Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Villa Kota L.


__ADS_3

Agatha dan Nadine saling pandang dan mengangkat bahunya ketika melihat Memey mendekati mobil. Tangan kanan dan kirinya penuh dengan tentengan belanjaan. Memey berjalan dengan susah payah karena berusaha menyeimbangkan antara tangan kiri dan tangan kanannya. Belanjaan yang dia bawa, entah itu sepenuhnya belanjaan dia sendiri atau teman-temannya sedang menjahili Memey.


“Astaga, Memey.” Agatha menggelengkan kepalanya tak percaya apa yang baru saja ia lihat.


“Itu belanjaan dia semua apa bukan?” tanya Nadine pada Agatha.


“Entahlah, Nad. Tapi bisa jadi sih, secara dia kan paling jago kalo soal makan memakan. Hahaha.” Agatha tertawa.


Di luar mobil, Memey yang sudah tak tahan menahan beratnya belanjaan itu, meneriaki Agatha dan Nadine yang berada di dalam mobil.


“Woi, lebah hutan! Bukain dong pintunya! Tangan gue pegel nih bawain belanjaan para kadal.” Memey meneriaki Agatha dan Nadine dengan keras. Alhasil orang yang baru saja melintasi mobil mereka, hampir saja terjatuh karena tersandung kakinya sendiri akibat terkejut, apalagi ketika mendengar kata lebah. Orang itu berpikir bahwa memang ada lebah di sekitaran supermarket itu. Agatha dan Nadine tertawa dari dalam karena melihat kejadian yang baru saja terlintas di depan mata mereka.


“Hahahaha.” Mereka berdua tertawa bersama. Memey semakin kesal pada kedua manusia yang tengah tertawa ria. Memey berpikir bahwa mereka mentertawakannya, padahal sesungguhnya tidak sama sekali.


“Oohh gitu ya kalian sama gue? Tertawa di atas tangan gue yang pegel karena belanjaan sialan ini.” Memey menghentakkan kakinya dan melotot ke arah mobil.


“Woi, sialan amat lo berdua! Sejak kapan kalian puasa dan gak bisa buka pintu mobil?” teriak Memey sekali lagi sambil menghentakkan kakinya lagi.


“Buka aja sendiri, gue mau ketawa dulu. Hahaha.” Agatha kembali tertawa.


“Lagian kan bisa lo letakin dulu belanjaannya. Jangan manja dong, Mey,” tukas Nadine yang belum sama sekali membuka pintu mobil di sampingnya.


Tak lama muncullah Welson, Yadi, dan juga Dirgo dari supermarket. Terlihat jelas di tangan mereka masing-masing tak ada plastik belanjaan sedikit pun. Yang berarti memang sengaja mereka menjahili Memey supaya belanjaan itu semua Memey yang bawa. Perlahan mereka bertiga mendekati Memey.


“Kenapa masih berdiri di sini, Mey?” tanya Dirgo.


“Itu!” Memey mengarahkan mukanya ke dalam mobil.

__ADS_1


“Gue gak ngerti ucapan lo.” Dirgo memasang wajah bertanya-tanya.


“Mereka sengaja gak mau bukain gue pintu mobil. Tangan gue pegel tau bawain belanjaan kalian,” dengus Memey.


“Hahaha. Gue kirain itu belanjaan lo semua, Mey. Rupanya bukan,” ucap Nadine, kemudian membuka pintu untuk Memey. Sesekali ia mencuri pandang pada Welson yang masih berdiri di luar.


“Udah gue bilangin dari tadi bahwa ini juga belanjaan para kadal. Lo berdua malah asyik ngetawain gue,” seru Memey ketika masuk ke dalam mobil dan kembali pada duduknya semula.


“Aduh, tangan gue.” Memey *******-***** tangannya yang terasa pegal karena tentengannya tadi. Bagaimana tidak, belanjaan yang dia bawa bukan hanya dodol dan snack miliknya, melainkan ada beberapa botol soft drink dan mineral water. Namun ketiga cowok itu seenak jidatnya menjahili seorang cewek seperti Memey.


Welson, Yadi, dan Dirgo kini melesat masuk ke dalam mobil. Karena dirasa tak ada keperluan lagi di sana, akhirnya mobil mereka meninggalkan tempat itu. Mereka kembali melanjutkan perjalanan liburan mereka.


“Yank, kamu kok tega sih jahilin Memey? Kasian loh, udah jomblo trus hidup lagi,” tanya Agatha pada Welson, dan memang sengaja ia berbicara seperti itu karena ingin menjahili Memey.


