Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Happy.


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu dan bersambut dengan Natal. Yadi benar-benar mengabulkan janjinya waktu itu. Selama satu minggu penuh, ia mentraktir Dirgo makan. Tak lama setelah itu, Yadi dan juga Memey jadian berkat Agatha dan Dirgo. Rasanya kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan kata-kata. Alzio tersenyum bangga dan tak berhenti mengucap syukur melihat kebersamaan Agatha dan sahabat-sahabatnya.


“Cupit, aku bangga dengan sosokmu sekarang,” ucap Alzio sambil mengusak kepala adiknya itu dengan gemas hingga membuat rambut Agatha tergerai berantakan.


“Zio ih … liatlah rambutku berantakan,” ketus Agatha sambil memonyongkan bibirnya. Alzio serta kedua papanya dan sang mama hanya terkekeh melihat Agatha yang cemberut.


Iya, beberapa hari yang lalu, papa dan mama Alzio terbang menyusul anaknya. Mereka akan merayakan Natal bersama memanfaatkan momen kumpul keluarga.


“Berry, apa kau tahu bahwa mereka berdua terkadang seperti Tom and Jerry?” ledek Tn. Thomas sambil terkekeh.


“Ya, mereka berdua memang kakak adik yang kadang akur kadang berantem,” sambung Berry menanggapi ucapan kakak sepupunya.


Sebentar lagi, tinggal menghitung jam, mereka semua akan merayakan malam Natal dan misa bersama di gereja. Agatha dan Alzio sudah meminta izin pada orang tuanya bahwa mereka akan berangkat lebih awal karena ingin menjemput yang lainnya, seperti Maria dan Stevanie, Yadi dan Memey, dan yang terakhir adalah Dirgo. Mereka semua kompak mengenakan dress code berwarna putih, termasuk kedua papa dan mamanya serta Mang Judas dan Bi Momon.


🕊️🕊️🕊️


“Merry Christmas.”


“Feliz Navidad.”


“Selamat Natal, ya.”


“Ah, kamu cantik banget. Met natal, ya.”


Begitulah suasana di dalam gereja dan di luar gereja setelah misa perayaan malam Natal telah usai. Semua saling bersalaman dan berpelukan satu sama lain. Agatha dan yang lainnya segera menuju restoran mewah untuk santapan makan malam Natal yang sebelumnya sudah direservasi oleh daddynya.


“Om, Tante … selamat Natal.” Para sahabat Agatha bergantian mengucapkan selamat Natal pada orang tua Agatha dan Alzio.


“Mana nih calon mantu Papa?” tanya Papa Berry berusaha menggoda Agatha. Yang lainnya kompak mengatakan ‘cie’ hingga membuat Agatha dan Dirgo menjadi salah tingkah.


“Papa ih, jangan seperti itu. Agatha malu, tau!” dengus Agatha. Ia membenamkan wajahnya di balik punggung daddynya. Agatha sekarang pun sudah memanggil omnya dengan sebutan papa karena ia sudah diangkat sebagai anak, sama seperti Alzio yang sudah diangkat oleh daddynya sebagai anak.


“Sekarang papanya ada dua. Tapi sebentar lagi kayaknya akan nambah papa baru,” timpal Mama Alzio yang semakin membuat Agatha merona malu.


“Tante, kenapa kalian ngeroyok Agatha seperti itu? Kasian loh, hihi,” Memey terkikik geli yang juga ikut menggoda Agatha.


Mendengar kata ngeroyok, sontak membuat semuanya ikut tertawa karena Memey. Dari SMA hingga ia kuliah pun, Memey tetap sama seperti dulu.


Di saat mereka asyik tertawa, ponsel Dirgo berdering. Ia merogohnya dari saku kemeja dan melihat panggilan masuk, ternyata mamanya yang menelepon.


“Permisi semuanya, aku mau angkat telepon sebentar.” Dirgo pamit pada yang lainnya. Ia sedikit menjauh dari tempatnya semula.


“Hallo, Mama.” Sapa Dirgo saat panggilan terhubung.


“Sayang, kalian belum selesai, ‘kan? Sebentar lagi papa dan Mama akan nyusul.”


“Belum, Ma. Masih menunggu hidangan tersaji. Ya sudah, Dirgo tunggu kehadiran papa Mama. Jangan lama, hehe.”


“Ahh, anak Mama sudah nggak sabaran rupanya. Tenang sayang, dia tidak akan lari.”

__ADS_1


“Oke, Ma. Bye. Dirgo tunggu.”


Saat selesai bicara, Dirgo segera menghampiri rombongannya yang sedang asyik bercerita satu sama lain.


Beberapa pelayan restoran membawa hidangan ke meja mereka. Tak lama kemudian, ada dua orang lagi yang ikut bergabung di sana. Ya, papa mama Dirgo sudah datang dengan membawa beberapa bingkisan dan paper bag di tangannya. Dirgo sudah menceritakan hubungannya dengan Agatha pada kedua orang tuanya. Mereka sangat setuju dengan pilihan putra semata wayangnya. Dan malam ini, mereka memberikan kejutan sebagai hadiah Natal untuk sang putranya.


