
Beberapa titik lampu merah telah mereka lewati untuk sampai ke kebun binatang yang menjadi tujuan mereka siang ini. Mereka berenam tiba di kebun binatang dengan perasaan senang. Senang karena dapat menikmati momen indah bersama orang-orang terdekat. Semilir angin yang berhembus menerpa wajah Agatha ketika ia turun dari mobil. Wajahnya terlihat sangat cantik dengan rambut yang sengaja ia ikat longgar dan miring ke kanan. Anak rambutnya yang terbawa ke wajahnya karena hembusan angin, membuat Welson tak kuasa ingin merapikannya. Dibeberapa tempat sudah dipadati oleh para pengunjung yang juga berasal dari berbagai kota di luar kota L, sama seperti mereka berenam saat ini.
“Yank, sini!” Welson meminta Agatha mendekatinya.
“Ada apa?” tanya Agatha bingung.
“Makanya ke sini dulu.” Welson mengedipkan matanya dengan genit pada Agatha. Agatha tersipu malu karena di depan banyak orang Welson melakukan itu.
“Ishh, jangan kayak gitu! Aku malu.” Agatha melangkah ke arah Welson sambil mengibaskan wajahnya yang terasa memerah. Setibanya Agatha di depan Welson, Welson langsung merapikan anak rambut Agatha dan menyelipkan anak rambut itu pada telinga Agatha.
CUP!!! Welson mencuri-curi kesempatan di kala ia sedang merapikan anak rambut Agatha. Kecupan sekilas namun terasa membekas di bibir Agatha, itu membuat Agatha semakin merona merah karena malu. Bayangkan saja jika mendapat kejutan seperti itu di depan umum, pasti sangat malu rasanya. Sorakan dari para pengunjung yang melihat kejadian itu, membuat Agatha membenamkan wajahnya pada dada bidang Welson. Welson mengulaskan senyuman karena berhasil membuat Agatha merona malu apalagi yang dia lah yang menjadi pemenang atas perbuatannya.
“Kamu ih!” ucap Agatha di dada Welson, seketika tangannya mencubit perut Welson.
“Gimana ini? Aku malu, Yank.” Agatha mendongak menatap Welson.
“Santai aja, sayang.” Welson berusaha meyakinkan Agatha supaya tidak malu, lalu mengelus kepala Agatha dengan lembut.
Memey juga sama dengan para pengunjung lainnya, ia semakin ingin membuat Agatha merona. Namun, lain halnya dengan Nadine. Nadine hanya menatap dengan tatapan yang nanar melihat itu semua.
“Uhuyyy. Cieee ada yang lagi curi kejepitan dalam kesempatan,” ujar Memey yang membuat semua orang tertawa dibuatnya.
“Kejepitan apaan?” tanya Yadi bingung, “itu salah, Mey!”
“Saraf kejepit,” jawab Memey ketus, “lalu, yang benarnya gimana coba?” Memey balik bertanya.
“Kesempatan dalam kesempitan, dodol!” jawab Yadi.
“Kok bisa kesempatan dalam kesempitan? Padahal di sini tempat umum loh dan tempatnya luas kok. Kenapa bisa dibilang kayak gitu?” Memey bingung dengan penuturan Yadi.
“Banyak omong lo, Mey!” timpal Nadine.
“Biarin! Kalau menurut gue sih bukan kesempatan dalam kesempitan,” ujar Memey.
“Lalu?” tanya Yadi dan Nadine kompak.
“Kesempatan dalam peluang lah. Gitu aja gak tau, gimana sih?” Memey menjawab dengan sombong.
“Lo mau ke mana, Bro?” tanya Yadi ketika melihat Dirgo melangkah ke arah petugas yang menangani tiket masuk kebun binatang.
“Ke depan, beli tiket masuk buat kita,” jawab Dirgo menoleh sekilas ke belakang.
“Gue satu tiket lagi ya. Tiket naik perosotan,” teriak Memey pada Dirgo.
“Lo gila apa waras, Mey? Ada-ada saja. Mana mungkin di kebun binatang ada perosotan? Coba lo liat sekeliling, ada enggak perosotan?” ujar Agatha ketika melepaskan wajahnya dari dada Welson.
“Mungkin si Memey mau main perosotan sama monyet kali,” timpal Nadine mengejek.
“Uppsss, sorry! Hehe.” Memey menutup mulutnya.
“Ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu?” tanya Memey ketika ia melihat Yadi sedang menatapnya, “gue emang cantik kok!”
“Iya. Lo cantik! Makanya gue tertarik sama lo,” jawab Yadi spontan.
“Gue enggak tertarik sama lo!” Memey memasang wajah jutek.
