
“Oo pacarnya, Non.” Sambungnya lagi.
“Hai, jelek.” Sapa Agatha sengar sengir. Entah kenapa dia gerogi sekali.
“Lah, ganteng membahana sejagad raya kayak gitu kok dipanggil jelek sih, Non?” tanya Bi Momon sedikit kepo.
“Yeee makanya Bi, jangan kebanyakan ngulek cabe doang taunya.” Ejek Agatha pada Bi Momon.
“Itu panggilan sayang namanya, Bi.” Sambung Agatha lagi.
“Oh panggilan sayang. Bibi kira apaan, Non.” Bi Momon manggut-manggut.
“Ya maklumin saja, Non. Bibi kan artis kalangan dapur, bukan artis yang bisa cari sensasi sana-sini kayak si Milkita Marjani itu.” Sambung Bi Momon.
“Nikita Mirzani, Bibi.”
“Ya enggak lah, Bi. Rugi dong kalo dia jelek. Hehe.” Ucap Agatha.
“Hai, sayang. Kamu udah siap belum?” sapa Welson sekaligus bertanya.
“Mmm, siap kok Yank.” Jawab Agatha tersenyum, rona merah pipinya kembali terlihat. Bagaimana tidak? Dia sangat gerogi malam ini, seperti akan menghadapi sidang paripurna.
“Yaudah. Ayo kita berangkat!” ajak Welson yang dengan sekejap langsung menggandeng tangan Agatha. Bi Momon melihat itu hanya bisa melongo dan senyam senyum sendiri.
“Bi? Kami berangkat dulu ya.” Pamit Agatha, namun tak disambut oleh Bi Momon karena masih asyik senyam senyum yang tak jelas itu.
“Hallo, Bibi. Apakah Bibi sehat?” ucap Agatha merapatkan giginya karena Bi Momon sama sekali tak meresponnya.
“Eh, ada apa, Non?” tanya Bi Momon kaget.
“Bibi dengar gak sih kalo aku ngomong?” ketus Agatha.
“Non bilang apa barusan?” Bi Momon kikuk sambil menggaruk jidatnya yang tak gatal itu.
“Bibi itu cantik loh, bak si Princess Syahrini.” Ucap Agatha asal.
“Bibi kok dibilang mirip sarimie sih, Non?” Bi Momon heran pada ucapan Agatha yang mengatakan dirinya mirip sarimie.
Welson yang mendengar itu, hanya bisa geleng kepala tak percaya pada si asisten pacarnya itu. Menurutnya, Bi Momon bisa ikutan kursus kelas komedi super.
“Iya, Bibi mirip sarimie isi dua.”
“Yaudah, Bi. Kami pamit jalan dulu.” Pamit Welson dan Agatha bersamaan.
“Siap. Hati-hati di jalan ya. Pulang jangan terlalu malam ya, Tuan muda.” Perintah bi Momon pada Welson.
“Bibi tenang saja. Agatha pulang dengan selamat kok nanti. Ya gak, Yank?” jawab Welson, sekaligus meminta pendapat Agatha agar dapat meyakinkan Bi Momon.
“Yasudah. Jangan sampai kenapa-kenapa ya! Nanti habis digundulin tuan sama nyonya, Non.” Ucap Bi Momon yang masih khawatir.
“Bibi tenang saja. Lagian mereka gak pernah ngurusin aku kok, Bi.” Jawab Agatha.
“Ayo, Yank.” Ajak Agatha dan mulai melangkahkan kakinya.
Mereka berdua (Welson dan Agatha) kini memasuki mobil Welson yang sudah terparkir di depan gerbang kokoh rumah Agatha. Perlahan, mobil itu meninggalkan perumahan elit itu dan menerobos memasuki jalan raya. Welson yang masih pangling melihat penampilan Agatha, sesekali menoleh ke samping seraya mengukir seulas senyum di wajah tampannya. Agatha semakin risih dan merona malu melihat tingkah Welson yang curi-curi pandang padanya.
“Kenapa liatin aku kayak gitu, Yank? Ada yang salah ya sama penampilanku?” tanya Agatha yang sudah tak tahan menahan malunya, dan melihat pakaian serta riasan wajahnya.
“Kamu cantik sekali malam ini.” Ucap Welson yang langsung menggenggam jemari Agatha dan menciumnya.
“Ishh, gombal.” Seru Agatha memalingkan wajahnya yang seketika memerah bak kepiting rebus.
“Eh, itu kenapa sama pipimu? Malu ya?” goda Welson.
“Tau ah.” Agatha menggeserkan duduknya dan menatap keluar mobil.
“Makin kesal makin cantik loh.” Welson kembali menggoda Agatha, namun masih tetap fokus mengemudi mobilnya.
“Aku gak dengar.” Agatha menahan senyumnya yang masih membelakangi Welson.
