Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Yes, I Will.


__ADS_3

Sekian hari berlalu, keluarga Thomas William semakin harmonis saja rasanya. Setiap pagi di pukul lima, mereka berdoa bersama untuk memulai hari. Meminta penyertaan Tuhan setiap apa yang akan dikerjakan. Agatha yang juga dibantu oleh Alzio juga Dirgo, semakin lebih memahami kehidupan yang telah Tuhan sediakan. Daddynya, setiap pekan selalu menghabiskan waktu bersama putri dan juga Alzio yang kini menjadi anaknya. Alzio sudah memulai perkuliahannya kembali, terpaksa mengambil kelas online karena ia ingin menemani Agatha. Orang tuanya di kota dan provinsi lain tidak keberatan dengan keputusan Alzio. Bahkan mereka bersyukur karena anaknya – Alzio sudah dijadikan anak oleh Tn. Thomas.


Semenjak Agatha dan Alzio ke rumah Dirgo malam itu, tanpa sengaja ketika Agatha izin ke toilet, Agatha melihat salah satu ruangan yang terbuka. Ia penasaran, lalu ia masuk untuk melihat ruangan itu.


DEGGG!! Betapa terkejutnya Agatha ketika masuk di ruangan itu. Di dalam ruangan, terdapat berbagai macam alat untuk melukis, mulai dari kuas, pewarna, kanvas, dan lainnya. Ia menyusuri setiap ruangan dengan hati-hati. Hatinya mulai penasaran dan curiga dengan pribadi Dirgo. Mungkinkan orang yang ia lihat di taman danau waktu itu adalah Dirgo, mungkinkan kado ulang tahun dari Dirgo adalah hasil karyanya sendiri? Pikiran Agatha berkecamuk. Ia melihat sebuah rak yang tersusun dengan rapi, lalu ia mendekatinya.


Ia membukanya. Dan sekali lagi Agatha dibuat terkejut kembali. Ada lukisan wajah dirinya di sana. “Apakah ini semua Dirgo yang lukis?” gumamnya.


Dirgo menyadari, sudah lima belas menit Agatha ke toilet dan belum kembali. Ia meminta Alzio untuk menyusulnya, tetapi Alzio malah menyuruhnya yang menyusul Agatha.


“Zio, adik lo mana, kok lama banget? Susul gih, takutnya dia kenapa-kenapa…”


“Nggak! Lo aja yang susul. Gue nggak tau toiletnya di mana,” jawab Alzio asal. “Udah, buruan susul. Lo nggak mau agar lo makin dekat sama dia?”


Dengan tersenyum dan langkah pelan, Dirgo bangkit dan meninggalkan Alzio yang masih di meja makan. Tujuannya cuma satu, yaitu ruangan tempatnya melukis. Dan benar saja, Agatha masih melihat-lihat hasil lukisannya.


“Ehemm.” Dirgo berdehem dan mengagetkan Agatha. “Kamu sedang apa di sini?” tanyanya kemudian melangkah mendekati Agatha.


Agatha masih terdiam. Melihat lukisan dan wajah Dirgo bergantian, seperti meminta penjelasan.


“Tha…apa yang kamu pikirkan?” ucap Dirgo menyadarkan yang masih terdiam.


“Gue pengen dengar sesuatu dari lo.”


“Tentang apa?”


Agatha kembali mengedarkan matanya memindai seluruh isi ruangan, lalu mengangkat lukisan wajahnya yang ia pegang. “Tentang ini semua. Apa lo yang ngelukis dan punya ruangan ini?”


“Kalo aku jujur, apa kamu akan marah padaku?”


“Nggak.”


“Mmm, itu semua aku yang lukis. Dan, ruangan ini punyaku juga.”

__ADS_1


“Kenapa objeknya selalu wajahku?”


“Itu karena…” Ucapan Dirgo terpotong karena Alzio lebih dahulu menjawabnya.


“Dia suka sama kamu.”


Dirgo hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sebenarnya ia cukup malu dengan perasaannya pada Agatha, takut Agatha tak memiliki perasaan yang sama dengannya.


“Kenapa kamu tau, Zio?” tanya Agatha pada Alzio.


“Kan dari waktu itu aku udah bilang, selama kamu minggat, Dirgo banyak curhat sama aku tentang semua perasaannya padamu, kekhawatirannya padamu, dan semua tentangmu. Dan sekarang, inilah kejutannya untukmu.”


“Benar yang Zio ucapkan, Dir? Lo suka sama gue?” Agatha beralih menatap Dirgo.


“Iya,” jawab Dirgo dengan singkat tanpa berani menatap wajah Agatha.


Agatha menjatuhkkan dirinya di atas kursi. Ia begitu tak menyangka bahwa Dirgo menyukainya. Memang ia akui, pantas saja sikap dan laku Dirgo berbeda dengannya. Ia selalu mendapatkan perlakuan yang manis dari Dirgo. Ia juga mengakui, setiap melihat dan bertatapan dengan Dirgo, ia selalu merasakan ada getaran yang hebat hingga selalu membuat wajahnya merona merah. Tapi ia belum bisa menebak ke arah mana getaran itu.