Tak lama di sela-sela Yadi dan Memey berdebat, terdengar suara Dirgo memanggil mereka supaya masuk ke dalam area kebun binatang karena tiket masuknya sudah selesai diurus Dirgo. Mereka pun mengikuti Dirgo. Di kebun binatang ini terdapat binatang-binatang yang sudah hampir punah, jadi di sinilah tempat penangkarannya.
Sesekali mereka berfoto bersama mengambil momen yang mungkin saja tak akan terulang lagi di waktu yang tak menentu. Karena ke depannya tidak tau apa yang akan terjadi. Bisa saja mereka pisah tempat jika saatnya mereka memasuki dunia perkuliahan nantinya. Setelah beberapa kali mengambil foto bersama, kini Welson meminta Nadine untuk memegang kamera karena dirinya dan Agatha akan foto berduaan untuk mengabdikan momen.
“Help me, Nad!” perintah Welson pada Nadine dengan mengedipkan matanya. Bayangkan saja, Welson masih saja berani curi kesempatan.
“Sini kameranya!” pinta Nadine dengan cemberut.
“Gak usah cemberut kayak gitu!” Welson berbisik di telinga Nadine ketika ia mendekatinya untuk memberikan kamera. Dirgo, Yadi, dan Memey sudah berkeliling melihat-lihat binatang yang ada di beberapa tempat, jadi tinggal menyisakan mereka bertiga yang masih berfoto, dengan Nadine sebagai fotografer Welson dan Agatha. Satu jepretan telah berhasil diambil. Tanpa di duga, Welson kembali mencium Agatha di depan kamera sehingga hasilnya pun begitu nyata. Nadine kepanasan melihatnya, dadanya terasa runtuh dan air matanya bagaikan ingin membanjiri pipinya. Hatinya menjerit sakit melihat orang yang sedang difotokannya.
__ADS_1
“Aku tau aku salah. Aku telah cinta pada pacar sahabat aku sendiri. Tapi apa boleh buat, aku udah terlanjur jatuh, jatuh pada tumpuan yang salah, jatuh pada hati yang telah dimiliki yang seharusnya tidak aku lakukan.” Nadine membatin, lalu menghapus air matanya segera mungkin agar orang yang tengah asyik berciuman itu tidak mengetahuinya jika sebenarnya dia menangis.
Puas berciuman, Welson memeluk Agatha dengan sangat erat.
“Thanks, sayang.” Welson membelai kepala Agatha dengan jemarinya.
“Kamu selalu saja mencuri kesempatan. Apa kamu tidak malu?” tanya Agatha.
“Kenapa harus malu, hm?” Welson balik bertanya.
“Kenapa terus balik bertanya, sih?” dengus Agatha cemberut.
“Doyan sekali cemberut kayak gitu. Mau aku cium lagi?” Welson kembali menggoda Agatha.
“Udah ah. Kamu mesum melulu pikirannya.” Agatha mencubit perut Welson lagi.
“Yank, aku mau nyari toilet, ya!”
“Mau ngapain?” tanya Welson.
“Mau buang air kecil!”
“Mau ditemenin?” tawar Welson.
“Gak usah! Aku sama Memey aja, ya. Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana sebelum aku balik. Ok?”
“Siap, bawel,” jawab Welson singkat.
Agatha pun bergegas menuju Memey supaya menemaninya mencari toilet. Memey juga setuju karena sedari tadi ia juga menahan pipis, untung saja ia tidak ngompol, pikirnya. Setibanya di toilet, mereka berdua masuk ke dalam toilet yang berada bersebelahan, jadi tidak harus mangantri dan menunggu lama. Agatha telah selesai dengan hajatnya, tinggal menunggu Memey yang belum keluar dari toilet.
“Mey, udah belum? Lama amat?” teriak Agatha dari luar.
“Sebentar!” jawab Memey yang juga berteriak dari dalam.
“Ya pipis lah, mana mungkin melahirkan. Hamil aja kagak, apalagi nikah,” jawab Memey. Tak lama, Memey pun keluar. Mereka berdua berjalan sesekali melihat sekeliling mereka yang juga terdapat binatang-binatang lainnya.
Tepat di depan mata Agatha, samar-samar ia melihat Welson dan Nadine seperti tengah berpandangan dengan sangat intim, dengan Welson yang menopang tubuh Nadine agar tidak jatuh terpental ke tanah. Agatha semakin mendekat agar bisa lebih jelas melihatnya, namun Welson dan Nadine tak menyadari itu. Memey yang juga ditinggalkan Agatha, sudah seperti orang gila karena berbicara sendiri. Kini Welson dan Nadine sudah kembali pada posisi berdiri yang normal. Namun, wajah Welson semakin lama semakin maju mendekati wajah Nadine. Ia ingin mencium Nadine.
