
“Gue lagi kesel sama Pak Matias!” teman-temannya kaget mendengar ucapan Memey.
“Kesel kenapa? Pak Matias ngapain lo?” tanya Yadi. Akhirnya Memey pun menceritakan semuanya. Mereka semua tertawa dengan cerita Memey yang absurd.
“Hahaha. Jelas-jelas lo yang salah. Wajar dong, Pak Matias nyuruh lo pungutin buku-bukunya,” timpal Maria.
“Iya gue yang salah. Gak mungkin kan kalau lo yang salah,” dengus Memey, “kalau gak diancam nilai jelek mah ogah gue bantuin Pak Matias, udah gue tinggal kabur dah!”
“Lo itu gimana, sih? Polos atau telat mikir, Mey? Mana mungkin hanya karena gara-gara nabrak enggak sengaja kayak gitu main ancam-ancam nilai lo yang jelek. Itu mah Pak Matias cuma ngerjain lo. Mau liat lo bisa bertanggung jawab apa enggak. Gitu yang benar.” Dirgo menepuk pundak Memey dengan pelan, berusaha memberikan pengertian.
“Jadi gue cuma dikerjain, gitu maksudnya?” tanya Memey.
“Ya-iyalah. Dari cerita lo aja udah ketebak kayak gitu. Gue mah enggak percaya larinya ke nilai, enggak ada aturannya,” jawab Dirgo.
“Wah, benar-benar ya tuh Bapak. Belum ngerasain ciuman dari gue tuh.” Memey tersenyum.
“What? Ciuman?” ucap Stevanie kaget dan berteriak.
“Woi songong. Gue gak tuli. Jangan teriak-teriak kan bisa!” celetuk Memey.
“Gue gak bisa bayangin kalau lo ciuman sama Pak Matias. Bisa-bisa Pak Matias pingsan di tempat. Hahaha.” Stevanie tertawa membayangkan Memey dan Pak Matias berciuman. Padahal sebenarnya bukan ciuman sungguhan yang Memey maksud.
“Tuh kan. Pikiran lo mesum. Gak mungkin gue mencium wali kelas sendiri, ogah! Yang ada gue bawain wajan panas bekas goreng ikan asin ke wajah Pak Matias. Uh, itu ciuman yang sangat panas. Hahaha.” Memey tertawa dengan ucapannya sendiri sembari membayangkan wajah Pak Matias melepuh karena terkena wajan panas. “Oh iya, kok gue gak liat Nadine dari tadi, sih? Dia kemana?” tanya Memey.
Teman-temannya yang lain mengangkat bahu karena mereka juga tidak tau kemana Nadine, kecuali Welson. Nadine sama sekali tidak memberi kabar pada mereka. “Nadine kemana, Wels?” Tiba-tiba Memey bertanya pada Welson, seolah ada yang melintas di kepalanya untuk bertanya pada Welson. Welson yang masih mengusap-usap tangan Agatha, langsung menatap Memey. “Kok nanya ke gue?” Welson berpura-pura bersikap acuh. Namun, bukan Memey namanya jika pertanyaannya belum terjawabkan malah berhenti bertanya. Memey semakin bertanya panjang lebar pada Welson, hingga akhirnya Welson mengalah dan memilih menjawab. “Subuh tadi dia nge-WA gue, dia izin gak masuk karena enggak enak badan, katanya.” Welson kembali pada Agatha, ia mengacak-acak rambut Agatha hingga Agatha cemberut karena rambutnya kusut oleh Welson.
“Loh, kok cuma ngabarin lo doang?” tanya Memey lagi.
“Ya mana gue tau. Tanya aja sendiri sama Nadine,” jawab Welson santai.
Dirgo yang mendengar itu serasa ingin muntah dan bosan terhadap sandiwara antara Welson dan Nadine. “Drama kelas ikan terbang!” Dirgo membatin.
