
Agatha dan Alzio segera bersiap diri untuk pergi. Alzio meminta sepupunya untuk merias diri ala kadarnya karena walaupun tanpa make up, sepupunya itu juga sudah sangat cantik. Saat turun dari lantai atas, Alzio menuju kamar omnya untuk meminta izin keluar bersama sepupunya.
Setelah mengetuk pintu dan pintu terbuka, muncul omnya yang baru saja berganti pakaian. “Ada apa, Zio?” tanyanya ketika melihat keponakannya itu berdiri di depannya.
“Uncle, apa boleh Zio bawa sepupu Zio keluar?” ujar Alzio ragu-ragu. Ia takut jika omnya tak memberikan izin.
“Tentu saja boleh. Uncle percaya pada Zio, dan Zio pasti akan melindungi Agatha.”
“Benar, Uncle?” tanya Alzio sumringah.
“Apa Uncle kelihatan tak serius? Pergilah sebelum Uncle berubah pikiran,” goda Tn. Thomas pada keponakannya. “Tapi pulangnya jangan terlalu larut, ya!”
“Iya, Uncle. Makasih, Uncle.” Alzio menyalami omnya lalu mencium punggung tangannya. Tangan kiri Tn. Thomas dengan lembut mengusap kepala Alzio. Ia sungguh bersyukur ada keponakannya yang memutuskan untuk berlibur ke tempatnya dibandingkan berlibur ke luar negeri seperti kebanyakan remaja lainnya. Setidaknya, ia merasa seperti memiliki seorang putra dari benihnya sendiri melihat Alzio yang begitu dekat dengannya dan yang pasti jiwa seorang kakak yang ditunjukkan Alzio membuatnya merasa aman jika putri satu-satunya pergi bersama Alzio.
“Apa sepupumu sudah siap?” tanyanya. “Uncle merasa beruntung memiliki keponakan yang tampan juga pintar sepertimu.”
“Sepertinya sebentar lagi akan turun, Uncle,” jawab Alzio. “Zio juga merasa beruntung punya keluarga seperti Uncle.”
Sesaat kemudian, Agatha sudah menuruni tangganya dan hampir sampai ke lantai dasar. “Nah, itu dia, Uncle.”
Daddynya Agatha segera meminta anaknya untuk mendekat. “Kemarilah, Sayang.” Agatha segera mendekat ke arah dua lelaki berbeda generasi itu sambil tersenyum.
“Wah, anak Daddy semakin cantik.” Tn. Thomas merentangkan tangannya lalu memeluk Agatha. “Kalian mau pergi ke mana, Sayang?”
“Aku nggak tau, Dad. Zio bilang ini something.”
Alzio segera menunjukkan giginya pada omnya karena Agatha sudah membocorkan tentang ucapannya. “Hehe…”
“Zio, apa Uncle boleh minta sesuatu padamu?”
“Apa itu, Uncle?” tanya Alzio yang sedikit gugup karena omnya menatapnya dengan serius.
“Apa Zio mau mengabulkannya jika Uncle memintanya?”
“Iya, Zio akan mengabulkannya, Uncle.”
“Baiklah. Mulai sekarang, Uncle mau, Zio memanggil Uncle dengan sebutan ‘papa.’ Apa Zio bisa?”
Agatha dan Alzio cukup terkejut dengan permintaannya. Tetapi hal ini membuat senyum mengembang dari Bi Momon yang tanpa sadar melewati ruang keluarga.
“What?” ucap Agatha dan Alzio serentak.
“Zio sudah Uncle anggap sebagai anak Uncle sendiri. Jadi tak ada masalah jika Uncle meminta itu.”
“Tapi aku nggak mau punya Kakak yang suka ngeselin kayak Zio, Dad,” protes Agatha yang sengaja mengejek sepupunya itu.
“Mau nggak mau, dia tetap kakakmu, Sayang. Dia kakak sepupumu.”
“Mmm, jika Uncle maunya seperti itu, dengan senang hati akan Zio lakukan,” jawab Zio akhirnya setelah diam sesaat.
“Ayo dicoba. Papa ingin mendengarkannya, Zio.”
__ADS_1
“PAPA…,” seru Zio dengan lantang.
