat hanya mengubah posisi tidurnya, tak menghiraukan ponselnya yang berdering berkali-kali.
Triiing... Triiiing... Triiiing...
Ponselnya kembali berdering. Karena merasa terganggu dengan bunyi ponselnya, akhirnya ia mengambil benda yang tengah berdering itu. Ia mengangkat panggilan itu dengan mata yang masih terpejam.
“Hallo,” sapanya pada orang yang tengah meneleponnya dengan suara serak khas bangun tidur.
“Selamat pagi, Non. Non sudah bangun?” ucap Bi Momon di kota A. Bi Momon sampai menggerutu menunggu Agatha mengangkat panggilannya.
Agatha tak mendengar ucapan Bi Momon karena ia sudah kembali terlelap. Ponselnya masih saja menempel di telinganya, panggilan itupun masih terus tersambung.
“Non? Sedang apa, kok tidak menjawab sapaan Bibi?” ucap Bi Momon kembali. Karena jengkel tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Bi Momon pun berteriak.
“Nonnnnnnnnn. Ada kodok lepas!” teriak Bi Momon. Sontak Agatha terkejut ketika ada yang berteriak di telinganya. Ia lupa kalau masih berada dipanggilan telepon. Ia seketika bangun dan menatap layar ponselnya dan menampakkan nama Bi Momon di sana.
“Pagi-pagi udah ganggu orang tidur aja!” Agatha mengomeli Bi Momon karena mengganggu tidurnya.
“Bibi bukan mengganggu, Non. Bibi kan cuma nelpon aja,” jawab Bi Momon santai.
“Sama saja. Karena teriakan Bibi aku jadi terkejut,” ujar Agatha disertai dengan menguap, “ada perlu apa pagi-pagi udah nelpon, Bi?”
“Makanya kalau sedang nelpon jangan sambil tiduran, Non. Jadinya, Non kena amukan macan tutul,” jawab Bi Momon yang membuat Agatha jengah.
“Bi Momon aja yang salah jam nelponnya. Yasudah, ada apa, Bi?” Agatha merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sembari menunggu jawaban Bi Momon.
“Oh, tidak apa-apa, Non. Hanya mau menelepon saja,” jawab Bi Momon, “Non sehat di sana?” sambungnya.
“Kirain ada yang urgent, Bi. Puji Tuhan, aku sehat. Daddy sama mommy gimana kabarnya, Bi?” ujar Agatha dan bertanya kabar tentang orang tuanya pada Bi Momon.
“Syukurlah. Jangan telat makan, Non. Jangan sampai tidak makan nasi sedikitpun,” pesan Bi Momon pada Agatha karena ia khawatir nona kecilnya melewatkan jam makannya.
“Iya, Bi. Daddy sama mommy apa kabarnya?” tanya Agatha kembali, ia lesu.
“Semenjak Non berangkat ke kota L, mereka sering di rumah, Non. Keluar rumah pun jika ada urusan mendadak di kantor dan juga panti, Non.” Bi Momon menjelaskan sesuai yang terjadi selama Agatha tidak di rumah.
“Hm, begitu ya, Bi?” ucap Agatha lemas. Tanpa pikir panjang dan menunggu jawaban Bi Momon, Agatha mengakhiri panggilan itu sepihak. Bi Momon sudah tau sinyal-sinyal kenapa nona kecilnya mematikan panggilan secara sepihak. Bi Momon berpikir mungkin saja Agatha saat ini merenungkan apa yang diucapkan Bi Momon.
Agatha terdiam dan menatap nanar ke arah pintu kamar villa yang ia tempati sekarang. Pikirannya melayang jauh bersama rasa sakit hatinya kepada kedua orang tuanya. Sakit hati karena sikap orang tuanya yang kentara sangat berbeda ketika ia berada di rumah dan saat ia liburan seperti saat ini. Orang tuanya seolah betah di rumah jika Agatha berada di luar kota.
Agatha kembali membatin, “sebenarnya apa yang daddy dan mommy pikirkan tentang ku? Sebenarnya apa yang kalian inginkan dariku? Apakah aku sudah tidak dianggap lagi oleh kalian? Sampai-sampai di saat aku tidak berada di rumah, kalian malah betah di rumah, tidak sibuk dengan pekerjaan kalian. Lalu, kenapa jika aku di rumah kalian malah seperti menghindar dan menjauhiku? Salah apa aku? Perasaan, aku tidak pernah membuat daddy dan mommy malu karena ulahku. Bahkan, ini itu aku lakukan sendiri dengan bantuan Bi Momon dan Mang Judas. Aku tidak pernah merepotkan kalian. Aku rindu kita yang dulu, daddy, mommy.”