🕊️🕊️🕊️
Jam istirahat pun telah tiba, bel tanda istirahat juga menggema di sekolah itu. Mereka semua ada yang berlari-lari menuju kantin sekolah untuk mengisi perut yang keroncongan. Di kelas XII IPA itu, hanya tersisa Agatha dan Memey karena yang lainnya memilih ke kantin dan hanya sekedar bersantai di taman sekolah. “Mey, tumben lo gak ke kantin? Biasanya lo yang paling laju kalau masalah jajan,” ucap Agatha pada Memey yang duduk di depannya.
“Bucin? Sejak kapan gue bucin, Tha? Gak salah tuh?” tanya Memey dengan santainya.
Agatha menatap Memey dengan tatapan jengah. Jawaban dari Memey selalu saja mengada-ada dan di luar konteks pembicaraan. Namun, dengan hal seperti itu, Agatha terkadang merasa terhibur dan juga merasa kesal. Justru sebaliknya Agatha bersyukur, karena dengan itu ia merasa tidak kesepian dan mungkin bisa melupakan sekeping luka di hatinya pada orang tuanya. “Pulang sekolah lo balik sama gue lagi. Gue bakalan traktirin lo beli micin yang banyak!” jawab Agatha. Ia lekas berdiri dan meninggalkan Memey yang masih memasang wajah serius.
Memey semakin bingung dengan ucapan Agatha. “Apa hubungannya dengan micin?” tanya Memey dengan sedikit berteriak karena Agatha sudah lima langkah jauh darinya.
Agatha tak menjawab pertanyaan Memey, karena jika dijawab sudah pasti akan menjalar kemana-mana seperti si jago merah yang tengah melahap pertokoan karena terbakar. “Bawakan tas gue ke sini!” perintahnya pada Memey. “Oh iya gue lupa. Bawanya hati-hati, ya, karena di dalam sana ada bom waktu yang akan siap meledak kapan saja.”
“Enggak mau ah! Bawa aja sendiri. Gue belum siap jalan-jalan dan membangun rumah di dunia lain.” Memey menolak ketika mendengar ada bom di dalam tas Agatha.
“Hahaha. Mey, Mey. Lo kayaknya sangat mudah untuk dibohongi kalau kayak gitu, Mey. Mana mungkin gue bawa bom? Dan gak akan mungkin gue sentuh barang kayak gitu. Cepat bawa sini!” Agatha sampai menepuk jidatnya seolah sedang digigit nyamuk Aedes Aegypti.
Tanpa membuka mulutnya untuk berucap sesuatu, Memey pun menuruti perintah Agatha. Ia menarik tas Agatha dan membawanya pada sang empunya. “Nih! Mau ngapain, sih?” Memey menyodorkan tas pada Agatha.
“Mau main petak umpet!” jawab Agatha asal. Ia merogoh dompetnya lalu memberikan tasnya itu pada Memey supaya meletakkan tas itu kembali ke meja Agatha.
__ADS_1
“Apakah lo ngantuk, Tha? Seriusan mau main petak umpet dalam tas?” tanya Memey dengan mencondongkan badannya yang sudah hampir mirip menara Pisa di Italia.
“Gue rasa anak TK lebih paham dari lo, Mey.” Agatha menepuk pundak Memey. “Letakkan kembali tasnya. Kita ke kantin!”
Memey kembali meletakkan tas Agatha sesuai yang Agatha perintahkan. Sejenak ia berpikir dengan ucapan Agatha. “Eh, bentar deh. Lo kayak gak punya pendirian, Tha. Tadi ngajakin gue ke guru BK, lah sekarang malah ngajak gue ke kantin. Mana yang benar, coba?”
“Tau ah. Capek gue ngomong sama lo, Mey. Minta petunjuk pada Dora deh, biar lo gak salah dengar lagi.” Agatha melangkahkan kakinya.
“Katakan peta, katakan peta. Yeiiii!” Memey meniru suara Dora the Explorer. Tanpa keraguan di hati dan pikiran, Memey segera menyusul Agatha karena tidak ingin ketinggalan dan akhirnya menabrak orang lagi seperti insiden bersama Pak Matias tadi di koridor depan.