“Yank, ayolah! Masa membelakangi seperti itu terus?” ucap Welson.
“Kamu sih, bikin orang malu aja.” Jawab Agatha manja.
“Kan memang benar, kamu cantik dari biasanya.” Timpal Welson.
“Oh jadi sebelumnya aku kurang cantik, ya?”
“Bukan gitu juga maksudnya, Yank.” Tutur Welson.
“Aku mencintaimu, sayang.” Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Agatha, yang mana membuat Welson tersenyum.
“Apa? Bisa ulangi sekali lagi?” goda Welson.
“Aku mencintaimu, sayang.” Ucap Agatha pelan-pelan.
“Apa? Aku gak dengar, Yank. Ulangi sekali lagi.” Welson semakin senang menggoda pacarnya.
“Ishh, sebel.” Agatha memanyunkan mulutnya.
“Jangan manyun kayak gitu, ntar aku cium loh.” Welson terus menggoda Agatha.
“Stop, Yank.” Ucap Agatha yang mana salah satu tangannya sudah berhasil mendarat di lengan Welson.
__ADS_1
“Auhhh!” rintih Welson kesakitan.
“Masih mau godain aku?” Agatha melototkan matanya pada Welson.
“Ampun boss.” Ucap Welson sembari tersenyum.
“Dasar belalang sembah!” ketus Agatha.
“Pacarnya siapa?” Welson kembali menggoda.
“Udah ah. Malas tau.” Agatha ngambek.
Karena Agatha yang tengah memasang muka malas, Welson dengan sengaja mencuri kesempatan mencium pipi Agatha yang mulus dan kenyal.
Cup...
Ciuman Welson mendarat di pipi Agatha, yang mana membuat Agatha semakin merona dibuatnya. Lagi-lagi Agatha memukul lengan Welson.
“Dasar pencuri.” Dengus Agatha.
“Thanks, sayang.” Welson tersenyum penuh kemenangan.
Melihat jalan yang mereka lewati ternyata tidak asing di mata Agatha, membuatnya bertanya pada orang yang sedang fokus mengemudikan mobil yang mereka kendarai.
“Kita mau kemana?” tanya Agatha.
“Mau makan malam kan?” Welson balik bertanya tanpa menoleh ke arah Agatha.
“Iya tau. Tapi, kita mau makan malam di mana?” tanya Agatha lagi. Semakin lama semakin membuat Agatha penasaran karena jalanan yang mereka lalui memang terasa tak asing bagi Agatha.
“Nanti kamu juga bakalan tau kita makan malam di mana.” Jawab Welson yang kembali fokus mengemudikan mobilnya. Welson memang sengaja tak memberitahu Agatha jika mereka akan makan malam bersama keluarganya.
“Ishhh. Kenapa jawabannya sama dengan orang misterius itu?” batin Agatha.
“Hei. Kenapa melamun?” seru Welson ketika melihat Agatha tampak memikirkan sesuatu.
“Siapa yang melamun?” sangkal Agatha.
Tak lama, mobil yang dikemudikan oleh Welson berhenti di halaman perumahan yang sangat familiar oleh Agatha.
“Loh, ini kan rumah...” ucap Agatha terheran, ternyata orang di sampingnya mengajaknya ke rumah keluarga Welson.
“Iya, ini rumahku. Apa kamu amnesia?” tanya Welson yang langsung membuat Agatha spontan memukul lengannya lagi.
“Arghh. Kamu lama-lama jadi petinju, Yank. Doyan sekali memukul.” Dengus Welson
“Apa kamu mau jika aku benar-benar amnesia?” Agatha membulatkan matanya pada Welson.
“Loh, gak gitu juga kali, Yank.” Ucap Welson yang masih memegang lengannya.
“Mau main kuda.” Jawab Welson asal.
“Ya mau makan malam lah. Apa kamu lupa lagi?” tambah Welson.
“Jadi, maksud kamu kita makan malam di rumah kamu, gitu?” tanya Agatha penasaran.
“Iya dong. Emang mau di mana lagi kalau bukan di sini?” tutur Welson.
“Kenapa kamu gak bilang sih kalau kamu ngajak aku makan malam bersama keluargamu? Aku malu, Yank. Ini pertama kalinya loh.” Protes Agatha, karena ini memang yang pertama kalinya Welson mengundangnya makan malam bersama keluarganya.
“Kenapa mesti malu? Kan ada aku.”
“Yaudah, ayo masuk!” ajak Welson.
“Gak mau ah! Penampilanku kayak gini, aku malu. Nanti apa yang keluargamu pikirkan melihat pacar kamu seperti ini!” ujar Agatha. Dia sangat khawatir terhadap penilaian keluarga pacarnya jika melihat dirinya seperti itu. Padahal, dress yang dikenakannya sudah sangat pantas jika makan malam bersama orang tersayang.