Hati Agatha tanpa terasa berdenyut tak karuan. Makin lama makin perih, makin terasa tersayat seribu badik. Tatapannya nanar, matanya mengeluarkan cairan bening hangat yang perlahan menetes di wajah cantiknya. Baru saja ia merasakan kebahagiaan, tetapi hal itu begitu cepat berlalu, begitu cepat menghilang, dan begitu cepat teralihkan. Apa mungkin aku salah lihat, pikirnya dalam hati.
Tanpa aba-aba lagi, Agatha berputar balik menghampiri Memey dan menyeret Memey supaya ikut pulang dengannya. Mereka berdua melewati Dirgo dan Yadi yang tengah asyik bertanya-tanya pada petugas kebun binatang itu. Melihat hal itu, Dirgo dan Yadi saling pandang tanda tak mengerti apa yang terjadi. Apalagi di saat Dirgo melihat raut wajah Agatha yang begitu sendu.
“Kalian berdua mau ke mana?” Satu pertanyaan lolos dari bibir Dirgo. Namun, hal itu hanya dijawab Agatha dengan berbohong, bahwa mereka ingin mencari makanan untuk cemilan. Mendengar itu, Dirgo kembali fokus pada petugas kebun binatang itu.
Setibanya di pinggir jalan, Agatha dan Memey menunggu taksi yang mungkin saja ada melintasi jalanan itu. Taksi pun seolah paham dengan suasana hati Agatha saat ini. Agatha menghentikan taksi itu untuk membawa mereka berdua kembali ke villa.
“Tha, lo kenapa, sih? Kita mau kemana?” tanya Memey bingung ketika mereka berdua telah di dalam taksi.
“Mas, ke villa yang di dekat pantai, ya,” perintah Agatha tanpa menjawab pertanyaan Memey.
“Siap, Mbak.”
Taksi pun meluncur ke arah yang diminta Agatha. Di perjalanan, Agatha kembali mencoba mencerna semua apa yang terjadi pada Welson dan Nadine. Namun, semakin ia membayangkan itu, semakin perih hatinya. Air matanya kembali menetes. Pikirannya kacau saat ini.
“Tha, lo kenapa nangis? Sakit perut?” tanya Memey sembarangan karena bingung melihat Agatha sekacau itu. Sang sopir taksi pun sama halnya dengan Memey. Ia menatap bingung melihat penumpangnya yang seperti itu. Lagi dan lagi Agatha mengabaikan pertanyaan Memey.
Setelah beberapa titik lampu merah terlewati, kini sampailah mereka di villa yang menjadi tempat singgah mereka selama berlibur. Agatha mengeluarkan dua lembar uang dengan nominal yang besar pada sopir taksi itu. Memey kaget melihat Agatha menyodorkan uang yang begitu banyak, mungkin saja biaya taksi itu hanya puluhan ribu saja.
“Ini, Mas, ongkosnya.” Agatha memberikan uang pada sang sopir. Sang sopir kaget karena tidak memiliki kembalian.
“Ini terlalu banyak, Mbak,” ucap sang sopir taksi.
“Ambil saja, Mas. Terima kasih telah membantu.” Agatha segera meraih pintu mobil dan keluar dari sana tanpa menunggu jawaban sang sopir.
“Orang kaya mah bebas.” Memey membatin, lalu menyusul Agatha keluar.
__ADS_1
“Waduh. Belum dijawab sudah main tinggal aja kayak jelangkung. Tapi, terima kasih, Mbak baik hati,” ucap sang sopir di dalam mobil.
Agatha segera masuk ke dalam villa dan menuju kamarnya yang berada di atas. Memey pun menyusul Agatha. Bi Inem yang mengetahui kedatangan mereka berdua, hanya menatap heran kenapa tamunya datang secara tercerai-berai apalagi saat melihat ada yang tidak beres dengan Agatha. Tetapi Bi Inem tidak ambil pusing, ia segera melakukan aktivitasnya.
“Tha, lo kenapa? Apa yang lo pikirkan, hm?” tanya Memey sambil mengetuk pintu kamar yang ditempati Agatha. Agatha tidak menjawab dan menggubris pertanyaan Memey. Ia kembali menangis.
“Apa mungkin aku salah lihat? Tetapi kenapa mereka kelihatan sangat intim seperti itu?” ucapnya di sela tangisnya.
“Semoga saja ini tidak benar!” Agatha meyakinkan dirinya bahwa tidak terjadi apa-apa antara Welson dan Nadine. Ia berharap, ia hanya salah paham.
Kembali ke Kebun Binatang.