Selesai makan di kantin, bel tanda masuk jam terakhir kembali berbunyi. Para murid segera memasuki kelas masing-masing. Segerombolan murid yang tak lain adalah Agatha dan kawan-kawan, juga memasuki kelas. Welson dan Agatha bergandengan tangan sebelum mereka mencapai kelas di mana mereka duduk.
🕊️🕊️🕊️
Dua jam lebih berlalu, saatnya mereka pulang. “Gue bareng lo lagi, kan?” tanya Memey pada Agatha yang masih merapikan tas dan bukunya.
“Iya,” jawab Agatha tanpa memperhatikan Memey.
“Yank, lo habis ini langsung ke rumah, kan?” tanya Welson.
“Belum tau. Siapa tau aja pas di jalan pengen mampir keluar bentar,” jawab Agatha, “emang kenapa, Yank?”
“Enggak apa-apa, sih. Tapi kayaknya wajah kamu nampak lelah sekali, Yank. Mendingan langsung balik rumah aja, gak usah mampir-mampir lagi.” Welson menggenggam tangan Agatha. Memey sampai ingin memuntahkan semua pelajaran yang ia tangkap dan rekam di kepalanya. Wajahnya cengar-cengir tidak jelas.
“Aku gak bisa janji, sayang.” Agatha tersenyum pada Welson. senyumannya membuat jiwa Welson meronta dan ingin sekali menciumnya jika saja tidak ada Memey bersama mereka. Ketika Agatha menatap Memey, ia sampai mengerutkan keningnya. “Lo kenapa, Mey? Mau pup?”
“Sadarlah kalian wahai pasangan kekasih. Hargailah orang seperti gue.” Memey mengucapkan kata-kata itu dengan meniru gaya dukun. Welson dan Agatha sampai terpingkal-pingkal karena kekocakan Memey.
“Iya, sayang. God bless you.”
“God bless you, too.” Welson pun akhirnya meninggalkan kelas dan berjalan menuju parkiran.
Sepeninggalan Welson, Agatha dan Memey juga sudah meninggalkan kelas mereka. “Tha, gue mau nanya deh, sama lo,” ucap Memey di sela-sela mereka berjalan sebelum sampai ke parkiran mobil Agatha.
“Lo mau nanya apa?” tanya Agatha.
“Welson sering nyosor kayak gitu sama lo?”
Pertanyaan Memey membuat wajah Agatha kembali merona bak kepiting rebus. “Eng-enggak juga, sih. Emang kenapa?” Agatha terbata-bata menjawab pertanyaan Memey.
“Gue heran loh. Kayaknya dia sering nyosor tanpa tau lo itu suka apa enggak dengan kelakuan dia. Benar gak ucapan gue?”
“Iya juga sih. Kadang gue bosan dengan cara dia yang tanpa aba-aba langsung mencium gue,” jawab Agatha, “eh, kok tumben lo benar?”
“Ya-iyalah. Karena di balik kesalahan, pasti ada kebenaran di dalamnya. Begitu juga sebaliknya. Di balik kebenaran, pasti ada kesalahan yang ditutupi.” Memey dengan lantang mengucapkan kata-kata yang bersemayam di kepalanya dan lolos begitu saja di mulutnya.
“Lo sehat, kan, Mey? Tumben amat bijak?” tanya Agatha, “yang penting jangan bajak sana bajak sini, ya! Hahaha.”
“Eh-eh. Gue bukan kerbau pembajak sawah tau!” dengus Memey kesal.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
Berjalan melewati koridor sekolah hingga berapa menit karena sambil mengobrol, sampailah Agatha dan Memey di parkiran. Agatha menginstruksi Memey supaya ikut masuk ke dalam mobil karena ia tidak mau dikira sopir pribadi Memey. “Kita ke toko kue sama toko buah dulu, ya,” ucap Agatha ketika mobil sudah menjauhi sekolah.
“Mau beli apaan?” tanya Memey sambil tiduran.
“Mau beli kutang sama knalpot motor,” jawab Agatha asal karena pertanyaan Memey yang ngawur. “Ya mau beli kue sama buah lah. Mustahil gue beli sawah di sana!”