“Selamat malam, Bung Thomas, Bung Berry beserta istri. Selamat malam juga untuk anak-anak yang terkasih.” Papa Dirgo memberikan sapaan dengan hangat dan bersahabat.


“Silakan duduk, Bung,” balas Tn. Thomas dengan ramah. “Sebelum kita menyantap makanan ini, sepertinya ada hal penting yang ingin Bung Lukas utarakan. Silakan, Bung, dilanjut saja. Anak-anak belum pada lapar, ‘kan?” lanjut Tn. Thomas.


Mereka semua kompak menjawab belum, hanya Memey saja yang menjawab sudah lapar. Yadi segera mencubit pacarnya itu dengan gemas, yang membuat lainnya ikut tertawa. Bi Momon sepertinya akan ngompol jika terus-terusan menertawai Memey.


“Terima kasih, Bung Thomas,” papa Lukas membungkukkan kepalanya. “Iya, sebelumnya terima kasih, mohon bersabar sebentar, ya, Memey.” Papa Lukas melirik pada Memey sambil tertawa. Memey hanya menahan senyum malu saja.


“Malam ini, akan menjadi malam yang bahagia untuk kita semua, tapi yang paling bahagia sepertinya Dirgo, anakku.” Papa Lukas tersenyum melirik pada putranya.


“Apa ini?” pikir Dirgo.


“Ya, malam ini, saya dan istri akan melamar putri Bung Thomas untuk menjadi menantu saya—“


Belum selesai beliau mengatakan perkataannya, para sahabat Agatha bersorak kegirangan. Alzio sampai memeluk Dirgo, yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya.


“Selamat, Bro. Ini sungguh hadiah terindah di malam yang indah ini,” Alzio menjabat tangan dan memeluk Dirgo berkali-kali. “Jika lo buat adik gue nangis, itu akan menjadi bonus lo,” lanjut Alzio sambil mengepal tangannya sambil terkekeh.


“Sayang, Agatha belum memberikan jawaban. Juga om mu itu belum selesai mengucapkan kata-katanya,” protes Tn. Thomas karena anaknya yang satu itu sudah antusias sekali.


“Hihi, maaf, Papa. Zio sangat bahagia rasanya,” Alzio terkekeh nyengir.


Agatha tertunduk malu. Rona merah wajahnya semakin terpancar.


“Sayang, gimana jawabanmu?” tanya daddynya seraya mengelus-elus kepala anaknya.


“Dad, aku malu …”


“Jangan malu, Sayang. Kalo Mama sih setuju punya mantu seperti Dirgo,” sambung mama Alzio.


Dirgo yang belum mendengar jawaban Agatha, hatinya was-was takut ditolak Agatha.


“Cupit, semua keputusan ada di kamu. Kamu yang menjalaninya kelak. Suka duka, senang dan sedih juga kamu yang akan merasakannya. Kami hanya bisa mendukung dan berdoa apa yang menjadi keputusanmu. Jika kamu bahagia, maka kami juga turut bahagia. Ikuti kata hatimu dan yakinkan dirimu,” papar Alzio panjang lebar. Papa dan mama Dirgo sampai tertegun mendengar tutur Alzio yang bijaksana. Kedua papa dan mama Alzio, sampai tak percaya pada Alzio, apakah itu anak mereka atau bukan.


“Sayang, kamu sangat dewasa. Jadi tidak salah Papa memiliki anak sepertimu,” ucap Tn. Thomas. “Papa sudah tidah bisa bicara lagi, karena kata-katanya sudah diwakili kamu.”


“Siapa dulu pabriknya, Mas. Aku gitu loh,” timpal papa Berry narsis yang langsung mendapat toyoran dari istrinya.


“Hahahaha …” Seluruh isi ruangan penuh dengan tawa ria mereka semua karena ulah papa Berry. Ada-ada saja memang, sudah tua malah menjadi.


“Hayooo, calon mantu Mama belom jawab, loh,” seru mama Dirgo di sela tawa ria mereka.


“Mmmm, Agatha mau …,” jawab Agatha malu-malu.

__ADS_1


Mendengar jawaban Agatha yang mengatakan mau, Dirgo menangis haru. Sungguh, ini merupakan malam yang sangat bahagia dan berarti baginya. Dengan refleks ia bangkit dari kursinya dan mendekati Agatha.


“Eh, kamu mau apa, Nak Dirgo?” tanya Tn. Thomas menghalau Dirgo. “Saat ini Daddy masih ingin memeluk anak Daddy. Kamu bersabar dulu,” lanjutnya menggoda Dirgo. Dirgo sampai menggaruk tangannya yang tak gatal.


“Hahaha…!!”