“Ya ampun, sayang. Kamu mau pakai baju apapun tetap aja cantik dan bagus kok, tetap terlihat menarik di mataku!” ucap Welson berusaha menenangkan hati pacarnya, Agatha.
“Gombal! Gombal aja terus!”
“Toh keluargamu sama sekali belum pernah ketemu ataupun kenalan sama aku, Yank.” Pungkas Agatha.
“Ya makanya dari itu, tenangkan pikiranmu. Lagian, papa sama mama gak bakalan makan orang kok, Yank.” Ucap Welson memegang pipi Agatha supaya pacarnya itu tenang.
“Really?” tanya Agatha, Welson mengangguk.
“Ayo, masuk!” ajak Welson lagi dan memberikan salah satu lengannya supaya Agatha bisa menggandengnya.
Mereka berdua memasuki rumah keluarga Welson seraya bergandengan tangan. Dengan penuh rasa percaya diri dan langkah yang tegap, Welson mengajak Agatha menuju ke meja makan, di mana orang tuanya sudah menunggu kedatangan mereka berdua sejak tadi. Semakin dekat, semakin membuat pipi Agatha kemerahan bak kepiting rebus.
“Ma! Pa!” panggil Welson. Yang mana suara lantang itu mengalihkan perhatian semua telinga yang berada di ruang makan itu, termasuk asisten rumah tangga.
Asisten rumah tangga yang melihat penampilan Agatha malam ini sungguh membuatnya tak mengedipkan mata. Matanya membelalak sempurna, padahal waktu itu sudah ketemu ketika mereka mengerjakan pekerjaan kelompok mereka di rumah majikannya. Namun, lain halnya dengan mamanya Welson. Beliau mengamati Agatha dari ujung kaki hingga ke ujung rambut, semua di sapu rata oleh sepasang matanya.
“Hm, sepertinya bukan gadis biasa-biasa nih?” batin mamanya Welson serta menganggukkan kepalanya.
Agatha yang menyadari tatapan itu, semakin merasa risih dan menundukkan kepalanya. Sungguh, ini pertama kalinya ia bertemu orang tua Welson, dan pertama kalinya juga ditatap sedemikian rupa.
“Eh, anak mama udah datang. Lah, ini siapa yang bersamamu, sayang? Pacar kamu ya?” tanya mama Welson sambil menunjukkan tatapan sinis pada gadis di samping Welson.
“Ma, please deh. Jangan mulai. Nanti Agatha takut loh sama Mama!” pinta Welson.
Tak dipungkiri, Agatha yang menjadi objek pengamatan mamanya Welson, sudah mengeluarkan keringat dingin, yang jika diukur bisa sebesar biji jagung. Yang mana menandakan bahwa ia takut akan penilaian keluarga Welson. Padahal, mamanya Welson tau jika orang yang bersama anaknya saat ini adalah anak dari orang yang sangat terpandang di kota mereka, namun beliau gengsinya bisa dibilang setajam silet.
__ADS_1
“Oo jadi namanya Agatha ya?”
“Mulai apa sih, Wels? Mama cuma penasaran aja sama gadis pilihan kamu, dan ternyata seperti ini pilihanmu.” Ucap mamanya Welson, dan sekali lagi memperhatikan Agatha dari atas hingga bawah. Agatha tak nyaman, namun bukan waktu yang tepat buat ia mundur sekarang, karena sudah terlanjur masuk ke dalam kehidupan Welson. Mau tak mau, ia harus siap dan memasang telinga super tebal menghadapi ini semua.
Agatha semakin menggandeng Welson erat-erat. Sungguh dan jujur saja, ia gugup bukan main. Welson menyadari bahwa pacarnya itu merasa tak enak, terlebih lagi Welson merasakan gandengan itu semakin lama semakin erat. Akhirnya Welson berusaha membangkitkan semangat Agatha.
“Udah, gak apa-apa kok. Mama memang seperti itu orangnya.” Bisik Welson tepat di telinga Agatha.
“Aku takut.” Agatha berbisik dengan suara memelas.
“Santai, sayang. Ayo kenalan sama mereka.” Ujar Welson, lalu mengarahkan pandangannya pada kedua orang tuanya.
“Sayang.” Rengek Agatha.
“Ayo, buruan!” seru Welson.
Akhirnya Agatha memberanikan diri untuk bersalaman dan berkenalan dengan kedua orang tua pacarnya itu.
“Hallo, Om! Hallo, Tante!” Agatha memberikan tangannya untuk bersalaman.
“Saya Agatha William, Om, Tante.” Ucap Agatha ramah sembari menundukkan kepalanya tanda hormat.
“Iya. Ayo, silakan duduk.” Kini papanya Welson yang berbicara.