Karena Alzio benar-benar menuruti keinginannya, tak terasa Tn. Thomas menangis haru. Ia membuka tangannya supaya Alzio bisa memeluknya. “Terima kasih, Sayang.”
Tn. Thomas memeluk keduanya. Agatha dan Alzio berada di pelukannya cukup lama. “Sekarang Daddy, Papa, punya dua anak yang tampan dan cantik. Zio, jagalah adikmu, jangan sampai ada yang menyakitinya.”
Pelukan semakin erat. Bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Menjadi ucapan syukur yang tak terhingga rasanya. Meskipun ia gagal menjalani rumah tangganya karena sang istri lebih memilih laki-laki selingkuhannya, setidaknya sekarang ia mendapatkan kebahagian dari seorang keponakannya yang ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.
“Mmm, Pa, saatnya Zio sama Agatha berangkat,” ucap Alzio berusaha melonggarkan pelukan dari omnya yang sudah dijadikan papa olehnya.
“Sebentar dulu, Sayang. Papa masih ingin memeluk anak-anak Papa.”
Agatha menangis di dalam pelukan daddynya. Akhirnya, apa yang ingin sekali ia rasakan tercapai sudah. Memeluk daddynya sepuas-puasnya hingga baju daddynya basah oleh air mata.
Tak ingin membuat kedua anaknya terlambat karena ulahnya, akhirnya ia melepaskan pelukan. “Ya sudah, sekarang kalian pergilah. Jangan terlalu larut. Ingat pesan Daddy.” Tn. Thomas mengusap wajah putrinya yang basah. Ia kemudian mengecup kening kedua anaknya sebelum mereka pamit pergi.
“Papa, kami berangkat…”
“Bye-bye, Daddy…”
Tn. Thomas tersenyum bahagia melihatnya. Ia begitu mengucap syukur pada Tuhan atas semua hikmah dan pembelajaran yang telah ia alami belakangan yang lalu. Tuhan selalu punya rencana pada umat-Nya yang percaya. Semuanya memang akan indah jika kita terus mengucap syukur atas apa yang telah kita terima dari Tuhan, termasuk kebahagiaan-kebahagiaan kecil.
🕊️🕊️🕊️
“Zio, sebenarnya kita mau ke mana?” tanya Agatha setelah mobil mereka memasuki jalan raya.
“Kamu tenang aja. Ini sebagai kejutan untukmu juga untuk orang itu.”
“Oh ya, katanya kamu mau cerita sesuatu. Coba ceritakan!”
“Yang mana?”
“Ada, yang pas kamu sama Nadine lagi teleponan.”
Agatha ragu untuk menceritakannya. Apalagi jika ia mengingat semuanya, rasanya ia ingin menangis sepanjang hari. “Mmm sebenarnya… aku suka pada Kak Carlos.”
DEG!! Alzio tentu saja kaget mendengar apa yang Agatha ucapkan. Ia rasanya tak percaya. “Really?” tanya Alzio.
“Iya, tapi sekarang orangnya nggak bisa aku gapai.” Agatha meneteskan air matanya perlahan.
“Sabarlah. Ikhlaskan aja kepergiannya. Tapi selain dia, apa kamu juga ada rasa pada seseorang?”
“Seperti?”
“Yadi dan Dirgo, misalnya…”
Ah, nama itu selalu membuat Agatha tak karuan. Membayangkannya saja ia bisa senyum-senyum sendiri. Mengingat pelukan dan hadiah ulang tahun dari Dirgo saja sudah membuatnya tak biasa. Tapi ia masih bingung dengan perasaannya, apakah memang benar Dirgo menyukainya, pikirnya.
“Aku nggak tau…”
“Selami dulu isi hatimu. Jangan sampai jatuh pada orang yang salah seperti Welson.”
__ADS_1
Agatha tak menggubris ucapan Alzio. Ia terkejut melihat jalanan yang seperti ia kenal arahnya. “Ini sepertinya aku tau arah ke mana kita peri.”
“Aduh lupa! Ini, pake.” Alzio memberikan penutup mata pada Agatha. Karena sesuai perjanjian sebelum berangkat, Agatha langsung memakainya.
“Good job, adik pinter. Sekarang kamu mau denger lagu apa?”