“Lo nggak sabaran banget sih, Dir,” celetuk Yadi. “Masih lama, loh. Ini baru lamaran, belum tunangan sama pernikahan, haha.”


“Dirgo persis kayak saya waktu muda,” papa Berry dengan PD berucap seperti itu.


Dengan perasaan dongkol Dirgo kembali duduk ke kursinya. Tn. Thomas sampai mengulum senyum pada Dirgo yang menjadi salah tingkah. Ah, rasanya Tn. Thomas kembali mendapat kebahagiaan yang bertubi-tubi. Penantian Dirgo yang selama bertahun-tahun kini terjawab sudah berkat kesabaran hatinya. Dalam hatinya, ia tak berhenti berterima kasih dan mengucap syukur. Orang tuanya ia peluk erat-erat. Air mata bahagia tak terbendung saking bahagianya.


“Jadi, kapan tanggal pertunangan kedua anak kita, Bung Lukas?”


“Sepertinya akan lebih baik jika kita laksanakan di minggu kedua setelah tahun baru. Gimana, Ma, betul nggak?” tanyanya meminta pendapat sang istri.


“Mama sih terserah pada putra sama mantu kita, Pa.”


Agatha dan Dirgo saling pandang, kemudian menggangguk. Mereka sepakat dengan apa yang diucapkan papa Lukas.


Setiap kesedihan pasti membawa hikmah bahagia. Tidak selamanya kesedihan membuat kita terpuruk jika kita berusaha untuk bangkit. Akan ada buah yang manis dari apa yang kita tuai. Asal kita mampu bersyukur dalam setiap keadaan, niscaya bahagialah upahnya. Tuhan pasti akan mendatangkan berkat untuk umat-Nya yang percaya dan mampu mengucap syukur. Ya, seperti kedua keluarga malam ini yang tengah merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Lamaran menjadi kado terindah untuk Agatha dan Dirgo.


Selesai bersantap malam, mereka meminta pelayan restoran untuk memotret mereka bersama. Sudah berapa gaya sudah mereka semua pamerkan menunjukkan rasa bahagia di hati.


“Terima kasih, Tuhan. Engkau telah begitu baik bagiku. Terima kasih juga Engkau telah menghadirkan orang-orang yang sangat menyayangiku,” ucap Agatha dalam hati.


Malam ini, juga menjadi malam yang berarti bagi Andrew karena ia bebas dari sel. Agatha sudah membicarakan tentang Andrew pada daddynya, yang dibantu oleh Alzio untuk menyampaikannya. Saat mereka sedang asyik berfoto, dua orang polisi datang menghampiri mereka. Di belakangnya disusul Andrew yang juga sudah mengenakan kemeja putih seperti Agatha dan yang lainnya.


“Selamat malam, semuanya. Saya mendapatkan amanat dari Tuan Thomas untuk menghantarkan anak ini ke sini. Mohon maaf sedikit terlambat karena jalanan macet,” ucap sang polisi.


Awalnya Andrew menolak tawaran Agatha dan masih mengatakan jika Tuhan jahat padanya. Dengan segala cara Alzio memberikan pemahaman pada Andrew, akhirnya luluh juga. Ah, Alzio sudah seperti malaikat saja rasanya.


“Kak Andrew,” sapa Agatha sambil tersenyum manis.


“Kemarilah, Nak. Peluk papa.” Tn. Thomas membentangkan kedua tangannya agar bisa memeluk Andrew. Agatha sangat bersyukur karena daddynya dengan ikhlas mengangkat Andrew menjadi kakaknya. Kini Agatha mempunyai dua kakak, Andrew dan Alzio.


Dengan langkah yang tertahan sambil matanya berkaca-kaca, Andrew perlahan mendekat pada papa Thomas. Semua yang menyaksikan ikut meneteskan air mata haru, termasuk besannya.


“Papa …” Dengan cepat Andrew menghambur pada pelukan papa angkatnya. Cukup puas ia memeluk papa Thomas kini beralih memeluk Agatha.


“Nak, itu ...,” papa Thomas menunjuk pada papa Berry. “Itu juga papamu, Nak.”


Selesai memeluk Agatha, ia juga memeluk papa dan mama Alzio, terakhir memeluk Alzio yang kini juga menjadi adiknya. Tak lupa ia juga memeluk adik iparnya, walaupun belum melangsungkan pertunangan dan pernikahan.


“Bro, lo sekarang punya dua kakak ipar. Awas kalo lo macem-macem pada adek gue.” Alzio rasanya senang sekali menggoda Dirgo.


CHIIISSSSS!! Sekali lagi mereka mengambil kenangan dari kamera sang pelayan restoran.


“WE ARE HAPPY FAMILY….” ucap mereka semua kompak. Kebahagiaan mereka menular pada pengunjung lain, mereka juga bersuka cita.

__ADS_1


🕊️🕊️🕊️


...SELESAI....


__ADS_2