Mereka berempat kini sudah mendaratkan tubuhnya di atas kursi. Makanan yang di atas meja sudah siap untuk mereka santap. Sebelum memulai makan malam, papanya Welson memulai percakapan kecil dengan Agatha.
“Papamu gimana kabarnya, Nak?” tanya papa Welson ramah.
“Puji Tuhan, baik Om.” Jawab Agatha malu-malu.
“Kalau mamamu gimana kabarnya?” tanya mama Welson yang ingin ikut bercakap-cakap dengan pacar sang anak.
“Baik juga, Tante. Puji Tuhan.” Ucap Agatha sembari tersenyum gugup. Bagaimana tidak? Agatha semenjak tadi merasa tak nyaman dengan tatapan mamanya Welson.
“Oh, syukurlah.”
“Ayo kita makan. Om sudah sangat lapar menunggu kalian dari tadi.” Ucap papa Welson yang kini sudah menyendokkan nasi ke dalam piringnya.
“Iya, Om.” Ujar Agatha sungkan.
“Ayo makan! Jangan sungkan!” tukas mama Welson agar Agatha tak merasa gugup.
“Terima kasih, Tante.” Jawab Agatha.
Setelah sukses menyantap makan malam yang tanpa suara, yang terdengar hanyalah dentingan sendok dan garpu yang menyentuh piring. Kini mereka menutup makan malam itu dengan makanan penutup.
“Terima kasih, Nak. Sudah mau mengunjungi dan makan malam bersama kami.” Ucap papa Welson pada Agatha yang disertai dengan sebuah senyuman menghangatkan.
“Oiya, ini memang rencana Tante biar Welson mengajakmu kemari. Tante dan om ingin mengenalmu. Lagian Welson punya pacar diumpetin, bukan dikenalin sama papa mamanya.” Pungkas mama Welson dengan sedikit candaan.
“Sama-sama, Om, Tante. Terima kasih juga telah berkenan mengundang Agatha makan malam bersama kalian.” Balas Agatha ramah.
Karena sudah lebih dari satu jam Agatha berada di rumah Welson, kini Welson bersiap untuk mengantar Agatha kembali ke rumahnya. Sebelum berangkat, tak lupa Agatha berpamitan pada kedua orang tua Welson.
“Sepertinya Agatha harus permisi, Om, Tante.” Pamit Agatha sopan.
“Yah, sebenarnya Tante ingin berbincang-bincang sama calon mantu Tante.” Ucap mama Welson menunjukkan muka sedihnya.
“Tapi, yasudahlah. Nanti daddy mommy mu khawatir. Lagian masih banyak waktu buat kita bisa mengobrolkan?” tambahnya lagi.
“Boro-boro khawatir. Mempedulikanku saja tidak.” Batin Agatha.
“Iya, Tante. Takutnya daddy sama mommy mencari Agatha.” Sambungnya lagi.
“Yaudah. Hati-hati ya!”
“Wels, ingat! Jangan sampai calon mantu mama lecet sedikitpun ya!” ancam mama Welson yang langsung memukul lengan anaknya. Agatha yang mendengar kata mantu tersenyum malu.
“Apaan sih, Ma? Mukul-mukul, kayak Agatha aja. Sakit tau dari tadi dipukul.” Dengus Welson kesal yang langsung memegang lengannya.
“Hihihi.” Agatha cekikikan melihat Welson.
“Kamu senang ngetawain aku, Yank?” ujar Welson.
“Oh ya? Jadi Agatha sering mukul Welson? Hahaha.” tanya mama Welson tertawa.
“Eh, maaf, Tante. Abis dia suka usilin Agatha loh.” Adu Agatha pada mama Welson, yang langsung membuat mata Welson melotot tak percaya.
“Ayo, Wels. Kamu apakan calon mantu mama? Hm?” ucap mama Welson berkacak pinggang, namun dengan situasi candaan.
“Gak ada kok Ma.” Welson membual.
“Ayo, Yank. Aku anterin pulang.” Tambahnya.
“Cuitt cuitt. Ekhem!” mama Welson menggoda anak dan calon mantunya itu.
“Pa, dengerin tuh. Udah berani ayang-ayangan. Hihi.” Tambahnya lagi.
“Wels, ingat pesan papa. Pacaran sehat ya! Jangan macam-macam. Papa siap coret namamu di kartu keluarga jika melanggar.” Ancam sang papa.
“Siap, boss. Papa sama mama tenang saja sama anakmu yang tampan ini.” Ucap Welson penuh percaya diri.
“Anak sama papa sama aja. PD nya selangit. Jangan dengerin gombalan Welson ya, sayang.” Ucap mama Welson, dan salah satu tangannya mengelus kepala Agatha.
__ADS_1
“Pukul aja kalau dia nakal. Tante ikhlas.” Tambahnya lagi sembari tersenyum.
🕊️🕊️🕊️