Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Wangi Sekali.


__ADS_3

Welson duduk di antara papanya serta teman-temannya. Ada tatapan sinis dan jengkel dari Rico serta mamanya. Welson merasa benar-benar terintimidasi oleh tatapan sinis itu. Welson menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan, berusaha menenangkan pikirannya.


“Kamu lihat sendiri kan gimana keadaan anak saya?” ucap mama Rico penuh penekanan, lalu menunjuk ke area wajah anaknya yang lebam-lebam.


Rico sedang memegang kedua kapas yang ditempelkan pada kedua lubang hidungnya, berusaha menahan agar tidak ada lagi darah yang mengalir.


“Iya, saya liat.” Jawab Welson yang tak gentar sama sekali.


Di sela-sela Welson menjawab, lalu sang papanya juga ikut ambil bicara.


“Tolong maafkan ulah anak saya ya, Bu. Dia...” Papanya Welson berusaha menjelaskan, tetapi ucapannya langsung dipotong oleh Welson.


“Papa gak perlu minta maaf, toh dia yang salah.” Ucap Welson dan menunjuk Rico dengan tatapan matanya.


“Tuh, lihatlah? Dia masih saja tak mengakui kesalahannya.” Mamanya Rico menggelengkan kepala.


“Jika anak ini tidak mau meminta maaf, saya mau anak ini dikeluarkan dari sekolah ini. Jika perlu saya laporkan ke pihak yang lebih berwajib, biar mereka yang mengusut tuntas kasus ini. Anak saya sudah dianiaya dan kalian dari pihak sekolah sudah lalai dalam melaksanakan kewajiban masing-masing.” Tambah mama Rico penuh deru emosi.


“Baik. Begini saja ya, Welson. Kamu minta maaf ya sama Rico dan mamanya.” Ucap kepala sekolah berusaha menengahi pertikaian itu.


“Ayo, Welson!” pinta kepala sekolah.


Namun, hal yang sama tetap dilakukan Welson. Dia menggelengkan kepalanya dan bersikeras dengan pendiriannya, kemudian meloloskan perkataannya.


“Saya akan minta maaf jika memang saya yang bersalah, namun posisinya di sini dia yang bersalah.” Tukas Welson.


“Saya tidak mau tau. Minta maaf sekarang atau saya hubungi polisi?” ujar mama Rico mengancam.


“Silakan!” ucap Welson santai, yang mana ucapannya itu berhasil membuat kedua bola mata papanya membulat indah tak percaya apa yang anaknya katakan.


“Apa tante tau? Tidak ada asap jikalau tidak ada api? Saya rasa tante lebih paham dengan peribahasa itu.” Pertanyaan Welson berhasil membungkam mulut mama Rico serta yang berada di ruangan itu.


Mama Rico seperti sedang memikirkan sesuatu, memikirkan apa yang diucapkan Welson barusan.


“Saya lebih memilih pindah sekolah daripada meminta maaf sama Rico. Saya bersedia pindah jika memang itu jalan satu-satunya dan keputusan finalnya.” Tutur Welson dengan lugas, lalu menatap Pak Matias dan kepala sekolah serta mamanya Rico.

__ADS_1


“Kalian sebagai orang tua, di mana kesadaran kalian? Tanpa menanyakan terlebih dahulu sebab dan akibat masalah ini, langsung main serodok saja. Emangnya ini lagi main biliar?” sindir Welson.


“Apa maksud kamu?” tanya mama Rico.


“Tuh, tanya aja sama anak tante!” ucap Welson sambil menunjukkan wajah Rico.


Rico yang semulanya tenang-tenang saja, kini dia nampak gusar.


“Rico, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya mamanya.


“Mmm, gak kenapa-kenapa kok, Ma.” Jawab Rico sedikit gugup.


“Nah, tante liat sendiri kan gimana sikap anak tante? Jika kalian tidak percaya, tanyakan saja sama kedua teman-teman saya. Mereka adalah saksi dari semuanya.” Tukas Welson dengan tatapan sinis mengarah pada Rico.


“Ayo, Rico! Ceritakan apa yang kalian ributkan tadi?” kini Pak Matias juga ikut andil berbicara.


“Gak berani kan ceritain yang sebenarnya?” hardik Welson.


“Coba saya tanya, ketika orang yang kalian cintai dijelek-jelekin di depan mata kepala kalian sendiri, apa reaksi kalian? Kira-kira terima gak jika ada yang berbuat begitu?” sambung Welson lagi.


Kepala sekolah, Pak Matias, mama Rico, serta papanya Welson saling menatap mendengar penuturan Welson.


“Dan buat lo, Rico! Jangan pernah lo jelekin Agatha di depan gue lagi jika masih ingin memiliki napas yang tahan lama dan awet. Jika lo benci dan gak suka sama gue, gue aja yang lo jelekin, jangan Agatha. Dia gak salah apa-apa, tapi lo malah bawa-bawa nama dia.” Pungkas Welson tanpa menjawab pertanyaan papanya.


“Ya ampun! Ternyata cuma gara-gara cewek.” Seru Pak Matias.


