Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Sabtu Terakhir.


__ADS_3

Seperti biasa ketika pagi menjelang menyambut sang surya, Bi Momon sudah bersiap diri dengan segala kesibukannya di dapur guna menyiapkan sarapan untuk dirinya, Mang Judas, dan tentu saja untuk dua gadis yang sedang menikmati tidur cantiknya. Bi Momon memang sengaja belum membangunkan keduanya, mengingat hari ini adalah hari sabtu terakhir di bulan ketiga semenjak di mana orang tua Agatha sibuk dengan pekerjaan dan Agatha terabaikan.


“Ciahhh sudah beres semuanya. Tinggal menunggu untuk disantap.” Bi Momon meletakkan piring terakhir berisi sarapan favorit Agatha ke atas meja seraya tersenyum dan sedikit melantunkan lagu Rohani kesukaannya.


Di kamar Agatha, terlihat Memey sudah mengenakan handuk di kepalanya untuk mengeringkan rambutnya yang habis dikeramas. Iya, benar saja. Memey sudah selesai mandi dan siap untuk mengenakan pakaian sekolahnya. Mendapati Agatha yang masih saja berada di balik selimut, Memey buru-buru membangunkan Agatha karena dikhawatirkan akan terlambat ke sekolah. Dengan tingkahnya yang konyol, Memey dengan sigap menarik selibut tebal yang terbuat dari bulu berkualitas wahid (nomor satu), sehingga membuat Agatha mengerjapkan matanya lalu terbangun. Agatha melihat Memey sudah terkekeh di depannya. Dengan rambut yang awut-awutan, Agatha melempar bantal ke arah Memey dengan kesal, pasalnya, Agatha masih merasa mengantuk dan masih ingin tidur.


“Ee-ehh. Dibangunin malah cemberut. Sana mandi gih!” perintah Memey pada Agatha, namun Agatha masih terdiam di kasur empuk miliknya. Sekali lagi Memey memberi perintah pada Agatha supaya cepat mandi. “Tha, buruan mandi. Ntar kita telat loh.”


Karena terus saja diperintah oleh sahabatnya itu, akhirnya Agatha menyerah dan bergegas menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama untuk Agatha menyelesaikan ritual mandi paginya itu. Ia segera keluar dari kamar mandi dan ingin meminta tolong pada Memey untuk mengambil pakaian sekolahnya yang berada di lemari.


“Comberan, help me, please!” rengek Agatha pada Memey.


“Comberan? Siapa comberan?”


“Ya elo lah, siapa lagi?” ketus Agatha.


“Huhhh. Dasar kuda ngepet!” Memey berdengus kesal. “What’s wrong?” tanya Memey tanpa menoleh ke sumber suara, karena ia tengah fokus menyapu wajahnya dengan sedikit polesan bedak.


“Ambilin gue pakaian dong,” timpal Agatha.


“Ck..ck... Tadi ngatain gue comberan, sekarang minta lontong. Hahaha.” Dengan cepat Memey menjawab seraya melihat-lihat wajahnya di meja rias milik Agatha, “tuh di atas kasur, lengkap sekalian daleman juga.”


Melihat semuanya yang memang telah Memey siapkan untuk Agatha, Agatha berlari ke arah Memey kemudian memberi pelukan sebagai rasa terima kasihnya untuk sahabatnya itu. Namun, tanpa disadari, rambut Agatha yang masih basah tanpa sengaja nempel di wajah Memey yang sudah terpoles dengan bedak.


Memey seolah ingin menangis ketika sebagian wajahnya telah basah karena rambut Agatha. “Huaaaaaa. Muka gue!” pekik Memey di dekat telinga Agatha.


“Eh sorry, Mey. Gak sengaja. Tapi gue happy sih, haha.” Ujar Agatha seraya berlari untuk mengenakan pakaian sekolahnya.


Karena merasa dijahilin oleh Agatha, sontak membuat Memey bertingkah seperti kebanyakan gadis pada umumnya. Dengan kesal ia kembali memoles wajah imutnya dengan bedak, karena polesan awal sudah dimusnahkan rambut sahabatnya.

__ADS_1


“Awas aja lo. Gue jitak ntar.” Memey bergumam sambil cemberut, tetapi gumamannya masih bisa didengar oleh Agatha.


“Udah-udah. Jangan kesal gitu ngapa dah.” Agatha menimpali gumaman Memey sambil terkekeh.


🕊️🕊️🕊️


Agatha dan Memey yang sudah siap dengan segala keribetan dan keriuhannya, segera menuju ruang makan untuk sarapan. Terlihat pagi ini Bi Momon dan Mang Judas sudah menunggu mereka untuk sarapan bersama. Melihat apa yang sedang terpampang nyata di hadapannya, Agatha ingin sekali rasanya menangis. Bagaimana tidak? Hal itu sudah sangat jarang terjadi dari orang tuanya sendiri. Namun, pagi ini ia tak ingin kembali menunjukkan kesedihannya yang terus ia rasakan. Sambil tersenyum Agatha duduk di kursi, yang juga disusul oleh Memey.


“Good morning, Nona-nona cantik.” Sambut Bi Momon dan Mang Judas bersamaan. Mereka saling pandang satu sama lain, lalu berebutan siapa yang harus duluan dan siapa yang harus terakhir menyapa. Bukan Bi Momon namanya jika Mang Judas tidak mati kutu, walaupun sebenarnya tidak punya kutu.