Tanpa terasa air matanya pun membasahi kedua pipinya. Namun ia segera menghapusnya ketika melihat gagang pintu berputar dan mendengar suara ketukan yang menandakan ada yang ingin masuk ke dalam kamarnya.
“Masuk saja! Gak dikunci kok,” perintahnya dengan sedikit berteriak supaya yang di luar mendengar suaranya.
Ceklekk!!!
Muncullah Bi Inem dengan Memey dibelakangnya. Bi Inem membawa sebuah nampan yang berisi sarapan dan juga susu hangat untuk Agatha. Ya, Agatha tidak ikut sarapan bersama karena memang baru saja bangun dan juga ada sedikit drama kisah hidupnya. Kisah yang tak tau kapan berakhir, kapan lenyap, dan kapan untuk Agatha bisa menikmati kebahagiaan bersama orang tuanya.
“Selamat pagi, Nak,” sapa Bi Inem tersenyum ramah. Kemudian meletakkan nampan yang ia bawa ke atas ranjang Agatha.
__ADS_1
“Selamat pagi juga, Bi,” balas Agatha yang juga menampakan senyum ramahnya berusaha menutupi yang baru saja terjadi, “Bibi tidak usah repot-repot, saya bisa sendiri kok,” lanjutnya.
“Oh tidak apa-apa, Nak. Bibi tidak merasa direpotkan, justru Bibi senang melakukannya. Ini juga atas perintah dari Nak Dirgo. Iyakan, Neng?” jawab Bi Inem dan meminta persetujuan pada Memey. Memey mengangguk tanda bahwa itu memang benar adanya.
“Kenapa Dirgo perhatian sekali padaku? Ku rasa ini ada udang di dalam tepung.” Agatha bertanya-tanya dalam hatinya.
Bi Inem menatap Memey karena Agatha tiba-tiba melongo dan terdiam sesaat. Memey mengangkat bahunya tanda tak mengerti apa yang terjadi pada Agatha.
“Hey, Tha. Lo kenapa? Jangan nakutin ih,” ucap Memey yang mengira bahwa Agatha kesurupan. Pikiran Memey selalu ada-ada saja. Sontak Agatha terperanjat kaget ketika Memey menyadarkannya.
“Eh, ada apa?” tanya Agatha menatap Memey dan Bi Inem secara bergantian.
“Nak Agatha kenapa melamun? Apa yang dipikirkan?” Bi Inem balik bertanya.
“Tidak memikirkan apa-apa, Bi.” Agatha tersenyum pada Bi Inem untuk meyakinkan supaya tidak bertanya lagi.
“Baiklah, Nak. Kalau begitu, Bibi pamit ke bawah, ya,” Bi Inem berpamitan pada Agatha dan Memey.
“Iya, Bi. Terima kasih atas sarapannya,” ucap Agatha seraya mengatupkan kedua tangannya.
Sepeninggalan Bi Inem ke bawah, Agatha mulai memakan sarapan yang dibawakan oleh penjaga villa itu. Tak berselang lama, sarapannya pun selesai ia santap.
“Tha, lo kenapa kemarin? Tiba-tiba pulang dan nangis gak jelas?” tanya Memey karena penasaran.
“Enggak, gue enggak apa-apa.” Agatha mencoba berbohong.
“Yakin enggak apa-apa?” tanya Memey memastikan lagi.
“Lama-lama jiwa kepo lo makin meningkat, Mey. Bisa-bisa Bi Momon kalah.” Agatha memutar bola matanya.
“Gue sebagai sahabat lo berhak tau, kan? Ayolah cerita!” Memey memaksa Agatha untuk bercerita apa yang terjadi padanya.
“Ishh, lo mah. Gini-gini gue bisa nutupin rahasia loh.” Memey membanggakan dirinya.
Agatha menimang apa yang diucapkan Memey, mungkin saja ada benarnya juga, pikirnya. Toh, tidak salah jika sharing atau berbagi kisah pada orang lain ketimbang dipendam sendiri. Boleh saja berbagi, tapi harus dengan orang yang benar-benar bisa kita percaya dan memang orang yang dekat dengan kita. Tetapi ingat, jangan sampai terlena, bisa saja mereka memanfaatkan kita. Terkadang, orang yang dekat dengan kita malah bisa berbalik tidak bisa dipercaya. Namun, Agatha tidak berburuk sangka pada Memey, ia yakin Memey dapat menyimpan rahasia yang ia lihat ketika di kebun binatang, walaupun tingkah Memey kadang membuat ia jengah sendiri. Biasanya orang-orang seperti Memey dapat dipercaya ketimbang yang terlihat serius, contohnya seperti Nadine.