“Sejak kapan lo suka sama gue?” Agatha berbicara setelah Alzio menghilang di balik pintu.


“Kalo boleh jujur, aku suka sama kamu semenjak dari kita kelas XI. Dan malam itu, di waktu kita makan malam berdua lalu kita ke bukit berbunga, sebenarnya aku ingin menyatakan perasaanku padamu. Tapi aku tak punya banyak keberanian mengatakan itu, mengingat kamu lagi dalam masalah yang rumit. Aku takut membuatmu merasa ada yang salah denganku,” papar Dirgo jujur.


“Lo nggak salah, kok. Apa sekarang rasa itu masih ada dan masih sama?”


“Sampai sekarang pun masih ada dan masih sama.”


“Apa lo nggak jijik sama gue yang kotor ini?” Agatha mulai mengucurkan air matanya. Membayangkan semua janji manis Welson, membuatnya tak mampu menahan air matanya.


“Aku mengesampingkan itu semua. Rasa sayang dan rasa sukaku mengalahkan semua tentangmu yang udah terjadi. Aku menerima semua kelemahanmu. Apakah ini yang disebut dengan jatuh cinta?” Dirgo mendekati Agatha yang masih menangis. Ia kemudian memeluk Agatha dengan erat. Memeluk tubuh gadis pujaannya yang sudah tidak ketemu selama dua bulan lebih.


“Sekarang, aku ingin mengungkapkan semua perasaanku padamu, malam ini.” Dirgo menghela napas sejenak. “Agatha William, will you be mine?”


Agatha makin tersedu di pelukan Dirgo. Rasanya begitu tak percaya dan seperti mimpi di siang bolong. Dirgo mengusap punggung Agatha supaya Agatha lebih tenang karena ia ingin mendengarkan apa yang akan Agatha jawab untuk pernyataan cintanya.

__ADS_1


“Aku tau, ini bukan cara yang romantis seperti yang kebanyakan orang lakukan. Tapi, ini semua tulus dari hatiku yang paling dalam. Aku ingin menjalin kebersamaan bahkan sampai ke jenjang pernikahan bersamamu.” Dirgo melonggarkan pelukannya, memegang kedua pundak Agatha lalu membawanya untuk saling menatap. “Sekali lagi, will you be mine, Agatha?”


“Kamu serius dengan ucapanmu?” tanya Agatha sambil menatap wajah Dirgo tanpa berkedip. Ia mencari celah di mata Dirgo, celah kejujuran dan ketulusan di sana. “Apa kamu mau membimbingku hingga menjadi pribadi yang menang?”


“Aku akan selalu melakukan apa yang kamu inginkan.”


Agatha tersipu malu lalu menjawab, “Yes, I WILL.”


Dirgo menangis haru karena Agatha menerima cintanya meskipun secara mendadak tanpa persiapan sama sekali. Hanya karena ruang lukisan, membuat mereka menjadi sepasang kekasih.


“Bolehkah aku menciummu sebagai tanda kamu adalah pacarku?” Dirgo meminta izin terlebih dahulu pada Agatha. Ia tak mau main nyosor begitu saja.


Agatha memejamkan matanya, tetapi Dirgo malah tersenyum. Ia kemudian mendekatkan wajahnya lalu mencium kening Agatha beberapa kali. “Sudah. Bukalah matamu!”


Wajah Agatha merona merah. Tadinya ia berpikir akan bersilaturahmi bibir dengan Dirgo, tetapi keningnya yang menjadi sasaran.


“Kenapa wajahmu memerah? Kamu membayangkan kalo bibir kita akan bersilaturahmi, ya?” goda Dirgo.


Agatha menggeleng dengan cepat. Ia bersyukur memiliki Dirgo yang menghargai pasangannya. Buktinya saja, mau mencium keningnya pun masih meminta izin, tak seperti Welson yang selalu saja mengambil kesempatan untuk nyosor.


Agatha tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian Dirgo menyatakan perasaannya malam itu. Ia begitu bahagia.


“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” tegur Alzio. “Pa! Papa lihatlah, ada yang sedang kasmaran karena malam itu ia sudah jadian dengan Dirgo, hihi.”


Daddynya Agatha turut bahagia karena anaknya sudah ceria. Sekarang pun, Agatha sudah menjadi pribadi yang menang. Sudah lima hari ia menjalin hubungan dengan Dirgo.


“Kamu sendiri kapan cari pacar? Apa nggak malu kalah sama adikmu, Sayang?” Bukannya ikut menggoda Agatha, justru beliau malah menggoda Alzio.


Suasana sarapan di ruang makan berlalu begitu menyenangkan. Bi Momon juga Mang Judas turut mengucap syukur karena keluarga majikannya mendapatkan anugerah Tuhan sehingga kembali harmonis. Ya walaupun minus Nyonya Daria, tetapi mereka sangat bersyukur untuk itu sekarang ini.


🕊️🕊️🕊️


To be continued…

__ADS_1


__ADS_2