“Apa benar yang diucapkan Welson, Ric?” tanya mamanya penuh selidik, mana tau Welson mengarang cerita buat melindungi dirinya.


Rico yang mendapat pertanyaan itu hanya bisa menggarukkan kepalanya, lalu mengangguk sebagai jawabannya.


“Kalian liat sendiri kan pengakuannya?” tanya Welson.


Mama Rico menggeleng tak percaya apa yang telah diperbuatkan anaknya. Pantas saja Welson tak ingin meminta maaf, pikirnya.


“Jadi sekarang begini saja. Keduanya saling meminta maaf ya.” Tukas kepala sekolah.

__ADS_1


“Rico, untuk selanjutnya tidak boleh bersikap seperti itu lagi ya! Tidak boleh menjelekkan seseorang, terlebih lagi itu adalah orang yang mereka kasihi. Sekarang saya tanya sama kamu, kamu terima apa tidak jika keluargamu dijelekkan seseorang di depan mata kepala kamu sendiri?” tambah kepala sekolah memberikan pengertian.


“Ii iya, Pak. Saya juga tidak terima jika keluarga atau orang yang saya kasihi dijelekin orang lain.” Ucap Rico terbata-bata tak berani menatap wajah lawan bicaranya sekarang.


“Nah, begitu juga dengan temanmu, Welson. Dia seperti itu karena tak terima ada yang menjelekkan seseorang.” Saut kepala sekolah menjelaskan, supaya Rico mengerti.


“Sudahlah, Pak, Bu! Jangan dibahas lagi. Intinya mereka harus sama-sama minta maaf dan mengakui kesalahan masing-masing. Selesaikan masalah ini dengan kekeluargaan.” Ucap papa Welson.


“Saya sebagai papanya, saya meminta maaf atas sikap anak saya terhadap anak Ibu.” Sambung papa Welson pada mamanya Rico, lalu mengeluarkan amplop cokelat yang lumayan tebal, lalu menyerahkan amplop itu pada mama Rico.


“Tidak perlu repot-repot, Pak. Justru anak saya yang bersalah, mungkin saya kurang dalam membenahi sikap dan tutur kata anak saya, Pak. Saya tidak pernah mengajarkan dia berkata yang tidak pantas seperti itu.” Ujar mama Rico dengan raut muka yang bersalah.


“Lupakan, Bu! Ibu ambil saja uang itu sebagai tanda permintaan maaf dari kami.” Tukas papa Welson.


Ruangan kepala sekolah yang semula terasa panas, kini mulai terasa adem. Rico dan Welson akhirnya saling berjabat tangan sebagai permintaan maaf masing-masing.


🕊️🕊️🕊️


Kini bel pulang berbunyi setelah jam pelajaran terakhir selesai. Mang Judas mengirimkan pesan pada Agatha bahwa dia sudah siap lepas landas di depan gerbang sekolah untuk menjemput Agatha. Tanpa ingin menunggu informasi dari Welson, Agatha memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Berjalan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri, membuat Agatha tanpa sengaja menabrak seseorang.


Brukk!!! Inilah akibat jika berjalan sambil melamun, hal tak terduga pasti akan menerpa. Seperkian detik, Agatha belum menoleh ke arah wajah orang yang dia tabrak itu. Namun, di sela-sela kepalanya menyentuh dada bidang itu, dia mengenduskan indra penciumannya dengan tajam, lalu menghirup aroma maskulin dari orang yang dia tabrak itu.


“Kenapa wangi sekali sih? Sepertinya wangi parfum ini sangat familiar deh, tapi siapa orangnya?” batin Agatha.


Orang yang ditabrak itu sengaja tak memindahkan kepala Agatha dari dada bidangnya. Dia senang dengan kejadian barusan, apalagi orang itu adalah orang yang sangat dia kagumi.


“Lama-lama juga gak apa-apa, Tha. Jika aku tak bisa memilikimu, maka kejadian ini akan menjadi kenangan untukku. Kenangan yang takkan pernah ku lupa. Terima kasih telah menabrakku.” Dia membatin seraya memancarkan senyumannya menatap Agatha.


Mang Judas yang melihat kejadian barusan, menyipitkan matanya ingin melihat yang terjadi sebenarnya. Namun aksinya seketika buyar sewaktu mobil lain membunyikan klaksonnya. Mang Judas terperanjat kaget.


“Busyet! Kurang dihajar benar itu orang. Mauku bonyok-bonyok jika ketemu batang hidungnya nanti.” Gumam Mang Judas sendiri di dalam mobil, persis dukun sedang membacakan mantranya. Akhirnya Mang Judas lupa akan kejadian yang ingin dia intip semenjak dia dikagetkan oleh bunyi klakson.


🕊️🕊️🕊️


Setelah puas menghirup aroma maskulin itu, Agatha memundurkan badannya ingin meminta maaf.

__ADS_1


“Sorry, ya. Gue gak sengaja...” ucap Agatha terpotong ketika melihat wajah orang yang dia tabrak itu.


🕊️🕊️🕊️


__ADS_2