Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Dengar Dulu Penjelasanku!


__ADS_3

Dirgo memacu laju mobilnya ketika melintasi jalanan yang sepi karena ia ingin melihat keadaan Agatha dan juga Memey. Hingga tiba di suatu tikungan, hampir saja mobil mereka menabrak mobil lain yang sedang melaju dari arah yang berlawanan. Untung saja Tuhan masih memberikan mereka kesempatan untuk terus menghirup udara yang telah Tuhan sediakan, menjalani kehidupan yang semestinya. Memang, sesuatu yang jika dilakukan dengan tergesa-gesa pasti akan menciptakan suatu kejadian, entah itu parah atau hanya biasa saja. Semua tergantung pada Tuhan yang menciptakan kita. Dia juga yang menciptakan dan Dia juga yang mengambil nyawa kita. Ocehan dari Welson, Nadine, dan juga Yadi tak ia hiraukan karena ia ingin cepat sampai ke villa. Bagaikan disulap, bagaikan ditiup angin kencang, kini mobil mereka telah terparkir di halaman depan villa.


Dirgo dan Welson berlari tanpa menutup pintu mobil karena ingin menuju Agatha. Pandangan dan sapaan dari Bi Inem tak mereka berdua hiraukan serta menjawab sapaan sembari berlalu, sungguh tidak sopan memang. Tapi apa boleh buat, Bi Inem yang tau akan situasi saat ini bisa memahami mereka. Bi Inem membiarkan mereka menyelesaikan urusan pribadi majikannya serta teman-temannya.


Setiba di atas, tepatnya di depan pintu kamar Agatha, kedua lelaki itu mengetuk pintu. Memanggil-manggil nama Agatha hingga beberapa kali, tidak ada jawaban. Memey menggeliat ketika mendengar suara gaduh di luar kamar. Memey bangun dan membuka pintunya dan melihat sekeliling. Nampaklah sosok Welson dan Dirgo yang sedang melancarkan aksinya. Memey mendekati mereka berdua.


“Kenapa kalian berisik sekali, sih?” Memey berkacak pinggang dan sesekali menguap karena mengantuk, “apa kalian sedang bagi-bagi sembako?” Memey melanjutkan perkataannya seraya menyipitkan matanya.


“Mey, kenapa lo berdua pulang gak pamitan sama gue? Apa yang terjadi?” Dirgo balik bertanya.


“Gue juga kurang tau, Dir. Tapi, pas kami nungguin taksi, Agatha nangis. Di dalam taksi juga sama, sampai-sampai gue dan sopir taksi juga kebingungan. Sopir taksi nanya enggak dijawab, apalagi gue. Dan setelah di kamar, gue tanya lagi. Tetap aja enggak dia jawab,” jelas Memey pada Dirgo.


“Oh Tuhan. Dia kenapa?” Dirgo menjerit.


“Apa jangan-jangan gara-gara lo, Wels?” tukas Memey tepat sasaran.


“Diam lo keong!” Welson membentak Memey. Memey terjingkrak kaget.


“Kenapa sih selalu saja bentakin gue? Apa gue salah jika bertanya? Baiklah! Jika memang gak boleh dan jika memang gue salah karena bertanya, tapi tolong, jangan bentak gue! Gue hanya manusia biasa yang punya rasa,” ucap Memey panjang lebar dengan diiringi deraian air matanya.


“Bro, bisa enggak lo jangan kasar kayak gitu terhadap cewek? Bisa enggak lo sedikit menghargai cewek? Bukankah lo juga marah pada saat Rico menjelekkan Agatha di depan lo sendiri waktu itu? Sampai lo membuat Rico kelimpungan, masih enggak sadar lo, Bro?” Dirgo menengahi dan mengungkit kejadian pada saat Rico dan Welson berkasus.


“Udah, Dir. Gue enggak apa-apa kok. Gue emang pantas dibentak dan dijahilin karena ulah gue sendiri. Gue sadar, gue memang bukan orang yang sesempurna dia!” jawab Memey dengan isakan tangisnya dan ucapan itu langsung tertuju pada Welson.


“Gue minta maaf!” Satu kata itu yang lolos dari mulut Welson.


“Mey, lo tenangin diri lo ke kamar aja ya!” perintah Dirgo dengan lembut.


Tanpa menjawab sepatah katapun dari Dirgo, Memey segera melangkah ke dalam kamarnya. Welson menatap Dirgo dengan penuh selidik.


“Bro, kenapa lo begitu perhatian sama cewek gue?” tanya Welson penasaran.