“Lah, di toko kue sama toko buah kan gak ada jual kutang sama knalpot motor,” ucap Memey bingung. “Lo sedang mengantuk, ya?”
“Lo yang ngantuk! Gak nyambung mulu dari tadi.”
Kok jadi gue?” ujar Memey.
“Lah, kan emang iya. Ya siapa lagi selain kita berdua di sini? Gak mungkin gue nyalahin Bi Momon yang di rumah.” Agatha jengah.
“Yang bilang mau ke toko kue sama toko buah, siapa?”
“Yang bilang mau beli apaan, siapa?” Agatha balik bertanya.
“Ya gue. Kan gue yang bilang kayak gitu,” jawab Memey.
“Terus, kalau kita ke toko kue sama toko buah mau beli apa?”
“Beli kue sama buah.” Memey menjawab dengan serius.
“Nah itu tau. Harusnya lo gak nanya yang ngawur deh. Udah jelas-jelas di toko kue, isinya kue. Di toko buah, ya isinya buah. Seumur hidup gue, gak ada yang namanya toko kue menjual pakaian, dan gak ada toko buah yang menjual alat-alat motor.” Agatha menjelaskan pada Memey supaya paham dan nyambung.
“Hehe, sorry!” Memey cengengesan menutupi salah dan malunya. “Gue ralat deh pertanyaannya. Emang lo mau beli kue dan buah untuk siapa?”
“Itu baru pertanyaan yang benar sesuai kaidah Bahasa Indonesia.” Agatha akhirnya merasa lega. “Mau beliin untuk Nadine, karena gue mau ngajakin lo jenguk dia,” sambung Agatha.
Tiba di toko kue, Agatha memilih beberapa kue kesukaan Nadine. Tampak di ujung depan Agatha, Memey tengah menatap kue yang sangat menggoda seleranya. “Tha, sini!” Memey melambaikan tangannya pada Agatha. Sesuai instruksi, Agatha pun berjalan menuju sahabat somplaknya. “Apaan?” tanya Agatha setelah berdiri di sebelah Memey.
“Liat deh! Bentuk kuenya lucu. Kayaknya enak tuh,” ucap Memey dengan menelan liurnya.
“Lo mau?” tanya Agatha.
“Mau. Sepertinya jiwa jajan gue kambuh lagi, deh.” Memey tersenyum pada Agatha.
“Pilih semua yang lo mau. Biar sekalian gue bayar sama punya Nadine.” Tanpa banyak kata, Agatha langsung menyuruh Memey memilih kue.
“Wah. Lo baik banget sama gue.” Memey memeluk Agatha sebentar. “Serius, gue cuma mau kue yang ini saja kok. Gak mau yang lain.”
Selesai dari toko kue, mereka berdua singgah di toko buah. Dalam beberapa menit, mereka selesai belanja yang akan mereka bawa untuk Nadine. Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Nadine dengan kecepatan sedang. Tidak membutuhkan banyak waktu untuk mencapai rumah Nadine dari toko buah tempat mereka membeli buah tadi, kini mereka sudah sampai di halaman depan rumah Nadine. Alangkah terkejutnya Agatha ketika melihat motor Welson terparkir di sana. Tatapan Agatha mengintimidasi motor Welson dengan teliti. Tidak lain dan tidak bukan, itu adalah motor Welson, pikirnya. “Mey, liat ke depan. Jangan salah liat lagi!”
“Kok motor Welson di sini? Anak-anak yang lain pastinya di sini juga kali, ya. Eh, tapi motor dan mobil yang lainnya pada kemana?” ucap Memey yang juga penasaran.
Tanpa pikir panjang lagi, Agatha mengajak Memey untuk turun dari mobil. Mereka memasuki rumah Nadine tanpa diketuk terlebih dahulu. Ketika sudah mencapai ruang tamu rumah Nadine, Agatha dan Memey dibuat tercengang atas kejadian di depan mata kepala mereka.
“Tidak mungkin!” Agatha dan Memey berteriak bersama-sama. Mereka terkejut bukan kepalang.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
To be continued...