“Sebenarnya gue...” Agatha sengaja menggantung ucapannya.
“Sebenarnya apa? Jangan digantung dong! Ini bukan jemuran kerupuk emak-emak di pasar.” Memey semakin penasaran, lalu membenarkan duduknya ingin mendengar penjelasan Agatha secara lebih rinci.
“Pas kita balik dari toilet, gue ngeliat Nadine dan Welson tengah bertatapan dengan mesra. Lalu setelah itu, Welson kayak mau mencium Nadine. Tapi gue enggak tau, apakah itu benar apa gue yang salah liat,” jelasnya pada Memey. Memey membulatkan matanya seketika mendengar ucapan Agatha.
“Lo...lo serius?” tanya Memey gelagapan.
“Iya. Dan sepertinya gue salah liat deh,” jawab Agatha tak ingin ambil pusing. Toh, ia dan Welson sudah kembali damai.
“Gue juga pernah ngeliat apa yang lo ucapkan.” Memey mengingat kejadian di saat malam pertama mereka berada di villa. Agatha terkejut mendengar itu. Hatinya terasa diremuk kembali.
“Ma..maksud lo?” tanya Agatha dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak oleh Memey.
“Sorry sebelumnya, Tha. Tapi gue gak yakin itu benaran berciuman atau hanya sekedar membantu Nadine karena matanya kelilipan. Pas gue tanya ingin memastikannya, Welson bilang memang lagi meniup mata Nadine,” jelas Memey hati-hati.
“Nah, mungkin itu juga yang gue liat kemaren, Mey. Bisa jadi kita salah liat. Jadi, kita berpikir positif saja, ya.” Agatha mencoba menghapus rasa curiganya pada Welson dan Nadine. Ia berpikir, tidak mungkin Nadine dan Welson mengkhianatinya.
“Iya, gue juga berharap seperti itu, Tha,” jawab Memey menyetujui yang Agatha ucapkan.
__ADS_1
🕊️🕊️🕊️
Malam hari pun bersambut. Mereka kembali memilih makan malam di restoran yang sama. Kali ini Agatha setuju, karena ia ingin menikmati kebersamaan bersama teman-temannya. Ia juga ingin membuang rasa kecewa terhadap orang tuanya walaupun hanya sesaat. Karena ia yakin, orang tuanya akan tetap sama, tetap mengabaikannya ketika ia kembali ke kotanya lagi. Dan, terlebih lagi ia ingin membuang prasangka buruk terhadap pacarnya, Welson.
Selesai makan, mereka kembali mengobrol di restoran itu. Agatha dan juga Welson tidak memisahkan diri dari teman-temannya. Agatha takut kalau-kalau Welson dengan tanpa izin menciumnya lagi. Agatha mengambil dan memilih jalan aman untuk sekarang. Namun duduknya tak mau jauh dari Welson. seolah-olah ada kekuatan magnet di tubuh pacarnya itu. Tangannya juga tak mau lepas dari genggaman Welson. perlahan, Agatha menyandarkan kepalanya di pundak Welson, lalu tersenyum.
“Sayang, terima kasih karena sudah bertahan sejauh ini. Terima kasih, karena kamu telah mau mengerti dengan keadaanku dan dengan segala sikapku yang mungkin saja membuatmu bosan terhadapku. Terima kasih untuk hatimu yang mampu membuatku jatuh lebih dalam dan dalam lagi. Terima kasih atas semua perlakuan manismu untukku. Aku tau bahwa ada hal-hal rumit untuk hubungan kita ke depannya. Aku tidak mendoakan yang bukan-bukan. Karena, tidak mungkin hubungan kita tanpa masalah dan tidak mungkin juga hubungan kita selalu aman-aman saja. Yang namanya menjalin hubungan, pasti ada bumbu-bumbunya. Entah itu salah paham, entah itu kecemburuan. Bunga saja mekar masih memerlukan proses supaya menampakkan keindahan dan wanginya, mana mungkin hubungan kita terjalin tanpa proses? Terjalin tanpa adanya masalah? Semua tergantung kita menyikapinya, tergantung kita menyelesaikannya dengan hati yang terbuka dan dengan kepala yang dingin, tanpa amarah. Terkadang, masalah adalah cara untuk mendewasakan kita dalam mengambil tindakan dan berbuat sesuatu. Terima kasih sudah menjadi kuat, meski telah melewati suka duka bersamaku.” Agatha berucap di dalam hatinya.