“Gue? Hahaha. Lucu lo, Bro. Apakah lo enggak liat gue memperlakukan Memey dan juga Nadine? Sama kan kayak gue memperlakukan cewek lo? Tampang gue memang begini, namun gue sangat menghargai cewek. Karena gue yakin, cewek jika telah patah takkan bisa kembali bangkit dengan secepat kilat, sama kayak kertas yang jika lo remas-remas, bentuknya takkan bisa kembali utuh seperti semula!” jawab Dirgo santai.


“Dan lagi, gue harap, lo bisa menyelesaikan masalah lo sama cewek lo dengan kepala dingin, bukan emosi. Karena emosi akan mengacaukan segalanya.” Dirgo melangkahkan kakinya menuju ke lantai bawah meninggalkan Welson yang bergeming karena penuturan Dirgo.


“Arrrrggghhhhh.” Welson mendesah berat. Meremas kepalanya yang terasa pusing dengan semua kejadian yang telah berkecambuk di kepalanya. Kejadian yang semuanya oleh ulah dia sendiri.


Welson kembali mencoba mengetuk pintu kamar Agatha saat ini. Mencoba ingin menjelaskan yang terjadi jika Agatha membukakan pintu.


“Sayang, buka dong pintunya! Aku mau ngomong sama kamu,” ucap Welson di luar kamar.


Tak ada jawaban, Welson kembali mengetuk pintu hingga beberapa kali dan tanpa aba-aba lagi, Welson meninju dinding itu. Tangannya memerah dan tak ia hiraukan sampai ia berhasil membuat Agatha mau membuka pintu.

__ADS_1


Sayup-sayup terdengar suara Welson sedang memohon-mohon pada Agatha. Agatha bangun dari tidurannya. Mendengar suara Welson yang memanggilnya dengan kata “sayang” membuat hatinya terasa sakit. Ia kembali menangis. Menangis pada sesuatu yang belum ia ketahui sebab dan akibatnya, asal muasalnya. Jika kembali mengingat kejadian di kebun binatang itu, membuat air matanya semakin membanjiri wajahnya. Tak sanggup mendengar Welson terus memohon, akhirnya Agatha menyalakan ponselnya. Ia ingin menyampaikan sesuatu di sana.


“Jika ingin berbicara, tolong biarkan aku sendiri dulu. Ada saatnya untuk berbicara dan bukan sekarang!” Agatha mengirimkan chatnya pada Welson dan pesan terkirim.


Welson yang mendengar ada sebuah notifikasi dari ponselnya, seketika merogohnya dari saku jaketnya. Ia membuka chat itu. Wajahnya terlihat sendu, namun ia juga tersenyum ketika ada harapan untuk ia bisa menjelaskan semuanya. Welson kembali ke bawah dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.


Sementara di bawah, di ruang tamu. Tampak Nadine tengah berbincang-bincang dengan Bi Inem. Keduanya terlihat serius. Welson mengabaikan mereka dan berlalu ke dalam kamarnya.


“Neng, sebenarnya apa yang terjadi? Bi Inem bertanya pada Nadine.


“Saya kurang tau juga, Bi. Kami kebingungan mencari keberadaan mereka berdua, eh taunya udah balik ke villa,” jawab Nadine sekenanya karena memang tak tau apa yang terjadi.


“Oh, begitu, Neng. Tapi, tadi Bibi liat, matanya tampak basah dan seperti habis menangis loh.” Bi Inem memasang raut wajah penuh tanya.


“Bi, saya permisi ke atas ya. saya ngantuk.” Nadine berpamitan tanpa menjawab Bi Inem.


🕊️🕊️🕊️


Senja hari di villa Kota L - Pantai.


Matahari nyaris terbenam. Ada sekumpalan awan tipis yang mulai bersiap menutupi sang pemberi kehangatan, sang matahari. Jika sudah ditutupi sekumpalan awan itu, membuatnya tak lagi menampakkan warna kuning terang, melainkan lembayung, sehingga menampakkan warna merah jingga. Mungkin ini yang seperti kebanyakan orang bilang, lembayung senja.


Diam-diam Agatha menuruni anak tangga menuju ke bawah. Ia ingin ke pantai. Melihat dan merasakan indahnya senja dengan leluasa. Kebetulan yang lain masih istirahat, hanya Bi Inem yang berkutat di dapur dengan aktivitasnya. Tanpa berpamitan, Agatha melangkah keluar villa dan segera menuju pantai yang tak jauh dari villa. Setibanya di bibir pantai, ia membentangkan tangannya dan berteriak sekuat mungkin. Teriakannya beradu dengan deburan ombak yang menyapu pantai.