Suasana ruang makan pagi ini terasa hangat karena gelakan tawa orang berempat itu. Sesekali Bi Momon memperhatikan nona kecilnya. Tersimpul senyum tipis di wajah Bi Momon melihat Agatha yang tampak happy.


“Okay, finished!” Agatha meletakkan gelas susu yang sudah berhasil ia habiskan isinya.


“Bi, kami pamit dulu ya. Jaga rumah baik-baik!” goda Memey pada Bi Momon.


“Siap grakk!” Bi Momon membalas perintah Memey dengan menaikkan tangannya di kening layaknya tengah upacara hari Kemerdekaan.


Di Perusahaan “Thomas Group”


“Sayang, apakah sudah disiapkan semuanya?” tanya Thomas William (daddy Agatha) pada istrinya.


“Beres. Semuanya sudah beres, Sayang. Tinggal menunggu hari H-nya saja.” Jawab Daria Kamanda (mommy Agatha).


“Kau memang istriku yang cantik!” ucap Tn. Thomas seraya tersenyum. “Thanks, Sayang.” Kecupan mesra mendarat di kening Ny. Daria, istrinya.


Beberapa saat kemudian, Tn. Thomas dan istrinya mengadakan meeting dengan client dari perusahaan Wertz. Sebenarnya, Ny. Daria yang juga sebentar lagi ada kegiatan di luar, terpaksa mengulur waktu karena Tn. Thomas memintanya untuk mendampingi bertemu dengan client. Lima belas menit kemudian, client yang sedang mereka tunggu akhirnya tiba di perusahaan Thomas Group dan segera menuju ruang meeting yang berada di lantai 3. Di sana sudah hadir beberapa karyawan penting Thomas Group dan juga pendirinya, Thomas William beserta istri.


Meeting berlangsung kurang lebih memakan waktu setengah jam, setelah nota kesepakatan kerjasama sudah ditanda tangani oleh masing-masing kedua belah pihak perusahaan.

__ADS_1


“Ok. Terima kasih banyak telah bersedia menjalin kerja sama dengan perusahaan kami, Tuan Thomas. Sampai jumpa lagi, Tuan,” ucap seorang wanita yang menjadi jubir (juru bicara) perusahaan Wertz, sambil membungkukkan badannya.


“Terima kasih kembali. Saya harap jalinan kerja sama ini akan membuahkan hasil untuk perusahaan kita. Dan sampai jumpa kembali!” seru Tn. Thomas kepada client-nya.


Ny. Daria juga berpamitan pada sang suami, karena beberapa panti asuhan sudah menunggu kehadirannya. “Sayang, jika semuanya sudah selesai, aku pamit dulu.” Ny. Daria menatap paras suaminya dan disusuli dengan ciuman oleh sang suami.


🕊️🕊️🕊️


Di Sekolah.


Bel berbunyi tanda jam pelajaran terakhir telah usai. Masing-masing dari sahabatnya Agatha sudah merapikan tas sekolahnya dan bersiap untuk pulang. Semuanya sudah beranjak menuju pintu ruangan kelas, Maria dan Stevanie berpamitan duluan. “Gue sama Maria balik duluan, ya.” Pamit Stevanie pada ke-6 sahabatnya. Dengan langkah yang lumayan cepat, Maria dan Stevanie berhasil meninggalkan koridor sekolah yang menghubungkan dengan area parkiran sekolah.


Enam orang yang masih tersisa, berjalan sambil bercengkerama satu sama lain. Agatha dan Welson, seperti biasa selalu bergandengan tangan. Namun, dalam situasi seperti ini, ada satu mata yang menatap tajam ke arah Agatha dan Welson. Iya, dialah Nadine, pacar kedua Welson, lebih tepatnya selingkuhan. Setiba di parkiran sekolah, Agatha dan Welson berpisah. Dan seperti biasa, Nadine tetap nebeng pada Welson dengan alasan tidak bawa kendaraan. Agatha bisa memaklumi dan sama sekali belum tau apa yang sedang terjadi dengan sahabat dan pacarnya itu.


Welson dan Nadine kini meninggalkan sekolah. Suasana sekolah lumayan sudah sepi, menyisakan penjaga sekolah, Yadi, Dirgo, Agatha, dan Memey. Tak berselang lama, Yadi dan dirgo juga berpamitan pulang.


“Tha..” panggil Memey.


“Yes, kenapa?”


“Ada baiknya kita cari umpan sekarang,” ucap Memey kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Yadi dan Dirgo yang membelakangi mereka menuju motor milik Dirgo.


“Gimana caranya coba? Kita kan dijemput Mang Judas.”


“Iya ya.” Memey menganggukan kepalanya tanda mengerti.


Sayangnya, ucapan Memey berhasil didengar oleh Dirgo, dan dia mengerti atas sinyal-sinyal tersebut. Untungnya lagi, dia saat ini mengendarai motor dan sedang ditumpangi oleh Yadi. “Sepertinya mereka mulai curiga dengan gerak-gerik gue,” Dirgo membatin.


Misi yang ingin dilancarkan oleh Agatha dan Memey, akhirnya diurungkan, mengingat mereka juga dijemput oleh Mang Judas. Dirgo dan Yadi berlalu pergi dengan motor keren milik Dirgo. Mereka kembali ke rumah masing-masing, tetapi Memey masih dimintai Agatha untuk menginap lagi.

__ADS_1


To be continued…


__ADS_2