“Terserah kamu saja.”
Alzio seolah tau lagu apa yang cocok ia putar mengingat Agatha yang ingin kembali mendekatkan dirinya dengan Tuhan. Ia memutar lagu Kupersembahkan Hidupku dari Maria Shandi. Lagu yang sangat mengetuk hati.
“Ini aku semua milikku. Kuserahkan pada-Mu Tuhan. Penyesalan dan kebanggaan, suka dan duka smua kuserahkan. Yang tlah lalu, yang kan datang. Hasrat dan harapan, yang terbayang. Masa depan dan rencanaku, smua kuserahkan dalam tangan-Mu. Kupersembahkan hidupku, kepada-Mu Tuhan, tuk kemulian-Mu. Kuberikan hidup ini, sbagai persembahan, yang berkenan pada-Mu…”
Alzio yang fokus menyetir menerobos jalanan yang tampak ramai, tak menyadari Agatha yang sudah menangis hingga pundaknya ikut berguncang. Sesekali Alzio menoleh pada Agatha, tapi ternyata ia mendapati Agatha sudah menangis karena meresapi makna lagu yang diputar.
“Hei, kenapa kamu menangis?” tanya Alzio. Tangannya masih fokus memegang setir.
“Lagunya…lagunya sangat sesuai dengan apa yang udah aku alami dan aku jalani sekarang. Please, ajari aku untuk lebih dekat dengan-Nya.”
“Iya, sekarang hapus dulu air matanya. Sebentar lagi kita sampai.”
🕊️🕊️🕊️
“Ini kan rumah Dirgo. Kenapa kamu bawa aku ke sini?” tanya Agatha bingung. Ia mengedarkan pandangannya ke segala area rumah Dirgo. Ia melihat ke garasi, ada beberap mobil dan motor yang terparkir di sana. Agatha tersenyum melihat motor yang Dirgo pakai untuk mengajaknya makan malam di restoran China tempo itu.
“Ini kan kejutan. Ayo masuk.”
Terdengar kaki melangkah setelah Alzio memencet bel. Agatha menyembunyikan dirinya tepat di belakang Alzio. “Eh, Zio. Ada apa kemari?” tanya Dirgo. Ia belum menyadari Agatha juga datang.
“Gue ada kejutan buat lo.”
“Kejutan apa?”
Alzio menggeser tubuhnya dan nampaklah Agatha. Cukup lama Dirgo memandang wajah di depannya. Ia bahagia dan sedikit tak percaya jika yang sedang ditatapnya adalah Agatha, gadis pujaannya hatinya selama ini. Mata mereka beradu satu sama lain. Dirgo kemudian menyunggingkan senyum, tetapi matanya sudah berkaca-kaca.
“Heii, selama ini kamu ke mana, tinggal di mana?” tanya Dirgo. Dengan cepat ia memeluk Agatha. Agatha mematung. Ia kembali merasakan pelukan juga aroma Dirgo yang seolah membuatnya candu. Dada bidang Dirgo sangat terasa menyentuh dadanya. Bahkan, dengan pakaian santai saja pun, Dirgo sangat mempesona.
“Udah ah, itu semua nggak penting. Yang terpenting gue udah kembali, ‘kan?”
“Tapi aku khawatir sama kamu.”
“Ehemm. Nggak dipersilakan masuk nih, Bro?” goda Alzio karena Dirgo masih saja memeluk Agatha. “Acara peluk-pelukkannya udahan dulu, gue dah pegal berdiri dari tadi.”
“Oh iya, maaf. Ayo kita masuk,” ajak Dirgo. “Apa kalian berdua udah makan? Kalo belom, kita makan aja. Kebetulan aku juga belom makan malam.”
“Gimana, seneng nggak lo pujaan hati lo udah ketemu?” Bukannya menjawab, Alzio malah menggoda Dirgo dengan berbisik.
“Kalian lagi ngomongin aku?” protes Agatha.
“Iya, aku kangen sama kamu,” ucap Dirgo secara tiba-tiba. Agatha kembali mematung, dan perlahan wajahnya serasa memerah. Entah apa yang ia rasakan. Yang pastinya ia merasa senang dengan semuanya.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
To be continued…