Lalu, keluarlah Welson dari dalam kamarnya ketika mendengar suara pintu depan terbuka. Welson menghampiri Bi Inem dan bertanya. Karena jawaban Bi Inem yang menyatakan bahwa Agatha yang keluar dan menuju pantai, Welson pun melangkahkan kakinya menyusul Agatha.


“Ngapain kamu ke sini?” tanya Agatha dingin dan melepaskan tubuhnya dari rangkulan Welson.


“Sayang, please. Apa yang terjadi denganmu?” Welson bertanya hati-hati.


“Sebenarnya kamu yang kenapa? Ada apa antara kamu dan dia?” ucap Agatha emosi.


“Dia siapa yang kamu maksud?” Welson berpura-pura bodoh.


“Jangan pura-pura tidak tau! Aku liat dengan mata kepalaku sendiri bahwa kamu dengan mesra bertatapan dengan dia. Dan bahkan, kamu mau menciumnya. Kamu jahat! Kenapa kamu lakukan itu padaku?” teriak Agatha histeris dan kemudian menangis.


“Sayang, aku bisa jelasin ke kamu.”


“Tak ada yang perlu dijelaskan!” teriak Agatha lagi. Seketika orang-orang yang juga sedang menikmati senja pantai itu, menoleh ke arah mereka.


“Dengarkan dulu penjelasanku, please!” Welson memohon.


“Pergi dari sini!”

__ADS_1


“Sayang, ku mohon! Dengarkan dulu baru kamu tau yang sebenarnya.” Welson kembali membujuk Agatha.


“Pergi dari sini atau aku nyebur ke laut?” Agatha kembali berteriak.


“Jangan gegabah, sayang. Itu bahaya!”


“Biarkan aku mati daripada harus seperti ini. Tidak kamu, tidak daddy mommy, semuanya sama. Kalian jahat.” Agatha mundur selangkah dari Welson.


“Jangan teriak, malu diliatin orang, Yank,” ucap Welson dengan lembut berharap Agatha akan membaik suasana hatinya.


“Apa pedulimu?”


“Please. Jangan seperti anak kecil, sayang. Aku harus jelasin semuanya. Itu tak seperti yang kamu lihat, Yank.” Welson memelas.


“Masa bodo! Aku tak peduli.” Agatha semakin mundur ke arah laut.


Welson segera melancarkan aksinya menarik Agatha dan merengkuhnya dalam pelukan. Lagi-lagi tangis Agatha pecah. Ia menangis sejadi-jadinya di pelukan Welson.


“Lepaskan aku! Aku ingin mati saja!” teriaknya.


“Sayang, cukup! Pukul saja aku sepuasmu!” Welson mengusap punggung Agatha dan berusaha menenangkannya.?


“Kamu jahat! Hiks...hiks...hiks...” Agatha memukul-mukul dada Welson.


“Kamu salah tanggapan, sayang. Aku tadi nolongin Nadine karena mau terpental ke tanah. Apa mungkin aku biarkan saja dia terpental? Dan tadi yang kamu bilang seperti ingin menciumnya, aku niupin matanya yang kemasukan binatang. Kalau kamu tidak percaya, tanya saja pada Nadine langsung,” jelas Welson.


“Apa benar yang kamu ucapkan?” tanya Agatha dengan isakan tangis yang perlahan mereda.


“Kamu masih tak percaya sama aku, hm?” ucap Welson.


“I...iya. Aku percaya kok.” Agatha menunduk.


“Hei, tatap aku, sayang.”


Karena Agatha yang masih saja menunduk, lantas Welson mengangkat wajah Agatha dan membawanya menatap wajahnya. Tanpa aba-aba, Welson mencium Agatha memberikan ketenangan di sana. Ciuman yang disertai hembusan angin pantai terasa sangat berirama dan berlangsung lama.


“Maafin aku, Yank. Aku sudah salah paham sama kamu.” Agatha merasa bersalah pada Welson. Tak ayal, Welson tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil membuat Agatha percaya.


“Don’t say that, honey.” Welson kembali mengecup Agatha tipis-tipis. Wajah Agatha memerah. Pikirannya bercampur menjadi satu.


“Aku minta maaf!” ucap Agatha sekali lagi pada Welson.


“Ssstttt! Kamu tak salah, sayang. Jadi, jangan minta maaf!” Welson kembali membawa Agatha pada pelukannya.

__ADS_1


🕊️🕊️🕊️


To be continued....


__ADS_2