“Terus, hujat aja terus. Gue mah apa atuh, cuma ulat kepompong yang gagal bermetamorfosis. Jadinya ya kayak gitu,” ucap Memey memasang wajah sendu, karena teman-temannya selalu saja menjahilinya. Namun sebenarnya itu hanyalah candaan, dan Memey juga bisa menyikapinya.


“Tau ah, gue gak dengar ucapan lo.” Memey membuang muka ke arah jalanan.


🕊️🕊️🕊️


Suasana mobil kembali hening, Agatha menyandarkan kepalanya di bahu Welson karena ia sudah beberapa kali menguap karena mengantuk. Tanpa adanya penolakan dari Welson, membuat Agatha semakin ingin tertidur di bahu Welson. Tak lama, kini terdengar dengkuran halus dari Agatha, yang menandakan bahwa ia sudah tertidur. Nadine yang menyaksikan itu sudah hampir mengeluarkan tanduknya.


“Nikmati saja dulu, Tha. Lambat laun, Welson akan sepenuhnya milik gue. Apapun itu, harus milik gue.” Nadine membatin seraya tersenyum licik.


🕊️🕊️🕊️


Perlahan, kini mereka telah meninggalkan kotanya dan memasuki jalanan menuju kota L. Jalanan yang sepi membuat mereka terkagum, terlebih lagi saat ini mereka memasuki wilayah pedesaan. Jalan yang ditumbuhi dengan tanaman-tanaman yang begitu asri, semakin memperindah suasana. Namun, hal itu sama sekali tak dinikmati Agatha karena ia sudah terlelap tidur. Memey seketika mengambil ponselnya untuk merekam perjalanan mereka. Dia berencana ingin membuat instastory miliknya. Sesekali tangannya mengambil dodol yang ada di dalam plastik belanjaannya, lalu memasukan dodol itu ke dalam mulutnya tanpa membuka kertas pembungkus dodol itu.

__ADS_1


“Loh, dodolnya kok ada bunyi kresek?” ucapnya tanpa melihat dodol yang ia masukkan ke dalam mulut ternyata belum dibuka. Tangan dan matanya masih fokus pada ponselnya karena ingin membuat instastory.


“Dasar dodol sialan!” umpat Memey.


“Lo yang benar saja, Mey? Makan dodol tanpa membuka kertasnya?” tanya Nadine.


“Astaga. Pantasan ada bunyi kresek-kresek,” ucap Memey ketika sadar bahwa memang benar dodol yang ia masukkan ke dalam mulut, masih dengan pembungkusnya.


“Kasian amat lo, Mey. Cantik-cantik kok norak?” ejek Welson di depan seraya curi-curi pandang pada Nadine lewat kaca mobil.


“Biarin. Gue gak peduli. Aku cantik dan aku diam,” jawab Memey. Ia membuka dodol itu dan langsung melahapnya.


“Wah-wah. PD amat lo, Mey?” tukas Dirgo dari belakang.


“Diam!” ketus Memey pada Dirgo.


🕊️🕊️🕊️


Jam menunjukkan pukul 16:00. Perjalanan mereka kurang lebih mencapai dua jam setengah untuk tiba di kota L yang menjadi tujuan mereka. Kini perjalanan mereka memasuki kawasan yang jauh dari hiruk pikuk desa atau kota. Ya, kawasan itu adalah kawasan hutan yang masih sejuk dan juga asri. Memey membuka jendela kaca mobil untuk menghirup udara segar yang berasal dari hutan yang sedang mereka lintasi sekarang. Memey memejamkan matanya untuk menikmati segarnya udara.


Perjalanan mereka bisa dibilang berjalan tanpa hambatan dan halangan. Satu jam kemudian, mobil mereka telah memasuki wilayah kota L, hiruk pikuk kembali terdengar. Agatha menggeliat ketika sudah puas tertidur di sandaran Welson. Ia mengucek matanya untuk menikmati indahnya kota L di kala sore. Perjalanan untuk menuju villa milik keluarga Dirgo masih sekitar tiga puluh menit jika tidak macet. Apalagi jika sore hari seperti ini, para pejuang atau para pekerja juga berlalu lalang untuk pulang ke rumah masing-masing.


Tiga puluh menit pun berlalu, Welson mengarahkan mobil sesuai petunjuk dari Dirgo. Kini mereka telah tiba di depan villa bertingkat itu, dan selanjutnya Welson memarkirkan mobil ke tempat yang tersedia di sana. Villa yang bercat abu-abu muda itu terlihat sangat menyejukkan karena di sekitarnya ada tumbuhan yang menaungi halaman depan villa itu, dan juga villa itu terletak tak jauh dari pantai. Penjaga villa segera membuka pintu ketika mendengar klakson mobil dari luar. Memey terperangah melihat villa itu.


“Wow, it’s amazing! Sangat sejuk di sini,” ucap Memey senang.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2