Karena Agatha dan Memey yang belum saja menampakkan batang hidungnya, Dirgo kebingungan. Ia menoleh ke sekeliling, mana tau Agatha dan Memey tengah menelusuri di tempat lain. Ia mengajak Yadi untuk mencari keberadaan mereka berdua. Sudah ke sana kemari mereka mencari, namun orang yang dicari sama sekali tidak ada, nihil. Ke toilet juga sama, kosong melompong.
“Lo ada liat tanda-tanda enggak?” tanya Dirgo pada Yadi dengan wajah cemas.
“Enggak ada. Sebenarnya mereka ke mana, sih?” Yadi juga bingung.
“Tadi katanya mau cari makanan. Nah sekarang belum muncul juga. Gue cemas, Yad.” Dirgo mengusap kepalanya dengan kasar.
“Apa jangan-jangan...” ucap Yadi yang sengaja digantung.
“Jangan-jangan apa? Jangan berpikir yang aneh-aneh lo, Yad!” Dirgo membuang napas kasar dan melotot pada Yadi.
“Mungkin saja mereka lagi sama Welson dan Nadine,” ujar Yadi kembali.
Di tengah mereka berdua mondar-mandir kebingungan, muncullah Welson dan Nadine dari arah belakang.
“Lo berdua kenapa, Bro?” tanya Welson ketika sampai di belakang Dirgo dan Yadi.
“Lah, Memey sama Agatha ke mana?” Yadi balik bertanya ketika menyadari bahwa orang yang mereka cari juga tidak ada bersama Welson dan juga Nadine.
“Enggak tau. Tadi dia pamitan ke toilet sama gue. Tapi sampai sekarang belum menemui gue. Gue sama Nadine juga udah nyari ke mana-mana, tetap gak ketemu,” ujar Welson.
“Oh my God! Mereka ke mana, sih?” Lagi-lagi Dirgo mengusap kepalanya dengan kasar.
“Lo udah coba hubungin Agatha?” tanya Yadi.
“Udah, tapi ponselnya gak aktif. Udah berkali-kali gue coba hubungin, tetap nihil.” Welson juga kebingungan atas apa yang terjadi pada pacarnya dan juga Memey.
“Bentar. Gue coba juga ya!” Yadi merogoh ponselnya di saku celana, lalu menghubungi Agatha. Hasilnya pun tetap sama. Dirgo juga melakukan hal yang sama dan hasilnya tetap tidak bisa dihubungi.
“Gimana, Bro? Apa kita cari di sekeliling kebun binatang ini lagi?” tanya Dirgo pada Welson.
“Ayo! Jangan sampai terjadi apa-apa sama mereka berdua. Bisa gawat kita nanti.” Yadi bergidik ketika membayangkan mereka masuk sel karena dugaan telah menghilangkan dua nyawa yang tak berdosa.
Mereka berempat pun melancarkan aksinya ke segala penjuru kebun binatang itu dan bertanya pada para pengunjung lainnya yang mereka jumpai. Sama, sama, dan tetap sama. Jawaban itu tetap sama, tetap tidak ada.
“Gue hubungin Memey dulu, siapa tau aktif!” timpal Nadine menenangkan. Nadine seketika menampakkan senyum ketika ponsel Memey ternyata aktif. Namun, tidak ada jawaban karena Memey sudah tertidur.
“Gimana? Aktif?” tanya Dirgo sudah tidak sabar mendengar jawaban Nadine.
“Hu um, aktif. Tapi enggak diangkat,” jawab Nadine.
“Coba lo hubungin penjaga villa lo. Siapa tau mereka udah balik duluan!” perintah Welson pada Dirgo.
“Iya. Itu benar. Lo coba aja, Dir.” Yadi menimpali.
Tanpa menunggu lagi, Dirgo segera menghubungi penjaga villanya. Mereka berbincang-bincang dan seketika Dirgo mengusap dadanya karena lega mendengar informasi dari Bi Inem bahwa mereka berdua telah kembali ke villa. Semuanya Bi Inem ceritakan tanpa ada yang disembunyikan, mulai dari Agatha yang tampak kacau pun diceritakan. Dirgo berpikir, bahwa memang terjadi sesuatu pada Agatha saat ini, karena penuturan Bi Inem juga sama dengan dirinya.
“Ayo kita balik! Jam pun sudah menunjukkan pukul 13.30 nih. Gue lapar,” ucap Dirgo dan berlalu pergi karena sudah tidak sabar melihat keadaan Agatha. Mereka bertiga hanya mengikuti langkah Dirgo tanpa bertanya apapun, karena mereka yakin, Agatha dan Memey sudah kembali ke villa.
🕊️🕊️🕊️
To be continued....
__ADS_1