Bersandar di pundak Welson, membuatnya perlahan menguap, ia mengantuk. Ia mengabaikan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol pada hal-hal yang membuat mulut tertawa. Ia dan Welson duduk tepat berhadapan dengan Nadine, nyaris membuat hati Nadine menjerit.
“Sayang, bersandar di pundakmu membuatku mengantuk. Bolehkah aku memejamkan mataku sebentar?” tanya Agatha pada Welson. Ia menatap Welson dengan wajah yang begitu menggemaskan.
“Tidurlah! Aku di sini menemanimu.” Welson mengusap-usap kepala Agatha tanda memberi izin. Agatha langsung memejamkan matanya setelah mendapat izin dari Welson.
“Lagi-lagi kau lupa padaku, Wels. Aku tidak peduli terhadap siapapun, karena aku telah terlanjur jatuh di singgasanamu.” Nadine membatin. Lalu menatap nanar ke arah Welson.
“Sampai kapan kamu seperti itu, Tha? Apakah kamu tidak bisa merasakan sesuatu yang mengganjal di antara kalian? Atau mungkin kamu telah termakan rayuan mautnya sehingga menutup mata hatimu. Kamu telah dilumpuhkan oleh perlakuan manisnya.” Kali ini Dirgo yang bergumam di dalam hatinya.
“Nah loh, kenapa jadi sunyi? Lagian kalian kenapa mematung seperti itu? Kayak maneqin aja lo berdua.” Memey menatap Nadine dan Dirgo secara bergantian.
“Wah-wah! Agatha sudah berkeliling dunia.” Giliran Yadi yang berkomentar.
“Berisik lo!” tukas Welson.
Yadi seketika menatap ke arah Memey yang duduk di sebelahnya. Ia berharap Memey akan melakukan hal yang sama terhadapnya seperti Agatha yang bermanja pada Welson. Ia tersenyum pada Memey ketika Memey menatapnya.
“Ini lagi. Ada apa lo senyum-senyum gak jelas? Kenapa kalian jadi aneh semua, sih? Apa perlu gue panggilin bidan?” ucap Memey yang kebingungan sendiri karena ulah teman-temannya.
“Jijay amat lo, Mey. Emangnya mau beranak manggil-manggil bidan segala?” sergah Nadine.
“Apa lo gak mau sandaran kayak Agatha?” tanya Yadi pada Memey. Memey langsung mengarahkan kepalanya pada Agatha dan Welson. Memey langsung menggidikkan tubuhnya ketika sudah paham apa yang dimaksud oleh Yadi.
“Ogah, Yad. Mendingan gue sandaran sama lutut gue sendiri. Huh!” Memey mendengus.
“Hahaha. Kasian amat lo, Yad. Ditolak mulu sama Memey,” ejek Dirgo tertawa senang.
“Gue sumpahin lo juga kayak gue, Dir!” Yadi membuang muka, “atau kita taruhan aja gimana?”
“Maksud lo apaan?” tanya Dirgo tak mengerti pembicaraan Yadi.
“Kalau misalkan lo pacaran duluan dari gue, gue traktirin lo makan selama seminggu, begitu juga sebaliknya. Lo juga harus traktirin gue makan kalau gue yang duluan pacaran dari lo. Gimana?” tantang Yadi pada Dirgo.
“Oke. Deal! Gue pegang ya janji lo.” Dirgo menyetujui tantangan Yadi.
“Emangnya siapa yang mau sama kalian berdua? Hahaha.” Memey mentertawakan Yadi dan Dirgo.
“Awas! Ntar lo jatuh cinta dan klepek-klepek sama gue, Mey,” ucap Yadi dengan percaya diri.
“Gue jadi juri lo berdua,” ucap Welson menimpali.
🕊️🕊️🕊️
Tiada terasa obrolan receh mereka telah memakan waktu yang tak sedikit. Malam pun semakin larut. Mereka semua kini kembali ke villa untuk beristirahat. Welson kembali menggendong Agatha karena Agatha sudah terlelap tidur. Sungguh liburan yang menyenangkan, bukan? Bagi segelintir orang, mungkin liburan sederhana seperti mereka saat ini adalah hanya biasa saja. Namun, bagi mereka itu sangat luar biasa. Mereka sangat menikmati momen-momen saat bersama. Karena ke depannya, mereka berpikir akan berpisah dengan teman-temannya. Entah itu karena berkeluarga atau karena pekerjaan. Semua sudah ada yang mengatur, yaitu Tuhan.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
To be continued...
Tetap dukung karyaku ya😊. Like, vote, komen, share, dan tips juga boleh😊